Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Menggetarkan Jiwa


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸


Cahaya rembulan tertutup awan mendung membuat suasana malam terasa lebih gelap.


Nazwa memarkirkan motornya agak jauh dari ponpes agar tak di dengar oleh kang ujang yang berjaga di posko dekat gerbang, ia langsung mengembalikan motor tersebut kepada pemiliknya agar dianggap santri yang bertanggung jawab atas segala ucapan perkataan maupun perbuatan


"ayo kita langsung balik ke ponpes, kayaknya acara sudah dimulai kita kan urutan lima" ucap Nazwa


"bentar dulu Naz... huekkk" Nadifa muntah sambil menunduk memegang kepalanya


"anti kenapa Nad? sakit?"


"anti bawa motornya kayak ngeprank malaikat izrail Naz, ana pusing anginnya kenceng banget... hoekkk"


"astaga Nad, ana kira anti lagi sakit" ucap Nazwa dan Salwa kompak menepuk jidat mereka


"hehehe yaudah ayo sekarang sudah lebih baik, ana sudah siap" ucap Nadifa langsung semangat berdiri diikuti temannya yang lain dibelakang


"eh Nad, liat ada mang ujang nggak jaga di pos?" bisik Nazwa menario ujung jilbab Nadifa


"bentar ana liat dulu" Nadifa mengintip sedikit dari gerbang pesantren


"astagfirulloh Naz" Nadifa menutup mulutnya


"gimana siapa aja?"


"hehehe nggak ada kok aman"


"ish ngagetin aja" Nazwa memukul pelan lengan Nadifa


"oke sekarang kita langsung ke kamar aja mumpung sepi belum ada orang" Nazwa mulai mengatur strateginya


"oke"


Mereka bertiga berjalan mengendap-endap masuk ke gerbang ponpes, melewati pohon mangga di dekat sana untuk bisa sampai ke asrama


"kita kayak maling aja Naz" ucap Nadifa terkekeh


"ssttt, udah ini juga demi keselamatan bersama" jawab Nazwa berbisik


"udah ayi cepetan jangan bisik-bisik mulu"


"ekhem"


"ekhem"


"EKHEM"


"anti ngapain khem kham khem Nad, kalau sakit minum baygon sakit hilang nyawa melayang hahahha"


"anti stress Naz, ana kan di dekat anti" ucap Nadifa memukul pelan kepala Nazwa


"adohh, terus berarti anti Sal?"


"ana juga disini, deket Nadifa"


"lah terus siapa?"


"coba kita hadap belakang"


"anti aja Naz, ana takut jangan-jangan nanti kayak yang di film-film pas hadap belakang ada pocong gelantungan, Aaaaa" Nadifa histeris membayangkannya


"lebay anti Nad, udah kita hadap belakang aja sama-sama, entar kalau pocong atau sejenisnya kita lari oke?" pertanyaan Nazwa hanya dibalas anggukan oleh temannya


"satu dua tiga"


"Hant..."


"ustadz"


tertinggalah Nazwa di sendirian disana karena Nadifa sudah lari menyeret Salwa terlebih dahulu saat Nazwa baru menyebut kata hant, padahal yang dibelakang mereka adalah


"anti darimana?" ustadz Akmal bersedekap dada dihadapan Nazwa yang masih sendirian disana


"anu ustadz eh anu apa nama nya itu" lidah Nazwa mendadak kelu menjawab pertanyaan yang dilontarkan ustadz Akmal kepadanya


"anu itu anu itu anu apa jawab yang jelas" tegas nya membuat Nazwa semakin nerinding


"anu Nazwa baru dari warung bu sulis ustadz, ya benar warung bu sulis hehehe" jawab Nazwa berusaha tenang


"ngapain?"


"biasa ustadz urusan wanita, ustadz pasti tau lah"


"mana buktinya"


"ehm itu ustadz tadi dibawa Salwa, ya Salwa ops" Nazwa langsung menutup mulutnya sendiri


"Salwa? bukannya Salwa enggak ada di ponpes?"


"eh maksudnya Nadifa ustadz" ustadz Akmal memicing curiga mendengar jawaban Nazwa


"anti dihukum"


"lah kok bisa?" ucap Nazwa tak terima


"tentu bisa anti salah, keluar nggak minta izin, ustadz juga nggak percaya kalian keluar hanya untuk beli itu, ngapain anti bawa tas juga? terus tadi ustadz denger yang disini itu Salwa kan?"


Nazwa sudah tidak bisa mengelak lagi mendengar ucapan ustadz Akmal


"eh ustadz ada hiu terbang" teriak Nazwa menunjuk atas, ustadz Akmal ikut melihat kesana dan


"LARI!!!"


"haishh bisa-bisanya dikibulin sama santri sendiri, lagian mana ada hiu terbang, awas saja tunggu hukuman kalian besok"

__ADS_1


.


brakkk


hosh...hosh...hosh


"eh Naz, anti enggak papa, afwan ya tadi ana ninggalin anti"


"hosh... udah itu dibahas nanti sekarang ayo cepat sebentar lagi giliran kita" Nazwa melempar tasnya sembarang, dan langsung merapikan penampilannya


" ayo sekarang kita susul Hana"


Nazwa, Nadifa dan Salwa langsung menuju kursi Hana yang berada paling belakang di barisan para santri


"hufff untung aja kalian datang, ana kira kalian nggak bakal kembali lagi"


plukk


"anti kalau ngomong mulutnya dijaga jangan ngomong sembarangan"


"ish iya, sekarang setelah ini giliran kita"


"ya udah ayo cepet pasang aksesoris yang sudah kita siapkan" ucap Nazwa dibalas anggukan oleh temannya yang lain


