Broken Home

Broken Home
PART 14


__ADS_3


Disukai oleh 34.567 orang


El_Denis the last Day in Semarang , i'm coming Jekardah 😊


Miko mengemasi barang-barang milik Denis .


Sesuia rencana , Denis akan ikut Miko pulang ke Jakarta.


Bukan Miko yang memaksa Denis , tapi Denis sendirilah yang memintanya .


Flasback


*"Mam , mami boleh istirahat di rumah . Biar daddy yang jaga Denis " ucap Denis , ia sebenarnya sangat ingin dimanjakan maminya saat kondisinya seperti ini .


Namun lagi-lagi keinginan tak ingin menyusahkan maminya membuat Denis mengurungkan niatnya , Denis berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia bisa tanpa mami disisinya.


Dengan berat hati , Adam dan Felicia akhirnya memutuskan untuk pulang .


Mereka tidak menolak keinginan Denis , mereka berharap dengan adanya Miko dapat mempercepat pemulihan Denis .


Setelah Felicia dan Adam pergi , Denis lebih memilih memejamkan matanya lagi .


Banyak tidur,mungkin itu dapat mengurangi rasa sakit di kepala dan kakinya .


Ia juga tak ingin lama-lama berbasa-basi dengan Miko , tadi yang ia lakukan semata-mata agar Felicia tidak terlalu mengkhawatirkannya .


Setelah beberapa kali mencoba memejamkan mata , Denis sama sekali tidak dapat tertidur .


Ia memikirkan maminya , apa lebih baik ia ikut daddy-nya saja ke Jakarta?


Dengan begitu ia akan mengurangi beban Felicia yang harus merawatnya , ia tak ingin maminya kesusahan.


"Dad " panggil Denis .


Miko mendekat "ada apa nak ?"


"Setelah keluar dari sini , boleh aku ikut daddy ke Jakarta?"


Mata Miko membola , seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Denis .


"Benarkah ?" Denis mengangguk mantap .


"Bagaimana dengan mamimu ?"


"Justru ini demi mami , aku tak mau terus-terusan menyusahkan mami . Daddy mau kan mengurusku?" Ucap Denis .


Dalam hatinya ia ingin menangis , ia tak ingin jauh dari maminya .


Tapi ini untuk kebaikan maminya juga , agar maminya bisa hidup tanpanya yang terus membebani seperti apa yang dikatakan Adam kepadanya .


"Oke , daddy akan mengurusmu sampai sembuh jagoan " Miko tersenyum sumringah.*


Flasback off


Keputusan Denis sudah bulat , ia tak ingin berubah pikiran lagi.


Di sana juga Denis akan mendapatkan pengobatan lanjutan , Miko menginginkan pengobatan terbaik untuk putranya .


Semuanya selesai , barang-barang keduanya telah diberesi .


Dokter pun sudah memperbolehkan Denis pulang , dengan catatan ia harus melakukan terapi untuk mempercepat penyembuhan Denis yang tentunya akan di lakukan di Jakarta.


Mata Adam mengernyit "Loh ? Denis sudah diizinkan pulang ?"


"Sudah " jawab Denis singkat , ia masih marah dengan Adam .


"Mami sudah tahu ?"


"Sengaja gue gak memberi tahu mami , gue akan pulang sama daddy ke Jakarta"


"Ke Jakarta?" Ucap Adam membeo .


"Iya , daddy akan merawat gue. Ya kan dad ?" Tanya Denis kepada Miko yang siap mendorong kursi roda yang saat ini diduduki Denis .


Adam masih kebingungan , kenapa mendadak Denis sangat dekat dengan Miko .


Padahal yang ia tahu Denis sama sepertinya , sama-sama benci kepada Miko .


Namun kenapa sekarang begitu akrab ? sampai-sampai Denis akan ikut ke Jakarta?


"Kenapa ?"


"Seperti yang Lo bilang , gue gak mau nyusahin hidup mami "


Adam berlutut di depan Denis "gue minta maaf , gue tau gue salah . Tapi pliss , jangan tinggalin mami sendirian . Dia bisa sedih "


Denis tersenyum mencibir "bukannya dengan adanya gue malah semakin membuat mami sedih ? Itu kan yang Lo katakan sama gue ? "


Kata-kata tajam Adam masih teringat jelas di ingatan Denis , masih sangat membekas di hati anak itu .


Adam tertunduk lemas , gara-gara ucapannya semuanya kacau .

__ADS_1


Denis ikut Miko , itu akan membuat kesedihan yang mendalam bagi maminya .


