
🌷🌷🌷🌷🌷
Udara pagi terasa sejuk, angin pedesaan yang masih bersih belum tercemar polusi udara, Nazwa dan Salwa berdiri di hadapan sawah dengan padi yang mulai menguning siap untuk dipanen, pagi ini mereka berdua akan kembali ke pesantren dengan membawa motor astrea tua milik kang ujang
"kamu yakin bisa bawa motor sendiri?" pertanyaan yang sama terus dilontarkan oleh kakek dan neneknya untuk yang kesekian kalinya pada Nazwa
"iya yakin, kakek sama nenek tenang aja"
"tapi luka kamu belum sembuh nanti berdarah lagi"
"enggak akan kakek tenang aja"
"sifat keras kepalamu sama seperti ayahmu" ucap neneknya
"ya udah kalau gitu kami kembali ke ponpes dulu, kapan-kapan lagi Nazwa mampir" ucap Nazwa mencium tangan kakek dan neneknya diikuti oleh Salwa
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Motor astrea tua itu membelah jalanan kampung dengan asap kenalpotnya yang cukup tebal
"Naz anti beneran nggak papa?" tanya Salwa
"nggak papa Sal" bohong jika Nazwa mengatakan ia tak apa-apa, luka di lengannya masih terasa nyeri apalagi kondisi jalan yang masih dipenuhi batu-batu membuatnya semakin tergoncang, namun ia tak ingin membuat yang lain khawatir dengan kondisinya.
Nazwa sampai di depan gerbang pesantren, ia masuk memakirkan motor kang ujang di tempat biasanya kang ujang memakirkan motor tersebut yaitu dibawah pohon mangga
Kondisi pesantren sepi, para santri sudah mulai belajar di dalam kelas masing-masing karena jam yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Nazwa dan Salwa berjalan terlebih dahulu menemui ustadzah Fathia karena harus melapor kalau mereka sudah kembali.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka berdua saat memasuki ruang guru
"Wa'alaikumussalam"
"Nazwa, Salwa kalian nggak kenapa-napa kan?" tanya ustadzah Fathia langsung menghampiri mereka
"hehehe...hanya sedikit kecelakaan ustadzah" gumam Nazwa kecil yang hanya bisa didengar oleh Salwa yang disampingnya
"oh ya Nazwa, pelipis anti kenapa?" tanya ustadzah Fathia melihat plester di pelipis Nazwa
"oh ini hanya kecelakaan kecil ustadzah, nggak sakit kok"
"maaf ya ustdazah kemarin ngerepotin kalian"
"nggak papa ustadzah"
"oh ya karena kelas sudah dimulai kalian di asrama aja"
"na'am ustadzah, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Saat keluar dari ruang guru tiba-tiba ada seorang santri yang lari terburu-buru masuk hingga
brukkk
"aduh" Nazwa terjatuh karena tak sempat menghindar
"aduh, anta lain kali kalau jalan-jalan jangan lari-lari dong" omel Nazwa pada orang yang menabraknya yaitu Gus Fatih
"afwan, ana buru-buru" ucap Gus Fatih berdiri dibantu Agus
__ADS_1
"ya tapi nggak harus lari juga kali" gumam Nazwa kecil sambil membersihkan roknya yang sedikit kotor
"Astagfirullohaladzim Nazwa lengan anti" ucap Salwa menutup mulutnya saat melihat lengan baju Nazwa yang berubah menjadi warna merah.
"aduh kenapa perbannya pakai kebuka segala sih" gumam Nazwa melihat darah yang mulai mengalir dari lengannya sambil menahan sedikit sakit
"enggak papa kok, udah ayo sal" ucap Nazwa bergegas ingin pergi tapi pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang, Nazwa melihat tangannya yang di pegang dan menatap orang yang masih memegang tangannya
deg
deg
deg
manik mata mereka saling bertemu
"astagfirullohaladzim afwan" Gus Fatih langsung melepaskan tangannya yang reflek memegang pergelangan Nazwa
"ngapain sih pegang-pegang?" ucap Nazwa menyembunyikan rasa gugupnya
"tangan anti kenapa?"
