
langit jingga mulai nampak disebelah barat, angin berhembus pelan menyapu permukaan bumi membawa udara dingin, daun-daun kering mulai berguguran jatuh ke tanah, para santri di ponpes Nuruh Hikmah mulai bersiap untuk ke masjid
"gila Naz, suara anti keren banget" puji Salwa pada Nazwa saat mereka di dalam kamar karena hari ini jadwal Nazwa dalam dua lomba sekaligus yakni tilawah dan nanti malam adalah lomba pidato
"iya naz, bahkan tadi ustdaz Akmal muji anti loh biasanya ustadz Akmal banyak komennya" tambah Hana
"iya apalagi tadi ana perhatiin Gus Fatih, mukanya sampai terpesona loh" sambung Nadifa tak kalah heboh memuji Nazwa
"udah kalian jangan terlalu muji entar ana jadi besar kepala" ucap Nazwa
"eh tapi bener loh Naz, anti belajar tilawah darimana?" tanya Hana kepo
"ana belajar dari kakek ana, dulu pas kecil ana sering liburan ke rumah nya pas libur sekolah" jawab Nazwa
"ohhh... mungkin karena itu juga kakek anti daftarin anti Naz, dia mau liat sampai mana kemampuan anti" jawab Salwa dan diangguki oleh yang lain
"woi cepetan pergi masjid jangan ngobrol mulu, nggak denger tuh dah ngaji" teriak santriwati senior memukul pintu mereka dengan cukup keras
"udah ah ayo cepetan tuh senior kayaknya lagi pms dah marah-marah mulu" gerutu Nazwa dan keluar dari kamarnya menuju masjid di ikuti para sahabatnya untuk melaksanakan sholat dan menyetor hafalan sampai isya
πππ
"eh iya Naz, sekarang kan giliran anti pidato" ucap Hana melihat Nazwa yang merebahkan diri diatas tempat tidur
"biarin lah Han, ana masih urutan lima belas palingan acara juga belum mulai hoamm" ucap Nazwa sambil menutup mulutnya yang menguap
"iya, tapi anti kan juga harus siap-siap" ucap Salwa melihat Nazwa yang mulai memejamkan matanya
"betul Naz, tapi ana penasaran deh Naz, judul pidato anti apa?" kepo Nadifa
"judul pidato ana bahaya lisan ana sudah baca kemarin materinya di perpustakaan" jawab Nazwa dengan mata terpejam
"sindiran ini Naz bagi senior penggosip" canda Nadifa
"wah bagus itu Naz, terus anti nggak ada persiapan gitu sekarang acaranya udah mau mulai loh" ucap Hana yang telah selesai memasang jilbabnya
"ya inikan persiapan Han, ana mau tidur dulu sebentar lima belas menit, ana ngantuk banget dari kemarin nggak bisa tidur nyenyak hoam..." jawab Nazwa sambil menguap
"kalian pergi duluan aja nanti ana nyusul belakangan" sambung Nazwa sambil memejamkan mata
"oh yaudah kalau gitu, anti jangan sampai lupa dan malah ketiduran disini, kita pergi dulu, Assalamu'alaikum" ucap Hana diikuti oleh Nadifa dan Salwa
"Wa'alaikumussalam"
π·π·π·
Para peserta lomba mulai berbaris pada kursi yang disediakan kecuali Nazwa yang masih terlelap dalam kamarnya. Satu persatu peserta lomba menaiki panggung menyampaikan pidato mereka dengan berbagai macam cara, ada yang menambahkan komedi, ada yang tegas, dan ada yang sampai menitihkan air mata
"aduh Nazwa, kemana ya sebentar lagi kan giliran nya yang akan tampil" cemas Salwa melihat tidak ada tanda -tanda kedatangan sohibnya itu, mereka memilih duduk di kursi paling belakang agar bisa melihat Nazwa yang datang, penerangan disana tidak terlalu terang karena sorot lampu yang terhalang pohon mangga disampingnya
"bentar ana liat ke kamar dulu" ucap Hana berdiri
"nggak usah" Nazwa datang menggunakan gamis abu dengan jilbab senada dan bross bunga berkilauan yang melekat di jilbabnya, ia langsung duduk dikursi kosong dekat Nadifa sambil menghadap ke depan
"loh anti Nazwa? puffft" tanya Nadifa dengan polosnya sambil menahan tawa melihat Nazwa yang memakai kacamata hitam
"iya, kalau mau ketawa ya ketawa aja nggak usah ditahan ana tau penampilan ana aneh" ucap Nazwa melipat tangan nya di depan dada
"hahaha, anti kenapa pakai kacamata Naz ini malam loh, entar anti di kira gila pakai kacamata hitam malam hari" ucap Hana sambil terus tertawa
__ADS_1
"hahaha, mata anti emang kenapa Naz?" tanya Salwa sambil tertawa
"digigit serangga" jawab Nazwa dengan nada malas
"Hahaha" tawa ketiga temannya langsung pecah hingga menjadi perhatian beberapa santri
"yang dibelakang diam, jangan ada yang bicara perhatikan yang di depan" ucap tegas ustadzah Zulaikha melihat ke arah belakang, sedangkan Nazwa dan ketiga temannya hanya diam sambil menundukkan kepala menahan tawa
"loh kok bisa Naz?" tanya Nadifa dengan suara rendah agar tak terdengar santri yang lain
"tadi kan pas ana tidur ana ngerasain ada serangga gitu terbang ke mata ana, terus pas bangun mata ana terasa gatal dan ana garuklah, eh pas selesai garuk ana lihat dicermin mata ana bengkak kayak orang nangis ditinggal nikah sama pacarnya" cerita Nazwa panjang kali lebar membuat sahabatnya menutup mulutnya agar tidak ketawa
"Puufft"
