
Denis sudah dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya berangsur-angsur membaik.
Hari ini Rama dan Devan mengunjunginya , seperti biasa jika tiga orang remaja ini berkumpul dalam satu ruangan kehebohanlah yang akan tercipta.
"sory bro, kita baru jenguk elo. Jam besuk ICU kan terbatas. Gimana keadaan lo? " tanya Rama.
" ya seperti yang lo lihat, gue udah gak kenapa-napa " jawab Denis santai.
Tiba-tiba Devan menekan kening Denis yang dibalut perban, membuat bocah itu mengaduh.
" Gila, sakit banget" Denis meringis merasakan nyeri.
"makanya jangan sok-sok an gak kenapa-napa " cibir Devan .
"Kenapa Denis ?" Ucap Miko. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya , ia baru saja menelpon Rudi untuk menambah cutinya beberapa Minggu ke depan.
"Ada cogan " ucap Rama dan Devan bersamaan saat melihat Miko melangkah ke arah mereka .
"Siapa ?" Tanya Devan tanpa suara kepada Rama .
"Mana gue tempe !" Rama menyonyor kepala Devan .
Miko mengulurkan tangannya "saya Miko , daddy-nya Denis "
Denis memutar bola matanya malas , ngapain juga daddy-nya mengenalkan diri . Gak penting banget, batinnya.
"Rama Om "
"Devan Om " ucap mereka bergantian.
"Kalian teman Denis ?"
Mereka mengangguk bersamaan .
"Kalian lanjutkan lagi Ngobrolnya " ucap Miko , lalu ia kembali duduk di sofa .
"Kata Lo , bokap Lo udah mati ? Dia bangkit lagi dari kubur ya ?" Ucap Devan .
"Tau ah , gue kesel sama Lo . Masih sakit ini jidat gue " sungut Denis .
Rama terkekeh , ia suka jika melihat kedua sahabatnya itu bertengkar.
Mereka bertiga larut dengan banyolan mereka masing-masing , tak memperdulikan kehadiran Miko .
"Halo mas Denis " suara cempreng Audrie menggema di ruang VVIP tempat Denis dirawat .
Semua mata tertuju kepada Audrie "hehe , maaf "
Audrie masuk dan duduk di sebelah Miko , ia mencium tangan Miko terlebih dahulu "Om , apa kabar ?"
"Baik Audrie " ucap Miko .
"Siapa lagi ?" Tanya Devan , insting playboy Devan mulai beraksi melihat gadis secantik Audrie.
"Adiknya mas Adam "
__ADS_1
Mendengar nama Adam , devan hanya ber'oh'ria . Ia tahu bagaimana dinginnya sifat Adam .
"Kamu datang sama siapa Drie ?"
"Sama mas Adam , tuh di luar " Audrie menunjuk ke luar ruangan .
Adam lebih memilih menunggu di luar , ia akan masuk jika tak ada Miko di dalam .
Adam sibuk dengan ponselnya , lebih tepatnya menyibukkan diri sembari menunggu Audrie.
"Mas , mas. Tolongin gue "
Seorang gadis menepuk-nepuk pundak Adam , membuat pandangannya yang fokus ke ponsel menoleh ke arah gadis itu .
"Apa ?" Adam menatap dingin perempuan di sampingnya.
"Ikut gue " tanpa permisi , gadis itu menarik lengan Adam .
Mengajak Adam masuk ke dalam ruangan di samping tempat Denis , ada seorang wanita paruh baya terbaring di atas brankar.
Mendengar bunyi pintu terbuka, wanita itu bangun dari tidurnya.
"Clarissa ?"
"Iya ma "
Clarissa nama gadis itu , dan ia membawa Adam masuk ke ruang perawatan mamanya .
"Sama siapa ?"
Mata Adam mendelik , what ? Pacar ?
Wanita itu memandangi Adam dari atas sampai bawah , ganteng juga batinnya .
"Siapa namamu ?"
"Adam ,Tante ." seulas senyum terpaksa Adam berikan kepada wanita itu .
"Apa pekerjaanmu ?"
Aduh , gue belum sempat ngode dia buat bohong soal pekerjaan. Batin Clarissa.
