Broken Home

Broken Home
PART 24


__ADS_3

"Roy ! Cari kerja gih !"


Yasmin menyingkirkan kaki Roy yang berada di atas meja , ia menghempaskan pantatnya menduduki sofa .


"Kenapa honey ? Kamu kan masih pegang kartu kredit dari Miko ?" Ucap Roy seorang pria pengangguran yang menyandang status mantan suami Yasmin .


"Plis deh Roy , kita hidup cuma ngandelin duit dari Miko doang . Kini dia sudah bangkrut ! ATM kartu kredit , semua sudah dia blokir !" Ucap Yasmin kesal .


Roy membelai wajah Yasmin "jangan gusar sayang , jual aja rumah ini.  Rumah yang kamu beli dari hasil jerih payah suami bodohmu itu"


"Gila , mau tinggal di mana kita ! Hah! " Bentak Yasmin ketika mendengar ide bodoh dari Roy .


Mana mungkin ia menjual rumah yang kini menjadi satu-satunya harta miliknya , mau tinggal di mana dia ? Kolong jembatan?


Kehamilannya saja kini sudah memasuki usia 20 Minggu , semakin hari akan semakin membesar .


Yasmin mengusap perutnya , ia tak sampai hati melihat kehidupan anaknya nanti akan kekurangan . Jika ia menjual rumah ini dan hasil penjualan rumah hanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari , maka uang itu akan habis .


Sudah tidak punya penghasilan , rumah pun tak punya. Yasmin bergidik ngeri membayangkannya .


"Jangan jadi pemalas ! Dulu kamu juga punya perusahaan kan ? Setahu aku juga sekarang masih jalan " ucap Yasmin .


Roy menelan ludahnya payah , ia harus bisa menyembunyikan fakta bahwa ia masih punya usaha yang kini tengah berkembang.


Ia tak mau nanti Yasmin meminta bagian dari kekayaan , apalagi kini Yasmin tengah mengandung anaknya.


"Itu yang ngurus adik aku , aku gak punya andil dalam perusahaan itu " kilah Roy .


Yasmin memijit pelipisnya , ia pusing memikirkan nasibnya sekarang.


AHA ! Satu ide muncul di kepalanya .


Bukan kah Marsya juga mendapat warisan dari Miko berupa rumah , jadi ia bisa ikut tinggal di rumah itu .


"Sayang , segera kamu cari makelar untuk jual rumah ini "


Roy membulatkan matanya , kaget dengan keputusan Yasmin yang berubah begitu cepat . Ia tersenyum licik , ia juga akan menikmati hasil dari penjualan rumah ini .


"Oke honey , aku pergi sekarang deh " ucap Roy semangat .


"Oh ya , besok aku ke pengadilan ngurus cerai sama Miko "


Roy yang sudah tahu masalah rumah tangga Yasmin dan Miko mengangguk Ia mengecup kening Yasmin , lalu mengambil kunci mobilnya dan segera pergi mencari makelar yang menawarkan jasa penjualan rumah .


"Ternyata gak sia-sia juga anak itu lahir " Yasmin menyeringai .


🌿🌿🌿🌿


Hari ini sidang perceraian Miko dan Yasmin , Yasmin sangat senang bisa lepas dari pria yang kini sudah bangkrut itu .

__ADS_1


Sama sekali tidak berguna batinnya .


Sidang berjalan dengan lancar , tak ada perdebatan atau hal-hal lain yang dapat memperlambat jalannya sidang .


Hakim sudah mengetuk palu , kini Miko telah menyandang status baru sebagai duda .


Setelah sidang selesai , Miko akan segera terbang ke Semarang . Membujuk Denis agar ia mau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat Miko dahulu , sekalian membawa Denis kembali ke Jakarta agar Maya mengijinkan Marsya tinggal di rumah Surya .


Masih terngiang di telinga Miko ucapan Maya waktu itu , saat Denis meninggalkan rumah dan kembali ke Semarang.


"Bawa Denis kembali ke rumah ini , baru Mama dan papa ijinkan anakmu tinggal di rumah ini "


Untuk sementara waktu Miko menitipkan Marsya di rumah Milka , ia ingin memastikan anaknya itu aman dari amukan Yasmin yang sama sekali tak pernah menganggap Marsya sebagai anaknya .


Setelah semua di rasa aman , baru ia bisa ke Semarang dengan tenang .


🌿🌿🌿🌿


Reihan kembali mendatangi rumah Felicia , kali ini ia tak sendiri. Tiara ikut bersamanya , katanya ingin menjenguk kakak yang kecelakaan itu karena dulu belum sempat bertemu langsung.


"Tante Cia " teriak Tiara girang saat melihat Felicia tengah berada di teras rumah bersama Denis .


"Dalem Tiara "


Bocah kecil itu langsung menghambur ke pelukan Felicia "Tante katanya sakit ya ? Udah sembuh?" Felicia mengangguk.


