Broken Home

Broken Home
bab 68


__ADS_3

Radit selesai mengerjakan tugas ujian. pengawas segera memeriksa kertas ujian itu. Sekilas senyuman bangga dan senang melihat jawaban yang dituliskan Radit.


"bapak bangga dengan kamu Radit. akhirnya kamu bisa menyelesaikan ujian remedial ini. Tinggal menunggu hasilnya saja" ucap pak guru itu.


Radit mengangguk. pengawas itu segera pergi meninggalkan ruang kelas. Setelah pengawas itu pergi. Dimas dan jaki langsung berlari berhamburan memeluk Radit. Sontak saja Radit terkejut.


"yey... akhirnya selesai sudah.." seru Dimas


"akhirnya kamu bisa menyelesaikan remedial ini Radit" seru jaki mengacak acak rambut Radit saking senangnya. Radit yang tadinya cemberut terdiam. Mendadak nyengir karena kelakuan kocaknya kedua sahabat itu.


"ya udah kita rayakan kemenangan ini dengan nongkrong di cafe shop sambil menyanyi memainkan gitar" usul jaki.


Dimas menyenggol lengan jaki memberi isyarat melirik ke arah Radit. Jaki spontan menutup mulut. Dia tidak sadar kalau keadaan Radit ini sedang dirundung kesulitan. Radit Kembali murung bersedih.


"e...terus rencana selanjutnya apa?" tanya Jaki ragu ragu.


Radit bingung antara mencari ibunya atau melihat Alya dirumah sakit. Mana yang dia pilih. apa yang diutamakan dulu. pikiran itu membingungkan Radit.


"dit... " tegur pelan Dimas.


Radit melirik Dimas.


"mungkin ada rencana setelah ini?" tanya Dimas menatap Radit.


"Menurut kalian apa yang harus aku dulukan?" tanya Radit dengan suara lirih dan bingung.


Dimas dan jaki saling melirik.


"maksudnya?" tanya Dimas tidak paham.


"mencari mama ku atau nemui Alya dirumah sakit?" tanya Radit bingung.


Dimas dan jaki paham apa yang dimaksud Radit setelah mendengar jawaban Radit. Mereka pun bingung untuk memberikan jawaban.


"menurut aku sih..mencari dan menemui Alya" jawab Dimas ragu.


"caranya ?" tanya Radit heran


"kita cari ibu mu. kalau kita lewat rumah sakit Alya. Sekalian nemui Alya. " jawab Dimas memberi solusi kepada Radit.


"benar juga tuh usul Dimas. Bagaimana menurut kamu Radit?" tanya Jaki melirik Radit.


"ya udah..gimana kalian aja" jawab Radit pasrah mengikuti apa kata kedua sahabatnya.


Pencarian masih dilakukan. Bagas berharap segera menemui Raisa. Dia berjalan lemas terkulai.

__ADS_1


"pak Bagas. kita istirahat sejenak." ucap sersan.


"iya pak" jawab Bagas pelan lemas.


Mereka segera masuk ke dalam mobil. lalu, meninggalkan hutan.


"nanti kita kesini lagi. Disini ada beberapa bangunan yang sudah tidak layak dihuni. Kemungkinan besar ibu Raisa disembunyikan di antara bangunan itu" ucap sersan menunjukan sebuah bangunan kecil yang sudah tidak layak dihuni dan ditinggalkan penghuninya.


"baik pak." jawab Bagas mengikuti arahan sersan.


bi Inah yang sedang membersihkan rumah. Melihat berita di tv. Atas kehilangan Raisa.


"ya Allah ibu Raisa berita kehilangan nya sudah menyebar di berita. semoga secepatnya ditemukan" bi Inah harap harap cemas. dan mendoakan Raisa.


Radit teringat dengan pak tua. Saat melewati jembatan itu.


"berhenti dulu" tegur Radit kepada Dimas.


Dimas menghentikan mobilnya.


"ada apa dit?" tanya Dimas heran


"kita ke pak tua dulu" jawab Radit tiba tiba teringat pak tua.


"oh iya kita udah lama tidak menemui pak tua lagi" jawab Dimas .


mereka pun segera turun dari mobil dan berjalan menuju rumah pak tua. Mereka menuruni tangga jembatan yang menghubungkan kerumah pak tua.


Mereka melihat pak tua yang sedang membersihkan kayu ranting didepan gubuk rumahnya.


