Broken Home

Broken Home
PART 17


__ADS_3

Author pov


Miko berjalan cepat menuju rumahnya setelah turun dari taksi , badannya terasa lengket ia ingin segera mandi .


Ia pulang ke rumah setelah menitipkan Denis di rumah orang tuanya , belum saatnya ia membawa pulang Denis ke rumahnya sendiri.


Banyak yang harus dipertimbangkan , belum tentu Denis mau tinggal di rumahnya jika tahu ada ibu tiri dalam rumah itu .


Miko menghela napas berat , semoga secepatnya ia bisa membawa Denis pulang agar ia tak harus bolak-balik ke rumah Surya .


Sampai di depan pintu , berulang kali memencet bel .Sepuluh menit ia berdiri di depan pintu , tapi belum ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka lalu ia mencoba menelpon bi Siti .


"Halo bi , bisa bukain saya pintu ?"


"Tuan sudah pulang ? Maaf saya ketiduran . Saya ke depan ya tuan " ucap bi siti tak enak , karena membuat majikannya menunggu .


Tak lama , pintu terbuka .


Miko segera melangkah masuk , diikuti bi Siti di belakangnya.


"Yasmin tidak di rumah ?" Ucap Miko sembari mencopot sepatu , lalu meletakkannya di rak sepatu . Saat masuk tadi , ia tak melihat mobil Yasmin .


"Sudah beberapa hari ini nyonya tidak pulang tuan " ucap bi siti takut .


"Ke mana dia ?" Gumam Miko .


"Tuan sudah makan ? Mau saya bikinin minuman ?" Tawar bi Siti , Miko menggeleng.


Ia melangkah ke kamarnya , sebelum sampai di kamar ia mengecek keadaan Marsya .


Marsya tengah tertidur pulas di ranjangnya , Miko menghela napas lega .


Ia kasihan kepada anaknya itu , punya ibu namun seperti tak punya .


Miko juga sibuk dengan urusannya sendiri , membuat Marsya lebih dekat kepada bi Siti pengasuhnya sejak bayi .


"Maafin papi "sesal Miko . Ditutupnya pintu kamar Marsya , lalu ia masuk ke dalam kamarnya.


Mengguyur badan di tengah malam sepertinya dapat menghilangkan rasa capek di sekujur badan Miko , setelah itu ia bisa beristirahat dengan nyenyak.


Setelah mandi , Miko naik ke atas ranjangnya . Ia menatap sebelah ranjangnya yang sudah lama kosong , andai saja ia masih bersama Felicia mungkin ranjang itu akan selalu terasa hangat .


Mungkin ia manusia terbodoh di dunia , ia menyia-nyiakan yang tulus mencintainya .


Miko menghela napas berat , adakah kesempatan untuknya bisa rujuk dengan Felicia?


Ia menggeleng pelan , mana mungkin wanita itu mau dengan dirinya lagi .


"Sudahlah Miko , terima nasibmu ini " ucapnya pada diri sendiri.


Ia memejamkan matanya , kemudian ia sudah nyenyak dalam tidurnya malam ini .


🌿🌿🌿🌿


Denis telah bersiap , sesuai janji Miko hari ini mereka akan melakukan terapi untuknya .


Sembari menunggu kedatangan Miko , Denis bercengkrama dengan Oma dan Opa nya.


Kecanggungan telah hilang di antara mereka , kini mereka terlihat akrab .


Pandangan Denis tertuju disebuah foto yang tergantung di dinding , seorang wanita dengan gaun putih melekat di tubuhnya.





"Cantik " gumam Denis .


Surya dan Maya mengikuti arah pandangan Denis , mereka tersenyum pahit mengingat kenangan itu . Kenangan di mana indahnya pernikahan Miko dan Felicia hanya berlangsung seumur jagung.


"Itu ibumu waktu masih muda " ucap Surya .


Denis mengagumi kecantikan maminya , pantas saja maminya kini juga masih cantik bahkan semakin cantik .


"Kami sengaja masih memasangnya , bagi kami ia adalah mantu kesayangan . Sampai sekarang pun Oma masih menganggap Felicia anak Oma " ungkap Maya sedih .


Maya belum sempat bercerita lebih banyak , Miko sudah masuk ke dalam rumah dan menghampiri mereka .


"Hai jagoan , ayo kita berangkat" ucap Miko semangat.


