
"ha? ISTRI???" teriak Nadifa dan Nazwa dengan wajah shock
"iya, istri saya namanya Salwa kalian berdua ada perlu apa ya?"
"emm gini pak..." belum selesai Nazwa meneruskan perkataanya terdengar suara yang sangat tak asing di telinga memanggilnya dan Nadifa dari belakang
"loh Nazwa, Nadifa anti ngapain kesini?"
mereka menghadap kebelakang dan
"SALWA"
"iya, kalian ngapain disini?"
"ini rumah anti Sal?" tanya Nazwa yang masih terkejut
"ha? enggak rumah ana di sebelah sana" tunjuknya pada rumah minimalis yang berjarak dua rumah dari rumah itu
"ha?"
"jadi nggak cari istri saya?"
"hehehe nggak jadi pak kita salah rumah"
"eh nak putri, gimana keadaan ibunya udah baik" bapak tersebut menyapa ke arah Salwa
"Alhamdulillah udah sehat pak"
"oh alhamdulillah kalau gitu"
"putri?"
"putri siapa? Nad?" Nazwa menyenggol lengan Nadifa
"mungkin maksudnya Salwa, nama Salwa kan putri nur salwa"
"ohhh ya juga ya" gumam Nazwa pelan
"kalian berdua ngapain kesini?" Salwa menarik lengan baju kedua sahabatnya menjauh dari rumah yang tadi mereka datangi
"kami cariin anti Sal" ucap Nazwa mengusap belakang kepalanya
"ngapain?"
"anti lupa Sal, malam ini kita berempat tampil, kita sudah lama menunggu hari ini untuk membuktikan kalau kita juga bisa seperti santri yang lain" ucap Nadifa mengeluarkan unek-uneknya
"ayo masuk dulu, bicara di dalam enggak enak sama tetangga" Salwa mempersilahkan kedua sahabatnya memasuki rumah minimalis, bercat biru muda yang sudah nampak pudar terkena berbagai musim
"kita tadi kaget loh Sal, pas kita masuk rumah yang tadi terus bapak itu bilang istri kami kira anti yang nikah" ucap Nazwa saat Salwa menggelar tikar untuk mereka duduk
"oh itu pak Adit, ketua Rt sini, nama istrinya juga Salwa makanya disini ana di panggil putri biar nggak salah orang"
"hehehe"
"jadi gimana sal, anti bisa nggak pergi malam ini, kita ke ponpes cuma sebentar kok pas selesai tampil kita anterin anti pulang lagi" ucap Nazwa to the point
"tapi nanti ustadzah..."
"nanti kita yang ngomong sama ustadzah, anti tenang aja" ucap Nadifa menenangkan Salwa
"kenapa kalian nggak ganti ana aja sama santri yang lain"
"huff nggak mungkin Sal, waktunya udah kepepet banget hasilnya nggak mungkin sama seperti anti" jawab Nadifa
__ADS_1
"maaf ya ana ngerepotin kalian" ucap Salwa menunduk
"jangan bilang gitu Sal, enggak ada yang namanya ngerepotin kita ini sahabat kalau anti bilang gitu artinya anti tak menganggap kita sahabat" ucap Nazwa memeluk Salwa
"bukan gitu maksud ana cuma ana takut nanti kalian yang dihukum sama ustadzah gara-gara hal ini"
"huff kita sudah melangkah sejauh ini Sal enggak mungkin kita balik ke ponpes dengan tangan kosong, Hana juga udah nungguin kita disana, masalah hukuman itu nanti kita pikirkan, kita sudah berani berbuat seperti ini artinya kita juga harus berani tanggung jawab" jelas Nazwa menarik nafas panjang
"kami juga nggak maksa anti kalau emang anti nggak mau" sambung Nadifa diangguki oleh Nazwa
"emm bentar ya, ana minta izin dulu sama ibu"
"pergilah nak, ibu udah sehat" seorang wanita paruh baya keluar dari kamarnya dan langsung duduk dihadapan mereka
"ibu"
"pergilah nak, ibu udah sehat kasian temen-temen mu udah jauh-jauh dari ponpes kesini cuma jemput kamu"
"kita cuma sebentar kok bu, nanti pas selesai acara kita anterin Salwa kembali pulang" ucap Nadifa mencium tangan ibu Salwa diikuti oleh Nazwa
"tuh udah enggak papa pergi aja, ibu juga udah lebih baik" ibu Salwa memeluk putri satu-satunya dan dibalas anggukan oleh Salwa sambil mengusap air matanya
"makasih ya bu, Salwa enggak lama kok"
"bentar ya ana ganti baju dulu"
"kita ikut Sal, kita juga sekalian ganti biar di ponpes nggak ribet"
"ayo"
"makasih ya bu, udah ngizizin Salwa" ucap Nadifa yang kini telah selesai mengganti pakaiannya diikuti dengan Nazwa di belakang
"kalian anak yang berani, padahal jalan dari sini ke pesantren cukup menakutkan loh"
"ibu sebenarnya sakit apa?" tanya Nazwa
"darah tinggi ibu kemarin kumat sampai pingsan pas jualan "
"Astagfirullohaladzim, terus sekarang keadaan ibu gimana?"
