Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Aziz


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸


Sudah dua hari sejak kejadian itu kondisi Nazwa sudah pulih, Salwa juga telah kembali ke pesantren kemarin, pengumuman para pemenang lomba akan diumumkan saat acara penutupan yakni besok malam, saat ini para santri hanya bisa berharap dan menunggu hasil dari usaha mereka.


Nazwa berjalan sendirian sambil membawa baju putih yang disembunyikan di dalam jilbabnya, ia sengaja tak mengajak atau memberitahu temannya karena bisa-bisa ia di ledeki sampai habis


"duhhh moga aja dia ada dirumah, terus di rumahnya nggak ada orang eh moga ada orang biar aku nggak sendirian, tapi dia dirumah atau di assrama sih?" gumamnya bingung sendiri sambil terus berjalan ke arah rumah pak kyai untuk mengembalikan baju Gus Fatih


"duh cara masuknya gimana ya? ketuk pintu dulu atau salam dulu?"


gumam nya ragu


"fyuhhh Nazwa tenang oke, ini bukan apa-apa nggak usah gugup gitu" ucapnya menyemangati dirinya


tok tok tok


"Assalamu'alaikum"


"kayaknya nggak ada orang deh, rumah pak kyai sepi banget" ucapnya mengedarkan pandangannya melihat sekitar


"aku balik je asrama aja deh, besok titipin bajunya sama Azizi" ucapnya hendak berbalik namun ia hampir terjatuh karena menabrak seseorang dibelakangnya


"aduhhh" Nazwa meringis memegang dahinya


"anti ngapain disini?" tanya orang tersebut yang tak lain Gus Fatih yang sedang menggendong Aziz


"kebetulan benget, nih baju anta ana kesini mau ngembaliin" ucap Nazwa menyerahkan baju yang di pegangnya


"masuk dulu, anti nggak liat ana lagi gendong Aziz" ucap Gus Fatih dan berjalan melewati Nazwa untuk masuk ke dalam rumahnya


"emangnya Aziz kenapa?" tanya Nazwa saat Gus Fatih mendudukkan Aziz di sofa


"dia sakit"


"owwh, yaudah nih baju anta ana pergi dulu" ucap Nazwa meletakkan baju tersebut diatas sofa


"Nazwa"


deg deg deg


baru kali ini Nazwa mendengar Gus Fatih memanggil dirinya dengan nama karena biasanya ia akan menggunakan kata ukhti


"i iya gus" ucap Nazwa berbalik


"anti udah sehat kan?"


"na'am gus"


"ana boleh minta tolong nggak buatin Aziz bubur soalnya ana nggak bisa" ucap Gus Fatih menggaruk belakang tengkuk kepala nya


"emang ustadzah Fathia sama yang lain kemana?" tanya Nazwa karena rumah tersebut terlihat sangat sepi


"pergi kondangan, temen deketnya nikah terus karena Aziz sakit jadi Aziz dititipin ke ana buat jaga dia, ummi sama abi pergi ke pengajian di kampung sebelah, terus bang Rayhan juga ukut jadi kami di tinggal berdua" jelas Gus Fatih sambil masih menepuk punggung Aziz yang tidur di sofa


"lah masa kondangan sampai sore?" bingung Nazwa


"katanya tempatnya jauh, tadi pas berangkat katanya kemungkinan pulangnya malam" jelas Fatih


"lah terus tadi anta bawa Aziz kemana?" tanya Nazwa lagi


"jalan-jalan, Aziz kalau sakit rewel banget"


"lah orang sakit kok dibawa jalan-jalan nggak takut apa masuk angin?"

__ADS_1


"anti ini sebenarnya niat nolongin atau enggak? dari tadi nanya doang?"


"ish iya-iya ini juga jalan, eh tapi dapur dimana?"


"tuh di belakang yang pintunya warna hitam"


"owwh oke"


"sekalian masakin ana mie ya di kulkas kayaknya masih ada, ana belum makan dari pagi" teriak Gus Fatih dari ruang tamu saat Nazwa sudah didapur


"buat sendiri" teriak Nazwa


"sekali aja, anti nggak liat ana lagi jaga Aziz"


"ish iya iya" kesal Nazwa sambil mencari bahan-bahan yang akan di masaknya


Nazwa mulai berkutat dengan peralatan dan bahan memasak yang tersedia di dapur, memang soal memasak kemampuannya masih bisa untuk diandalkan


Dua puluh lima menit kemudian bubur dan mie dengan campuran sosis, telur dan beberapa sayuran siap dihidangkan. Asap nya mengepul membuat aromanya tercium begitu mengugah selera


