
"Kita minta bantuan Kak Zahra ngiring pengantin perempuan ke pelaminan" ucap Zahid dalam satu tarikan nafas
"Menggiring pengantin? memang tidak ada yang sanggup?" tanya Nazwa dengan polosnya
"Bukan gitu kak, tapi yang bertugas hari ini ada halangan jadi nggak bisa, dan juga acara sebentar lagi dimulai jadi cuma sebentar aja kak"
"Diantara ratusan bahkan mungkin bisa ribuan Santriwati kenapa harus kakak? apa tidak ada kerabat pengantin perempuan atau mungkin kerabat pengantin laki-laki yang lain?"
"Atau sahabat pengantin perempuan? biasanya kan diacara seperti ini seseorang yang istimewa yang akan dipilih oleh pengantin perempuan" sambung Nazwa
Zahid menggaruk tengkuk kepalanya bingung harus menjawab apa
"Jadi gini Kak Zahra, kan semuanya sudah diatur jauh hari sebelumnya, ya karena pada hari itu insya allah semua sanggup, tapi tadi tiba-tiba ada kejadian tak terduga yang membuatnya tak bisa"
"cadangan nggak ada?"
"Seharusnya Ustadzah Hana, tapi dia juga ikutan, kata Kak Aziz nggak enak minta tolong sama kerabat yang lain soalnya acara bentar lagi mulai" Nazwa melihat arah pandang Zahid dimana ada tempat khusus untuk kerabat laki-laki dan perempuan yang hadir jadi tak mungkin ia kesana karena harus melewati banyak tamu undangan dan kyai yang menyempatkan diri hadir, tindakannya akan disebut kurang sopan sebagai seorang santri
Nazwa menarik nafas lalu membuangnya pelan, kepalanya yang pusing terasa semakin pusing karena memikirkan hal ini, pengiring pengantin dadakan
"Kakak sendirian?" tanyanya lagi dan dibalas anggukan oleh merema berdua dengan polosnya
"Kak Zahra pasti bisa, sebelumnya Kak Zahra juga pernah jadi pengiring Kak Rani pas nikah di kampung" ucap Zikri menyebut nama salah satu teman dekat Nazwa di kampung
"Itu beda, ini banyak orang loh"
"Nggak ada bedanya kok" Nazwa berfikir cukup lama kemudian akhirnya mengangguk
Dengan langkah yang terkesan berat dan kepala yang terasa pusing Nazwa hanya mengikuti langkah dua bocah di depannya yang terlihat bahagia sekali diatas penderitaannya
"Sudah sampai" Nazwa melihat rumah dua lantai yang berdiri kokoh di depannya, terasa sangat tidak asing
"Kak Zahra ayo masuk" Zahid menarik lengan baju Zahra masuk kedalam rumah tersebut
"Ini rumah dia?" tanya Nazwa memandang kearah Zikri saat melihat Zahid langsung masuk dalam rumah tanpa mengucap salam
"Iya, dia kan cucunya pak kyai, adik Kak Aziz, anak ustadzah Fathia, nah Ustadzah Fathia itu anak pak kyai yang pertama" Zikri menjelaskan silsilah secara penjang lebar sedangkan Nazwa yang mendengarnya hanya bisa mengangguk walau tak mengerti
"Itu Kak Zahra" Zahid keluar dari rumah menggandeng tangan seorang laki-laki yang Nazwa yakini bernama Aziz seperti cerita Zikri
"Kamu nyuruh kelas berapa?"
