Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Prolog


__ADS_3


Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan yang baik untuk anak - anaknya, begitupun Pak Farhan yang sangat ingin memasukkan anak ragil nya ke pesantren, namun hal itu di tolak oleh Azawi, dia yang sangat tidak setuju dengan rencana Ayahnya. dia yang sedari kecil selalu di manja harus berjauhan dengan orang tuanya, lantaran Ayahnya bersikeras ingin memasukkan Azawi ke pondok pesantren.


Pak Farhan hanya ingin Azawi tumbuh menjadi pria yang faham agama, karena nantinya Azawi lah yang akan meneruskan bisnisnya, karena kakak Azawi perempuan dan lebih memilih untuk berkarya sendiri, tidak ingin masuk dalam dunia perbisnisan.


"Azawi kamu harus nurut sama Ayah, Ayah hanya ingin kamu itu ngerti agama Azawi." ujar Pak Farhan menegasi putranya.


"Ayah, tapi Azawi nggak mau jauh dari mama." ucap Azawi dengan raut muka sedihnya.


"Azawi mulai sekarang kamu harus bisa mandiri, kamu itu pewaris bisnis Ayah nantinya, jangan jadi anak yang manja lagi, kamu itu laki - laki Azawi, harus tegas jangan lembek kayak gitu."


"Iya kalau gitu terserah Ayah aja deh, Azawi juga nggak akan bisa nolak keinginan Ayah, cepat masukin Azawi ke pesantren dan Azawi akan jadi anak yang nurut, segera lulus itu lebih baik." ucap Azawi tanpa memandang Ayahnya. dia langsung saja beranjak ingin masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Dasar anak manja, orang tua belum selesei bicara udah beranjak aja ke kamar. huft.." ujar Pak Farhan yang merasa kesal dengan Azawi.


Bu Fatma menghampiri suaminya,


"Sudahlah Yah, kita nggak bisa paksa Azawi, dia sudah besar, Azawi berhak memilih pendidikannya sendiri. karena teman - teman Azawi juga seperti itu, mereka bebas memilih pendidikan sesuai keinginan mereka sendiri, kita jangan menekan Azawi. kasian sayang." ujar Bu Fatma yang seakan protes tidak setuju suaminya memaksa Azawi untuk masuk ke pesantren.


"Mama ini gimana sih, Ayah kan pilihkan pendidikan terbaik untuk Azawi, di pesantren jauh dari pergaulan yang tidak baik Ma, Azawi dalam usia remaja dia mudah saja terpengaruh oleh pergaulan bebas. apa mama mau Azawi ikut - ikutan pergaulan zaman sekarang ini sangat bebas itu?" ujar Pak Farhan dengan mengernyitkan alisnya.


"Iya juga sih, mama faham itu. tapi kan kita juga nggak bisa paksa Azawi untuk menyetujuinya."


"Iya terserah Ayah saja kalau gitu, maafin mama ya yang protes, mama hanya tidak tega saja kalau Azawi nanti harus mandiri, padahal biasanya kan segala keperluan selalu tersedia."


"Mama harus mendukung Ayah untuk membuat Azawi menjadi pria yang mandiri, baik akhlak dan budi pekerti nya. rencana Ayah ini harus berhasil. Azawi tidak akan bisa menolaknya." ujar Pak Farhan sembari melangkahkan kaki keluar rumah

__ADS_1


"Iya Ayah, kok langsung pergi tanpa permisi?" ucap Bu Fatma yang merasa heran dengan sikap suaminya, sepertinya suaminya menahan amarah.


"Ayah mau cari informasi pondok pesantren dari teman Ayah, karena teman Ayah juga akan memasukkan puteranya di pondok pesantren juga."


"Oh gitu.."


"Iya, ya sudah Ayah pergi dulu ya. assalamu'alaikum.."


"Iya hati - hati Yah, wa'alaikumsalam.."


sementara Azawi merutuki dirinya yang harus menuruti keinginan ayahnya untuk tidak menolak masuk ke pondok pesantren. padahal ini jauh dari fikirannya, akan menjadi seorang santri. Azawi membayangkan bagaimana nanti dia tinggal di berjauhan dengan orang tuanya, karena Azawi selama ini adalah anak yang manja.


"Oh tidak.. masa iya aku harus tinggal di pesantren, nanti yang nyuciin bajuku siapa, yang nyiapin pakaian sekolah, pakaian santai siapa?" gerutu Azawi merasa kesal.

__ADS_1


"Pasti aku lakukan semua itu sendiri. belum lagi di pesantren itu kan kamarnya jadi satu, dalam satu kamar ada banyak para santri lain. aduh, nggak bisa nih, aku nggak bisa. tapi aku harus nurut sama Ayah, bisa marah besar kalau aku menolak masuk pesantren."


"Semoga tidak lama aku berada di pesantren, lebih cepat lulus itu lebih baik." ucap Azawi lirih khawatir terdengar orang tuanya.


__ADS_2