
Azam dan Nidzar mengajak Azawi untuk memasuki kamar asrama yang akan di tempati Azawi, mereka berjalan beriringan tanpa ada yang berbicara satu patah kata pun, hal itu membuat para santri lain merasa heran sekaligus penasaran akan sosok santri baru yang akan menjadi teman baru bagi mereka.
salah satu santri yang bernama Naufal menyapa mereka yang sedang berjalan ke arah kamar Asrama yang ada di lantai 2.
"Assalamu'alaikum Kang Azam, Kang Nidzar, niki sinten njih?" (itu siapa ya) Naufal menyapa mereka dengan santun.
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.." mereka serempak menjawab salam dari Naufal.
"Iki kenalno santri baru, jenenge Azawi. (ini kenalin santri baru, namanya Azawi)" Nidzar memperkenalkan Azawi.
"Aku Naufal Le.." Naufal memperkenalkan diri dengan menjabat tangan Azawi.
"Iya Gue Azawi, bisa nggak panggil gue dengan sebutan Le?" ucap Azawi yang merasa agak kesal jika di panggil Le. karena dia tidak tau makna kata Le itu apa.
Naufal merasa bingung ia menatap Azam dan Nidzar. Azam pun menjelaskan bahwa Azawi berasal dari jakarta dan menyarankan kepada Naufal kalau berbicara dengan Azawi menggunakan bahasa Indonesia, biar mudah di fahami oleh Azawi.
"Ngene loh Naufal, Azawi iki cah kota, jakarta, ora iso boso jowo, lek ngejak ngomong Karo Azawi kudu gawe boso indonesia yo, ben nyambung." (Begini Naufal, Azawi ini anak jakarta, nggak bisa bahasa jawa, kalau mau ngajak ngobrol Azawi harus pakai bahasa indonesia ya, biar nyambung) Azawi menjelaskan kepada Naufal.
"Oalah njih njih Kang." (Oalah iya iya Kang) jawab Naufal dengan anggukan.
"Yo wis kami bertiga arep lewat, ojo menghalangi jalan." (ya sudah kami bertiga mau lewat, jangan menghalangi jalan) dercak Nidzar.
"Oh njih Kang Nidzar monggo, ngapunten." (Oh iya Kang Nidzar silahkan, maaf ya)
mereka bertiga pun berjalan memasuki kamar asrama, kamar yang akan di tempati Azawi ternyata kamar Azam dan Nidzar juga, karena Azam dan Nidzar hanya tidur berdua, Kang Rifa'i pun menyuruh mereka untuk berbagi kamar dengan Azawi, Azam menyetuinya, namun lain dengan Nidzar yang masih kesal dengan sikap Azawi, namun Nidzar tidak bisa apa - apa selain melaksanakan tugas dengan baik dari Kang Rifa'i.
"Assalamu'alaikum.." ucap Azam dan Nidzar yang memasuki kamar mereka. sedangkan Azawi masih diam melihat sekeliling.
"Kamu nggak ngucapin salam Azawi?" tanya Azam.
"Nggak lah, di kamar aja nggak ada siapa - siapa." jawab Azawi sekena nya.
"Meskipun di kamar nggak ada siapa - siapa kita harus selalu mengucapkan salam, hal ini juga berlaku di tempat manapun kita berada, salam dari kita yang jawab malaikat, biar mendapatkan kebarokahan." Azam menjelaskan agar Azawi terbiasa mengucapkan salam.
"Wis to Zam, cah iki pancen ra ngerti." (udahlah Zam, anak ini memang tidak mengerti) ucap Nidzar.
"Ora ngerti yo kewajiban awakdewe nguwei pengertian." (Nggak ngeri ya itu kewajiban kita memberinya pengertian) ujar Azam menjawab ucapan Nidzar yang terlihat kekesalan di raut muka nya.
"Ya wis lah sak karep." (Ya sudahlah terserah) ucap Nidzar kesal langsung saja ia masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur.
"Ini tempat tidur kamu Azawi, semoga kamu betah ya tinggal di sini, kalau butuh apa - apa atau seumpama ada yang di tanyakan jangan sungkan ya. kami berdua siap membantu kok." ujar Azam sembari menepuk pundak Azawi.
"Oke thanks." jawab Azawi dengan masih bernada cuek.
"Iya sama - sama.."