Seperti saat ia memilih tinggal bersama Adit dulu , Felicia pasti merasa kesepian jika ditinggal Denis .


Tanpa sadar , Miko telah mendorong kursi roda Denis menjauh darinya .


Adam masih terpaku , ia tak menyangka ini akan terjadi .


Drtt...drtt...


Sebuah panggilan dari Edo , orang kepercayaan Adam yang melancarkan tujuannya.


"Kenapa Do ?"


"Gue berhasil naikin pembelian saham di perusahaan pak Miko , jadi 50% "


"Sudah dipastikan tidak ada yang curiga ?"


"Semua aman "


"Thanks bro , kerja bagus . Gue mesti ngurus adik gue dulu , urusan fee nanti gue transfer"


"Oke "


Tut...


Adam menyeringai , semakin mudah saja jalannya .


Semua ia lakukan demi Felicia dan Denis , enak saja si Yasmin itu bisa menikmati kekayaan Miko sendiri.


Adam mengejar Miko dan Denis , Denis sudah berada dalam taksi .


Miko kembali lagi ke ruangan untuk mengambil barang-barangnya dan barang Denis.


"Tujuan Anda apa lagi pak Miko ?"


Alis Miko mengkerut , ia tak paham maksud Adam "tujuan ?"


"Iya ! Setelah anda menghancurkan hidup mami dan mami sudah bangkit , Anda ingin mami saya kembali terpuruk ?" Ucap adam sarkastik.


"Maaf , tak ada tujuan lain dari saya selain ingin menuruti keinginan anak saya " Miko masuk ke dalam ruangan , mengambil barang-barangnya.


"Tetap biarkan Denis di sini , atau akan saya hancurkan hidup Anda !" Tantang Adam .


"Silahkan saja , bagi saya tak masalah " ucap Miko melewati Adam begitu saja .


Tangan Adam mengepal erat , ia tak akan bercanda dengan kata-katanya kali ini .


Lihat saja nanti pak Miko yang terhormat ! Batin Adam .


Dada Adam naik turun , menahan emosi yang bisa saja meledak kapan saja .


Ia duduk di bangku untuk meredakan emosinya , menutup wajah dengan kedua tangannya.


Ia merasakan seseorang duduk di sampingnya .


"Hey , kenapa ?" Suara mungil terdengar ditelinga Adam .


Adam hanya diam ,ia sedang tak ingin diganggu .


"Ada apa?" Suara itu kembali terdengar.


Adam mendengus kesal , orang itu tak tahu jika mood Adam sedang buruk.


Ia bisa saja meluapkan kekesalannya pada gadis yang sekarang berada di sampingnya itu . Clarissa , Clarissa lah yang kini ada di samping Adam .


Adam mendelik ke arah rissa "APA !"


Rissa bergidik ngeri , tatapan Adam seolah ingin menelannya bulat-bulat.


"Gue minta tolong kayak yang kemarin " ucap Rissa takut.


"Gak ada urusan lagi sama lo , gue pusing ! " Adam beranjak dari duduknya .


Saat akan melangkah , Rissa berlutut di depan Adam membuat langkah Adam terhenti.


"Gue mohon , kali ini saja . Mama terus ngedesak gue nikah sama Alex , gue mau Lo yakinin Mama kalau kita beneran pacaran" mohon Rissa , ia mendongak . Menatap Adam dengan tatapan memohon .


Adam melihat tatapan itu , ia merasa iba .


"Tapi gue harus susulin adik gue , gue bisanya nolongin Lo besok " ucap Adam final .


Rissa berdiri , saking girangnya tanpa sadar ia mengecup pipi Adam .


"Makasih , gue mau ambil obat dulu buat Mama " ucap Rissa dengan senyum yang mengembang .


"Ya " Adam berbalik , lalu melangkah ke parkiran .


"Eh tunggu , gue minta nomor ponsel Lo dong "


Adam memutar bola matanya malas , bilang saja gadis itu mau minta nomornya pakai ada drama terlebih dahulu.


"Udah , gue pulang dulu " pamit Adam .

__ADS_1


Rissa melambaikan tangannya , meski hanya punggung Adam yang melihatnya.


🌿🌿🌿🌿


Felicia sengaja pulang awal dari cafenya , ia ingin menemani Denis di rumah sakit siang ini .


Felicia masuk ke dalam rumah , saat sebuah taksi berhenti di depan rumahnya ia memicingkan matanya memastikan siapa yang bertamu .