"Saya bekerja di Wijaya group Tante " ucap Adam setengah jujur , padahal ia adalah calon pewaris dari Wijaya group itu .
"Bos kamu Aditya Azka Wijaya itu ya ?" Adam mengangguk , tak heran banyak yang mengenal Adit . Nama papanya memang terkenal di kalangan pengusaha , dan juga seorang pemilik salah satu hotel berbintang di kota ini .
Terserah lah , apapun pekerjaannya. Yang penting gue lepas sama Alex itu . Batin Clarissa lagi .
"Baiklah , Mama setuju sama yang ini "
Clarissa menghela napas lega , ia berhasil lolos dari kejaran Mamanya yang terus mendesaknya untuk menikah dengan Alex anak teman mamanya yang sama sekali tak ia cintai .
Beruntunglah Adam , Clarissa segera mengajaknya keluar setelah mengenalkannya pada mama gadis itu .
"Makasih banyak ya , maaf uda ngerepotin" ucap Clarissa tak enak .
__ADS_1
"Ya " jawab Adam singkat , ia tak ingin terlalu jauh berurusan dengan orang yang tidak ia kenal .
Bersamaan dengan Adam dan clarissa keluar , Adit dan Milka hendak masuk ke dalam ruangan Denis .
Milka tersenyum sumringah melihat anak lelakinya bersama seorang gadis , hal yang sama sekali belum pernah ia lihat selama ini .
"Adam , siapa ini ? Pacarnya tidak dikenalin ?" Ucap Milka , ia menghampiri dua sejoli yang sama-sama sedang memandangnya .
"Cantik , namanya siapa ?"
"Clarissa Tante " Clarissa menjabat tangan Milka , lalu mencium punggung tangannya.
"Masuk yuk , kita jenguk adiknya Adam " Milka menggandeng tangan Rissa , ia mengajak calon mantunya masuk menemui Denis .
Ruangan Denis jadi sangat ramai , hanya saja kurang Felicia.
Rissa yang sama sekali tak mengenal mereka hanya duduk di sofa , ia memainkan jarinya.
"Mama, kangen " Rissa melihat seorang gadis belia memeluk wanita paruh baya yang tadi menyapanya , dapat ia simpulkan gadis itu adik dari Adam .
Rissa mengedarkan pandangannya , ia menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu .
Keluarga besar sepertinya , Lagi-lagi Rissa membatin .
Tiba-tiba seorang pria bersitegang dengan pria lain yang duduk di sebrang sofa .
"Ngapain Lo di sini ?" Ucap pria tadi yang tak lain Adit .
"Jagain anak gue lah " ucap pria satunya lagi .
Rissa kini tengah berada di antara dua pria yang sepertinya akan berkelahi ini , ia bergidik ngeri jika tiba-tiba salah satu pria itu membanting meja di depannya.
Namun sebelum pikiran Rissa terjadi , keduanya terlebih dahulu dilerai .
"Pa , plis . Ini rumah sakit , jangan buat keributan. Lagian bang Miko daddy-nya Denis , wajarlah dia di sini " ucap Milka .
Adit hanya memutar bola matanya malas , istrinya selalu membela pria brengsek di depannya ini .
"Ayo salaman , yang akur . Malu dilihatin anak-anak , malu juga sama calon mantu mu pa "
Adit tak mengindahkan ucapan Milka , dengan malas ia duduk di sebelah Miko . Bukan karena ingin akur , cuma itu satu-satunya tempat duduk yang kosong.
Sementara Rissa masih melongo dibilang calon mantu , ia terjebak sendiri dalam permainannya.
Mati aku . Batin Rissa.
Kini Susana ruangan sangat riuh , seakan ini bukan di sebuah rumah sakit .
Audrie sudah bisa membaur dengan Rama dan Devan , ia mendapat teman baru yang asik untuk diajak mengobrol.
Ia merasa kehilangan saat Rama dan Devan pamit pulang , untungnya mereka akan kembali ke sini esok hari .
Bersamaan dengan itu Clarissa juga pamit pulang , ia tak mau lama-lama berada di ruangan ini , ia juga harus menjaga mamanya yang tengah sakit.
🌿🌿🌿🌿
__ADS_1