
Ruangan terasa hening, sunyi seperti kuburan, semua fokus para santri teralihkan pada lembaran yang dipegangnya, membaca kata demi kata soal dan menentukan jawabannya yang menurut mereka tepat
Bagi yang sudah belajar dan mengingat materinya akan langsung mengerjakan soalnya bagi yang sudah belajar tapi lupa akan mencari nomor yang menurutnya lebih mudah dan bagi yang belum belajar sama sekali hanya mampu memandang soal dan berusaha sedemikian mungkin mengingat pelajaran kemarin yang sudah masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri
Nazwa menatap lembar soal di depannya dengan seksama, bel selesai belum berbunyi tapi ia sudah selesai mengerjakan soal dari beberapa menit yang lalu, baginya pelajaran matematika tak begitu sulit karena di sekolah lamanya ia juga mempelajarinya dan ini adalah mata pelajaran kesukaannya jadi cukup mudah baginya untuk mengerjakannya
Ia memegang lembar soal tapi matanya menghadap ke jendela melihat seseorang yang sedang menghantui pikirannya apalagi dengan ucapan teman-temannya yang terus menggodanya saat mengetahui kebenaran surat tersebut
flashback on
Cahaya jingga nampak diufuk barat, pertanda sebentar lagi matahari akan tenggelam dan tergantikan dengan rembulan yang menyinari malam, Nazwa kembali ke asrama setelah selesai menyapu halaman belakang masjid bersama teman-temannya yang lain
"NAZ, NAZWA" teriak Nadifa dengan heboh dari kejauhan membuat beberapa santri menoleh ke arah mereka
"aduh Nadifa anti jangan suka teriak-teriak napa? ana yang malu" ucap Nazwa menutup wajahnya dengan telapak tangannya saat menyadari beberapa tatapan santri mengarah kepada dirinya
"hosh hosh hosh Naz, ana punya kabar yang akan mengejutkan anti" ucap Nadifa memegang pundak Nazwa
"kabar apa?"
"ini tentang surat itu"
"surat? surat yang mana?" tanya Nazwa bingung
"anti jangan anemia deh Naz"
plukk
"awwh"
"amnesia urat nadi, apa hubungannya Nazwa kekurangan darah dengan hilang ingatan?" ucap Hana memukul kepala Nadifa membuat sang empu meringis
"ya itu maksudnya, anti juga jangan suka-suka mukul kepala ana Han, bisa-bisa ana yang an am..."
"amnesia"
"nah itu"
"berantem aja terussss" ucap Salwa melihat kedua sahabatnya itu
"ini bukan berantem Salwa ini namanya..."
"to the point sekarang apa yang ingin anti katakan tadi?" tanya Nazwa yang sudah jengah melihat sahabat nya yang saling menimpali satu sama lain hingga pembicaraan mereka tak pernah habis
"tadi apa ya?" bingung Nadifa menggaruk belakang kepalanya
"surat"
"nah itu surat, Naz anti ingetkan surat yang anti terima beberapa hari lalu ternyata yang ngirim surat itu salah satunya adalah Gus Fatih loh" ucap Nadifa dengan heboh membuat ketiga temannya terkejut, Nazwa terkejut bukan karena baru tau, tapi ia terkejut darimana Hana tau kalau Gus Fatihlah yang mengirimkan surat kepadanya
"cieee" ucap Salwa ikut menggoda Nazwa
"anti serius Nad?" tanya Hana dengan mulut yang terbuka lebar
"tutup tuh mulut, ntar kemasukkan lalat" Nadifa memukul mulut Hana
__ADS_1
"anti beneran?"
"iya bener"
"Naz anti gimana?" tanya Hana kepo
"Naz"
"Naz"
"ha iya apa gimana?" Nazwa menjadi linglung dan tak mendengar teman-temannya memanggil namanya
"anti jangan ngelamun Naz, kita tau ini pasti berita yang mengagetkan bagi anti"
"iya, terus gimana?"
"gimana apanya? kita yang nanya ke anti gimana perasaan anti sekarang?" tanya Nadifa yang sudah mulai geregetan
"ya nggak gimana-gimana" jawab Nazwa dengan polos
"hhaaa?? anti nggak ngerasain apa gitu Naz?, berbunga-bunga, deg degan seperti orang jantungan, atau justru ingin terbang ke angkasa?" pertanyaan Hana membuat Nazwa hanya menggeleng polos sebagai jawaban
"ya ampun Naz, ini tuh kabar gembira buat anti, anti ditaksir sama idola pesantren, bayangin Naz diantara ratusan santriwati disini anti yang terpilih"
"heh, dikirimin surat belum tentu dia naksir palingan juga cuma rasa kagum atau rasa yang timbul sesaat, anti kan cuma tau dia ngirim surat ke ana, siapa tau dia juga pernah ngirim surat kepada santriwati lain" ucap Nazwa menyembunyikan perasaannya
"astagfirullohaladzim Nazwa, ini Gus Fatih loh, nggak mungkin banget dia kayak gitu, anti jangan suka su'udzon Naz" Salwa ikut angkat bicara
"betul itu Naz, anti jangan suka su'udzon"
"HEH KALIAN MAU BERAPA LAMA LAGI BERDIRI DISANA? SAMPAI KIAMAT HA???" teriak ustadzah Zulaikha dari kejauhan membuat mereka langsung berlari kocar kacir ke kamar
flashback of
"Nazwa anti udah jadi?" tanya Gus Rayhan yang menjadi pengawas di ruangan itu, Nazwa tak sadar kalau Gus Rayhan melihat lembar jawabannya karena pikirannya telah terbang entah kemana
"ha iya sudah Gus" jawab Nazwa dengan menunduk
"kalau udah kumpulin di depan terus anti boleh keluar duluan" ucap Gus Rayhan membuat Nazwa segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja guru untuk mengumpulkan lembar ujiannya
Ia memberi isyarat kepada temannya untuk keluar duluan dan dibalas anggukan oleh teman nya
"yes nggak sabar deh, bentar lagi bisa pulang ke rumah" ucap Nazwa berjalan di koridor pesantren yang cukup sepi, karena kelas dua belas yang sudah kosong
"Nazwa" suara seseorang yang sangat dikenalinya dari belakang membuat Nazwa menoleh
"Assalamu'alaikum Nazwa"
"Wa'alaikumussalam Gus, ada apa ya?"
