
Pagi ini kedua sahabat Radit akan mengantarkan Radit kesekolah. Mereka sengaja menginap dirumah Radit dan menemani Radit. Bi Inah sudah menyiapkan sarapan pagi buat ketiga remaja. Dimas menghampiri Radit yang masih duduk termenung di kursi meja belajar.
"Radit...kita sarapan dulu yu. Setelah itu pergi kesekolah" ucap Dimas menepuk bahu Radit.
Radit melirik tangan Dimas yang menempel di bahunya. Radit mengangguk dan manut mengikuti perkataan Dimas. mereka bertiga pun segera keluar kamar. Dan menuruni tangga menuju ruang makan.
Bi Inah melihat ketiga remaja datang.
"sarapan sudah siap. Kalian sarapan dulu ya" ucap bi Inah menyiapkan susu buat mereka.
"iya bi. makasih" jawab Dimas tersenyum.
Bi Inah membalas senyuman Dimas dengan bibir ketir. bagaimana tidak merasa kegetiran di diri bi inah. ia merasakan apa yang dirasakan Radit. Atas hilangnya Raisa. Bagas muncul keruang makan.
"selamat pagi om" sapa serentak Dimas dan jaki.
"hai, selamat pagi juga" jawab Bagas sambil menarik kursi.
Bagas melirik Radit yang tidak bersemangat. Begitupun dengan Dimas dan jaki.
"hm, Radit hari ini. terakhir ujian. Kamu semangat ya. jangan sampai ngecewain mamah dan papah lagi" ucap Bagas melirik Radit.
Lagi lagi Radit hanya mengangguk pelan. Mereka pun mulai menyantap makanan. Dimas dan jaki melirik Radit dan Bagas. Mereka makan pun tidak nafsu. Dan tidak memiliki selera untuk melahap makanan. setelah usai sarapan mereka segera aktivitas masing masing. Dimas dan jaki mengantar Radit ke sekolah. dan menunggu Radit diluar kelas. guru pengawas pun datang. Ia pun masuk kelas dan melihat Radit berwajah murung tidak semangat. Dimas dan jaki mengintip Radit di luar kaca jendela. Pengawas itu memberikan kertas soal ujian kepada Radit. Radit mengambilnya dengan lemas. Guru pengawas tidak tau apa yang terjadi dengan Radit. namun, dia Tidak pedulikan. Dia keluar sebentar menemui Dimas dan jaki.
"ada apa dengan Radit?" tanya pengawas itu pelan.
"ibu nya diculik pak" jawab jaki spontan.
"diculik" pengawas itu terkejut.
Jaki dan Dimas mengangguk..Kini pengawas itu paham. kenapa Radit berwajah murung. pengawas Kembali ke kelas dan mendekati Radit. dia melihat kertas ujian masih kosong belum di isi jawaban dari Radit.
"Radit, kenapa kamu belum menjawab pertanyaan nya?" tanya pengawas melirik kertas ujian
"belum pak" jawab Radit tidak bersemangat.
"Radit ini adalah terakhir ujian buat kamu. kalau kamu tidak menjawab nya . Mau sampai kapan ujian ini berakhir?" tanya pengawas.
__ADS_1
Radit diam membisu menatap kertas ujian. Dia tidak fokus untuk menjawab setiap pertanyaan soal ujian itu.
"hasil ujian kemarin kamu setelah di nilai. hasil nya bagus dan memuaskan. Dan ini adalah penentuan kelulusan kamu untuk terakhir Kalinya. Kalau kamu bisa menjawab pertanyaan ini dengan benar. kamu lulus. Maka dari itu kamu harus bisa. Dan fokus" panjang lebar pengawas itu menasehati Radit. pengawas itu ikut prihatin dengan permasalahan yang dihadapi Radit. Radit mengangguk. Dan yakin dirinya bisa meskipun pikiran nya saat ini kacau.
Bagas masih dalam pencarian Raisa. Dia tidak putus asa dan harapan untuk menemukan Raisa kembali. Meeting hari ini adalah merencanakan pencarian Raisa.
"hari ini kita akan mencari kesetiap hutan, sungai dan tempat tempat yang jarang di jelajahi orang banyak. biasanya mereka menyembunyikan korban ditempat tempat seperti itu" ucap sersan membuka pembicaraan meeting.