Mereka sibuk sendiri di belakang dengan kegiatan masing-masing tak memperhatikan acara yang ada di atas panggung


"peserta selanjutnya, nomor undi kosong lima, grup al-miftah"


al-miftah yang artinya kunci nama kelompok grup musik mereka yang didapatkan saat pengundian nomor sekaligus nama grup


"eh sekarang giliran kita, ayo cepet"


Piano sudah dinaikan diatas panggung sebagai alat musik yang akan mereka mainkan, para santri menatap aneh, karena ini pertama kalinya ada santri yang memainkan piano dalam lomba


Nazwa naik ke atas panggung terlebih dahulu, ia menunduk dengan wajahnya yang tertutup sorban putih bergaris hitam sambil menekan tuts piano, setiap tuts yang ditekan mengungkapkan isi hati tentang lagu yang mereka bawakan


Hingga akhirnya ia mulai menyanyi membuat semua santri sontak terkejut begitu pula dengan para juri dan pengajar disana


Nazwa mengangkat sorban yang menutup wajahnya, memperlihatkan bekas seperti darah yang mengalir dari pelipis, hidung, dan beberapa luka lebam lainnya serta bendera palestina di pipinya.


Setelah itu, teman-temannya yang lain mulai naik ke atas panggung dengan penampilan yang hampir sama dengan Nazwa, ada yang cacat kakinya, ada yang tangannya terpotong dan luka seperti tembakan dibagian pelipisnya, mereka seolah menggambarkan bagiaman penderitaan rakyat palestina yang diserang israel.


Mereka berempat malam itu mengenakan gamis palestina yang sama, dengan sorban dikepala mereka, hingga mereka menyanyi bersama lagu atuna al tufuli


...Atuna al-tufuli...


...(berikan kami masa kecil)...


^^^Jeena N'ayedkon^^^


^^^Bel-Eid Mnes'alkon^^^


^^^Lesh Ma Fee 'Enna^^^


^^^La 'Ayyad Wula Zeineh^^^


Mengapa di tempat kami tidak ada dekorasi hari raya


^^^Ya 'Alam Ardhi Mahroo'a^^^


^^^Ardhi Huriyyeh Masroo’a^^^


Wahai semesta, tanah kami telah dihancurkan


Tanah kami telah direnggut kebebasannya


^^^Samana 'Am Tehlam^^^


^^^'Am Tes'al El-Ayam^^^


^^^Wein Esh-Shames El-Helwe^^^


^^^W-Rfouf El-Hamam^^^


Langit kami sedang bermimpi, bertanya kepada hari


Dimana matahari yang indah dan ke mana kepakan sayap burung merpati?


^^^Ya 'Alam Ardhi Mahroo'a^^^


^^^Ardhi Huriyyeh Masroo’a^^^


Wahai semesta, tanah kami telah dihancurkan


Tanah kami telah direnggut kebebasannya


^^^Ardhi Zgheere^^^


^^^Metli Zgheere^^^


^^^Atouna Es-salam^^^


^^^'Atouna Et-Tufoole^^^


Tanahku Kecil, seperti aku yang mungil


Berikan kedamaian, berikan kami masa kecil kami


^^^A'touna Et-Tufoole^^^


^^^A'touna Et-Tufoole^^^


^^^A'touna Et-Tufoole^^^


^^^A'touna, 'Atouna^^^

__ADS_1


^^^'Atouna Es-Salam^^^


Berikan kami masa kecil


Berikan kami masa kecil


Berikan kami masa kecil


Berikan, berikan, berikan kedamaian


^^^I am a child^^^


^^^With something to say^^^


^^^Please listen to me^^^


^^^I am a child^^^


^^^Who wants to play^^^


^^^Why don't you let me^^^


Aku adalah seorang bocah


Yang ingin menyampaikan sesuatu


Tolong dengarkan aku


Aku adalah seorang bocah


Yang ingin bermain


Kenapa tidak kau biarkan aku


^^^My doors are waiting^^^


^^^My friends are praying^^^


^^^Small hearts are begging^^^


^^^Give us a chance^^^


^^^Give us a chance^^^


Pintuku menunggu


Teman-temanku sedang berdoa


Sebentuk hati mungil ini memohon


Berikan kami kesempatan


Berikan kami kesempatan


^^^Give us a chance^^^


^^^Give us a chance^^^


^^^Give us a chance^^^


^^^Please, please^^^


^^^Give us a chance^^^


Berikan kami kesempatan


Berikan kami kesempatan


Berikan kami kesempatan


Tolong, tolong


Tolong berikan kami kesempatan


^^^A'touna Et-Tufoole^^^


^^^A'touna Et-Tufoole^^^


^^^A'touna Et-Tufoole^^^


^^^A'touna, 'Atouna,^^^


^^^A'touna Es-Salam^^^


Berikan kami masa kecil


Berikan kami masa kecil


Berikan kami masa kecil


Berikan, berikan


Berikan kedamaian


Tak terasa saat menyanyikannya air mata menetes membayangkan bagaimana penderitaan saudara sesama muslim di palestina, yang tak pernah tenang selalu terancam, namun tak luntur semangat mereka untuk terus mempertahan kan negara mereka, membela agama Allah walau dengan mengorbankan nyawa mereka sendiri.


Tak hanya Nazwa dan teman-temannya yang menangis, namun para santri dan pengajar disana juga ikut meneteskan air mata, menghayati setiap bait lagu yang dibawakan dengan suara merdu yang mengetarkan jiwa.


Setelah selesai semua santri dan dewan juri langsung memberikan tepuk tangan yang meriah kepada mereka karena tampilan mereka yang begitu memukau.


.


.


.

__ADS_1


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2