
"eh ngomong-ngomong setelah lulus SMA ini kalian mau kuliah atau kerja?" tanya Nazwa mengalihkan pembicaraan sebelum Yolanda semakin kepo tingkat tinggi
"gue kayaknya mau kuliah deh ambil jurusan bisnis, mau nerusin perusahaan papa" jawab Reyno
"kalau aku sih kayaknya kuliah ambil jurusan otomotif aja deh" jawab Bastian terdengar bimbang
"heh, lo kan SMA dodol"
"lah apa salahnya, gue juga sering kok bantu-bantu di bengkel temen gue"
"kalau aku sih mau ambil jurusan tata boga aja deh, pengen buka restoran atau cafe" jawab Yolan
"kalau lo gimana Ca?"
"hemmm, kayaknya aku kuliah sambil kerja deh, itupun kalau jadi keterima lewat jalur beasiswa" ucap Caca
"pasti lo keterima ca, gue yakin seratus persen, kalau rezki juga gak akan kemana" ucap Reyno menyemangati dan Caca hanya mengangguk
"kalo lo sendiri gimana Naz, kita kuliah bareng ajalah lagian universitas disini juga nggak kalah maju, kita berempat mau daftar di universitas yang sama soalnya"
"huffff" Nazwa menarik nafas berat dan menghembuskannya dengan kasar
"mmmm gimana ya, bukan berarti gue nolak ya, tapi lo tau kan cita-cita gue sendiri tuh mau jadi dokter, jadi gue memutuskan..."
"gue tau, lo mau kuliah di universitas kedokteran yang berjarak sekitar setengah kilo dari kampus disini itukan" tebak Yolan memotong ucapan Nazwa dan Nazwa hanya menggeleng
"makanya dengerin Nazwa selesai ngomong dulu dong" ucap Caca dan Yolan hanya cengir
"gue mau lanjutin di universitas oxford inggris"
uhuk...uhukkk
Bastian yang sedang meminum minumannya terbatuk mendengar jawaban Nazwa
"maksudnya lo bakal pergi ke Inggris dan sekolah disana?"
"iya"
"Naz, padahal baru aja loh kita ketemu, dan lo mau pergi lagi"
__ADS_1
"sorry, bukan berarti gue mau ninggalin kalian, tapi itu sudah impian gue sejak kecil menjadi dokter agar bisa menolong banyak orang"
"hufff, memang sih saat tamat SMA kita juga nggak punya terlalu banyak waktu buat kumpul-kumpul kayak dulu lagi, karena semakin berat tanggung jawab kita apalagi kalau udah kerja" ucap Bastian bijak
"memang benar, disinilah perjalanan hidup kita yang sebenarnya telah dimulai, mau nggak mau, rela ngga rela setiap pertemuan pasti akan ada kata perpisahan"
"ya begitulah, namun kita juga harus tetap yakin kalau dibalik ini semua ada hikmahnya"
"hiks Naz, dulu cuma beda kabuten aja sekarang beda negara bahkan beda benua" ucap Yolanda memeluk Nazwa erat
"udah Yol, kok lo nangis sih, gue tu mau pergi kesana nuntut ilmu kalau kangen kan video call bisa, dulu kan pas di ponpes nggak di bolehin pegang hp, sekarang kan bebas kalau mau tinggal telpon aja"
"tapi gue nggak rela Naz"
"jangan pikirin sekarang Yol, coba pikirin kalau nanti Nazwa jadi dokter, pas lo sakit kan bisa ke rumah sakit gratis" ucap Bastian mengambil keuntungan
"enak aja, nggak bisa harus bayar" jawab Nazwa sewot
"hehehe canda Naz"
Langit yang tadi mendung kini mulai menjatuhkan rintik hujan ke bumi, matahari sore itu tertutup awan mendung namun cahaya jingga masih bisa terlihat di ufuk barat pertanda hari mulai petang
"memang benar dalam pertemuan pasti ada perpisahan, apakah saat aku kembali lagi nanti ke negara ini perasaan itu masih sama atau sudah berbeda"
Orang berlalu kesana kemari terlihat sibuk membawa koper masing-masing, ada tangis bahagia dan tangis kesedihan diantara mereka, bahagia karena orang yang mereka sayangi kembali kepada mereka atau justru tangis kesedihan karena harus terpisah dengan orang yang mereka sayangi