"nggak papa hanya luka kecil"
"ana minta maaf kemarin seharusnya ana yang mengantarkan undangan itu, jadi kalau tangan anti luka karena kejadian kemarin ana minta maaf" ucap Gus Fatih
"ana juga minta maaf Nazwa, Salwa" Agus ikut merasa bersalah
"jadikan saja sebagai pelajaran jangan diulangi lagi, seharusnya sebagai laki-laki kalian lebih bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan" jelas Nazwa
"ya namanya juga kita lupa Naz" ucap Agus
"makanya jangan pikun kayak orang tua aja"
"udah ah kita pergi dulu, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"sebenarnya apa yang terjadi sama anti Naz, nggak mungkin kan luka hanya karena jatuh tadi" gumam Gus Fatih kecil
"woi malah bengong, ayo cepet" Agus menarik tangan Gus Fatih masuk ke kantor
🍁🍁🍁🍁🍁
"Naz kita ke UKS dulu aja, ngobatin tangan anti sama ganti perban biar nggak infeksi" Salwa merasa ngilu melihat darah dari lengan Nazwa dan hanya diangguki oleh Nazwa
ceklek
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"loh Fitri kok anti ada di UKS, anti nggak belajar?" tanya Salwa melihat Fitri kakak kelas mereka yang biasa mengurus ruang UKS
"kasus biasa Sal, santriwati kelas sepuluh pura-pura sakit belum jadi tugas ustadzah Zulaikha, kebetulan jam pelajaran kosong Gus Rayhan katanya pergi ngisi pengajian ke kampung sebelah jadi ana cuma di kasih tugas"
"lah terus sekarang santriwatinya kemana?" tanya Nazwa memperhatikan ruang UKS yang kosong
"udah keluar, balik lagi ke asrama"
"memang mereka banyak alasan"
__ADS_1
"kalian berdua ngapain disini?"
"ada kapas nggak sama perban?"
"bentar kayaknya masih ada" Fitri membongkar lemari kecil yang disediakan di ruang UKS
"nih, tapi kalian buat ngapain?" tanya Fitri sambil menyerahkan kapas dan perban
"lengan Nazwa luka, ayo duduk diatas Naz"Salwa menepuk ranjang uks
"luka? bekas apa?"
"panjang ceritanya, angkat lengan baju anti Naz" ucap Salwa
"lah fitri anti mau ngapain?" tanya Nazwa bingung melihat Fitri menuju meja yang terdapat termos dan galon air minum
"buat teh manis lah untuk anti"
"astaga yang luka itu di lengan ngapain buat teh manis, ana juga heran kenapa ya, kalau di UKS itu pasti minumnya selalu teh manis, apapun penyakitnya teh manis tetap minumannya" ucap Nazwa panjang lebar
"Fitri lebih baik anti obatin luka Nazwa aja, ana nggak paham ini mana yang obat luka, obat maag, obat sakit kepala" ucap Salwa mengeluarkan semua jenis obat-obatan yang ada di lemari UKS
"astaga Sal, anti sudah hidup tujuh belas tahun nggak tau mana obat luka?" tanya Fitri dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Salwa
"astaga Sal ana pikir anti tau" ucap Nazwa menepuk jidatnya
"ana kan nggak pernah masuk UKS jadi nggak tau, lagian dibotolnya juga nggak ada tulisan obat luka" ucap Salwa membela diri
"lah terus masa anti nggak pernah luka, kalau luka anti ngobatinnya pakai apa?"
"kalau luka palingan cuma pakai minyak obat atau dibiarin gitu aja sampai sembuh sendiri" ucap Salwa
"ini obat luka Sal yang warna merah, biar anti tau kalau ada yang luka lagi anti nggak salah ambil entar bukannya sembuh penyakit orang malah makin parah" jelas Fitri sambil tertawa kecil dan hanya diangguki oleh Salwa
"Astagfirullohaladzim, luka anti besar banget Naz" fitri merasa ngilu melihat luka dilengan Nazwa yang sedang dibersihkan dengan kapas beralkohol oleh Salwa
"sakit nggak Naz?" Salwa ikut merasa ngilu melihat darah Nazwa yang masih mengalir
"ya elah ngapain nanya yang namanya luka pasti sakitlah, udah sini biar ana aja yang ngobatin kalau anti bisa-bisa sampai magrib nggak selesai-selesai, anti ngoles kapasnya lelet banget" ucap Fitri merasa gemas melihat tangan Salwa yang bergerak sangat pelan
"eh ngomong-ngomong kalian mau ikut lomba apa nih?"
"hah lomba apa?"
"lah masa kalian nggak denger pengumuman yang disampaikan Gus Rayhan di masjid semalam bahkan informasi nya juga udah ada di mading loh"
"emang lomba apaan?" tanya Nazwa
"kan sebentar lagi ulang tahun ponpes, terus banyak lomba-lomba gitu"
"oh ya aku ingat kalian kan semalam nggak ada di ponpes, kalian berdua pergi kemana?" sambung Fitri yang telah selesai mengobati tangan Nazwa
"jadi ceritanya gini..." Salwa mulai menceritakan kejadian yang mereka alami semalam
"wah anti keren Naz bisa lawan orang kayak mereka, terus begalnya kemana?"
"entah, kami langsung kabur"
.
.
__ADS_1
.
Banyak typo, maaf kalau alurnya nggak nyambung 🙏🙏🙏