
setelah percakapan antara Murid dan guru. Siang hari sepulang sekolah, Dimas dan jaki kerumah Radit. Untuk memberi tahukan kepada Radit. Dan menyampaikan pesan dari pak guru kumis. Sesampainya di rumah radit.
Bi Inah menyambut mereka dengan wajah sedih. kedua sahabat itu saling melirik merasa heran dan bingung dengan sikap bi Inah yang murung.
"bibi kenapa?" tanya Dimas pelan
"kalian kesini pasti mau bertemu Radit kan?" tanya bi Inah sedih.
Kedua sahabat itu saling melirik. Bi inah menatap mereka.
"Radit sudah berapa hari ini. belum pulang"
Sontak saja keduanya sahabat itu terkejut mendengar ucapan bi Inah.
"Radit kemana bi?" spontan Dimas bertanya
"bibi juga tidak tau. Setelah orangtuanya bertengkar didepan Radit. Dia langsung pergi dari rumah. Sampai sekarang belum pulang" jawab bi Inah meneteskan air mata bersedih.
"kemana Radit sebenarnya" gumam jaki.
"dia sering kabur aja dari rumah tanpa ngasih kabar ke kita" sambung jaki berpikir..
"namanya kabur mana bilang bilang. Kalau ngasih tau bukan kaburnya namanya. Tapi ijin pergi!" hardik Dimas membenarkan kata kata jaki.
Jaki nyengir melirik Dimas. raut wajah bi Inah masih bersedih meskipun Dimas dan jaki saling bercanda. tapi, itu tidak mempengaruhi suasana hati bi Inah yang bersedih dan pikiran yang kacau. Dimas menyenggol tangan jaki memberi isyarat.
"bi...kita bantu cari Radit" ucap jaki prihatin.
"pasti kalian tau dimana Radit berada. Karena Kalian yang lebih memahami Radit ketimbang orangtuanya.. Apalagi bibi yang sibuk dengan pekerjaan rumah. Bibi minta tolong kepada kalian cari Radit Sampai ketemu" ucap bi Inah meminta pertolongan mereka.
"bi ga bibi minta pun. Kami akan mencarinya. karena Radit juga sahabat kami. Apalagi kami tau soal Radit.. masalah nya juga" jawab jaki.
"masalah Radit adalah disebabkan kedua orang tua yang tidak memperhatikan nya"
Setelah berbincang dengan bi Inah. Jaki dan Dimas mulai mencari Radit.
 Teriknya matahari membuat orang kepanasan, dan kehausan. Begitu pun dengan Raisa yang berjalan di halaman kantor. Karena hari ini Wisnu tidak masuk kerja. Raisa mencoba menghubungi Wisnu. Tak lama kemudian terdengar suara Wisnu mengangkat panggilan Raisa. Ada senyum kecil di bibir Raisa. pertanda senang.
"kamu kenapa tidak masuk kerja?" tanya Raisa spontan.
"aku lagi sakit" jawab Wisnu berbohong. Pada dirinya sedang bersama wanita lain. Yang lebih cantik dan seksi daripada Raisa.
"sakit apa?" tanya Raisa kaget
"biasalah butuh istirahat aja" jawab Wisnu alasan.
"aku kerumah kamu ya?"
"apa? Kerumah aku? Mau ngapain?" tanya Wisnu terkejut.
__ADS_1
"mau nengok kamulah". Jawab Raisa manja
"aduh..nanti aja deh!" tolak Wisnu memutar mencari alasan.
"kenapa?" tanya Raisa curiga.
"aku pingin istirahat. Ga mau di ganggu dulu" jawab Wisnu berbohong.
"ada sesuatu yang mau aku omongin" Raisa memaksa ingin menemui Wisnu
"apa sih? Soal aset aset itu bukan?" tanya wisnu mengejutkan Raisa.
"justru itu..aku ga belum bisa mengambilnya. Dan sekarang juga mobil dirampas ma Bagas." jawab Raisa sedih
"apa? Bagas merampas mobil kamu?" spontan Wisnu terkejut.
"iya aku aja pakai taksi pulang pergi. Makanya kau mau kerumah kamu. Sekalian nginap dah. biar ngasih pelajaran ke si Bagas!" ketus Raisa kesal.
Wisnu terdiam sejenak. Dia sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan aset itu.
"Wisnu kok diam sih?" tegur Raisa.
"eh..iya aku sedang merasakan sakit nya..aduh" Wisnu bersandiwara berpura pura kesakitan.
"Wisnu kamu kenapa? Kamu ga apa apakan?" tanya Raisa mencemaskan Wisnu.
"udah ya..aku mau istirahat " jawab Wisnu langsung mematikan hpnya.