"mungkin hari ini hari terakhir ana di ponpes, nanti malam ana akan terbang ke kairo" ucap Gus Fatih pelan
"loh, bukannya perpisahannya tinggal dua minggu lagi ya?" tanya Nazwa bingung sekaligus terkejut
"hmm, kata abi di percepat, sekalian juga nyari tempat tinggal disana, terus banyak juga beberapa hal yang harus diurus biar nggak bolak-balik"
__ADS_1
"hmmm"
hening, tak ada yang berbicara diantara mereka, Nazwa bingung harus mengatakan apa, walau tak bisa dibohongi ia sedih dan merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya
"dan satu lagi, ana berhasil nepatin janji ana ke anti, tidak menikah dengan Khumairo, abi membebaskan ana memilih pasangan sendiri setelah selesai kuliah disana" ucapan Gus Fatih membuat Nazwa mendongak terkejut
"kenapa anta ngelakuin itu?"
"Nazwa, hati seseorang tak bisa dipaksakan untuk mencintai jika terus dipaksa akan rusak"
"heh gus cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu"
"tak semua orang seperti itu Naz, ada berbagai macam bentuk orang jatuh cinta, walaupun sering bersama belum tentu ia mempunyai rasa kepada orang tersebut dan ada juga yang langsung jatuh cinta dalam pandangan pertama contohnya seperti ana"
Nazwa diam dan tak menjawab perkataan Gus Fatih, ia masih mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan kepadanya
"Nazwa, jika Allah mengizinkan kita berjodoh, kita berada di tempat yang berbeda, beda negara dan beda benua, tak dipertemukan selama beberapa waktu, jika anti memang orang terbaik yang diberikan Allah kepada ana, Allah akan punya seribu cara untuk mempertemukan kita" ucap Gus Fatih menghadap ke arah langit yang nampak berawan dengan tiupan angin semilir yang mengenai wajahnya
"hmmm, semoga anta baik-baik saja disana, dan semoga Allah selalu menjaga anta" ucap Nazwa pelan
"terima kasih do'a nya Naz"
"ini untuk anti" ucap Gus Fatih menyerahkan tasbih berwarna perak dengan setiap butirnya tertulis lafadz Allah
"tasbih???" tanya Nazwa
"ya jika anti merindukan ana, lihat tasbih ini dan taruh di dada anti dan sebut asma Allah, tasbih ini adalah hadiah dari ummi saat ana menyelesaikan hafalan qur'an 30 juz"
"hmmm" Nazwa merogoh saku bajunya dan mengeluarkan gelang yang selalu dibawa kemana-mana tapi tak pernah dipakai selama ia berada di ponpes
"ini untuk anta, gelang ini punya banyak kenangan untuk ana, dia menjadi saksi bisu ana dari dulu sampai sekarang, ini hadiah ana dari almarhumah nenek ana" Nazwa menyerahkan gelang berwarna perak dan hiasan permata di tengahnya
"bukannya nenek anti masih hidup?"
"nenek dari ibu ana"
"diantara kita ada beberapa kemungkinan Gus, apakah Allah akan mempersatukan kita dalam ikatan halal, atau kita akan bersama dengan orang yang berbeda dan semua ini hanya kenangan atau kemungkinan lainnya hanya Allah yang tau karena ia lebih mengetahui yang terbaik untuk hambanya"
"anti benar Naz kedepannya hanya Allah yang tau apa yang akan terjadi" ucap Gus Fatih memandang gelang yang di berikan Nazwa
"hmmm, kalau gitu ana pergi dulu, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"tunggu Naz"
"apa?"
"perlu anti tau 9.359 jarak mesir dan indonesia tak akan ada kata mustahil, jika Allah berkehendak ia punya sepuluh ribu cara untuk mempersatukan kita dalam ikatan yang halal"
"selamat tinggal Nazwa, kita akan dipisahkan entah beberapa waktu, tapi ketahuilah ana pasti akan kembali untuk mengambil potongan jiwa ana disini" ucap Gus Fatih dan berlalu pergi membuat Nazwa mematung dan meneteskan air mata mendengar kata-kata seperti itu
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1
Kira-kira jodoh Nazwa siapa ya?????? 🤔🤔🤔