Broken Home

Broken Home
PART 7


__ADS_3

Adam sedang duduk di kursi ruangan kerjanya , getaran dariย  ponselnya mengalihkan fokusnya dari berkas yang bertumpuk di depannya .


"Halo "


"........"


"Kerja bagus Do , geber terus . Jangan sampai ada yang tahu ."


"......"


"Oke , gue segera transfer ke rekening lo ."


Sebuah seringaian menghiasi wajah tampan Adam , ia sangat senang rencananya selama ini perlahan berjalan mulus .


"Kita tunggu tanggal mainnya sayang . Blarrr blarrr ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ "


Adam memencet interkom , ia menghubungi sekretaris nya.


"Sari , tolong kosongkan jadwal saya selama seminggu ke depan ." ucapnya .


"Baik pak ." Jawab Sari .


Adam sudah membayangkan akan berlibur di Semarang , sekaligus melepas rasa rindunya kepada Felicia.


Kini ia kembali berkutat dengan berkas-berkasnya , agar cepat selesai dan cepat pula ia pulang.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Hari ini pembagian nilai UTS , setelah seminggu siswa-siswi menjalaninya.


Dapat nilai jelek ataupun bagus sepertinya sama saja bagi Marsya , tidak ada yang peduli.


Seperti sekarang , ia hanya memandangi hasil UTSnya yang ia letakkan di meja .


Hampir semua nilainya 90 , namun itu tak berati bagi Marsya apalagi orang tuanya .


Berbeda dengan Audrie , ia kini tengah habis-habisan dimarahi oleh Adit .


Kini ia tengah di sidang oleh kedua orang tuanya .


"Apa ini ? Matematika 3,55 , bahasa Indonesia 4,0 , biologi 3,45 , kimia 5,7 . Ini nilai apa Ipk Audrie ! " Sindir Adit .


Audrie hanya menunduk , ia takut kini papanya tengah menatapnya tajam .


"Maaf pa. " Gumam Audrie lirih .


"Mulai besok , jadwal les kamu papa tambah. Setiap hari kamu les !" Ucap Adit membuat Audrie terperangah.


Bayangkan saja , ia harus berpusing-pusing setelah seharian sekolah masih saja ditambah jam les .


Les yang seminggu tiga kali saja sudah membuatnya puyeng , ini malah setiap hari dalam seminggu ia harus les.


Poor you Audrie! Batinnya .


"Pa , apa gak kebanyakan? Tiga kali seminggu cukup pa. " Milka mencoba menengahi , ia kasihan juga dengan Audrie .


"Keputusan papa sudah bulat ma , semua juga demi Audrie," ucap Adit final .


Adit beranjak dari duduknya , ia lelah hari ini . Sebaiknya ia istirahat saja .

__ADS_1


"Ma , gimana ?" Tanya Audrie.


"Maaf sayang , Mama tidak bisa menolak keinginan papamu . Ini juga demi masa depanmu ." Ucap Milka .


Audrie mendengus kesal, bersiaplah setelah liburan selesai ia akan segera bertempur dengan jadwal les yang padat .


Salahnya sendiri , waktu kecil merengek minta sekolah bareng Marsya padahal seharusnya ia sekarang masih kelas X .


Ingin sekali ia meraung-raung saat ini , agar Adit membatalkan niatnya.


Namun Audrie urungkan , ia tahu papanya yang teguh pendirian itu .


Bukannya dikurangi , malah nanti ditambah hukuman buatnya. Dengan pengurangan uang jajan misalnya ,Audrie bergidik ngeri membayangkannya .


"Jangan mikir yang aneh-aneh." ucap Milka seakan mengerti pikiran Audrie .


"Hehe ... enggak ma."


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Pagi ini , Adam mendatangi rumah Adit.


Ia bermaksud untuk berpamitan kepada papanya , sekaligus meminta papanya menghandle pekerjaannya.


"Pagi pa. " Sapa Adam saat melihat Adit telah siap berangkat ke kantor.


"Loh , mau ke mana ? Pake koper segala ?" Cerocos Milka yang tiba-tiba muncul di belakang Adit .


Adam mencium punggung tangan Milka.


"Adam mau pamit ma , Adam mau pulang ke Semarang. Sekalian minta bantuan papa untuk mengurus kantor selama Adam pergi, "


Soal urusan kantor, bagi Adit itu urusan yang mudah .


Audrie baru saja turun dengan masih memakai piyama tidurnya , hari libur baginya hari untuk bermalas-malasan.


"Mas ,mas Adam mau ke mana ? Mau minggat ya ? " Ucap Audrie histeris.


Adam mengusap wajahnya kasar , ia sengaja datang pagi agar tidak ketemu bocah satu ini malah sekarang Audrie sudah ada di hadapannya.


"Iya , minggat Ning kali asat ! " ucap Adam dengan bahasa Jawa yang tak dimengerti Audrie.


