Broken Home

Broken Home
PART 15


__ADS_3

Adam pov


Ku pandangi foto ku bersama dengan Denis , masa kecil kita berdua yang sangat mengesankan.


Dulu , pernah berpikir hadirnya Denis sebagai adik akan menggeser posisiku sebagai prioritas mami , namun aku salah mami tetap seperti mami sebelum ada Denis . Ia tetap menyayangiku , tak ada yang berubah .


Kami tumbuh bersama , bagiku punya adik seperti Denis sangat menyenangkan.


Walaupun kadang ia menyebalkan , tapi aku sangat menyayangi adikku yang bandel itu .


Kini hubungan kami berdua sangat renggang , aku tak tahu harus mulai bicara darimana kepada mami kalau hubungan kami sedang tidak baik-baik saja .


Huh..aku tak mau mami membenciku , tapi aku juga tidak mau mami kecewa kepadaku. Sungguh pilihan yang sulit . Batinku .


Sebuah ketukan dari pintu depan mengalihkan fokusku , terdengar suara pria dari luar.


Dengan langkah berat , aku menuju pintu depan untuk membukakan pintu untuk tamu itu .


Seorang pria dan putri kecilnya yang berseragam TK , siapa ? Kenalan mami ?


"Selamat sore " ucapnya .


Aku mengernyit , tak kenal siapa orang yang kini berdiri di hadapanku "sore "


"Maaf , benar ini rumah Felicia?" Tanyanya .


"Benar , siapa ya ?"


"Reihan , dan ini Putri saya Tiara " ia mengenalkan diri kepadaku , ku persilakan mereka berdua masuk dan duduk di sofa .


"Silahkan duduk , aku panggilkan mami dulu " pamitku , aku menuju kamar mami .


Sejak kepergian Denis tadi , mami mengurung diri di kamar .


Aku tahu , pasti ia tengah menangis .


"Mi , ada tamu " teriakku dari luar kamar mami .


Tak lama , mami membuka pintu .


Wajahnya terlihat segar , sepertinya baru saja mencuci muka agar tidak terlihat kalau ia habis menangis .


Satu kebiasaan mami yang selalu ku ingat , ia akan menyembunyikan kesedihannya dari anak-anaknya .


"Siapa ?"


"Reihan katanya " mami mengangguk , ia melangkah ke ruang tamu menemui Reihan dan Tiara .


Lebih baik ku siapkan minum dan camilan untuk tamu mami .


Saat aku keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan , ku lihat bocah kecil itu duduk di pangkuan mami .


Terlihat sangat dekat , aku jadi penasaran siapa mereka ?


"Tante , Tiara kangen sama Tante . Maaf ya , beberapa hari ini Tiara tidak ke cafe . Ayah ada tugas di luar kota , Tiara diajak . Jadi tidak bisa makan ice cream di cafe Tante " ucapnya manja .


Sepertinya mereka sudah saling kenal , jadi anak itu sangat dekat dengan mami .


Lebih baik aku nonton tv saja , biarkan mami mengobrol dengan mereka berdua .


Agar ia bisa melupakan Denis sejenak , ku lihat mami tersenyum mendengar celotehan anak yang bernama Tiara itu .


🌿🌿🌿🌿


Reihan pov

__ADS_1


Aku mendatangi rumah Felicia , Tiara merengek minta bertemu wanita yang ia panggil Tante itu .


Sudah lama juga aku tak bertemu dengan Felicia , urusan pekerjaan memaksaku pergi keluar kota beberapa hari lalu .


Aku melihat seorang pemuda berada di rumah Felicia , siapa dia ?


Tampan , apa calon pacar Felicia ?


Dengan sopan pemuda itu menyilahkan aku masuk ke dalam rumah , lalu memberikan suguhan buat kami berdua .


Siapa sebenarnya dia ?


Tiara tiba-tiba duduk di pangkuan Felicia , mungkin ia merindukan sosok ibu yang telah meninggal 2 tahun yang lalu saat ia masih berusia 3 tahun .


Melihat Felicia yang menyambut hangat Tiara , membuatku yakin kalau dia calon ibu yang cocok bagi anakku.


Tapi aku tak mau banyak berhayal , belum tentu dia mau menerimaku .


Oh iya , aku sampai lupa .


Aku tadi mampir ke cafe dan bilang Felicia pulang ke rumahnya , Aku minta alamat rumah Felicia sekalian menjenguk anaknya yang kecelakaan.


Katanya sudah dibawa pulang , namun aku tak melihat tanda-tanda adanya orang lain selain Felicia dan pemuda tadi .


Sebelum aku bertanya ,Tiara terlebih dahulu menanyakan apa yang ingin aku tanyakan .


"Tante , kakak yang sakit ke mana ?"


Felicia seperti tersentak , raut wajahnya berubah.


