Broken Home

Broken Home
PART 12


__ADS_3

Ruangan Denis kembali sepi setelah beberapa jam lalu semuanya pamit pulang , kini hanya ada ia dan Miko di ruangan itu .


Saat ini Miko tengah berkutat dengan laptopnya , ia tengah mengecek laporan yang masuk melalui emailnya.


Denis menatap wajah serius Miko , pekerja keras batin Denis .


Rasa bosan menyelimuti Denis , di ruangan sepi ini tak ada yang dapat ia lakukan selain berbaring .


Ingin rasanya ia berlari ke sana dan ke mari , Denis menatap nanar ke arah kakinya .


Jangankan berlari , untuk berdiri saja ia tak mampu .


Denis tak pernah menyayangkan kecelakaan yang dialaminya , karena semua itu bagian dari takdir hidup Denis .


Kruyukkk...


Bunyi perut Denis , ia lapar .


Sejak tadi perutnya sama sekali Belum terisi makanan , lidahnya terasa pahit jika memakan makanan dari rumah sakit ,ia kangen ayam goreng buatan maminya .


Denis menelan salivanya susah payah , membayangkan ayam goreng yang baru saja ditiriskan yang masih mengepulkan uap dan bau yang khas .


Mami , Denis kangen ayam goreng. Batin Denis .


Rasanya ia ingin menangis saat ini juga , ingin meminta bantuan Miko ia gengsi .


"Mau minum atau makan sesuatu denis ?" Denis tersentak kaget , ia sedang membayangkan menggigit ayam-ayam goreng yang sangat lezat .


"Ah.. tidak , makasih " ucap Denis .


"daddy tinggal ke kantin sebentar" Denis mengangguk.


Saat Miko hendak membuka pintu,  pintu itu sudah terbuka dari luar terlebih dahulu.


Miko dan Felicia berpapasan ,  mereka sama-sama mematung.


Miko menatap Felicia ,  wanita itu terlihat cantik hari ini.


"ehem.." deheman Denis menyadarkan mereka,  Miko menggeser tubuhnya memberikan jalan bagi Felicia untuk masuk.


"Permisi " Felicia melewati Miko begitu saja .


"Aku mau ke kantin , kau mau nitip sesuatu ?"


Felicia berhenti sejenak "tidak , terima kasih" jawabnya tanpa menoleh .


Senyum sumringah mengembang di bibir Denis , namun ia segera menyembunyikannya dari Felicia.


"Mami bawain ayam goreng buat kamu " ucap Felicia , ia meletakkan kotak yang berisi nasi dan beberapa potong ayam goreng yang masih hangat .


Miko yang mendengar kata ayam goreng langsung menoleh , ia belum beranjak dari tempatnya tadi .


Rasanya ia sangat merindukan masakan yang dulu setiap pagi menemani sarapannya , namun itu dulu , dulu sekali .


Saat Miko akan melangkah keluar , ucapan Felicia menghentikan langkahnya "aku membawakanmu makan malam juga , makanlah bersama kami " ucapnya .


Miko tersenyum , akhirnya ia kembali bisa merasakan masakan favoritnya.


"Baiklah , aku mau beli kopi dulu ke kantin " ucap Miko , lalu menuju ke kantin .


Felicia menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga , sudah lama juga ia tak makan bersama pria itu .Entah kenapa tiba-tiba hatinya menghangat .


Denis menatap maminya yang telaten meletakkan satu persatu makanan itu ke atas piring , Denis membayangkan ini adalah sebuah makan malam bersama keluarga yang lengkap.

__ADS_1


Ada ayah , ibu , dan anak yang sama sekali belum pernah dirasakan Denis sebelumnya.


Namun sayang status mereka bukanlah keluarga yang lengkap , daddy-nya hanya mantan suami maminya.


Tapi tak apa daddy tetaplah ayahnya , darah pria itu mengalir dalam diri Denis .


Miko telah kembali dengan secangkir kopi di tangan kanannya , dan segelas teh hangat ditangan kirinya untuk Felicia.


Ia meletakkan cangkir dan gelas tadi di atas meja , ia tersenyum kecil melihat makanan telah tersaji untuknya .


Hanya telentang di atas brankar membuat tubuh Denis terasa pegal , ia meminta Miko membantunya duduk .


Miko menggendong Denis , lalu mendudukannya di sofa .


Hanya dengan nasi dan ayam goreng , ketiganya makan dengan sangat lahap .


Selesai makan , Felicia membereskan bekas makanan mereka . Ia akan segera pulang , ia akan naik taksi karena Adam tidak bisa menjemputnya.


Namun Felicia mengurungkan niatnya , ada tamu lagi yang akan menjenguk Denis .


Kini giliran anak-anak singgah , ada lima orang anak yang mewakili anak-anak yang Denis tampung


"Malam Tante "ucap Anto .


Felicia tersenyum ramah "malam Anto , silahkan masuk "


Miko bergidik ngeri melihat anak-anak itu , banyak tattoo dan tindik di tubuh mereka .


Apa selama ini Denis salah gaul ?


"Malem Om " sapa Anto saat bertemu pandang dengan Miko .


"Malam " ucap Miko singkat .


"Kak Denis , bagaimana kondisinya ?" Tanya Lisa , bocah perempuan yang dekat dengan Denis .