Azawi menata bajunya di almari kecil
"Ini lemari kecil banget gini ya, mana muat baju gue di masukin ke sini." gerutu Azawi di dalam hati.
"Kamu pasti kesulitan memasukkan baju kamu kan Azawi, sini biar aku bantu." ucap Azam yang mendekati Azawi masih bingung menatap baju - bajunya.
Azam membantu Azawi menata pakaian Azawi serapi mungkin di alamari kecil, Azawi hanya duduk santai, sedangkan yang mengerjakannya malah Azam, namun sama sekali tidak membuat Azam kesal terhadap Azawi, dia ikhlas membantu Azawi. memang Azam santri terbaik. akhlak dan perilakunya sungguh sangat mengagumkan.
Sedangkan Nidzar yang melihatnya geleng - geleng kepala, malas dengan sikap Azawi dia pun memejamkan mata sejenak untuk meredam emosinya. karena sedari tadi ia menahan emosi.
"Sudah selesei, sekarang kamu bisa istirahat Azawi, karena nanti sore ada ngaji kitab di masjid, kamu harus ikut, untuk kitab - kitabnya nanti aku ambilkan." ujar Azam yang menyuruh agar Azawi istirahat sebentar.
"Oke thanks, ngaji kitab apaan?" tanya Azawi penasaran.
"Nanti kamu juga akan tau sendiri, ya sudah aku mau ke kamar mandi dulu, kamu istirahat aja dulu." ucap Azam sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Oke lah.. eh kamar mandinya dimana?" tanya Azawi, sayang nya Azam telah berlalu keluar kamar tak mendengar pertanyaan Azawi.
"Kamar mandinya di luar.." jawab Nidzar sembari mengernyitkan alisnya.
"Oh."
Azawi pun istirahat sejenak di kasur kecil yang membuatnya tidak nyaman, namun karena rasa capek tengah ia rasakan dia pun hanya bisa tersenyum kecil tanpa mengeluh.
Azam membangunkan Azawi yang tengah tertidur pulas, karena jam telah menunjukkan pukul 15.00 sudah masuk waktunya sholat ashar.
"Azawi bangun, ini sudah masuk waktu sholat ashar, sebentar lagi adzan, ayo bangun kita sholat. para santri di sini wajib sholat jama'ah.." ucap Azam
"Apa sih, lo gangguin gue tidur aja sih, apa memang tugas lo tuh gangguin orang tidur ya?" ucap Azawi dengan ketusnya.
"Kamu lihat itu sudah jam berapa Azawi, terserah kalau kamu nggak mau bangun, karena di pondok pesantren ihya ulumuddin kamu harus jadi santri yang rajin. tidak sholat jama'ah di masjid nanti kamu akan kena hukuman." ujar Azam sembari berlalu meninggalkan Azawi yang terpaku dengan perkataan Azam barusan.
"Iya iya bawel banget sih lo, udah kayak ustadz aja di sini.." gumam Azawi sembari mencoba untuk menghalau rasa kantuknya dan segera pergi ke kamar mandi.
"Ya Allah ini kok antri banget kayak gini, mandi aja harus antri." gumamnya kesal
"Budayakan antri Azawi." ujar Nidzar yang mengantri di depan Azawi.
"Ini nggak ada kamar mandi lain apa?" tanya Azawi.
"Ada di sebelah sana, kamar mandi putera Asrama lantai 2 ada 4 tapi sudah pada banyak antrian semua." jawab Nidzar
"Oke lah gue antri disini."
Hingga sampai dengan giliran Nidzar, Azawi berniat ngerjain Nidzar apalagi kamar mandi sudah sepi tinggal Nidzar dan dirinya saja, Azawi mengunci kamar mandi agar Nidzar tidak bisa keluar dari kamar mandi dan dia pasti akan kena hukuman karena tidak sholat berjama'ah di masjid.
"Ide yang bagus nih, mumpung lagi sepi, gue kerjain lo, Azawi lo hadepin. rasain lo.."
__ADS_1
Azawi kembali ke kamar dengan tersenyum puas telah berhasil ngerjain kakak seniornya, ia pun bergegas menuju masjid untuk sholat berjama'ah. sebandel - bandelnya Azawi sejak kecil dia rajin sholat, tidak pernah ia sengaja meninggalkan sholat. dari situlah Ayahnya bersikeras memasukkan Azawi ke pondok pesantren.