"Kali asat mana sih mas ? Aku ikut ya ?" Rengek Audrie.


Adam memutar bola matanya malas , Audrie tak tahu saja kata barusan yang ia ucapkan itu bukan menunjukkan tempat akan tetapi sebuah umpatan kekesalan .


"Mas , ikut ya ? Plisss. " Rengeknya lagi , kini Audrie tengah berlutut di depan kakaknya itu , berharap hati kakaknya luluh dan mau mengajaknya .


"Iya , iya ikut . Jangan nyusahin dan jangan rewel !" Putus Adam , ia tak tega melihat adiknya yang hampir menangis itu .


Itung-itung sekalian menyenangkan hati Audrie , ia tahu pasti adiknya itu butuh refreshing setelah UTS .


"Asikkkk ! " Teriak Audrie , ia berjalan cepat ke kamarnya. Ia harus mengemas bajunya .


Adit hanya geleng kepala "Seperti mamanya , suka merengek !" cibir Adit .


Milka yang mendengar perkataan Adit , mencubit keras perut rata suaminya membuat Adit meringis kesakitan.


"Aduh , sakit ma. Emang faktanya dulu Mama seperti itu , Mama juga merengek minta ikut pas papa mau ke Semarang." Ucap Adit.

__ADS_1


Tangan Milka sudah siap kembali mencubit Adit , sebelum terjadi , Adit terlebih dahulu lari tunggang langgang menjauhi Milka dan cubitan mautnya .


Adam terkekeh melihat kelakuan kedua orangtuanya , seperti bocah batinnya .


"Papa berangkat dulu ya Mama sayang , dadaaaah. Adam minta diantar pak supir ya , papa ada meeting pagi !" Teriak Adit dari ambang pintu, lalu masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan rumah .


Audrie turun dengan menggeret sebuah koper besar , ia kelihatan kesusahan namun Adam sama sekali tak berniat membantu Audrie.


"Kamu mau liburan apa mau minggat sih ?" Gerutu Adam melihat koper sebesar itu , sedangkan ia hanya membawa koper berukuran setengahnya .


"Liburan lah mas , aku bawa banyak.ย  Catokan , sisir listrik , hairdryer, tongsis , tripod. "


Adam menggeram kesal , barang yang dibawa Audrie benar-benar barang yang tak bermanfaat. Menambah bebannya saja , karena nanti pasti Audrie tak mau membawa kopernya sendiri.


"Ya sudahlah , daripada nanti kita telat . Ma, kita pamit ya ." Ucap Adam , ia menyalami tangan Milka .


"Iya , hati-hati di jalan ,kalau sampai Semarang kabarin . Terus buat Audrie jangan ngerepotin masmu , sama jangan bikin onar di rumah mami Felicia ya ?" Titah Milka yang diangguki cepat oleh Audrie, ia tak ingin mamanya berlama-lama berceramah.


"Kita berangkat ma , dadaaah ."


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


"Mas ,Lo gak tidur di rumah gue aja ? Di sini kamarnya cuma ada dua , buat mami sama Audrie. " Cerocos Denis , ia ingin ditemani Adam pulang malam ini .


Adam dan Audrie akan menginap di rumah Felicia , sedangkan Denis yang sejak pagi di sana terpaksa harus pulang karena keterbatasan kamar .


"Ogah , biar gue tidur di sofa ." Tukas Adam .


"Ayolah mas , anterin gue pulang kek! " Rengek Denis .


"Emoh Denis , di rumah Lo banyak setannya.ย  Sereeeem. " Ucap Adam menakut-nakuti Denis .


Bocah remaja itu memang takut hantu , jangankan hantu dia tidur dengan kondisi lampu padampun tidak pernah.


"Setan Lo mas , malah nakutin.ย  Anterin gue pulang sekarang !"


Denis bergidik ngeri , kalau-kalau saat ia pulang nanti ada mbak Kunti yang numpang di mobilnya .


Adam menyelimuti tubuhnya, kemudian berbaring di atas sofa. Tak menghiraukan Denis yang kini sepertinya akan menangis .


"Mas ,plissss. Anterin pulang ."


Adam tak bergeming , ia semakin merapatkan matanya .


"Sebel deh gue , ngapain pulang Lo kalau ngerusuhin hidup gue !" Gerutu Denis .


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam , apalagi ini malam Jum'at.


"Mami , Denis takut pulang ."


Sayangnya Felicia sudah tidur jam sembilan tepat tadi , setetes air mata mengalir di pipi Denis .


"Tahu ah , gue berani-berani in pulang.ย  Bismillah."


Dasar Adam , kakak laknat ! sudah untung Denis menjemputnya di bandara tadi.


Dengan mengumpulkan keberanian , Denis mengemudikan mobil ke rumahnya .


Untung saja hanya berjarak beberapa kilometer saja , hanya memerlukan lima belas menit bagi Denis untuk sampai di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2