"assalamualaikum pak " ucap ketiga remaja itu serempak.


"wallaikum sallam," jawab pak tua menoleh ke arah mereka.


 Mereka tersenyum melihat pak tau. Begitu pun dengan pak tua tersenyum senang dengan kedatangan mereka. Mereka menyalami tangan pak tua bergantian.


"apa kabar kalian semua?" tanya pak tua


"Alhamdulillah baik pak. bapak sendiri bagaimana?" tanya Dimas tersenyum.


"seperti yang kalian lihat" jawab pak tua itu


pak tua Melirik Radit yang sejak tadi terdiam.


"ada apa?" tanya pak tua menatap wajah Radit.

__ADS_1


"ibu Radit diculik pak" jawab jaki dengan nada sedih


"kenapa bisa dengan diculik?" tanya pak tua heran


Dimas menceritakan kejadian yang menimpa Radit.


pak tua dengan serius mendengarkan cerita Dimas.


Dia memahami perasaan Radit .


"hmmmm" gumam pak tua setelah Dimas menceritakan kejadian itu.


Radit , Dimas dan jaki menatap serius pak tua.


"waktu dulu sering ada penyekapan di hutan hutan yang bekas bangunan kecil.. bangunan itu tempat sembunyi para letnan untuk mengatur siasat dari penjajahan. sekarang tidak tau apakah masih ada atau sudah musnah bangunan itu. karena saya juga sudah lama tidak mengetahui nya. Kemungkinan ibu kamu disekap disana" ucap pak tua panjang lebar.


"disana dimana pak?" tanya Radit spontan.


"kalian tidak akan tau. karena kalian belum pernah ketempat itu. Dan tidak banyak orang yang tau hutan itu..jadi,, kalau kalian mau kesana. .akan aku tunjukkan kepada kalian" jawab pak tua memberikan peluang kepada mereka.


Mereka tersenyum lebar setuju dan mengangguk. Harapan untuk mendapatkan Raisa akan segera di ketemukan.


Bi Inah melirik jam di dinding. Waktu sudah menuju pukul 5 sore. Bi Inah bulak balik berjalan di depan teras rumah. Seperti setrikaan. mencemaskan majikannya yang belum juga muncul.


"aduh mereka belum pulang juga. Mereka pasti masih mencari ibu Raisa. Radit juga belum pulang. padahal hari sudah menjelang magrib" ucap Bi Inah cemas.


Ikan bakar yang sudah siap disantap setelah proses pembakaran. Dimas mengambil nasi liwet yang sudah Mateng. pak tua menyiapkan air minum di gelas plastik. jaki membawa ikan bakar dan di sajikan diatas daun yang sudah diberikan irisan cabe. Radit duduk diam melihat kesibukan mereka.


Setelah semuanya siap saji. Dimas menyediakan makan untuk Radit. dan mereka pun segera melahap makanan itu dengan nafsu. Beda dengan Radit yang tidak nafsu makan dan bergairah.


matahari terbenam...awan pun berubah menjadi gelap. Adzan sudah berkumandang disetiap surau. Radit dan kawan kawannya masuk kedalam mobil. Mereka dengan pak tua akan menuju ke hutan itu.


Begitupun dengan Bagas dan rombongan nya bergegas menuju hutan yang belum mereka jelajahi.


Wina dan Wisnu sudah tiba ditempat. mereka keluar dari mobil. Dan celingukan melihat sekitar. Tidak ada kehidupan manusia. Hanya suara binatang yang bersahutan..suara jangkrik, burung hantu dan hewan lainnya memecahkan kesunyian malam hari di hutan itu.


mereka pun segera membuka pintu. Terlihat Raisa dengan wajah memucat dan lemas. Raisa membuka mata pelan, melirik mereka dengan pandangan samar samar. Wina melirik wisnu. Wisnu mengangguk pelan untuk siap melakukan aksi mereka. Yaitu melenyapkan Raisa.


Rombongan Bagas memarkirkan mobil di pinggir jalan raya dekat hutan..mereka segera memasuki hutan tersebut. Begitupun dengan Rombongan Radit. Mereka baru sampai di hutan itu. Mereka melihat mobil rombongan Bagas.


"sepertinya ini mobil om Bagas" gumam Dimas.


"iya ..itu artinya papah juga ada disini " ucap Radit.


Pak tua dan jaki melihat mobil itu. Radit dan Dimas saling melirik...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2