Azam yang sudah berada di masjid merasa agak resah karena sahabatnya Nidzar dan Azawi belum memasuki masjid, padahal sudah mau iqomah, Azam khawatir mereka akan kena hukuman para Ustadz. karena mereka tidak disiplin.
Azawi menyapa Azam yang tengah gelisah.
"Hei nglamun aja lo." ujar Azawi yang mengagetkan Azam.
"Azawi, mana Nidzar?" tanya Azam.
"Nidzar. ya mana gue tau, gue kesini sendirian gak sama dia." jawab Azawi sembari melangkahkan kakinya memasuki masjid karena sudah iqomah.
"Nang ndi to iki bocah, gak biasane loh gak di siplin koyok ngene." (kemana nih anak, nggak biasanya loh nggak di siplin seperti ini) gumam Azam lirih. dia pun memasuki masjid untuk melaksanakan sholat ashar berjama'ah.
Sementara Nidzar masih bingung dengan keadaan yang menimpanya, baru kali ini dia terkunci di kamar mandi, ia mengingat sesuatu. ponselnya ia bawa dan ia taruh di sakunya. ia pun mengambil ponsel yang ada di sakunya dan langsung saja mengirim pesan ke sahabatnya Azam.
Nidzar sabar dengan cobaan yang menimpanya. ia tidak berburuk sangka terhadap siapapun, bahkan tidak ada fikiran menyalahkan atau menuduh Azawi.
Sementara Azam hatinya tidak tenang, melihat sahabatnya tidak kunjung ke musholla, ia meminta izin kepada Pak Ustadz untuk pergi ke kamar sebentar. Pak Ustadz pun mengizinkannya, ia pun segera bergegas masuk ke kamarnya.
"Assalamu'alaikum.." Azam mengucapkan salam sebelum memasuki kamarnya.
"Nidzar gak nang kamar, terus nang ndi bocah iki?" gumam Azam yang semakin mengkhawatirkan sahabatnya.
Ia membuka ponsel miliknya dan membaca 1 pesan dari sahabatnya, ia kaget saat membaca pesan dari Nidzar, langsung saja ia bergegas ke kamar mandi asrama.
"Dzar Nidzar, sampean nang kunu Le?" (Dzar Nidzar, kamu disitu Le) tanya Azam sembari menggedor pintu kamar mandi yang terkunci.
"Njih Zam, aku nang kene, kamar mandi e kekunci, tolong bukakno." (Iya Zam, aku disini, kamar mandinya terkunci, tolong bukain) jawab Nidzar lirih karena dia merasa tubuhnya menggigil kedinginan.
"Ya Allah, sek sediluk aku tak njupuk kunci serep, iki kunci nang kene kok gak onok?" (Ya Allah, sebentar ya aku ambil kunci serep dulu, ini kunci di sini kok nggak ada?) ujar Azam yang merasa heran sekaligus bingung, kunci yang tergantung di dekat kamar mandi malah hilang.
"Aku yo ra ngerti to Zam, aku ket mau kekunci nang njero." (aku ya nggak tau Zam, aku dari tadi terkunci di dalam sini) jawab Nidzar yang juga merasa heran. kok bisa kunci kamar mandi hilang. "Sopo sing njupuk yo?" (siapa yang mengambil nya ya?) gumam Nidzar dalam hati.
Azam bergegas mengambil kunci serep yang ada di ruangan para Ustadz.
"Assalamu'alaikum.." Azam mengucapkan salam sebelum masuk ke ruangan Ustadz.
"Untung aja ruangan Ustadz sepi, aman aku keluarkan Nidzar yang terkunci di kamar mandi, tanpa sepengetahuan mereka, kalau Pak Ustadz mengetahuinya bisa ribet ini masalah." gumam Azam lirih dengan bahasa indonesia dan logat khasnya.
Azam mengambil kunci serep yang terletak di rak penyimpanan kunci, segera ia keluar dari ruangan itu menuju kamar mandi yang terkunci.
Setelah sampai di depan kamar mandi, ia segera membuka dengan kunci serep.
"Bismillahirrahmanirrahim.."
pintu kamar mandi pun terbuka lebar, nampak Nidzar menggigil kedinginan, Azam langsung bergegas membawa Nidzar keluar dari kamar mandi.