Denis memutar bola matanya malas , sok asik sekali daddy-nya ini .


Denis hanya pasrah saat Miko mendorong kursi rodanya ke luar dari rumah Surya , jika saja bukan karena ingin terapi mungkin Denis akan menolak .


Lebih baik ia di rumah bersama dengan Oma dan Opa nya , ketimbang harus pergi bersama lelaki yang menyebalkan itu.


Miko mendudukan Denis di sebelahnya , sengaja ia tak memakai supir .

__ADS_1


Ia ingin mengakrabkan diri kepada Denis , agar hubungannya dengan Denis seperti hubungan ayah dan anak pada umumnya.


Perlahan Miko melajukan mobilnya , sesekali ia melirik Denis yang hanya diam .


"Denis"


"Daddy " ucap mereka bersamaan.


"Aah, aku boleh minta nomer pak Yono ?" Tanya Denis .


Miko mengerutkan keningnya "buat apa ?"


"Mau bilang ke pak Yono , nitip anak-anak"


"Ohhh "


Miko menyerahkan ponselnya , Denis menerima ponsel itu. Saat ia menekan lockscreen , ia melihat wajah maminya yang tengah tersenyum .


Buat apa daddy masih menimpan foto mami ? batinnya .


Dengan cepat ia menyalin nomor posel pak Yono , ia tak ingin terlalu larut memikirkan maksud daddynya yang masih menggunakan foto maminya sebagai wallpaper .


Ia mengembalikan ponsel Miko , lalu mengetikkan pesan untuk pak Yono .


"sejak kapan kamu kenal mereka ?"


"udah lama " jawab Denis yang masih fokus dengan ponselnya .


ish , Kepo ! batin Denis .


"udah"


"Di mana ?"


pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Miko , seperti saat ia mewawancarai calon karyawannya . Ia bingung mencari topik yang pas untuk berbicara dengan Denis .


"Di jalanan "


"Daddy minta tolong , kamu lebih selektif milih temen "


"kenapa ? mereka baik , selama kenal mereka gak pernah jahatin aku "


"bukan gitu..."


Denis memotong ucapan Miko "mereka tuh sama kayak aku , bedanya aku masih punya mami . kita sama-sama broken home , bagiku gak masalah berteman dengan mereka . tampilan mereka memang urakan , namun hatinya enggak . mami gak pernah ngajarin aku buat milih-milih temen , asalkan mereka gak membawa pengaruh buruk buat aku mami  tenang-tenang aja . Daddy jangan khawatir , aku sudah bisa milih mana yang baik mana yang enggak. Dan jangan pernah lihat orang dari tampilannya , kita gak bakal tahu aslinya orang itu sebelum kita saling mengenal "


Miko melajukan mobil ke kantornya , bukan ke rumah sakit tempat Denis akan menjalani terapi . Hari ini ada meeting dengan jajaran direksi perusahaannya , membuat Miko terlebih dahulu membawa Denis ke kantornya . Daripada ia bolak-balik , mending sekalian saja .


Tak ada protes dari Denis , ia menurut saja dengan apapun yang dilakukan daddynya .


Mereka telah sampai di halaman parkir kantor Miko , ia mengitari bagian depan mobilnya untuk membantu Denis turun.


Seorang satpam turut membantu Miko , namun ia sedikit bingung . Dengan siapa bosnya itu ?


"makasih pak Amir " ucap Miko , pak Amir mengagguk dan kembali ke tempatnya .


Miko mendorong kursi roda Denis , saat sampai di Lobby banyak karyawan menatap heran ke arah mereka .


Baru kali ini Miko datang bareng dengan seseorang , jika dilihat orang itu masih berusia remaja .


Miko denga cuek melewati mereka , sesekali membalas senyuman yang mereka lempar ke arahnya .


Miko dan Denis menaiki lift , Miko memencet lantai 8 .


Mereka telah sampai di lantai 8 , di mana ruangan Miko berada .


Rudi yang tengah menyiapkan berkas-berkas , menoleh saat mereka berdua sampai di depannya.


"Pagi pak Miko , sebentar lagi meeting akhir bulan akan segere di mulai " Miko mengangguk mengerti .


"siapkan saja berkas-berkasnya , saya mau antar anak saya ke ruangan dulu " ucap Miko .


ohh... Jadi itu anak pak Miko yang waktu itu kecelakaan . Batin Rudi.


ia kembali fokus dengan berkas .Berbeda dengan biasanya , kini tak pernah lagi melapor kepada Yasmin .


