
"Dzar gue mau minta maaf sama Lo," ucap Azawi yang mendatangi Nidzar.
"Minta maaf, tumben kamu minta maaf, sebelum kamu minta maaf sudah aku maafkan, karena sebagai seorang muslim memberi maaf itu hukumnya wajib," sahut Nidzar yang masih bingung dengan sikap Azawi yang tiba - tiba meminta maaf pada dirinya.
"Makasih ya Dzar lo udah mau maafin kesalahan gue," ucap Azawi.
"Dzar opo sampean gurung weroh, Azawi lah pelaku sebenere," ("Dzar apa kamu belum tau, Azawi lah pelaku yang sesungguhnya,") sahut Azam.
"Maksudmu opo Zam?" ("Maksud kamu apa Zam?") tanya Nidzar bingung.
"Sing ngunciin sampean nang kamar mandi iku Azawi," ("Yang mengunci kamu di kamar mandi itu Azawi") jawab Azam.
"Opo sampean gak salah ngomong Zam?" (Apa kamu gak salah bicara Zam?") tanya Nidzar memastikan bahwa ucapan sahabatnya itu benar adanya.
"Gak percoyo takok o Azawi langsung," ("Kalau tidak percaya silahkan tanya Azawi langsung") jawab Azam.
"Apa Bener yang di bilang Azam?jawab Azawi!" ucap Nidzar dengan sorot mata yang tajam ke arah Azawi.
"Iya benar," jawab Azawi sembari menunduk.
"Bagus kamu sudah mau ngaku, sebelum kamu mengaku aku juga sudah mengira bahwa semua ini adalah perbuatan kamu Azawi, hanya saja aku tidak mau salah menduga," ucap Nidzar.
"Apa yang harus gue lakuin ke Lo, untuk menebus semua kesalahan gue ini Dzar?" tanya Azawi.
"Sebagai pria sejati aku tidak akan menuntut Azawi, asalkan kamu mau berubah, kamu harus nurut apa yang kami katakan dan kami perintahkan ke kamu, kalau kamu menyetujuinya aku tidak akan laporkan perbuatanmu ini ke Kyai, bagaimana apa kamu setuju?" ujar Nidzar.
"Hanya itu?" tanya Azawi.
"Apa kamu mau kami menghukum mu Azawi," ucap Nidzar.
"Tidak gue gak mau di hukum. tapi jika itu semua bisa bikin kalian puas, lakukan! aku siap menerima hukumannya," ucap Azawi.
"Piyee iki Zam?" (Gimana ini Zam?) tanya Nidzar.
"Kalau menurutku sih lebih baik Azawi kita hukum yang ringan saja, dia juga kan anak Mama, kasihan kalau hukumannya berat," jawab Azam.
"Ya sudah begini saja, kamu bersihkan kamar ini sebersih mungkin, kamu piket setiap hari selama 1 minggu, ringan kan?" ujar Nidzar yang memberikan hukuman pada Azawi.
"Baiklah gue setuju," ucap Azawi.
"Ya sudah kerjakan hukuman itu dengan sebaik mungkin Azawi, jangan ulangi lagi kesalahanmu itu, jangan jadi orang yang jahil lagi, kita ini di didik di pesantren untuk memperbaiki diri, kamu dengarkan ini baik - baik, jika kamu mengulangi kesalahan kamu ini lagi, kami tidak akan memberikanmu toleransi lagi, kami akan memberikan kamu hukuman yang lebih berat lagi, jika hal ini sampai ketahuan oleh Ustadz ataupun Pak Kyai bisa kena pelanggaran kamu dan kamu bisa saja di keluarkan dari Pondok Pesantren ini, jadi aku harap kamu bisa fikirkan ini baik - baik, berubah lah demi masa depanmu!" ucap Azam menasehati Azawi.
"Iya iya gue akan berubah, sory deh kalau gue jahil," ucap Azawi.
"Ya sudah silahkan kamu kerjakan tugas dari kami itu, yang bersih ya, kami balik ke sini, kamar ini harus sudah bersih," ujar Nidzar.
"Iya iya gue bersihin, gue ambil sapu dulu," ucap Azawi mengiyakan perintah Nidzar.
Azawi mengambil sapu di dekat dapur, tidak sengaja ia melihat para santriwati sedang berjalan, ia melihatnya dari bilik jendela, sengaja ia mengintip para santriwati itu dari jendela, ia naik di atas kursi untuk melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Subhanallah ini yang namanya Bidadari.." ucap Azawi lirih.
Sedangkan Nidzar dan Azam ke kantin untuk makan, karena sempat emosi dengan Azawi membuat perut mereka lapar.
