

Hari Minggu adalah hari di mana orang bermalas-malasan , bergelung di dalam selimut hingga siang menjelang.
Lain halnya dengan Minggu pagi Adam kali ini , ia sudah diteror oleh Audrie untuk mengantarnya jalan-jalan ber car freeday ria .
Sebenarnya Adam masih mengantuk , dengan terpaksa ia mengguyur badannya agar segar dan tidak terlihat kucel saat jalan bersama Audrie .
Di acara Car freeday nanti sekalian menjadi ajangnya untuk mejeng siapa tahu dapat tambatan hati , bicara soal tambatan hati ia jadi teringat dengan gadis manis bernama Clarissa itu . Ah , namun Adam masih enggan mengakui perasaannya.
Rumah megah di pemukiman elite (meskipun punya bokap gue sih .batin Adam )
Mobil mewah tak ada yang kredit
Masa depan cerah tak akan sulit
Wajah tampan sipit-sipit bradpit
Semua aku punya , semua aku ada
Satu yang tak ada , satu yang tak punya
Only looooove , hanyalah cinta
Only looooove, yang aku pinta
Hanyalah cinta , hanya lah cinta yang aku pinta untukku .
Hidup bergelimang harta , tiada arti tanpa cinta
Suara sumbang Adam menggema di seluruh penjuru kamar mandinya , ia bernyanyi ala-ala penyanyi kamar mandi .
Tak peduli tetangga apartemennya akan mengomel , yang penting ia bisa menyalurkan bakat yang terpendam.
Kesenangan Adam nampaknya hanya sampai di situ saja , bunyi bel berulangkali membuat konsentrasinya bernyanyi jadi berantakan .
"Anjiir , sabar bisa kali " umpat Adam , ia hanya melilitkan handuk hingga sebatas pinggang membiarkan air menetes membasahi dada bidangnya .
Dengan berlari ia menuju ruang tamu apartemennya , membukakan pintu tamu sialan yang sejak tadi masih membunyikan bel dengan semena-mena.
"Siapa sih namu pagi-pagi kayak gini " kesalnya , ia menarik gagang pintu hingga pintu itu terbuka.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Ia terpana melihat siapa yang datang , lalu memeluk erat tamunya itu .
"Mas , lepasin gue atau handuk Lo gue tarik " ketus tamu itu .
Adam terpaksa melepaskan pelukan kerinduannya , jika tidak orang itu sudah melakukan apa yang diucapkannya tadi.
"Masuk " ucap Adam riang .
Rasa kesalnya tadi telah menguar bersama rasa kangennya yang sudah terobati , Denis mengunjunginya hari ini .
Dengan diantar supir , Denis pagi-pagi sekali mendatangi alamat apartemen yang diberikan oleh Surya .
Denis mengedarkan pandangannya ketika memasuki ruang tamu apartemen Adam , cukup rapi untuk lelaki yang tinggal sendiri.
__ADS_1
Ia bertanya-tanya kenapa Adam lebih memilih Tinggal di apartemen sempit ini , padahal dia yakin dengan uang yang dimiliki kakaknya bisa membeli rumah setara milik opanya .
Adam salah tingkah ketika tak sengaja matanya dan mata Denis bertemu pandang, kesalahannya kemarin itu membuatnya canggung .
"Ah , gue ganti baju bentar ya ?" Denis mengangguk , matanya kembali fokus meneliti apartemen Adam .
Dengan cepat Adam memakai bajunya , cukup dengan kaos oblong berwarna abu dan celana jeans selutut seperti biasa saat ia sedang santai di rumah.
"Mau minum apa ?" Tawar Adam , meskipun Denis adiknya namun ia tetap tamu di apartemennya.
"Terserah elo mas " jawab Denis .
Adam menuju pantry membuatkan minuman untuk Denis , secangkir kopi cocok untuk udara pagi yang masih terasa dingin .
Ia membuka kulkas , diambilnya beberapa kantong camilan yang dibelinya kemarin sore .
Di kulkas memang selalu tersedia makanan buat jaga-jaga saat Adam lapar , ia malas jika harus keluar untuk mencari makan . Mending sebelum masuk , ia menyempatkan diri membeli keperluannya selama ia di apartemen.
"Monggo " Adam meletakkan camilan dan dua cangkir kopi tadi ke atas meja .
Denis mengangguk , sebenarnya Adam tak perlu repot-repot memberinya suguhan , sudah seperti tamu yang datang dari jauh saja .
Adam duduk di sebelah Denis , ditatapnya wajah adik yang beberapa Minggu ini tak ia ketahui keberadaannya justru sekarang berada di hadapannya.
"Soal yang kemarin gue minta maaf " sesal Adam , sungguh ia tak sengaja melontarkan kata-kata yang membuat Denis sakit hati.
