Broken Home

Broken Home
PART 6


__ADS_3

Di perjalanan pulang ke rumah , senyum di wajah Felicia sama sekali tak luntur .


Ia memandang ke luar jendela , sambil sesekali bersenandung .


"La ..la..laa... aku sayang sekali mmmm "


Denis yang fokus menyetir hanya bisa menggelengkan kepalanya , geli dengan tingkah maminya yang seperti anak ABG sedang jatuh cinta .


"Mam , plis deh ! Jangan aneh kayak gitu  " Omel Denis .


"Siapa yang aneh ?"


"Mami , senyam-senyum sendiri dari tadi. "


"Engg.. enggak !" Felicia salah tingkah.


"Mami kasmaran ya ?" Selidik Denis .


Beruntung mereka sudah sampai di depan rumah Felicia , wanita itu segera turun dari mobil sebelum ketahuan jika kini wajahnya sudah memerah.


Felicia terlebih dahulu masuk ke dalam rumah , diikuti Denis di belakangnya.


Setelah membersihkan diri , Denis duduk di sofa dengan kedua kaki dilipat dan sekantong plastik besar keripik kentang kesukaannya telah siap di pangkuan .


Tak ketinggalan buku di tangan kanannya , besok matematika yang diujikan ia harus belajar ekstra.


"Denis .jangan banyak-banyak makan gituan , banyak micinnya ! " Pekik Felicia mendapati anaknya sedang menikmati camilan.


"Micin enak mam ." Jawab Denis sambil memasukkan kripik kentang ke mulutnya , tanpa menghiraukan maminya .


"Anak sekarang susah bener dibilangin. " Gerutu Felicia.


Drt...drt....


Ponsel Felicia yang tergeletak di atas meja berdering, sebuah panggilan video masuk .


Denis melirik sekilas ID penelponnya , mas Reihan kalau Denis tak salah lihat .


Lagi , Denis melihat senyum lepas maminya ketika menjawab video call itu .


Denis cukup senang , sudah lama ia tak melihat senyum sumringah maminya.


Untuk saat ini Denis harus pasang kuda-kuda , ia tak mau ada yang menyakiti mami tersayangnya .


Dengan berlari , Felicia menuju kamarnya .


Ia tak ingin Denis menguping pembicaraan mereka , ya walaupun bukan pembicaraan yang tidak-tidak.


Felicia pov


Aku segera masuk ke kamar setelah ku angkat video call dari Reihan , bukan apa-apa cuma aku malas meladeni mulut Denis yang super bawel itu .


Anak itu pasti tak akan berhenti meledekku , yang waktu pulang tadi saja aku masih malu .


"Haiii " sapa Reihan .


"Halo "


"Tante Cia !" Ah suara Tiara , anak perempuan yang menggemaskan.


Dia memanggilku Cia , tak banyak yang memanggilku seperti itu . Cuma Adit , iya cuma Adit dulu yang memanggilku dengan nama itu .


"Tiara belum bobo ?"


"Belum Tante , aku digangguin sama ayah. Katanya gak boleh bobo dulu sebelum ayah telpon Tante Cia , aku mau saja Tante tapi dengan syarat ayah mau pakai bando kayak aku. " ucap Tiara polos .


aku tertawa melihat Reihan begitu imut memakai bando dengan bentuk telinga kelinci itu , mereka terlihat begitu kompak.


"Tiara , aduh kenapa bilang sama Tante sih ?" Omel Reihan , Tiara hanya terkikik mendengar omelan Reihan.

__ADS_1


"Tante , ayah kangen sama Tante. "


Ucapan Tiara membuatku tercengang , kangen katanya ? Baru tadi sore mereka bertemu denganku , sudah kangen saja .


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Tiara .


Jangan terlalu pede Felicia , itu hanya omongan asal.


"Udah dulu ya , sepertinya Tiara sudah mengantuk bobok yuk nak." ucap Reihan .


Tiara mencebik kesal "Ayah nih , tadi gangguin aku mau bobo . Sekarang malah disuruh bobo , kalau kang...."


Tiara belum menyelesaikan ucapannya , Reihan terlebih dahulu membungkam mulut anak itu .


"Aku tutup ya , sampai jumpa.  Tiara , dada sama Tante  ." titah Reihan yang diangguki Tiara.


"Dadah Tante Cia , besok ketemu lagi ya ?" Ucap Tiara .


"Iya , dadah.  Selamat malam Tiara."


Segera ku matikan video call itu , aku ingin mengawasi Denis apakah anak itu belajar dengan benar atau tidak .


Aku melangkah ke arah ruang televisi , ada Denis di sana .


Ia tampak serius dengan bukunya , bisa dikatakan kelewat rajin dari biasanya yang sama sekali tak pernah ku lihat ia memegang buku .


Tapi walaupun begitu , Denis tetap selalu menjadi bintang kelas , sama seperti Adam dulu saat masih sekolah.


Mereka jagoan ku yang bisa ku banggakan , mereka bisa membuktikan bahwa tanpa ayah di samping mereka tak mempengaruhi kualitas hidupnya .


Ku usap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipiku , terharu jika melihat Denis tumbuh tanpa kasih sayang ayah .


"Mam ." ucap Denis saat sadar akan keberadaanku .


"Ya ?" Aku mendekati Denis .


