Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Zahra


__ADS_3

Pohon mangga yang rindang dengan buah yang begitu lebat menghiasi pekaranagan rumah, kicauan burung terdengar saling bersahutan dari satu pohon ke pohon lainnya, tetesan embun berjatuhan dari dedaunan membasahi tanah


Seorang gadis berdiri di depan jendela kamarnya, melihat hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning siap panen, diliriknya name tag berwarna hitam dengan tulisan keemasan di dalamnya bertuliskan 'Nazwa Azzahra D.' dan sebuah tasbih berwarna perak dengan ukiran nama Allah yang begitu indah pada setiap butirnya


Ia sudah tau, kalau ia bukanlah anak kandung dari keluarga ini, Bu Reni yang merawatnya mengatakan kalau ia ditemukan di tepi pantai saat pergi mengantarkan bekal suaminya yang hendak pergi melaut, dan name tag itu menjadi satu-satunya petunjuk ia bisa mengetahui namanya


Namun terkadang ia bingung, apa kepanjangan dari huruf 'D' diakhir namanya, apakah itu adalah nama keluarganya atau nama panjangnya yang disingkat?


Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, ada beberapa hal yang menurutnya aneh, ia pernah membantu mengobati pasien di klinik desa karena dokter hari itu sedang tidak bisa hadir dan anehnya ia bisa ingat dengan jelas nama obat, dosis, bahkan setiap penyakit yang dialami pasien, walau sempat diragukan namun ternyata orang yang diobati berhasil sembuh tanpa ada efek apapun, warga mulai percaya dan semenjak itu dirinya mulai bekerja disana membantu para dokter walau tanpa gelar dokter yang melekat di namanya


Terkadang, ia berusaha mengingat peristiwa masa lalunya namun yang muncul hanya ingatan-ingatan buram yang membuat kepalanya terasa sakit


Ia pernah menceritakan tentang amnesianya kepada dokter di klinik tersebut yang kebetulan katanya lulusan universitas terbaik dari kota, dan dokter tersebut menyarankan untuk ia pergi ke rumah sakit yang ada di kota, untuk pemeriksaan lebih lanjut karena peralatan medis yang lebih canggih disana. Namun, ia belum melakukan hal itu hingga saat ini karena keterbatasan biaya yang dimiliki, ia tak ingin menambah beban orang tua yang telah baik hati merawatnya dan memperlakukannya selayaknya anak mereka sendiri


"Kak Zahra ayo cepat" teriak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun mengenakan peci hitam, baju koko putih dan juga sarung hitam batik membuyarkan pikiran gadis tersebut


"Sabar dulu Zikri, ini masih pukul delapan tepat memangnya jam berapa yang tertulis di undangan?" ucapnya saat melihat jam di smartphone yang dibelinya dengan hasil kerjanya dari klinik kesehatan tersebut


"Aduh kakak bagaimana sih, di undangan itu tertulis jam setengah sembilan, tapi jarak rumah dengan ponpes itu hampir setengah jam, nanti kalau telat bagaimana"


"Nanti saja berangkatnya jam setengah sembilan" jawab gadis tersebut dengan santai


"Apa? Kak Zahra gimana sih? Udah tau telat kok malah semakin telat?" Ucap anak tersebut terdengar kesal


"Dengar ya Zikri sesuai adat orang Indonesia atau lebih tepatnya mayoritas orang Indonesia jika mengatakan jam setengah sembilan itu artinya jam setengah sepuluh kau mengerti?"


"Ha? Kenapa begitu? Itukan namanya tidak disiplin waktu?"


"Kenapa kau tanya pada kakak? Tanyakan saja pada orang yang membuat peraturan itu"


"Sudahlah kak, jangan tiru orang lain bukankah salah satu kunci sukses itu adalah disiplin waktu"


"Ya sudah ayo berangkat, ingat jangan pernah tiru kebiasaan buruk orang seperti ini usahakan selalu berangkat tepat waktu" peringat gadis berjilbab peach tersebut sambil mengeluarkan motor matic dari gerbang rumahnya


"Bukannya kakak sendiri tadi yang terlambat?" Cibir anak laki-laki tersebut

__ADS_1


"Dengar ya, itu tadi namanya kakak memberitahumu biar siapa tau nanti kau mengirimkan undangan agar tidak kesal saat orang datang terlambat dan kau marah-marah"