"Ya Allah Le, kok iso sampean kekunci nang kamar mandi, iki piye ceritane?" (Ya Allah Le, kok bisa kamu terkunci di kamar mandi, ini gimana ceritanya?) tanya Azam yang merasa heran dengan kejadian yang menimpa sahabatnya.
"Tak gowo nang puskesmas yo?" (aku bawa kamu ke puskesmas ya) ucap Azam yang khawatir dengan keadaan Nidzar.
"Lapo to nang puskesmas? aku iki Lo kademen, mending tukokno aku teh anget karo minyak angin wae." (Ngapain ke puskesmas? aku ini kedinginan, lebih baik kamu belikan aku teh hangat sama minyak angin saja) jawab Nidzar yang tak ingin di bawa ke puskesmas.
"Oalah.. yo wis sek to tak nang kantin tuku teh karo minyak angin, sampean nang kene ae disek." (Oalah.. ya sudah aku mau ke kantin dulu beli teh hangat sama minyak angin, kamu tunggu di sini dulu aja ya) ujar Azawi sembari melangkahkan kakinya menuju kantin.
"Zam, tak enteni nang kamar wae yo." (Zam, aku tunggu di kamar saja ya) teriak Nidzar
"Yo wis yo, sabar yo." (Ya sudah, sabar ya) ujar Azam sembari menoleh ke arah Nidzar yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
Nidzar masuk ke kamar tidak lupa ia mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum.."
Nidzar mencoba berbaring ia selimuti tubuhnya yang kedinginan, berharap rasa dingin yang ia rasakan bisa berkurang.
Tidak lama kemudian Azam masuk ke kamar dengan membawakan teh hangat, roti dan juga minyak angin.
"Assalamu'alaikum.." Azam mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam kamar.
"Wa'alaikumsalam.." Nidzar menjawab salam dari Azam.
"Piye keadaanmu Dzar? (Bagaimana keadaanmu Dzar?) tanya Azam sembari menaruh teh hangat dan roti di meja dekat tempat tidur Nidzar.
"Alhamdulillah wis rodok penak Zam, matur suwun yo Zam, sampean wis bantu aku metu teko kamar mandi." (Alhamdulillah sudah agak membaik Zam, terima kasih ya Zam, kamu sudah membantuku keluar dari kamar mandi) jawab Nidzar dengan mencoba bangun untuk duduk meminum teh hangat yang di belikan Azam barusan.
"Yo wis di gawe istirahat wae, ra usah melu ngaji kitab lek ngunu." (Ya sudah di buat istirahat saja, nggak usah ikut ngaji kitab kalau kayak gitu) ucap Azam sembari menepuk pundak Nidzar.
"Yo melu to Zam, keri maknani mengko aku." (Ya ikut dong Zam, ketinggalan pelajaran maknani nanti aku) jawab Nidzar yang kekeh ingin ikut ngaji kitab.
*Maknani adalah pelajaran menulis pego, pego arab miring, yang pernah mondok/sekolah agama pasti tau
"Yo wis terserah, entekno disek kui roti karo teh e, ben kuat maneh." ( Ya sudah terserah, habiskan dulu itu roti sama teh nya, biar kuat lagi) ujar Azam sembari menunggu Nidzar menghabiskan teh hangat dan roti yang ia beli di kantin tadi.
"Ya Allah Zam, aku gurung sholat ashar, sampek lali, piye iki?" (Ya Allah Zam, aku belum sholat ashar, sampai lupa, gimana ini?) ujar Nidzar yang mengingat dirinya belum sholat ashar gara - gara terkunci di kamar mandi tadi.
"Yo wis saiki wudhu terus sholat o disek, mumpung gurung entek waktune sholat ashar." (Ya sudah sekarang kamu wudhu dan sholat dulu, sebelum waktu sholat ashar habis) sahut Azam.
"Njih Gus Azam, iki wis entek rotine, yo wis aku tak wudhu terus sholat disek to, enteni ojo di tinggal, kunu ae." (Iya Gus Azam, ini udah habis roti nya, ya sudah aku mau wudhu terus sholat dulu ya, tungguin jangan di tinggal, di sini aja)
"Iyo tenang ae tak enteni." (Iya tenang aja aku tungguin) sahut Azam sembari tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
"Kok yo iso e cah iku kekunci nang kamar mandi, opo tah enek sing sengojo ngunci Nidzar yo, Ya Allah kok aku malah su'udhon. astaghfirullah hal adzim.." (Kok bisa ya bocah itu terkunci di kamar mandi, apa jangan - jangan ada yang sengaja mengunci Nidzar ya, Ya Allah kok aku malah su'udhon. Astaghfirullah hal adzim..) gumam Azam lirih yang merasa aneh dengan kejadian yang menimpa Nidzar.
