Broken Home

Broken Home
PART 21


__ADS_3


Hari Minggu adalah hari di mana orang bermalas-malasan , bergelung di dalam selimut hingga siang menjelang.


Lain halnya dengan Minggu pagi Adam kali ini , ia sudah diteror oleh Audrie untuk mengantarnya jalan-jalan ber car freeday ria .


Sebenarnya Adam masih mengantuk , dengan terpaksa ia mengguyur badannya agar segar dan tidak terlihat kucel saat jalan bersama Audrie .


Di acara Car freeday nanti sekalian menjadi ajangnya untuk mejeng siapa tahu dapat tambatan hati , bicara soal tambatan hati ia jadi teringat dengan gadis manis bernama Clarissa itu . Ah , namun Adam masih enggan mengakui perasaannya.


Rumah megah di pemukiman elite (meskipun punya bokap gue sih .batin Adam )


Mobil mewah tak ada yang kredit


Masa depan cerah tak akan sulit


Wajah tampan sipit-sipit bradpit


Semua aku punya , semua aku ada


Satu yang tak ada , satu yang tak punya


Only looooove , hanyalah cinta


Only looooove, yang aku pinta


Hanyalah cinta , hanya lah cinta yang aku pinta untukku .


Hidup bergelimang harta , tiada arti tanpa cinta


Suara sumbang Adam menggema di seluruh penjuru kamar mandinya , ia bernyanyi ala-ala penyanyi kamar mandi .


Tak peduli tetangga apartemennya akan mengomel , yang penting ia bisa menyalurkan bakat yang terpendam.


Kesenangan Adam nampaknya hanya sampai di situ saja , bunyi bel berulangkali membuat konsentrasinya bernyanyi jadi berantakan .


"Anjiir , sabar bisa kali " umpat Adam , ia hanya melilitkan handuk hingga sebatas pinggang membiarkan air menetes membasahi dada bidangnya .


Dengan berlari ia menuju ruang tamu apartemennya , membukakan pintu tamu sialan yang sejak tadi masih membunyikan bel dengan semena-mena.


"Siapa sih namu pagi-pagi kayak gini " kesalnya , ia menarik gagang pintu hingga pintu itu terbuka.


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


Ia terpana melihat siapa yang datang , lalu memeluk erat tamunya itu .


"Mas , lepasin gue atau handuk Lo gue tarik " ketus tamu itu .


Adam terpaksa melepaskan pelukan kerinduannya , jika tidak orang itu sudah melakukan apa yang diucapkannya tadi.


"Masuk " ucap Adam riang .


Rasa kesalnya tadi telah menguar bersama rasa kangennya yang sudah terobati , Denis mengunjunginya hari ini .


Dengan diantar supir , Denis pagi-pagi sekali mendatangi alamat apartemen yang diberikan oleh Surya .


Denis mengedarkan pandangannya ketika memasuki ruang tamu apartemen Adam , cukup rapi untuk lelaki yang tinggal sendiri.

__ADS_1


Ia bertanya-tanya kenapa Adam lebih memilih Tinggal di apartemen sempit ini , padahal dia yakin dengan uang yang dimiliki kakaknya bisa membeli rumah setara milik opanya .


Adam salah tingkah ketika tak sengaja matanya dan mata Denis bertemu pandang, kesalahannya kemarin itu membuatnya canggung .


"Ah , gue ganti baju bentar ya ?" Denis mengangguk , matanya kembali fokus meneliti apartemen Adam .


Dengan cepat Adam memakai bajunya , cukup dengan kaos oblong berwarna abu dan celana jeans selutut seperti biasa saat ia sedang santai di rumah.


"Mau minum apa ?" Tawar Adam , meskipun Denis adiknya namun ia tetap tamu di apartemennya.


"Terserah elo mas " jawab Denis .


Adam menuju pantry membuatkan minuman untuk Denis , secangkir kopi cocok untuk udara pagi yang masih terasa dingin .


Ia membuka kulkas , diambilnya beberapa kantong camilan yang dibelinya kemarin sore .


Di kulkas memang selalu tersedia makanan buat jaga-jaga saat Adam lapar , ia malas jika harus keluar untuk mencari makan . Mending sebelum masuk , ia menyempatkan diri membeli keperluannya selama ia di apartemen.


"Monggo " Adam meletakkan camilan dan dua cangkir kopi tadi ke atas meja .


Denis mengangguk , sebenarnya Adam tak perlu repot-repot memberinya suguhan , sudah seperti tamu yang datang dari jauh saja .


Adam duduk di sebelah Denis , ditatapnya wajah adik yang beberapa Minggu ini tak ia ketahui keberadaannya justru sekarang berada di hadapannya.


"Soal yang kemarin gue minta maaf " sesal Adam , sungguh ia tak sengaja melontarkan kata-kata yang membuat Denis sakit hati.