"Terserah kakak saja" ucap anak laki-laki tersebut dan segera menaiki motor kakaknya


"Ibu kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum" ucap mereka


"Wa'alaikumussalam"


"Perasaan kalian sudah mengatakan berangkat-berangkat dari tadi tapi tak bergerak sama sekali" ucap seorang ibu berusia sekitar empat puluh tahun dan hanya dibalas cengiran oleh mereka berdua


Motor matic berwarna putih itu melaju melewati jalan desa yang penuh dengan tanah dan bebatuan karena proyek pembangunan jalan masih berjalan setengah


"ZAHRA" teriak seorang pemuda dengan koko putih dan sarung biru tua nampak tergesa-gesa berjalan ke arah mereka


"Apa?" dengan terpaksa gadis tersebut memberhentikan motornya


"Aku hanya ingin memberikan ini" ucapnya menyerahkan kado yang terbungkus plastik hitam


"kadonya ketinggalan" lanjut pemuda itu lagi


"makasih ya Bang Rasya, Kak Zahra emang sering lupa" Ucap Zikri mengambil bingkisan tersebut


"apaansih nggak jelas banget" jawab Zahra ketus


"jangan ketus-ketus Zahra, nanti kalau jodoh gimana?"


"Ngomongnya masih lama nggak? kami buru-buru nih" ucap Nazwa tanpa ada niatan menimpali pemuda yang ada disampingnya


"udah itu aja, jaga mata jaga hati disana ya"


"nggak jelas" ucap Zahra


"Assalamu'alaikum" Zahra dan Zikri mengucap salam sebelum pergi


"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan"

__ADS_1


"Kak Zahra kenapa sih nggak nerima Bang Rasya, padahal dia itu baik, ganteng, taat ibadah, mapan, dan juga orang berpendidikan, kurangnya apa coba?" tanya Zikri di tengah perjalanan


"Kamu masih kecil, belum tau apa-apa jangan ikut campur urusan orang dewasa" jawab Zahra seperlunya


"ish"


Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan akhirnya kini mereka sampai di depan gerbang bertuliskan 'Nurul Hikmah'


Zahra memandang gerbang besar tersebut tiba-tiba kepalanya terasa pusing seperti ada ingatan yang samar-samar masuk ke kepalanya, ia memberhentikan motornya sejenak sebelum masuk ke dalam gerbang tersebut


"Kok berhenti disini kak? parkirnya di dalam, nanti kalau motornya hilang bagaimana?" celoteh Zikri


"iya bawel" jawab Zahra dengan menahan rasa sakit di kepalanya


"Zikri tungguin kakak disini dulu, kakak mau parkir, jangan lari-lari disini bahaya" peringat Zahra dan hanya dibalas anggukan oleh Zikri, namun tak lama setelah itu Zikri sudah tak nampak lagi disana


"Kemana perginya bocah itu?" tanya celingak celinguk memperhatikan sekitar, hingga netranya menangkap adiknya yang sedang berbicara dengan orang asing, tanpa pikir panjang ia langsung menghampirinya karena menganggap orang tersebut sedang memarahi adiknya


"Zikri sudah Kak Zahra bilang jangan lari-lari, tungguin kakak dulu" ucapnya cemas pada adiknya


"tadi Zikri mau nyapa Anton teman sekelas Zikri, makanya lari, eh malah nggak sengaja nabrak orang"


"terus kamu udah minta maaf? orang itu nggak marah kan?"


"nggak kok"


"lain kali jangan kayak gitu, bahaya" peringat Nazwa dan Zikri hanya mengangguk


"Jangan cuma ngangguk aja, tapi juga dengerin"


"iya iya, cepat kita masuk, sebentar lagi acara mulai" Saat baru hendak melangkahkan kaki, terdengar suara seseorang di depan mereka membuat mereka berhenti


"Nazwa" ucap kedua orang tua paruh baya tersebut membuat Zahra mematung karena mereka memanggil nama depannya, dan ia merasakan perasaan aneh dalam dirinya, kemudian samar-samar bayangan muncul dikepalanya membuatnya terasa sakit


"Siapa ya?" tanyanya dengan nada pelan

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂


Banyak Typo...🙏🙏🙏🙏


__ADS_2