"kalau sekarang udah lebih baik, cuma masih sedikit pusing aja"
"maaf ya bu, kalau kita kesini ganggu waktu ibu sama Salwa"
"enggak papa kok, Salwa juga cerita ini pertama kalinya dia ikut lomba nyanyi, kalau nggak jadi kan usaha latihan kalian juga sia-sia"
"maaf ya buk kalau kita keliatan kayak maksa gini, kita jadi enggak enak" ucap Nazwa menggaruk kepalanya yang terlapis jilbab
"enggak papa justru ibu juga seneng liat usaha kalian kayak gini nggak gampang nyerah"
"udah ayo berangkat" suara Salwa yang keluar dari kamarnya mengalihkan tiga fokus orang yang terduduk di ruang tamu beralaskan tikar
"loh baju kalian sama'an nih?"
"hehehe iya bu"
"yaudah kalian hati-hati dijalan ya"
"iya bu, kita pamit dulu"
"kalau acaranya kemaleman Salwa nginep dulu aja di ponpes besok pagi pulang, kan bi sri kemarin katanya minta izinin pulang tiga hari jadi lusa balik lagi ke ponpes"
"iya bu Salwa pamit dulu" Salwa mencium tangan ibunya yang diikuti oleh Nazwa dan Nadifa
__ADS_1
"Assalamu'laikum"
"Wa'alaikumussalam"
Mereka meninggalkan rumah Salwa menuju motor yang terparkir tak jauh dari sana
"loh anti bawa motor siapa nih Naz?" tanya Salwa
"motor kak indah anaknya bu sulis kebetulan nggak dipake jadi kita pinjem"
"ooowh, kirain tadi anti pakek motor kang ujang hehehe"
"kalau motor kang ujang yang ada kita nggak bakalan sampai ponpes dengan selamat"
"hahaha"
"udah ayo naik pasti Hana saat ini capek nungguin kita di ponpes"
"iya kasian Hana saat ini pasti lagi cari alasan hahaha" ucap Nadifa sambil tertawa
Mereka bertiga menaiki motor tersebut menuju ke ponpes dengan kecepatan diatas rata-rata, Nazwa yang membawa motor bak pembalap profesional meleok-leok melewati setiap tikungan, hingga Nadifa yang paling belakang memegang erat bahu Nazwa agar tak terjatuh
.
.
.
Sementara itu di ponpes
Hana duduk dengan gelisah di kursi penonton paling belakang sambil matanya melirik ke arah gerbang pesantren melihat tanda-tanda temannya yang masih tak kunjung kembali padahal acara akan segera dimulai
"ya alloh lindungilah teman-teman hamba" gumamnya pelan
"Hana" seseorang menyentuh pundaknya dari belakang membuatnya berjingkat kaget
"i iya ustadzah, ana kira siapa tadi" jawab Hana gugup sambil memegang dadanya
"anti ngapain masih disini teman-teman anti yang lain mana? seharusnya kan anti ada di belakang panggung bersama peserta yang lain"
"hhehe na'am ustadzah, Nazwa sama Nadifa masih di kamar persiapan, sebentar lagi keluar kok"
"oowh, kalian udah dapat pengganti Salwa?"
"tadi..."
"Assalamu'alaikum maaf ustadzah dipanggil sama ustadz Akmal" seorang santriwati tiba-tiba datang membuat perkataan Hana terpotong
"eh iya, Hana nanti kalau Nazwa sama Nadifa udah dateng suruh ke belakang panggung ya kumpul sama peserta yang lain, alat musik kalian juga udah dikeluarin"
"na'am ustadzah"
"fyuhh hampir aja, Nazwa sama Nadifa kok belum balik ya" gumam Nadifa sambil terus memperhatikan ke arah gerbang pesantren yang sedikit terbuka"
"semoga kalian selamat di perjalanan" gumamnya pelan
.
.
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1