"Mas , gue juga minta maaf.  Gak seharusnya gue semarah itu sama Lo , emang faktanya begitu. Daddy saja yang berjanji akan merawatku di sini ternyata bohong , dia sama sekali tak bertanggung jawab mas . Gue dititipin di rumah Oma " ucap Denis sedih.


" udah jangan dipikirin ,  fokus kesembuhan lo aja dulu "


Mereka berdua saling berpelukan , melebur amarah yang pernah tercipta di antara mereka .


Pelukan mereka cukup lama , membuat Denis sadar lalu melepas pelukan itu terlebih dahulu.


"Gue bukan pacar Lo mas , main peluk-peluk aja !" Denis terkekeh sendiri dengan ucapannya.


Ia lupa jika Adam sama sekali belum pernah pacaran , jadi mana tahu Adam bagaimana rasanya berpelukan dengan kekasih .


"Kenapa ketawa Lo ?" Ucap Adam penasaran .


"Enggak , jijik aja gue pelukan sama Lo " kilah Denis , ia tak tega mengatakan alasan sebenarnya ia tertawa tadi . Takut Adam baper .


Adam menyonyor pelan kepala Denis .


Saat sudah terjadi percekcokan kecil antara mereka berdua , itu berarti hubungan mereka telah kembali seperti semula .


" kabar mami bagaimana mas? "


Adam hampir tersedak kopi hitam yang ia sruput ,  Adam juga sama seperti Denis, ia tak tahu kabar terbaru maminya karena fokus melancarkan misi-misi nya.


" telpon yuk? "


"Yuk , yuk " Denis mengangguk antusias.


"Tapi...pake hape Lo ya , punya gue pulsanya abis. Hehe "


Denis memutar bola matanya malas "katanya pengusaha muda , bergelimang harta taunya pulsa tak punya" cibir Denis .


Adam hanya nyengir tak berdosa , ternyata Denis dengar saat ia bernyanyi tadi "belum sempat ngisi , udah kita mau nelpon mami bukan mau debat " ucap Adam .


Dengan malas , Denis mengambil ponsel di saku celananya lalu memberikannya kepada Adam .

__ADS_1


Karena hapal di luar kepala , Adam mengetikkan nomer Felicia dengan cepat .


Nada tunggu kedua , sambungan itu terhubung.


"Halo , siapa ini ?"


"Mami" Adam sumringah mendengar suara maminya .


"Adam ya ?"


"Iya mi , mami lagi ap..."


Belum sempat Adam melanjutkan pertanyaannya , ponsel Denis sudah berpindah tangan ke pemiliknya .


"Halo mam "


"Denis ? Ini Denis ya ?"


Denis mengangguk walaupun Felicia tak melihatnya "iya mam "


Adam kembali merebut ponsel itu "gue dulu "


"Mas , gue dulu lah . Ponsel gue itu "


"Gue dulu !"


"Gue !"


"Halo...haloo " ucap Felicia di seberang sana , ia menggelengkan kepala. dapat dipastikan kedua anaknya tengah berebut ponsel .


Tut...tut...


Telpon itu terputus.


Adam meringis melihat ponsel Denis yang terlempar jauh dari tempat mereka duduk , layar ponsel itu pecah .


"Monyet Bonbin lah , hape gue rusak lagi " Denis mengusap kasar wajahnya.


Ia menatap nanar ponsel yang baru saja Adam letakkan di atas meja "maaf " lirih Adam , ia takut Denis akan kembali marah kepadanya .


"Gue beliin deh ntar ya , mau berapa ? Dua ? Tiga ? Lima ? Sepuluh ?" Bujuk Adam ketika melihat Denis memutar-mutar ponselnya yang sudah rusak .


"Jangan belagu , Lo beli pulsa aja mikir sok-sokan mau borongin gue hape !" Ucap Denis , Adam hanya terkekeh.


Kehadiran Denis membuat Adam melupakan sesuatu , ia berusaha untuk mengingatnya namun nihil .


Ia kembali berbincang-bincang dengan Denis , menanyakan soal keadaan kakinya dan berharap adiknya segera sembuh .


Setelah tiga jam , baru ingat tujuan ia mandi pagi-pagi sekali . Adam segera bangkit dari duduknya , ia mengambil ponsel yang sejak tadi ia letakkan di kamarnya.


Adam menepuk jidat , ada puluhan panggilan tak terjawab dari Audrie .


Ia menggigit bibir bawahnya dengan cemas , Audrie pasti marah besar kepadanya .


Lebih baik ia mengajak serta Denis ke rumah Audrie untuk alasannya tidak bisa menemani Audrie , ia mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari kamar .


"Loh mas ? Mau ke mana ?" Tanya Denis bingung .


"Udah entar aja jelasinnya , ikut gue sekarang" ucap Adam .


Mereka berdua turun menaiki lift , sampai di lantai dasar mereka berjalan ke arah mobil Adam terparkir.

__ADS_1


__ADS_2