Pandangan Tiara beralih kepada Denis yang sedang tertunduk sibuk dengan ponselnya , merasa ada yang sedang memperhatikannya Denis mengangkat kepalanya.


"Hai kakak " Tiara melambaikan tangannya.


"Hai , namamu siapa ?" Tanya Denis , ia sempat kaget saat Tiara menarik tangannya lalu menciumnya .


"Tiara kak " Denis mencubit pipi berisi milik Tiara.


"Ah , maaf . Ini ada sedikit bingkisan dari Tiara , katanya buat kakak " ucap Reihan lalu menyerahkan bingkisan itu kepada Denis .


"Hei , makasih cantik " Denis membuka bingkisan itu , ia melirik ke arah maminya yang mengacungkan dua jarinya sebagai tanda damai .


Denis mendapat beberapa potong ayam goreng , makanan kesukaannya.


"Kok kamu tahu kakak suka ini ?"


Tiara melakukan hal yang sama seperti Denis tadi , melirik ke arah Felicia membuat wanita itu tersenyum malu .


"Ohh.. mami "


Tidak butuh waktu lama bagi Tiara dan Denis untuk saling mengenal , mereka kini sudah terlihat akrab. Mungkin karena keduanya memiliki mimpi yang sama , punya adik dan punya kakak.


Interaksi Tiara dan Denis membuat Reihan tersenyum lega , setidaknya ia bisa mengambil hati Denis lewat Tiara .

__ADS_1


Saat mereka berempat hendak masuk ke dalam rumah , sebuah taksi berhenti di depan rumah Felicia.


Pandangan ke empatnya tertuju kepada pria yang baru saja turun dari taksi itu , Denis yang pertama tahu siapa yang datang langsung masuk ke dalam rumah .


"Usir dia dari sini mam !" Punya Denis , lalu melangkah masuk ke dalam kamar.


Felicia dan Reihan terpaku di tempat , orang itu mengarah mendekati mereka .


"Miko "


"Pak Miko !"


Ucap Felicia dan Reihan bersamaan , Miko menjabat tangan keduanya.


"Pak Reihan sedang apa di sini ?" Tanya Miko dengan nada tak suka .


"Mengantar Tiara , katanya mau bertemu kakaknya " ucap Reihan .


Kedua alis Miko mengerut , memikirkan sejauh mana hubungan Reihan dan Felicia sehingga anak Reihan bisa dekat dengan Denis dan memanggil kakak .


" mari masuk " ajak Felicia ,  ia tak enak jika dilihat tetangga dengan membiarkan tamunya hanya berdiri di depan pintu.


Keduanya duduk di sofa ,  ada kecanggungan diantara keduanya. Berbeda jika saat mereka berada di suatu ruangan untuk membahas proyek kerjasama ,  kini Miko dan Reihan terdiam dengan  pikiran masing-masing.


Reihan sibuk memikirkan status Miko dengan Felicia ,  sedangkan Miko memikirkan hubungan apa yang Reihan dan Felicia tengah jalin.


Felicia keluar dengan dibantu Tiara membawakan stoples kue kering untuk suguhan dua pria tersebut ,  Felicia meletakkan gelas yang ia bawa dengan sebuah penampan.


"silahkan dinikmati " ucap Felicia.


Miko mengambil gelas terlebih dahulu lalu meminumnya,  ia hampir tersedak saat melihat Tiara duduk dipangkuan Felicia.


Aku kecolongan start!  Batin Miko.


Tujuannya kemari selain membujuk Denis adalah berusaha mengajak Felicia untuk rujuk,  mustahil memang namun apa salahnya jika ia mencobanya.


"Denis ke mana? " tanya Miko.


Felicia terdiam ,  ia ingat pesan Denis tadi meminta untuk mengusir Miko. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara bapak dan anak itu.


" biarkan dia istirahat " ucap Felicia agar Miko tidak ngotot untuk bertemu dengan Denis.


" pak Miko kenal Denis?  " tanya Reihan penasaran.


" Iya,  dia putra saya "ucap Miko bangga.


" Ohh... " Reihan meringis kecil ,  ternyata mantan suami Felicia adalah rekan kerjanya sendiri.


Reihan menerka-nerka tujuan Miko kemari,  ia takut jika Miko ke sini untuk merebut kembali hati Felicia. Jika iya,  ia sudah bersiap bersaing secara sehat dengan Miko untuk menaklukkan hati wanitanya. Walaupun dia rekan kerja,  lain halnya untuk urusan pribadi Ia harus berusaha keras untuk mendapatkan Felicia.

__ADS_1


Reihan akan tetap di rumah Felicia sampai Miko pergi ,  ia tak akan memberi celah sedikit pun untuk Miko mendekati Felicia.


__ADS_2