__ADS_1
"bukan santriwati tapi kakaknya Zikri"
"Hah?" Aziz yang sedari tadi menunduk merapikan baju kokonya tiba-tiba menghadap kedepan mendengar ucapan adiknya yang menyuruh salah satu perwakilan wali santri sebagai pengiring pengantin
"Kak Nazwa" ucapnya pelan, namun ternyata masih bisa terdengar oleh tiga orang tersebut
"Kita saling kenal?" Nazwa menunjuk dirinya sendiri
Aziz menggeleng tak percaya, saat orang yang dulu sering bermain bersamanya bahkan pernah merawatnya saat sakit, orang yang telah dikabarkan menghilang dalam kecelakaan pesawat dua tahun lalu kini ternyata masih hidup
"Bahkan lebih dari kenal" ucapnya lirih, hampir saja air matanya menetes
"Aku bingung" Nazwa menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal
"Mungkin Kak Nazwa hilang ingatan akibat kejadian itu, tapi apa Kak Nazwa pernah bertemu dengan Paman Fatih atau Paman Rayhan, atau kedua orang tuanya didepan?" Aziz bertanya sendiri kepada dirinya
"Kak Aziz jadi nggak?" tanya Zahid saat melihat kakaknya itu hanya diam saja
"oh jadi, ayo masuk"
"kalau Kak Nazwa yang jadi pengiring pasti Paman Fatih dan Paman Rayhan bahkan tamu undangan yang pernah bertemu dengan Kak Nazwa terkejut, sayang tiga sahabat ponpesnya nggak ada" batin Aziz
Pintu berwarna coklat dibuka oleh Nazwa, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah seorang wanita cantik yang Nazwa perkirakan mungkin lebih tua satu tahun dari dirinya
"Maaf sebelumnya Kak, saya bukan sahabat atau kerabat dekat kakak, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin membantu kakak agar tidak terlalu gugup, karena kata temen saya yang udah nikah katanya gugup banget"
ucap Nazwa panjang lebar membuat Aisyah tersenyum
"Tidak apa-apa, mulai sekarang kita adalah teman dan jangan panggil kakak, ana berasa tua banget" ucapnya dengan logat ponpes
"Adek juga harus di rias ya?" tanya MUA yang kebetulan sudah selesai memasangkan perhiasan terakhir di kepala Aisyah
"Saya hanya pengiring dadakan, tidak perlu sampai dirias" ucap Nazwa menolak halus
"Justru itu, walau bagaimanapun adik pengiring pengantinnya walaupun dadakan, cuma sedikit aja kok"
"tapi..."
"udah nggak apa-apa kok"
"tapi tipis aja ya mbak, jangan tebel-tebel" ucap Nazwa karena merasa tak enak
__ADS_1
"tenang aja"
Akhirnya sekitar sepuluh menit pekerjaan MUA sudah selesai, termasuk menghias Nazwa si pengiring dadakan, untungnya ia memakai gamis hari ini, jadi tidak perlu lagi meminjam baju
Sementara menunggu waktu dipanggil untuk turun, Nazwa dan Aisyah mengobrol berdua di kamar itu, mereka terlihat nampak akrab padahal baru beberapa menit yang lalu bertemu
"Oh ya? terus Hana juga ikutan?" tanya Nazwa, saat ini mereka sedang membahas alasan Salwa tidak jadi ikut mengiring pengantin. Entah kenapa saat Aisyah menyebutkan nama tiga orang itu, semuanya terasa sangat tak asing di telinga Nazwa
"Iya, bahkan Hana lebih heboh dari pada suami Nadifa, sampai membuat Salwa ikutan panik"
"Terus ummi nggak tau?"
"Nggak tau, saat itu ummi sama keluarga yang lain semuanya udah dateng ke acara, beruntungnya suami Nadifa masih bisa dihubungi akhirnya mereka kerumah sakit lewat pintu belakang"
"Hahaha"
"Bibi Aisya dan Kak Nazwa kata nenek sekarang boleh keluar, Zahid juga denger tadi kata 'Sah' gitu"
"Ana kok gugup Zahra?"
"Ayo genggam tanganku, dulu waktu temanku nikahan juga dia genggam tanganku kayak gini, tangannya terasa dingin banget"
"Bismillah dulu"
"Bismillahirrohmanirrohim"
Angin bertiup pelan, untaian gamis lebar Nazwa tertiup angin, Nazwa melirik genggaman tangannya di tangan Aisyah, kenapa malah ia yang juga ikutan gugup?
Berulang kali ia berusaha mengatur nafasnya agar degup jantungnya tak sampai terdengar
"Anti gugup Naz?" tanya Aisyah yang merasakan tangan Nazwa sedikit bergetar
"Sedikit, soalnya tadi ana liat tamu undangannya banyak banget" ucap Nazwa tak sepenuhnya benar, karena itu bukanlah alasan utama ia seperti ini, melainkan seperti ada perasaan aneh dalam dirinya
"Anti aja gugup, apalagi ana yang bakal nikah"
"Semoga rumah tangga anti sakinah, mawadah, warrohmah"
"Amiin"
.
__ADS_1
Tunggu mereka dipertemukan di episode selanjutnya...🙏😁🖐