"nih" Nazwa menaruh nampan berisi mangkok mi dan bubur diatas meja ruang tamu


"syukron, ana kira anti tak bisa masak" ucap Gus Fatih


"heh mana ada cerita Nazwa enggak bisa masak" ucap Nazwa menyombongkan dirinya


"eh ana harus balik ke asrama, soalnya tadi ana nggak izin sama temen-temen, peralatan masak tadi sudah ana cuci kok" ucap Nazwa hendak berlalu pergi


"sekali lagi syukron"


"Aziz ayo sekarang makan bubur dulu baru minum obat"ucap Gus Fatih mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Fatih


"enggak, Aziz mau nya di suapi sama kak Nazwa, paman Fatih cepet marah" ucap Aziz menggelengkan kepalanya


"udah udah sini biar ana yang nyuapi, anta nggak sabaran banget sama anak kecil" ucap Nazwa yang masih disana berbalik saat mendengar Aziz menyebut namanya


"jangan diturutin, Aziz bukan anak kecil lagi biar dia nggak manja"


"namanya juga orang sakit, ya pasti rewel lah apalagi seusia Aziz"


"tapi..."


"udah makan aja mie anta entar keburu dingin, biar enggak marah-marah terus, katanya dari pagi belum makan makanya cepet marah" ucap Nazwa dengan cepat memotong perkataan Gus Fatih


"ayo Aziz sini Kak Nazwa suapin" ucap Nazwa lembut membuat Aziz hanya mengangguk


hening


tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, Nazwa yang fokus menyuapi sendok demi sesendok bubur ke Aziz dan Gus Fatih yang sedang menikmati mie buatan Nazwa dan sesekali melihat ke arah Nazwa yang menyuapi Aziz dengan telaten


"ternyata anti adalah orang yang lembut dibalik sikap anti yang seperti biasanya" batin Gus Fatih melihat ke arah Nazwa yang menyuapi Aziz dengan lembut


"apa liat-liat?" ucap Nazwa menyadari tatapan Gus Fatih yang melihat diri nya


"enggak, ana liatin Fatih, mana ada liatin anti" ucap Gus Fatih dengan cepat mengalihkan pandangannya


"nggak usah bohong, ana tahu dari tadi"


"udah Aziz sekarang minum obat ya, kak Nazwa balik ke asrama dulu" ucap Nazwa memberikan minum diangguki oleh Aziz


"makasih kak Nazwa"


"sama-sama, semoga cepat sembuh Aziz" ucap Nazwa mengusap kepala Aziz lembut

__ADS_1


"kalau gitu ana pamit ke asrama dulu, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Nazwa bergegas kembali ke asrama dengan mempercepat langkahnya agar teman-temannya tak curiga namun terlambat saat sampai di depan pintu asrama ketiga temannya berdiri bersedekap dada menatap tajam ke arahnya bagai tusukan pisau


"anti dari mana?"


"anti tau kita dari tadi kesana kemari nyariin anti?"


"ana..."


"kita khawatir Naz, kita kira tadi anti kenapa-napa"


"ish, gimana cara ana jawab kalau kalian terus nanya kayak gini" kesal Nazwa karena saat ia mau menjawab ucapannya terpotong oleh ketiga temannya itu


"hehehe"


"oke sekarang jawab pertanyaan kita anti tadi dari mana?" tanya Hana serius


"nggak ada, ana tadi cuma jalan-jalan aja kok sekitaran pesantren" jawab Nazwa bohong


"beneran ni?"


"tadi katanya Fitri liat anti masuk rumah ummi" ucap Nadifa curiga


"ish, iya iya ayo masuk dulu nggak enak ngomong di depan pintu"


ucap Nazwa mendorong ketiga temannya itu, karena menjadi perhatian beberapa santriwati lain


"jadi jelasin sekarang Naz" ucap Salwa saat mereka kini tengah duduk diatas tikar


"jadi kan gini..." Nazwa mulai menceritakan kejadian saat baju Gus Fatih yang terkena jamu, hingga saat Aziz sakit kecuali kejadian saat ia memasakkan mie untuk Gus Fatih


"nah gitu ceritanya" ucap Nazwa setelah selesai menjelaskan


"owhhh"


"pantesan pas jemur pakaian, ana liat kayak baju ikhwan, ternyata baju Gus Fatih toh" ucap Hana mengangguk-anggukan kepalanya


"Wah anti hebat Naz" ucap Nadifa membuat ketiga temannya sontak melihat kearahnya


"hebat apanya?"


"hebat bisa belajar jadi istri yang tanggung jawab"


plukkk


"aduh Naz"


"anti jangan ngadi-ngadi Nad, ini cuma kewajiban ana sebagai santri yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya serta suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan" jelas Nazwa panjang kali lebar


"bagus Naz anak pramuka"


"hadehhh"


⚘⚘⚘⚘⚘


.


.


.

__ADS_1


Banyak Typo...


__ADS_2