"Nazwa pokoknya disana kamu jaga kesehatan terus jangan keluyuran malam-malam ingat istirahat jangan belajar terus, terus perhatikan pola makanmu jangan sampai mag mu kambuh lagi, disana kamu hanya sendiri Nazwa" ibunya tak henti-hentinya memberikan nasihat kepada putri kesayangannya dan terus memeluknya erat seolah tidak setuju putrinya pergi
"ibu tenang aja, Nazwa bakal jaga diri disana kok, ibu juga jangan lupa jaga kesehatan"
"ingat ya Nazwa sekarang sudah besar, sudah mampu membedakan mana yang benar dan yang salah, jadi ayah percaya sama Nazwa, jangan kecewakan ayah ya nak" ayahnya memeluk putri satu-satunya itu begitu erat, walaupun terkadang sikapnya begitu tegas namun di balik itu semua tersimpan rasa sayang yang begitu besar kepada putrinya
"ayah juga jaga kesehatan"
"Nazwa udah ayo" ucap Satria yang baru dateng setelah memeriksa segala keperluan adiknya disana, ia akan ikut dan menemani Nazwa sementara sampai Nazwa sudah mulai masuk kuliah
"jangan lupa niatkan segala sesuatu hanya untuk meraih ridho Allah nak, kami disini mendoakan semoga cita-cita dan semua mimpi Nazwa tercapai"
"kalau begitu Nazwa pergi dulu ibu ayah, pesawatnya sebentar lagi akan lepas landas"
__ADS_1
"nanti saat ada waktu pasti kami kesana jengukin Nazwa"
"Nazwa pasti sayang kalian"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
mereka memandang punggung putri mereka yang semakin menjauh, Nazwa melambaikan tangan sekali lagi ke arah mereka dan mereka membalas dengan hal yang sama, saat punggung kecil itu benar-benar hilang dari pandangan mereka barulah setetes air mata turun dari pelupuk mata mereka, sejujurnya mereka tak mungkin memperlihatkan air mata itu kepada putri mereka karena pasti Nazwa juga akan sedih dan tak rela untuk pergi
"padahal ia baru saja kembali dan harus pergi lagi"
"lihatlah ia sekarang sudah dewasa, bisa mengambil keputusan besar sendiri, cita-citanya begitu tinggi, sekarang sudah berubah tak ada lagi suara berisik di rumah" ucap ayahnya terkekeh sambil mengusap air matanya
Sementara disisi lain bandara, terlihat seorang pemuda dengan baju koko putih, sarung hitam batik, dengan peci yang melekat di kepalanya dan tak lupa sorban hitam yang tersampir di pundak kirinya menyeret koper sambil melihat jam di pergelangan tangannya, namun matanya tak sengaja menangkap sosok yang begitu dirindukannya menyeret koper
"bukannya itu Nazwa, tapi bukannya besok acara perpisahan ya, nggak mungkinlah kalau itu Nazwa, mungkin cuma mirip aja" ucapnya bergumam sendiri menepis segala pikirannya
Nazwa pun merasakan hal yang sama, ia menoleh ke belakang namun orang itu sudah membalikkan tubuhnya
"kok kayak mirip ya, bukannya dia baliknya besok ya, mungkin cuma halusinasi aja, udah deh Naz sekarang fokus" gumanya
"Nazwa kamu kenapa?" tanya Satria melihat adiknya bertingkah sedikit aneh
"hehehe, nggak papa kok kak" cengir Nazwa
"kakak tau kamu rindu sama mereka, zaman udah canggih dek, kalau rindu telpon aja kan kata ayah kalau ada waktu besok pasti jengukin kamu" ucap Satria mengusap kepala adiknya
"abang nanti jagain ayah ibu kalau Nazwa nggak ada ya, sebenarnya Nazwa juga nggak tega ninggalin mereka tapi Nazwa juga pengen mewujudkan cita-cita Nazwa biar bisa bantu orang banyak"
"pasti itu dek"
"abang juga makanya cepetan nikah, biar rumah tambah rame, kalau Nazwa punya keponakan seengaknya ibu nggak sendirian lagi"
"tunggu aja bentar lagi" jawab Satria cengir sambil mengusap kepala adiknya gemas sampai akhirnya mereka benar-benar masuk dalam pesawat
🌷🌷🌷🌷🌷
.
__ADS_1
Banyak Typo...🙏🙏🙏
MAAF YA TEMAN-TEMAN SEMUANYA, AUTHOR JARANG UP SOALNYA LAGI BANYAK KESIBUKAN APALAGI TINGGAL BENTAR UJIAN, JADI BISANYA CUMA HARI MINGGU, TAPI AUTHOR USAHAIN KALAU UDAH NGGAK SIBUK INSYA ALLAH UP TIAP HARI 🙏🙏🙏🙏🙏