"siap pak! kami juga sudah menyebarkan informasi kehilangan ibu Raisa kesetiap pelosok. Dan ritme kehilangan. Juga beberapa stasiun televisi pun sudah mulai menyiarkan kehilangan beliau." lapor salah satu anggota polisi.
"baik kalau begitu kita siap pencarian untuk hari ini. Segera dimulai."
"laksanakan!"
meeting pun usai. Mereka pun bubar dan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari Raisa dibeberapa tempat yang berbeda.
Berita kehilangan Raisa sudah menyebar di setiap stasiun tv dan media sosial. Alex terkejut melihat berita di media sosial soal kehilangan Raisa.
"mah ..Raisa hilang diculik" ucap Alex menyodorkan hp ke Winda.
"mana pah" Winda mengambil hp dari tangan Alex.
"lah masa bohong sih. Tuh kan udah nyebar di media sosial segala dan di tv mah. masa berita bohong" jawab Alex menjelaskan.
"iya juga ya pah. Tapi kok bisa ya?" tanya Winda heran
"namanya juga penculikan mah..bisa aja menyerang siapa aja mah ." jawab Alex sambil duduk dibangku ruang tunggu.
Winda bengong seakan akan tidak percaya.
begitupun dengan Wisnu dan Wina. Mereka terkejut melihat berita kehilangan Raisa di tv. Saat itu mereka sedang makan di restoran langganan. mereka tercengang bengong.
"berita nya sudah masuk tv" bisik Winda kepada Wisnu
wisnu diam sekan akan terhipnotis dengan berita itu. Dia tidak menyangka Bagas akan mencari Raisa melalui berita di tv dan media sosial. Bahkan beberapa pengumuman kehilangan telah menyebar di setiap tembok jalanan.
"ini gawat" ucap Wisnu terpaku diam.
__ADS_1
"gawat?. maksudnya?" tanya Wina heran.
"kita bisa terancam..bodoh!" bentak Wisnu melototkan mata kepada Wina.
"terus apa yang harus kita lakukan?" Wina mulai panik dan cemas.
"tidak ada yang harus kita lakukan. Selain kabur" jawab Wisnu ketakutan.
Mereka segera pergi meninggalkan restoran itu setelah melakukan pembayaran. Mereka merencanakan kepergian nya dari kota tersebut.
"kita segera pergi dari kota ini" ucap Wisnu didalam mobil
"kenapa harus pergi? Mereka kan ga tau kalau kita yang melakukan penculikan Raisa" Wina tidak paham dengan apa yang diucapkan Wisnu
"kamu bodoh ya. Kalau mereka sampai menemukan Raisa. pasti Raisa akan memberi tahukan kalau kita pelaku nya. Bagaimana sih kamu ini" bentak Wisnu menjelaskan kepada Wina.
"benar juga ya" gumam Wina paham.
"kau mau masuk penjara?" tanya Wisnu cemas
" ga lah!" bantah Wina.
"makanya kita harus kabur!" jawab wisnu mulai ketakutan.
"meskipun kita kabur terus Raisa ditemukan. mereka akan tau kita pelaku nya. Jadi tidak ada jalan lain lagi. Kecuali..."
"kecuali apa?" windu memotong pembicaraan Wina yang meliriknya.
"bunuh dia!" jawab Wina sadis.
Wisnu terdiam sejenak. Dia memikirkan apa yang dikatakan Wina. dia berpikir memang ada benarnya. hidup nya Raisa adalah sebuah ancaman bagi dirinya. Dimana pun dia sembunyi tetap saja tertangkap polisi. Karena Bagas tidak akan diam dan membiarkan begitu saja. apalagi Bagas bisa melakukan apapun dengan uangnya. Wisnu mengangguk paham. hanya dengan ide dari Wina lah dia akan aman.
"benar juga. dengan membunuh dia. kita akan aman. soal mayatnya. Kita kubur kan dia atau berikan kepada buaya. untuk menghilangkan jejak" gumam Wisnu mengangguk.
Wina terkejut menoleh Wisnu. Dia tersenyum lebar. Ide nya di setujui Wisnu.
"kalau begitu malam ini kita harus bertindak" jawab wina tersenyum sinis. wisnu mengangguk.
__ADS_1
Bersambung...