
Anis yang sudah kesal bertamu tanpa ditemani Radit. akhirnya pamitan pulang. Radit sama sekali tidak menemui Anis lagi sampai Anis pulang. ini membuat hati Raisa mengganjal dan tidak enak hati sama Anis. yang selalu dicuekin Radit. Raisa masuk ke kamar Radit. Dengan pelan pelan Raisa menegur Radit.
"sudah selesai belajar nya? " tanya Raisa memulai pembicaraan.
"udah mah" jawab Radit merapihkan bukunya kembali.
"anak mamah ini rajin banget kalau belajar. sampai ga mau diganggu sama siapapun juga" sindir Raisa tersenyum.
Radit cuek tidak pedulikan ucapan Raisa.
"tapi, kamu juga harus bisa menghargai orang-lain. disaat ada tamu apalagi teman mu.. kamu temani dia meskipun sebentar. kalau dia dikasih pengertian ama kamu. dia juga pulang. tapi, daritadi dia ada disini. kamu ga mau menemani dia ngobrol. apalagi menemui dia disaat mau pulang" panjang lebar Raisa menasehati Radit
"maksud mamah, Anis? " tanya Radit melirik Raisa..
"iya siapa lagi? "
"aku kan sudah hilang fokus belajar. dia nya aja ga ngertiin posisi orang lain" Radit bela diri. tidak mau disalahkan.
"iya karena dia ingin ngobrol ama kamu" jawab Raisa.
"mah... sejak kapan sih Radit kedatangan teman cewek? mamah juga kan baru tau? " tanya Radit membalikkan takta.
"iya mamh tau. tapi, ga ada salahnya juga teman cewek datang kerumah. apalagi kalian mau berpisah melanjutkan pendidikan ke universitas. pasti pilihan kalian berbeda kampus" jawab Raisa menyadari Radit.
"eh, tapi Radit... dia cantik... juga pintar... anak kepala sekolah lagi... udah pasti disekolah nya pintar. sama dengan kamu. tadi dia banyak cerita tentang kamu disekolah. kalian memiliki kesamaan. sepertinya kalian cocok deh" sambung Raisa kegirangan
"maksud mamah? " tanya Radit tidak paham
"masa ga tau sih dit. dia itu cantik kamu cakep. kalian cocok kalau suatu hari nanti kalian berjodoh. pasti anaknya mirip ibunya yang cantik.. papah nya yang cakep" puji Raisa yang sudah menghayal menginginkan cucu.
Radit terkejut dengan ucapan Raisa dengan gelagatnya yang senang itu.
berjam jam alex mencari sesuatu yang mencurigakan di layar laptop CCTV. hingga wajahnya menampakkan keseriusan. tak lama kemudian HP alex berbunyi.
"Winda istri ku"
rupanya telepon itu dari Winda. alex segera mengangkat telepon itu.
"iya mam" alex menjawab panggilan Winda.
"pah, lagi dimana?" tanya Winda bersuara panik di ujung telepon
"masih di toko" jawab alex masih fokus pada komputer
"pah, pulang dulu pah. perut Alya sakit" jawab Winda cemas.
__ADS_1
"apa? alya mau melahirkan sekarang? " alex tidak fokus pada suara Winda. karena pandangan menatap serius CCTV itu
"pokoknya papah pulang sekarang! " bantah Winda langsung memutuskan pembicaraan nya melalui telepon
tut tut tut
suara telepon dimatikan Winda.
"aduh.. main di matikn saja! gimana ya.. " alex menjadi bingung antara menolong Bagas dan menolong alya.
sementara alya berteriak keras menahan sakit di perut.
"aduh... mam sakit banget! " teriak alya memanggil Winda.
Winda segera menemui alya lagi setelah menghubungi alex.
"yang sabar ya sayang... mamah udah telepon papah. semoga papah cepat pulang" ucap Winda panik dan mencemaskan Alya.
"tapi mam Alya udah ga kuat lagi" jawab Alya meringis kesakitan yang dahsyat. sambil memegang perutnya.
"iya sayang.. mamah tau mamah juga pernah merasakan. kamu yang sabar ya tahan dulu" Winda terus membujuk Alya untuk tetap kuat.
sementara alex membelakakan matanya terkejut dengan rekaman CCTV tersebut. Dia mengambil hasil pencariannya secara diam diam melaui hpnya. setelah merasa sudah berhasil. akhirnya alex pamit ke karyawan toki untuk segera pulang. Dia pun segera pulang menemui Winda dan Alya. sesampainya dirumah alex langsung menemui mereka.