Rudi melihat jam yang beradadi pergelangan tangannya , meeting akan segera dimulai .


Nampak Aryo berjalan ke arahnya , ada Sera sang sekretaris di sampingnya .


"Selamat pagi pak " sapa Rudi .


"Pagi , Miko sudah datang ?" Rudi mengangguk.


Aryo dan Sera masuk ke dalam ruangan Miko , pandangan mereka sama-sama tertuju kepada Denis .

__ADS_1


"Siapa ?" Tanya Aryo .


Miko meremas kertas , lalu melemparkannya ke arah Aryo .


"Lo ! Kebiasaan ! Ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan gue " murka Miko .


Aryo mengibaskan tangannya "gue udah terlanjur masuk , btw bocah imut ini siapa ?" Tanya Aryo .


Ia berjongkok di depan Denis , dicubit kedua pipi Denis membuat bocah itu mengaduh .


"Lepasin anak gue !" Teriak Miko .


"Anak ?" Aryo mencoba meresapi ucapan Miko.


"Anak Lo ? Berati dia anak Felicia ?" Kata Sera.


Miko mengangguk "yups!"


Kini giliran Sera yang berjongkok di depan Denis "kenalin , Tante Sera. Teman lama mamimu , lama sekali aku tak berjumpa dengan Felicia "


"Denis Tante , jadi Tante temen mami ?"


Sera mengangguk, ia sedikit meringis bekas jahitan di kening Denis "kamu abis jatuh ya ?"


"Abis kecelakaan Tante " ucap Denis .


Miko dan Aryo tengah bersiap ke ruangan meeting .


"Gue titip Denis ya ?"


"Siap , gue bakal jagain Denis " ucap Sera semangat , itu artinya ia terbebas dari meeting yang menurutnya sangat menyebalkan itu.


"Honey ,jangan diapa-apain Denis nya ! Jangan macem-macem" titah Aryo , ia memeluk pinggang Sera.


Seakan tak perduli dengan kehadiran Miko dan Denis di sana , Aryo mengecup bibir Sera sekilas.


Sera tersipu malu , adegan mereka ditonton oleh dua orang di depannya.


"Udah sana !" Usir Sera .


Sera mengajak Denis berkeliling , tetap di ruangan sampai meeting selesai akan sangat membosankan.


Sesekali Sera berceloteh tentang kisahnya bersama Felicia dulu , ia terkekeh jika mengingat hal-hal lucu.


Sampai di gerombolan staf-staf yang ngerumpi , bisik-bisik terdengar di telinga Sera dan Denis .


"Siapa sih yang sama Bu Sera ?"


"Ganteng ya , mirip pak Miko "


"Anaknya pak Miko mungkin "


"Hah ? anak pak Miko sama PELAKOR itu ya ?"


"Bisa jadi sih , pak Miko kan udah lama cerai sama Bu Felicia"


"Sayang ya , ganteng-ganteng anak PELAKOR"


Ucap mereka sahut-sahutan , Sera hanya meminta Denis tidak menghiraukan perkataan mereka itu.


"Anak PELAKOR?"


"Sudah.jangan dengerin " kata Sera .


Ia tahu , pasti Felicia belum bercerita tentang alasannya bercerai dengan suaminya karena adanya orang ketiga jadi Denis sedikit bingung dikatain anak PELAKOR .


Ponsel Sera berdering , satu panggilan masuk dari Aryo .


"Halo "


"Honey , meetingnya udah selesai"


"Okey , aku ke sana "


Setelah selesai meeting , Miko segera membawa Denis ke rumah sakit .


Ia berharap dengan terapi , Denis bisa sembuh secepatnya.


Tak tega melihat Denis yang hanya duduk di kursi roda , ia ingin anaknya bisa berjalan seperti biasa.


Setelah terapi nanti , rencananya Miko akan mengurus berkas kepindahan sekolah untuk Denis .


Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit , mereka menunggu giliran Denis .


Miko mengedarkan pandangannya, tak sengaja ia melihat Yasmin tengah bergandengan mesra dengan seorang pria .

__ADS_1


"Yasmin?" Gumam Miko .


Belum sempat ia melihat wajah pria itu , perawat sudah memanggil Denis untuk masuk ke dalam ruangan.


__ADS_2