"Kakaknya ke Jakarta" Ada kesedihan dalam ucapan Felicia.


"Ke Jakarta?" Tak sadar aku membeo .


Daddy ? Ah , mungkin yang ia maksud mantan suaminya .


Semakin kecil sepertinya kesempatanku untuk mendapatkan Felicia , ia saja masih berhubungan dengan mantan suaminya.


"Terus kakak yang tadi siapa Tante ?" Tanya Tiara .


Lagi-lagi , ia mendahului ku menanyakan hal itu .


"Itu anak Tante , namanya mas Adam " ucao Felicia.


Ah , aku lega . Hilang satu sainganku , tinggal mantan suaminya.


Tuhan , semoga tidak ada CLBK diantara mereka.aamiin .


Tiara terlihat senang ku ajak berkunjung ke rumah Felicia , sama seperti ku , aku juga senang .


Meskipun kami baru mengenal , tak ada salahnya kan kalau aku berharap lebih ?


Status ku duda , dia janda .


Sah-sah saja kan jika aku dan dia suatu saat menjalin cinta ?


sudah cukup lama setelah istriku meninggal aku tak main cinta-cintaan , aku terlalu sibuk mengurus bisnis dan putri kecilku yang ceriwis itu .


Tak terasa sudah hampir Maghrib , sebaiknya aku pamit pulang.


"Sudah sore , pulang yuk Tiara " ajakku kepada Tiara .


Ia cemberut , masih ingin berlama-lama dengan Felicia.


Aku harus bisa membujuknya , jika tidak , bisa saja nanti tertangkap jepretan henpon jadul para ibu-ibu di kompleks ini .

__ADS_1


Nanti malah tersebar berita yang tidak-tidak , padahal kami tidak berbuat apa-apa.


"Tante Cia , ayah ngajak pulang . Tiara pulang dulu ya ?" Pamitnya kepada Felicia.


"Iya , sudah sore . Besok-besok main ke cafe Tante lagi ya ?" Ucap Felicia.


Aku tersenyum kecil , itu suatu undangan kan buat kami ?


Tentu saja Felicia ,tanpa kamu suruh pun aku akan sering main ke cafemu .


"Kami pamit dulu ya , see you " ucapku , ia mengantar kami sampai di depan rumahnya.


Sudah seperti istri yang akan mengantar suaminya pergi kerja saja , hihihi mikir apa aku ini .


Aku masuk ke dalam mobilku setelah terlebih dahulu Tiara masuk , ku nyalakan mesin mobilku.


Ku acungkan dua jariku , padahal tadi aku ingin melambaikan tangan.


Kadang salah tingkah membuatku seperti orang bodoh , aku segera menjalankannya mobilku sekalian menyembunyikan rasa malu ku .


Bodoh kamu Reihan ! Aku merutuki diriku sendiri.


Untung saja Tiara tadi tak melihat gerakan tanganku , jika iya pasti aku sudah ditertawakan bocah kecil kesayanganku ini .


Perlahan tapi pasti , mobilku keluar dari kompleks perumahan Felicia. Aku membawa mobilku ke arah rumahku.


Author pov


Felicia masuk ke dalam rumah setelah mobil Reihan yak terlihat lagi , ia tersenyum.


Hadirnya Tiara barusan bisa mengobati sedih hatinya , melupakan sejenak Denis yang telah tinggal bersama Miko .


"Mi "


Felicia menoleh "iya ?"


"Tadi siapa ?" Tanya Adam dengan tatapan menyelidik.


Ia curiga , apa pria itu yang dimaksud Denis "pacar" maminya ?


"Te..te..teman mami " ucap Felicia terbata .


Adam beranjak dari duduknya "bener cuma temen ?"


Felicia mendengus kesal , kenapa juga ia tergagap di hadapan Adam .


"Iya , anaknya itu langganan cafe mami " Felicia duduk di sofa , ia menunggu diintrogasi Adam .


Ia paham jika tatapan anaknya sudah begitu , pasti Adam akan menanyainya macam-macam.


"Sejak kapan ?"


"Sebulan.. dua bulan yang lalu " Felicia mengingat-ingat.


"Oh , ya udah . Adam pesen , mami jangan mudah terbuai . Takut disakitin lagi " ucap Adam memperingatkan.


Felicia menatap bingung , apa maksud Adam ?


"Maksudnya?"


"Cepat atau lambat , status temen bisa berubah jadi demen mi . Adam gak mau kayak yang sudah-sudah , mami mesti hati-hati" ucap Adam. Ia beranjak ke kamar mandi, meninggalkan maminya yang tengah meresapi kata-katanya.


Masih terlalu dini bagi Felicia untuk mengubah status temen jadi demen , toh mereka baru saling kenal .


Belum ada getaran di hati Felicia , ia masih butuh waktu untuk kembali membuka hatinya .

__ADS_1


__ADS_2