"Zam, menurutmu piye Azawi?" (Zam, menurut kamu bagaimana Azawi?) tanya Nidzar pada Azam.
"Maksudmu?" tanya Azam balik.
"Maksudku, menurutmu piye Azawi, kiro - kiro iso berubah opo gak yo?" (Maksudku, menurut kamu bagaimana Azawi, kira - kira bisa berubah gak ya?) ucap Nidzar yang mengulangi pertanyaannya lebih jelas.
"Iso ae, asalkan Azawi onok niatan ngerubah sikap e," (Bisa saja, asalkan Azawi ada niatan untuk merubah sikapnya,) jawab Azam.
"Ngono yo Zam," (Gitu ya Zam) ucap Nidzar.
"Iyoo," (Iya) ucap Azam.
Kembali lagi ke Azawi yang masih mengintip para santriwati dari bilik jendela, ia mengagumi salah satu santriwati yang ia anggap seperti Bidadari, cantik, anggun dan sholeha, tutur katanya terdengar sangat lembut, membuat Azawi semakin kagum dengan Hafizah.
"Oh ternyata nama tuh cewek Hafizah, nama yang cantik, secantik orangnya," gumam Azawi saat mengetahui nama sang pujaan hati.
Azawi mengetahui nama pujaan hatinya itu dari Nissa, salah satu santriwati yang memanggil Hafizah dengan suara lantang dan jelas. Azawi mendengarnya.
"Hafizah, I Love You," ucap Azawi lirih takut ada yang mendengarnya.
"Nis, aku kok krungu suoro enek sing nyeluk jenengku yo?" (Nis, aku kok seperti mendengar ada suara yang memanggil namaku ya?) ucap lembut Hafizah.
"Yo aku kan sing nyeluk sampean Zah," (Ya aku kan yang memanggil kamu Zah,) ucap Nissa.
"Ndi to santri? deloken ora onok santri, cek en disek pendengaran mu kui, sopo ngerti salah," (Mana sih santri, lihatlah tidak ada santri, cek dulu lah pendengaran mu itu, siapa tau aja salah dengar,) ucap Nisa yang tidak percaya dengan apa yang di dengar oleh sahabatnya.
"Tenan o Nis, aku gak salah krungu, tenan iku mau enek sing nyeluk jenengku," (Beneran loh Nis, aku tidak salah dengar, bener tadi itu ada yang manggil namaku,) ucap Hafizah yang yakin dengan pendengarannya.
"Yo wis lah ayo balik," (Ya sudah lah ayo balik) ucap Nisa yang beranjak balik ke asrama puteri.
"Ya udah ayoo," ucap Hafizah yang juga beranjak ke asrama puteri, namun ia masih melihat - lihat sekeliling, barangkali ia menemukan orang yang memanggilnya itu.
"Sepertinya cewek itu dengar kalau gue panggil, andaikan aja gak ada pembatas ini, pasti udah gue temuin tuh cewek," ucap Azawi lirih.
Azawi langsung meloncat dari kursi yang ia naikin tadi dan bergegas mengambil sapu, takut hal ini di pergoki oleh Azam dan Nidzar, bisa di tambah nanti hukumannya kalau Azam dan Nidzar tau dia sedang mengintip santriwati.
Azawi membersihkan kamar, dia menyapu dan mengepel lantai, juga membersihkan meja belajar dari debu, ini pertama kalinya ia bersih - bersih, karena di rumahnya yang mengerjakan semua pembantunya. maklum anak Mama, namun karena ia sadar ia sudah membuat kesalahan, ia kerjakan semua itu dengan ikhlas. karena dalam diri Azawi masih ada kebaikan yang terselip di benaknya. karena sebenarnya Azawi ini anak yang baik.
"Bagus Le, kerja yang bagus," ucap Nidzar saat memasuki kamar yang terlihat bersih.
Azawi hanya diam.
"Wah resik tenan iki," (Wah bersih beneran nih) ucap Azam.
"Iya," ucap Azawi singkat lalu berlalu keluar dari kamar untuk mengembalikan sapu.
__ADS_1
"Iso nyapu juga ternyata si Azawi," (Bisa menyapu juga ternyata si Azawi,) ucap Nidzar.
"Jane Bocah iku apik, tapi nggumonku kenek opo kok jahil," (Sebenarnya anak itu baik, tapi aku heran kenapa dia kok bisa jahil,) ucap Azam yang bingung dengan sikap Azawi.
"Iyo Zam, sampean sependapat karo aku, aku yo mikir ngunu, opo Azawi salah pergaulan yo?" (Iya Zam, kamu sependapat denganku, aku juga berfikir begitu, apa Azawi salah pergaulan ya?) ucap Nidzar.