"Mami nangis ?" Tanya Denis , ia memang peka tentang hal sekecil apapun yang terjadi padaku .


"Mami labil deh , tadi senyum-senyum sekarang nangis . Hadeeeh , wanita suka gitu ya ?"


Sialnya aku tak pernah menyembunyikan sesuatu dari Denis , dia selalu saja bisa menebak . Apa-apaan ? Tadi Denis mengataiku labil ?


Pengen ku jitak rasanya anak ini, suka ngeselin !


"Belajar yang bener aja , jangan urusin yang tidak-tidak." Ucapku mengalihkan pembicaraan.


Ku lihat Denis malah menutup bukunya.


Hey ! Disuruh belajar kenapa malah udahahn ?


"Kenapa ditutup?"


"Udah selesai." Ucapnya enteng .


Aku mengernyit "Kok cepet ?"


"Belajarnya udah dicicil kemarin-kemarin mam , biar otaknya gak bledos. "


Aku hanya membulatkan mulutku , Denis beranjak dari duduknya sepertinya ia sudah mengantuk .


"Mam , Denis tidur dulu ya . Mami jangan tidur malam-malam , jangan pacaran Mulu ." ucapnya sembari melangkah ke kamarnya .


Aku tersipu , dasar anak itu . Suka sekali mengejek maminya ini .


Sudahlah , lebih baik aku juga tidur .


🌿🌿🌿🌿


Author pov

__ADS_1


Seperti yang Tiara bilang tadi malam , sore ini ia kembali ke cafe Felicia.


Reihan , ayah anak itu menuruti saja keinginan putri semata wayangnya.


Sekalian ia bisa bertemu dengan Felicia , janda cantik kalau kata Reihan .


Reihan hampir setiap hari diajak Tiara ke cafe ini , anak itu senang sekali menikmati ice cream di cafe ini yang memang benar-benar lezat .


Pertama Tiara mengenal cafe ini saat sekolah TKnya mengadakan field study bulan lalu, dipilihlah El Denis cafe sebagai tempat pengenalan bagi anak-anak TK itu .


Di El Denis mereka diajarkan cara membuat ice cream yang unik , berbentuk kerucut seperti gunung dan rasanya sangat enak .


Sejak itulah , Tiara ketagihan untuk terus mengunjungi cafe .


Ditambah lagi pemiliknya yang begitu ramah , membuat Tiara senang berkunjung ke sana .


Tring...


Lonceng pintu cafe berbunyi , menandakan ada pengunjung yang datang .


Felicia sudah hapal siapa yang datang dijam ini , ia menyambut gadis kecil itu dengan senyum ramah .


"Hai Tiara ."


"Hai Tante , Tiara dateng lagi sama ayah ." ucap Tiara .


Pintu Kembali terbuka , menampakkan seorang pria dengan stelan kerjanya.


"Selamat datang kembali di El Denis cafe. " sapa Felicia.


Reihan hanya mengangguk , kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya .


"Tante , Tiara mau Merapi mountain ice ya . Seperti biasa " ucap Tiara .


"Hei , itu gak kebesaran buat kamu ? Kamu sudah tiap hari makan ice cream , pesen yang agak kecil ya ?" Tiara menggeleng cepat.


"No ! Pokoknya yang itu , kalau Tiara gak abis kan masih ada ayah ."


Reihan mendesah pelan , anaknya memang susah dibujuk apapun itu harus keturutan.


"Ya sudah , Merapi mountain ice satu ya "


Felicia mengangguk , ia menuju meja pesanan untuk meminta pelayannya untuk membuatkan pesanan Tiara .


Setelah pesanan jadi , Felicia sendiri yang mengantarkannya ke meja biasa tempat Tiara duduk.


"Silahkan dinikmati." ucap Felicia sambil meletakkan ice cream jumbo itu.


"Horeii ! Makasih Tante " Teriak Tiara.


Sementara Reihan hanya harap-harap cemas , ia takut anaknya terkena flu karena setiap hari makan es .


Ya meskipun selama ini memang tidak pernah ada tanda-tanda akan terkena flu , namun tetap saja ia khawatir.


Reihan memakan separuh lebih bagian es Tiara , agar anaknya itu tak makan terlalu banyak.


Felicia hanya tersenyum melihat dua anak dan bapak ini berebut ice cream di depannya , Reihan sepertinya juga menikmati ice cream tadi .


"Sudah habis , pulang yuk ? Papa mau ke kantor lagi ." ucap Reihan , Tiara sedikit kecewa karena ia masih ingin berlama-lama di sini .


Sebenarnya Reihan sama halnya dengan Tiara , namun ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantornya.


"Besok kita ke sini lagi , gimana ?" Bujuk Reihan .


Beruntunglah kali ini Tiara mengangguk , jadi ia tak perlu lagi repot-repot mencari cara agar anaknya mau diajak pulang .


"Kita pulang dulu ya Tante , besok ke sini lagi ." ucap Tiara .


"Iya , makasih ya sudah langganan di sini." balas Felicia.

__ADS_1


Reihan dan Tiara pamit pulang ,  tanpa sadar Felicia masih melihat ke arah mereka sampai keduanya benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Bodoh, ngapain bengong di sini sih. " gerutu Felicia lalu ia kembali kepada rutinitas nya di cafe.


__ADS_2