Suara telepon pun berhenti.
"Wisnu Wisnu" panggil Raisa ditelepon itu.
Namun Tak ada jawaban sama sekali. Disaat Raisa memasuki hp kedalam tas. mobil Bagas mendekati Raisa.
"jalan kaki ya" ledek Bagas tersenyum senang melihat Raisa kesusahan.
Raisa mendelik.
"mana pacar mu yang kau banggakan?" Bagas tertawa lepas menertawakan kelakuan Raisa.
spontan Raisa kesal, dan merasa dihina oleh Bagas. Raisa pergi meninggalkan Bagas. Meskipun dia ga tau harus kemana. Bagas kaget melihat Raisa pergi. Dia segera mengejar Raisa.
"Raisa.. Kamu mau kemana?" teriak Bagas.
Raisa tidak menggubris teriakan bagas.namun, Bagas berhasil mengejar nya dan menangkap tangan Raisa.
"Raisa ingat aku masih suami kamu!" teriak Bagas.
"lepaskan aku!" jerit Raisa mencoba melepaskan tangan Bagas darinya.
__ADS_1
dipertengahan pertengkaran mereka. Dimas dan jaki yang sedang mencari Radit. Tidak sengaja melihat Bagas dan Raisa. Mereka segera menghampiri orangtua Radit.
"om..tante!" seru jaki dan Dimas.
Merekapun menoleh ke arah suara.
"kalian siapa?" tanya Bagas. Selama ini Bagas tidak mengenali teman teman Radit.
"kami sedang mencari Radit" jawab Dimas
"kalian pasti temannya Radit kan?" tanya Bagas melirik mereka.
"iya om..kami dengar Radit pergi dari rumah. Apa benar om?" tanya Dimas penasaran. Bagas dan Raisa saling melirik.
"iya benar..kami juga sedang mencarinya" jawab Bagas berubah jadi sedih.
"Om Tante banyak hal yang tidak om Tante ketahui tentang Radit" ucap Jaki.
Mereka pun mendengarkan tentang perihal Radit.
Sementara, di rumah Alya. dia seorang diri sedang duduk di ayunan yang terbuat dari bambu. Alya teringat Radit yang sudah berapa lama tidak bertemu. bahkan Radit pun tidak menemuinya. dia sangat merindukan Radit. Ada kesedihan di raut wajah alya. Yang sedang memikirkan Radit. Hati dia gelisah ingin segera bertemu Radit. Namun, apalah daya. Dia tidak tau tempat tinggal Radit. hingga dia sedang berpikir bagaimana caranya ketemu Radit. Winda mendekati Alya yang sedang termenung. Dia mengusap perut Alya yang sudah beranjak 9 bulan itu artinya Alya sebentar lagi akan melahirkan. Alya menoleh melihat Winda. Winda tersenyum kecil kepada Alya.
"saat seorang wanita mengandung. Yang dia dambakan adalah kelahiran. Dia tidak sabar ingin segera melihat sosok wajah yang mungil.. Lucu..dan tangisannya" ucap Winda melirik Alya.
"mam..maaf kan Alya. Karena perbuatan Alya. Keluarga kita tercoreng dan tercemar menjadi bahan omongan orang lain" ucap Alya menyesali.
"ga usah kau sesali apa yang sudah terjadi. Kita ambil hikmahnya aja. mungkin ini jalan terbaik untuk keluarga kita. Biarkan mereka bicara apa. Asal kita tetap berpikir positif aja" jawab Winda menghibur hati Alya.
"makasih ya mam" ucap Alya merasa tenang.
"iya sayang...oh ya cowok yang waktu itu kesini. Ga kesini lagi. kenapa ya?" tanya Winda Heran.
"itulah mam...Alya juga tidak tau." jawab Alya.
"kamu tidak hubungi dia?" tanya Winda penasaran.
"tidak mam.. justru itu hp dia telah dijual" jawab Alya sedih.
"dijual kenapa?" tanya Winda kaget.
"untuk membiayai kebutuhan Alya. Seperti makan, bayar kontrakan, berobat Alya. dan kebutuhan Alya yang lainnya. selama ini dia yang nanggung beban Alya. Meskipun dia bukan bapak dari anak yang Alya kandung "
ucapan Alya membuat Winda terkejut.
"dia bukan pelaku nya?" tanya Winda spontan.
Alya menggelengkan kepala.
"makanya waktu itu papah dan mamah menyuruh Radit harus menikahi Alya. karena Alya sudah ga mau membebani Radit lagi. karena emang ini bukan perbuatan Radit mam" panjang lebar Alya menjelaskan.
__ADS_1
Winda semakin kaget dan bingung menyikapi masalah yang sedang Alya hadapi.
Bersambung...