"Paling ngono Dzar, mugo - mugo ae Azawi iso berubah," (Mungkin begitu Dzar, semoga saja Azawi bisa berubah,) ucap Azam.
"Aamiin.." sahut Azawi yang mendengar doa dari Azam.
"Eh kamu Le," ucap Azam.
"Makasih udah doain gue yang baik - baik," ucap Azawi.
"Iya sama - sama, kami berharap kamu itu bisa berubah, karena kamu yakin, kamu ini sebenarnya anak yang baik, mungkin kamu ini pernah salah pergaulan, itu saja." ujar Azam.
"Iya lo bener, gue memang pernah salah pergaulan, tapi asal Lo tau aja gini - gini gue gak pernah nyoba yang aneh - aneh kok," ucap Azawi.
"Nyoba yang aneh - aneh maksud kamu apa Le?" tanya Azam.
"Maksud gue, gue gak pernah nyobain minum alkohol atau minum obat - obat terlarang, gue gak sampai kayak gitu," jawab Azawi menjelaskan perkataannya.
"Syukurlah Le, jangan sampai kamu seperti itu, hukumnya haram itu," ucap Azam.
"Iya gue tau kok kalau itu haram," ucap Azawi.
"Sekarang kamu mau berubah kan?" tanya Azam.
"Iya gue janji, gue akan berusaha untuk berubah," jawab Azawi.
"Kami siap membantu kamu, kalau kamu benar - benar sudah yakin mau berubah," ucap Azam.
"Iya makasih ya, kalian semua udah baik sama gue, sory kalau gue kemaren berbuat jahil pada kalian, gue gak ada maksud jahat kok, hanya iseng aja, itu semua karena sebenarnya gue gak suka tinggal di sini, gue terpaksa masuk pondok pesantren ini karena di paksa sama bokap dan nyokap gue, bokap gue pengen gue bisa jadi santri dan bisa banggain mereka," ucap Azawi menjelaskan semua yang dia lakukan itu bukanlah sebuah kejahatan melainkan hanyalah pelampiasan karena rasa tidak sukanya dia di tempat yang asing baginya.
"Oh gitu to, iya kami faham kok Azawi, kamu ini kan anak kota, belum pernah masuk di pondok pesantren, ya kamu sebisa mungkin harus adaptasi dulu dengan lingkungan di sini, kamu harus bisa menempatkan diri dengan baik, kalangan kami ini beda dari kalangan kamu sebelumnya, pergaulan kami di sini pun juga jauh beda dari pergaulan kamu di kota, jadi sebisa mungkin kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan baik di sini, taati saja semua peraturan di sini, nanti nya kamu juga akan merasa nyaman di sini, masih baru wajar kalau kamu tidak betah di sini," ucap Azam.
"Iya Zam, gue akan berusaha, gue udah terlanjur masuk di sini, harapan gue, gue bisa segera lulus dan bisa jadi apa yang bokap dan nyokap gue inginkan," ucap Azawi.
"Bagus kalau kamu berfikiran seperti itu, kami akan berusaha membantu kamu berubah dan membuat kamu nyaman tinggal di pondok pesantren ini, ya kan Dzar?" ucap Azam.
"Iya bener itu, asalkan kamu mau berubah aku juga bersedia buat bantuin kamu Azawi," ucap Nidzar.
"Makasih ya Dzar lo udah baik sama gue, padahal gue udah ngerjain lo habis - habisan, tapi lo sama sekali gak ada dendam sama gue, jujur baru kali ini gue bertemu teman seperti kalian," ucap Azawi terharu degan sikap baik Azam dan Nidzar.
"Di pondok pesantren ini kami di ajarkan untuk saling memaafkan, dendam itu tidak baik, itu adalah salah satu penyakit hati yang harus kita hindari," ucap Nidzar.
"Kalian memang teman yang baik, gue boleh tanya ke kalian kan, jika gue gak ngerti pelajaran di sini atau apapun itu?"
"Iya tentu saja kamu bebas bertanya apa saja ke kami, jika kami bisa menjawab pasti akan kami jawab," ucap Nidzar.
__ADS_1
"Oke makasih," ucap Azawi.
Mereka pun terlihat akrab sekarang, Azawi mendapatkan pelajaran berharga dalam hidupnya, dan baru kali ini pelajaran berharga itu ia dapatkan, hanya di Pondok Pesantren ia bisa mendapatkannya. Ia sekarang faham bahwa semua kesalahan itu harus di pertanggung jawabkan juga pasti ada hukumannya, hati juga harus selalu bersih dari rasa dendam.