Seorang pria turun dari taksi itu , "Miko " gumam Felicia.


Miko membuka pintu bagian samping , dibantunya Denis turun dari mobil .


"Denis" pekik Felicia senang , karena anaknya sudah diperbolehkan pulang.


"Kamu sudah pulang Denis ?" Felicia berjongkok di depan kursi roda yang diduduki Denis , dibingkainya wajah putranya .


Denis hanya memandangnya datar , seolah tak ada ekspresi senang bisa pulang ke rumah Felicia.


"Mari masuk " ajak Felicia , tak menghiraukan tatapan Denis .


"Mam , Denis mau pamit . Denis ikut daddy ke Jakarta" ucap Denis masih dengan ekspresi datarnya , ada kesedihan yang disembunyikan Denis .


Felicia terpaku , otaknya berhenti bekerja sepersekian detik .


"Kenapa ?" Ucap Felicia sesaat setelah bisa menguasai dirinya .


Ada kesedihan dari pancaran mata teduh Felicia , matanya berkaca-kaca namun ia berusaha untuk menahannya.


Semua demi mami , Denis mau mami hidup bahagia tanpa Denis mi . Batin Denis , sejujurnya ia sama terlukanya.


"Maaf mam , Denis pergi sekarang. Mami jaga diri baik-baik ya " ucap Denis .


Ia meminta Miko membantunya masuk kembali ke dalam taksi , sementara Miko berpamitan terlebih dahulu kepada mantan istrinya.


"Kami pamit , jangan khawatir aku akan menjaga Denis mu " ucap Miko , ia sebenarnya tidak tega melihat Felicia. Namun semua ini sudah menjadi pilihan Denis .


Tubuh Felicia terasa lemas ketika taksi itu berjalan meninggalkan rumahnya , tubuhnya limbung. Beruntung Adam yang baru saja pulang dari rumah sakit cepat menopang tubuh maminya , jika tidak kepala Felicia sudah terbentur lantai .


Adam membawa maminya masuk ke dalam rumah , ia mencoba untuk menenangkan hati Felicia.


Tak ada air mata yang mengalir , Felicia berhasil menahannya .


Ia sudah terlalu banyak menangis dalam hidupnya , saat ini ia berusaha ikhlas menerima kenyataan.


Walaupun ia harus jauh dengan Denis , putra bungsunya .


Felicia berjalan lunglai ke kamarnya , menyendiri mungkin lebih baik untuk menenangkan hatinya .


Sialan ! Umpat Adam .


Ia kembali menyaksikan kepiluan yang dirasakan maminya , semua karena pria itu yang hadir kembali dalam kehidupan mereka.


Adam sudah bertekad , ia akan membalas apapun yang dilakukan Miko karena sudah menyakiti hati maminya lagi .


🌿🌿🌿🌿


Denis Pov


Aku menatap nanar ke arah jendela , pikiranku melayang .


Baru saja aku menyakiti hati mami , meski mami berusaha menyembunyikannya aku tahu ia terluka .


Tak ada yang bisa mami sembunyikan dariku , tak satupun hal kecil yang bisa ia tutupi .


Seperti tadi , mami berusaha terlihat baik-baik saja. Namun aku tahu , saat ini ia tengah kecewa .


Maafkan Denis mi , ini demi mami .


Denis janji , setelah Denis sembuh Denis bakalan pulang lagi ke rumah mami .


Aku menoleh ke arah samping , ada seorang pria yang bisa ku sebut sebagai daddy ku.


Lama tak pernah tahu wajah daddy , membuatnya seperti orang asing bagiku .


Aku tak ingin berlama-lama bersama orang ini , hanya sebentar mi . Mami yang kuat ya .


Kini aku telah sampai di bandara Ahmad Yani Semarang , daddy....


Daddy ? Lidahku terasa asing memanggil sebutan itu .


Daddy mendorong kursi rodaku , lalu kami naik lift khusus buat yang naik kursi roda sepertiku.


Kami berdua duduk berdampingan , rasanya sangat canggung berada di dekat orang asing meskipun ia daddy ku sendiri .


Waktu beberapa hari bersama tak membuat hubunganku dengannya berubah , tetap sama seperti sebelum aku bertemu dengannya. Sebatas orang baru yang tidak saling mengenal , hanya saja status kami anak dan ayah .


Pesawat lepas landas , membawaku pergi dari kota ini .


Kota penuh kenangan , penuh perjuangan .


Mam , pegang janjiku. Aku akan segera pulang , secepatnya!


🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2