"Mas , gue juga minta maaf. Gak seharusnya gue semarah itu sama Lo , emang faktanya begitu. Daddy saja yang berjanji akan merawatku di sini ternyata bohong , dia sama sekali tak bertanggung jawab mas . Gue dititipin di rumah Oma " ucap Denis sedih.
" udah jangan dipikirin , fokus kesembuhan lo aja dulu "
Mereka berdua saling berpelukan , melebur amarah yang pernah tercipta di antara mereka .
Pelukan mereka cukup lama , membuat Denis sadar lalu melepas pelukan itu terlebih dahulu.
"Gue bukan pacar Lo mas , main peluk-peluk aja !" Denis terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Ia lupa jika Adam sama sekali belum pernah pacaran , jadi mana tahu Adam bagaimana rasanya berpelukan dengan kekasih .
"Kenapa ketawa Lo ?" Ucap Adam penasaran .
"Enggak , jijik aja gue pelukan sama Lo " kilah Denis , ia tak tega mengatakan alasan sebenarnya ia tertawa tadi . Takut Adam baper .
Adam menyonyor pelan kepala Denis .
Saat sudah terjadi percekcokan kecil antara mereka berdua , itu berarti hubungan mereka telah kembali seperti semula .
" kabar mami bagaimana mas? "
Adam hampir tersedak kopi hitam yang ia sruput , Adam juga sama seperti Denis, ia tak tahu kabar terbaru maminya karena fokus melancarkan misi-misi nya.
" telpon yuk? "
"Yuk , yuk " Denis mengangguk antusias.
"Tapi...pake hape Lo ya , punya gue pulsanya abis. Hehe "
Denis memutar bola matanya malas "katanya pengusaha muda , bergelimang harta taunya pulsa tak punya" cibir Denis .
Adam hanya nyengir tak berdosa , ternyata Denis dengar saat ia bernyanyi tadi "belum sempat ngisi , udah kita mau nelpon mami bukan mau debat " ucap Adam .
Dengan malas , Denis mengambil ponsel di saku celananya lalu memberikannya kepada Adam .
__ADS_1
Karena hapal di luar kepala , Adam mengetikkan nomer Felicia dengan cepat .
Nada tunggu kedua , sambungan itu terhubung.
"Halo , siapa ini ?"
"Mami" Adam sumringah mendengar suara maminya .
"Adam ya ?"
"Iya mi , mami lagi ap..."
Belum sempat Adam melanjutkan pertanyaannya , ponsel Denis sudah berpindah tangan ke pemiliknya .
"Halo mam "
"Denis ? Ini Denis ya ?"
Denis mengangguk walaupun Felicia tak melihatnya "iya mam "
Adam kembali merebut ponsel itu "gue dulu "
"Mas , gue dulu lah . Ponsel gue itu "
"Gue dulu !"
"Gue !"
"Halo...haloo " ucap Felicia di seberang sana , ia menggelengkan kepala. dapat dipastikan kedua anaknya tengah berebut ponsel .
Tut...tut...
Telpon itu terputus.
Adam meringis melihat ponsel Denis yang terlempar jauh dari tempat mereka duduk , layar ponsel itu pecah .
"Monyet Bonbin lah , hape gue rusak lagi " Denis mengusap kasar wajahnya.
Ia menatap nanar ponsel yang baru saja Adam letakkan di atas meja "maaf " lirih Adam , ia takut Denis akan kembali marah kepadanya .
"Gue beliin deh ntar ya , mau berapa ? Dua ? Tiga ? Lima ? Sepuluh ?" Bujuk Adam ketika melihat Denis memutar-mutar ponselnya yang sudah rusak .
"Jangan belagu , Lo beli pulsa aja mikir sok-sokan mau borongin gue hape !" Ucap Denis , Adam hanya terkekeh.
Kehadiran Denis membuat Adam melupakan sesuatu , ia berusaha untuk mengingatnya namun nihil .
Ia kembali berbincang-bincang dengan Denis , menanyakan soal keadaan kakinya dan berharap adiknya segera sembuh .
Setelah tiga jam , baru ingat tujuan ia mandi pagi-pagi sekali . Adam segera bangkit dari duduknya , ia mengambil ponsel yang sejak tadi ia letakkan di kamarnya.
Adam menepuk jidat , ada puluhan panggilan tak terjawab dari Audrie .
Ia menggigit bibir bawahnya dengan cemas , Audrie pasti marah besar kepadanya .
Lebih baik ia mengajak serta Denis ke rumah Audrie untuk alasannya tidak bisa menemani Audrie , ia mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari kamar .
"Loh mas ? Mau ke mana ?" Tanya Denis bingung .
"Udah entar aja jelasinnya , ikut gue sekarang" ucap Adam .
Mereka berdua turun menaiki lift , sampai di lantai dasar mereka berjalan ke arah mobil Adam terparkir.
__ADS_1