__ADS_1
Nidzar pun bergegas keluar kamar untuk mengambil air wudhu dan sholat ashar, ia sholat ashar di kamar, wirid sebentar lalu dia bersiap untuk ke masjid bersama Azam ngaji kitab, khawatir ketinggalan pelajaran agama yang sangat penting bagi santri. merasa kasihan juga Azam sudah menunggunya lama. sampai harus rela ketinggalan ngaji kitab. Nidzar sangat bahagia mempunyai sahabat seperti Azam baik, sholeh, santun.
"Ayo berangkat Zam." ujar Nidzar
"Iyo ayo." (Iya ayo)" sahut Azam. sembari melangkahkan kakinya keluar kamar.
di perjalanan ke masjid.
"Zam, piye lek seumpama awakdewe di seneni Ustadz opo maneh Pak Kyai?" (Zam, gimana kalau seumpama kita di marahin sama Ustadz apalagi Pak Kyai?) tanya Nidzar yang merasa cemas takut di hukum Ustadz.
"Ra bakalan, tenang wae, mengko tak ngomong nang Pak Ustadz, beres lah Ojo kuwatir." (Nggak akan, tenang aja, nanti aku ngomong ke Pak Ustadz, beres lah jangan khawatir) jawab Nizam yang jawabannya membuat hati Nidzar lega.
"Oke suwun Zam, sampean pancen top." (Oke makasih Zam, kamu memang top) ujar Nidzar yang sangat berterima kasih terhadap Nizam.
"Iyo podo - podo, sok mben maneh ati - ati." (Iya sama - sama, lain kali hati - hati) sahut Azam sembari mempercepat langkahnya karena mereka berdua telah telat ngaji kitab yang sudah di mulai sejak tadi.
Mereka berdua pun telah sampai di masjid.
"Assalamu'alaikum.." mereka mengucapkan salam lirih kepada teman - temannya.
"Wa'alaikumsalam.."
"Loh Kang Azam karo Kang Nidzar kok tumben telat tekone?" (Loh Kang Azam sama Kang Nidzar kok tumben datangnya terlambat) tanya salah seorang santri yang bernama Izrul.
"Iyo onok masalah iku mau, wis meneng o ae ojo ngomong - ngomong." (Iya ada maslah tadi, udah diam aja jangan ngomong - ngomong) jawab Nidzar.
"Njih Kang Nidzar." (Iya Kang Nidzar) ucap Izrul yang menatap heran ke arah Nidzar dan Azam, karena mereka berdua selalu datang tepat waktu, jelas saja para santri yang tau mereka datang terlambat merasa heran.
"Zrul, weroh gak Azawi manggon nang sebelah ndi?" (Zrul, tau nggak Azawi duduk di sebelah mana?) tanya Nidzar pada Izrul.
"Azawi niku sinten njih Kang?" (Azawi itu siapa ya Kang?) tanya Izrul yang memang belum kenal Azawi.
"Bocah anyar teko kota kui loh." (Anak baru yang dari kota itu loh) jawab Nidzar menjelaskan.
"Oalah bocah anyar to, mboten semerap e Kang, paling ten ngajeng." (Oalah Anak baru ya, nggak tau e Kang, mungkin duduk di depan) jawab Izrul yang tidak tau keberadaan Azawi.
"Yo wis lek ngunu aku tak nang ngarep yo." (Ya sudah kalau gitu aku mau ke depan ya) ucap Nidzar yang ingin bertemu dengan Azawi, menanyakan prihal kejadian tadi. siapa tau saja Azawi tau sesuatu.
"Ayo Zam." ujar Nidzar mengajak Azam untuk duduk di depan.
"Ayo nang ndi to, delok en nang ngarep loh wis penuh." (Ayo kemana sih, lihat tuh di depan udah penuh) sahut Azam yang enggan pindah duduk di depan. karena terlihat sudah penuh, pasti agak susah lewatnya.
"Wis to Zam manut ae." (sudahlah Zam nurut saja) ujar Nidzar yang memaksa Azam.