Denis belum sempat ke rumah singgah akibat kecelakaan yang menimpanya , biasanya setiap anak yang mendapat nilai baik akan mendapat hadiah dari Denis salah satunya Lisa .


Meskipun bukan barang mewah , namun mampu membuat semangat belajar mereka bertambah .


"Bagus dong kak , nanti kalau Kaka sembuh kasih hadiah lagi ya " ucap Lisa ceria .


Denis terkekeh "Beres pokoknya"


"Kepala dan kakinya sakit ya kak ? Kok diperban ?" Ucap bocah lainnya.


"Ah , enggak kok . Ini biar kelihatan beneran sakit aja , aslinya gak apa-apa" kata Denis santai .


Untung saja tidak ada Devan , jika ada sudah pasti Devan menyoyor kepala Denis yang sok kuat itu .


Padahal jika ia bergerak sedikit saja , kakinya akan terasa ngilu ,Ia masih saja santai bilang tidak apa-apa .


Setelah melihat kondisi Denis , mereka pamit pulang.


Takut jika kemalaman ,  mereka tidak akan dapat angkot untuk pulang .


"Apa kamu mengajarkan cara bergaul yang tidak baik ? Sampai kamu biarkan Denis berteman dengan bocah-bocah liar itu ?" Tanya Miko sarkastik.


Felicia menanggapinya dengan santai "iya , aku yang mengajarkan Denis untuk bergaul bersama mereka.  Bagiku Denis boleh-boleh saja bergaul dengan siapapun , asal tidak membawa pengaruh buruk pada putraku "


"Tapi mereka bocah liar , lihat saja tadi banyak sekali tattoo dan tindik  di tubuh mereka !" Ucap Miko sinis.


"Asal kamu tahu , mereka anak-anak yang baik . Denis yang merangkul mereka , sama-sama senasib membuat Denis mengerti keadaan mereka " ucap Felicia tak kalah sinis .

__ADS_1


"Senasib ? Maksudmu apa ?"


"Mereka sama-sama korban cerai , sama-sama tak dipedulikan ayah dan ibunya ! Mereka berkeliaran di jalanan , lalu Denis memberikan rumah singgah untuk mereka "


Deg !!


Miko terdiam , ucapan Felicia sedikit menyentil hatinya .


Selama ini , ia juga sama sekali tak memperdulikan Denis .


Denis masih beruntung , ia memiliki Felicia yang menyayanginya.


Jika tidak , pasti Denis tidak akan menjadi Denis yang sekarang ini di hadapannya.


Mungkin saja Denis juga akan menjadi anak liar seperti mereka dulu , Miko seharusnya berterima kasih kepada Felicia.


"Mam , dad !!! Pliss ! Jangan bertengkar di sini !" Teriak Denis .


Miko dan Felicia tak sadar jika mereka sedang adu mulut , dan disitu ada Denis .


"Maaf " ucap mereka berdua .


Baru saja tadi mereka seperti keluarga , kini sudah selayaknya orang asing yang dikumpulkan di ruangan yang sama .


Miko dan Felicia sama-sama terdiam , sibuk dengan pikiran masing-masing.


Felicia malas dengan Miko , seenaknya saja ia menuduhnya tak bisa mendidik Denis .


Sementara Miko , ia tengah malu dengan tingkahnya barusan . Ia seharusnya bangga dengan Denis ,Denis telah membawa perubahan yang positif bagi mereka .


Hening yang tercipta di ruangan itu .


"Maafkan aku yang sudah berprasangka buruk padamu , aku hanya takut Denis terjerumus dalam pergaulan yang salah" ucap Miko memecah keheningan .


"Ya !" Balas Felicia singkat.


Denis memutar tubuhnya , ia berbaring memunggungi kedua orang tuanya. Ia malas , ia ingin tidur.


Baru saja memimpikan keluarga yang lengkap , kini mimpi itu hancur .


Padahal Felicia dan Miko dulu sama sekali tak pernah bertengkar mulut seperti tadi , karena ego keduanya lah yang membuat percekcokan itu terjadi .


Dengan terpaksa Felicia menginap di rumah sakit , sudah terlalu larut jika pulang . Dan terpaksa juga harus berada di dekat Miko .


Meskipun sudah pukul 00.00 , Felicia belum bisa memejamkan matanya .


Ia melihat Denis dan Miko sudah sama-sama terlelap.


Miko tidur dengan posisi meringkuk , sofa itu terlalu kecil untuk tubuh jangkung Miko .


Dengan iseng Felicia mendekati Miko , ia menatap wajah Miko yang tenang saat tertidur.


Berbeda saat beberapa jam lalu , begitu tajam dan ketus yang keluar dari bibir tipis pria itu .


Pandangan Felicia naik ke hidung mancung milik Miko , naik lagi ke mata Miko yang terpejam .


Sampai di alis , ia teringat itu bagian favoritnya dari wajah pria itu .


Denis terbangun saat ia menoleh , mendapati maminya tengah memperhatikan daddy-nya.


Lama , lama sekali Felicia terus saja memandangi wajah itu .


Denis tersenyum kecil , apakah maminya masih mencintai daddy ?

__ADS_1


Denis menepis pikirannya , biarkan saja menjadi urusan mami dan daddy-nya saja .


Ia tak ingin berpusing-pusing memikirkan mereka , yang harus ia pikirkan sekarang hanyalah kesembuhannya.


__ADS_2