"mam.. Alya! " teriak alex memanggil istri dan anaknya.
tanpa pikir panjang lagi. alex membantu Alya untuk berjalan ke arah mobil. Winda pun sudah mempersiapkan kebutuhan untuk lahiran Alya. mereka pun segera pergi menuju rumah sakit.
sementara Radit menuangkan air kedalam gelas. Tiba tiba gelas itu tersenggol tangan Radit yang mengangkat teko teh. hingga gelas itu terjatuh ke lantai ruang makan. .
"Alya?! " seru Radit tiba tiba teringat Alya.
bi inah yang tidak sengaja mendengar pecahan gelas langsung berlari ke arah ruang makan. dan terkejut mendengar Radit menyebutkan nama seorang wanita.
"mas Radit? " sapa bi inah pelan menghampiri Radit yang sedang bengong teringat Alya.
Radit terkejut menengok bi inah.
"bi inah" ucap Radit spontan.
"mas Radit ga terluka kan?" tanya bi inah mencoba menghempaskan ucapan Radit menyebutkan nama wanita.
"e.. ga bi" jawab Radit gugup.
namun, tiba tiba tanpa sengak, jari Radit memegang pecahan gelas. hingga melukai jari telunjuk nya.
__ADS_1
"aw" spontan Radit kesakitan.
bi inah pun terkejut dan panik melihat darah yang keluar dari jari Radit.
"ya ampun mas Radit. sini sini bibi obati" spontan bi inah menarik tangan Radit pelan pelan menghindari pecahan gelas. bi inah membawa Radit keruang keluarga. bi inah segera mengambil obat di dalam box obat. Dia Segera mengobati luka Radit.
sementara Winda dan Alex mencemaskan Alya yang sedang ditangani dokter.
"pah..." ucap Winda sedih.
"jangan bersedih mam...kita do' a kan saja yang terbaik buat Alya dan bayinya" jawab Alex paham senang kesedihan Winda.
"tapi, mamah takut pah" Winda masih meragukan dengan persalinan Alya.
"duh..ga usah takut gitu lah mah. Kita berpikir yang baik baik nya aja" Alex mencoba menenangkan hati winda meskipun dirinya sendiri juga gelisah hati.
Tak lama kemudian dokter pun keluar. Alex dan Winda segera menghampiri dokter.
"bagaimana keadaan Alya dokter?" tanya Alex cemas.
"Alya sekarang sudah tenang lagi setelah kami berikan obat pereda sakit untuk sementara sebelum melahirkan " Jawab dokter.
Alex dan Winda saling melirik sedikit lega
"berarti belum melahirkan ya, dok?" tanya alex sedikit tenang
"untuk melahirkan masih jauh. Baru pembukaan satu pak. Jadi Alya harus inap rawat dulu" jawab dokter.
"iya dokter. Terima kasih banyak dokter" jawab alex.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" dokter pun segera pergi meninggalkan mereka.
Alex mengangguk tersenyum ketir. Winda yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Alya. Dia langsung masuk ruang rawat inap. nampak Alya tertidur pulas. Alex segera menyusul Winda menemui Alya.
setelah luka Radit dibalut perban kecil. Bi Inah segera membereskan pecahan gelas. Dia masih teringat dengan ucapan Radit yang menyebutkan nama seseorang. Radit yang tidak tenang hati. Berjalan menuju motor yang terparkir dihalaman rumahnya. Radit mengenakan helm dan segera ngegas melaju cepat. niat hati ingin menemui Alya kerumah nya. Dia mencoba memberanikan diri menampakkan diri nya lagi dihadapan Alya. setelah berjalan jauh menunggangi si roda dua. Radit pun sampai dirumah Alya. Rumah yang tertutup tanpa kebisingan. membuat Radit ragu ragu. dia masih Melihat rumah Alya. tiba tiba seorang satpam menepuk bahu Radit. Mengejutkan Radit.
"pak satpam" sapa Radit spontan..
"mereka tidak ada dirumah" pak satpam memberitahukan kepada Radit SE akan akan tau apa niat Radit.
"kemana ya pak?" tanya Radit kaget
"kerumah sakit" jawab. Satpam singkat.
sontak saja Radit terkejut mendengar jawaban satpam itu
__ADS_1
Bersambung....