"Oalah yo yo kok aku sing dadine nuruti sampean Dzar Nidzar." (Oalah kok aku yang jadinya nurutin kamu Dzar Nidzar) sahut Azam.
"Wis to ayo.." (Ya sudahlah ayo)
Mereka pun pindah tempat duduk di depan, mereka mencari keberadaan Azawi, dan ternyata benar Azawi duduk di depan namun di dekat tembok, Azawi bersender di tembok sembari memperhatikan Ustadz Fauzi yang sedang menerangkan ilmu fiqih.
"Azawi.."
"Kalian.."
"Kamu kenapa kok kaget gitu?" tanya Azam yang merasa agak curiga dengan Azawi yang tiba" kaget saat bertemu mereka.
"Nggak papa, kalian yang ngagetin." jawab Azawi santai.
Azam dan Nidzar duduk di samping Azawi, melihat hal itu Azawi diam saja. sambil berfikir bagaimana bisa Nidzar keluar dari kamar mandi, siapa yang menolongnya, hati nya bertanya - tanya. yang membuat Azawi kesal Nidzar terlihat santai seperti tidak terjadi apa - apa apalagi tidak mendapatkan hukuman dari Pak Ustadz lagi.
Selesei ngaji kitab mereka berdua menghadang Azawi untuk tidak bergegas masuk ke kamar, karena mereka ingin bicara mengenai kejadian yang menimpa Nidzar tadi, pasti Azawi tau sesuatu.
"Kenapa sih kalian halangin jalan gue, gue itu mau ke kamar capek tauk." ujar Azawi merasa kesal.
"Tunggu dulu bentar, kami mau bicara penting sama kamu." sahut Azam.
"Oke kalian mau ngomong apa, jangan lama - lama." ucap Azawi sembari kembali duduk.
"Begini ada yang ingin kami tanyakan ke kamu, apa kamu mengetahui sesuatu tentang kejadian yang menimpa Nidzar tadi sore?" Azam yang mulai membuka pertanyaannya.
Azawi merasa seperti di sidang oleh mereka.
"Tenang Azawi, tidak ada yang perlu di khawatirkan." batin Azawi.
"Kejadian apa, gue gak ngerti maksud kalian ini apa?" jawab Azawi yang pura - pura tidak tau apa - apa.
"Masa kamu nggak tau sih, tadi kan Nidzar terkunci di dalam kamar mandi." tanya Azam lagi.
"Ya gue nggak tau, emangnya gue harus tau gitu." ujar Azawi kesal.
"Ya nggak gitu, kan kata Nidzar kamu yang di belakang Nidzar, bener nggak sih Dzar?" Azam memandangi Nidzar meminta kepastian apa benar Azawi yang antri mandi setelah Nidzar.
"Iya bener, kan kamu Azawi yang antri setelahku, bukannya kamu masih nunggu di depan pintu kamar mandi?" tanya Nidzar pada Azawi.
"Ya gue nungguin lo tuh lama, ya udah gue mandi di kamar mandi sebelah, masalah lo terkunci di kamar mandi, gue beneran nggak tau." jawab Azawi dengan santai agar Azam dan Nidzar tidak mencurigainya.
"Ya sudah, berarti Azawi memang tidak tau apa - apa, udah lupain aja lah Dzar, anggap aja ini ujian." sahut Azam yang menasehati Nidzar agar melupakan kejadian yang di alaminya tadi dengann tidak mempermasalahkannya lagi.
"Iyo wis mending di lalekne wae." (Ya sudah lebih baik di lupakan saja) ujar Nidzar yang mencoba melupakan kejadian drastis yang menimpanya tadi.
"Kamu harusnya bersyukur Dzar, Gusti Allah masih lindungin kamu, kamu masih kuat begini, padahal kamu terjebak lama di kamar mandi.." sahut Azam sembari menepuk pundak Nidzar berharap Nidzar melupakan kejadian tadi, karena kalau di permasalahkan terus malah ribet.
"Iyo Iyo Zam.." (Iya iya Zam) jawab Nidzar
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita balik ke kamar.." ujar Azam mengajak Azawi dan Nidzar untuk beranjak masuk ke kamar, karena ngaji kitabnya juga sudah selesei.
Mereka tidak mempermasalahkan lagi kejadian yang di alami oleh Nidzar, mereka percaya dengan perkataan Azawi yang mengklarifikasi bahwa dirinya tidak mengetahui kejadian yang di alami Nidzar.