"inilah balasan anti Naz yang tidak mau mendengarkan nasihat ana, kan sudah ana kasih tahu suruh anti siap-siap malah milih tidur di kamar" ucap Hana masih tertawa
"kena adzab anti Naz, hahaha" tawa Nadifa cukup keras hingga mulutnya langsung dibukam oleh Nazwa
"ketawa nya jangan keras-keras Nad, entar ustadzah Zulaikha denger kita dihukum" bisik Nazwa
"terus sekarang anti tampilnya gimana Naz?" tanya Salwa
"ya gini pakai kacamata hitam, nggak ada pilihan lain atau ana nggak usah tampil aja kali ya, pura-pura sakit gitu" ucap Nazwa
"tapi nanti kalau kakek tahu dia pasti marah, udahlah tampil aja yang penting pede ya kan" batin Nazwa tersenyum
"anti jangan senyum-senyum sendiri Naz entar anti dikira majnun"
"majnun apaan?" tanya Nazwa bingung
"gila hahaha" tawa Hana dan Nadifa pecah membuat Nazwa dan Salwa cepat membungkam mulut sahabatnya itu
"hemmm... iya deh ana berasa kayak orang buta aja pakai kacamata hitam"
"peserta selanjutnya Nazwa Azzahra" terdengar suara mc membaca nama Nazwa
"ayo cepat naik Naz, sekarang giliran anti"
"iya iya"
Nazwa perlahan melangkahkan kakinya menaiki panggung, para pengajar dan santri disana memandangnya aneh karena memakai kaca mata hitam di malam hari, beberapa ada yang mengejek, namun ada juga yang memuji
" Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrakatuh"
"Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarrakatuh"
setelah mengucapkan salam kemudian dilanjutkan dengan sholawat nabi Nazwa menyampaikan judul pidatonya
"pada malam hari ini sayaakan menyampaikan sebuah pidato yang berjudul makna cinta" ucap Nazwa
"astaga kenapa malah jadi cinta sih, seharusnya kan bahaya lisan, gimana nih nggak mungkin kan ganti judul lagi" batin Nazwa gelisah karena otaknya yang tak sinkron dengan hatinya
"ha? cinta? tadi kata Nazwa judulnya bahaya lisan kok jadi cinta" ucap sahabatnya yang dibelakang kebingungan
"cinta merupakan perasaan jiwa, getaran hati, pancaran naluri, dan terpautnya hati orang yang mencintai pada pihak yang dicintainya"
"mencintai seseorang boleh saja islam tidak melarang namun jangan sampai melebihi cintanya kepada Allah"
"Islam mengharamkan pacaran, karena apa? karena pacaran dapat mendekatkan diri kepada zina"
__ADS_1
"Jika seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, hendaknya ia datang baik-baik ke rumah orang tua perempuan itu untuk langsung berbicara kepada orang tua nya karena orang tua terutama seorang ayah pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk putrinya karena ia akan melepaskan tanggung jawabnya dan memberikan putrinya kepada laki-laki lain, seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya"
"Nazwa nanti ana datang kerumah anti"
"ana mau kerumah anti Naz"
"bidadari ana tunggu ana datang ke rumah anti"
sorak-sorak para santriwan saat Nazwa membaca isi pidatonya, memang sejak Nazwa masuk ke pesantren ia mempunyai banyak idola hingga tak jarang para senior yang iri kepada nya
"tapi pengecualian, jangan datang ke rumah ana karena pintu gerbang tertutup untuk orang yang tak punya kepentingan"
jleb
Β "Alhubbu kal harbi, minas sahli an tusβilaha, walaakin minas shaβbi an tukhmidaha."
(Cinta itu laksana sebuah perang, amat mudah mengobarkannya, namun amat sulit untuk memadamkannya)
"When Allah wants two hearts to meet, He will move both of them, not just one."
(Bila Allah menginginkan dua hati untuk bersatu, Dia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu)
setelah membaca pidato yang dikarang nya hanya dalam waktu singkat Nazwa langsung menutupnya
"Tujuh kali tujuh sama dengan empat puluh sembilan, setuju nggak setuju yang penting penampilan, sekian Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh"
"Wa'alaikumussalam"
"astagfirullohaladzim Naz, katanya tadi bahaya lisan kok jadi cinta sih?" tanya Hana saat Nazwa sudah duduk kembali di kursinya
"iya makanya itu Han, lidah ana keseleo otak sama mulut nggak sinkron ya jadinya gitu cinta, padahal ana nggak terlalu paham masalah cinta" jawab Nazwa tertawa
"tapi anti keren loh Naz" puji Salwa
"iya, apalagi pas anti pakai bahasa inggris sama bahasa arab itu beuh, ana yakin anti pasti menang" ucap Nadifa
"hahaha nggak mungkin lah banyak kok santriwati yang lebih baik dari ana, udah aha ayo kita kembali ke kamar ana ngantuk banget pengen tidur"
"iya ayo lagian acara juga udah selesai"
"ingat jangan lupa lusa giliran kita yang nyanyi"
"tapi ana ragu kita bisa menang nggak ya ngalahin senior mereka kan lebih banyak pasti lebih bagus" Hana merasa kurang percaya diri
"man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya"
"betul Han, anti jangan kayak gitu yang penting kita udah usaha, menang sama kalah urusan belakang" ucap Nazwa menyemangati Hana
"na'am Naz" ucap Hana tersenyum
πππ
.
.
.
Banyak Typo
__ADS_1
Maaf kalau alurnya nggak nyambungπππ