
brakk
pintu di tendang keras dari luar membuat Nazwa dan Salwa memegang dada mereka karena terkejut
"ngapain sih nendang-nendang pintu, kalau rusak anti mau tanggung jawab ha?"
"tau nih Hana"
"lah kok aku kan kamu yang duluan"
"pokoknya Hana"
"Nadifa"
"udah nggak usah berantem mulu"
"kalian ngapain lari-lari?"
"anti tanya ngapain? kalian berdua nggak pulang dari tadi malam kami disini khawatir, sedangkan anti bilang ngapain? apa anti nggak mikiran perasaan kami?" cerocos Hana tanpa jeda
"loh emang ustadzah Fathia nggak ngasih tau kalian?" tanya Nazwa pada mereka
"ngasih tau apaan?" Nadifa balik bertanya
"ngasih tau kalau kemarin kita nginep di rumah kakek Nazwa karena kemarinkan hujan, kita juga mmmmhhh" mulut Salwa langsung dibekap menggunakan tangan oleh Nazwa
"kita juga apa?"
"hehehe nggak apa-apa kok"
"beneran nih, nggak boleh bohong loh dosa" ucap Hana curiga
"huhhh... jadi kan kemarin kita pulang nganterin undangan terus di tengah jalan hujan deras akhirnya kita berteduh nah ternyata hujannya sampai magrib sekalian kita berdua sholat magrib disana terus pas selesai sholat kita lanjut perjalanan karena hujannya udah reda tapi di tengah jalan kita dihadang sama begal" jelas Nazwa panjang lebar
"astagfirulloh terus kalian berdua nggak papa"
"nggak kok cuma luka kecil aja palingan besok atau lusa udah sembuh, kalian nggak perlu khawatir"
"ya tetep aja kita khawatir Naz, kalian itu sahabat kita"
"oh ya aku denger dari Fitri katanya bakal diadain lomba di pesantren?" tanya Salwa
"oh ya dua minggu lagi bakal ada lomba, nah terus ada lomba yang perorangan sama kelompok" jawab Hana
"gimana kalau kita berempat ikut lomba nyanyi?" usul Nadifa
"Ha? emang ada?" tanya Nazwa
"ada, tahun ini katanya bebas pakai musik apapun asal lagunya yang islami jangan lagu-lagu dangdut atau sejenisnya" jawab Nadifa
"eh dipesantren ada alat musik nggak?"
"musik yang kaya gimana maksud anti Naz? Hadroh? marawis? rebana? qasidah? atau apa?" tanya Hana
"bukan maksud ana itu alat musik modern kaya gitar, piano, biola gitu, ada nggak?"
"kalau itu sih ana kurang tau soalnya kan kita nggak ikut musik jadi nggak pernah masuk ke ruang musik"
"lah terus ngapain ikut lomba nyanyi?" tanya Nazwa bingung
"hehehe...pengen nyoba aja, siapa tau kita bisa menang kan lumayan kalau dapat duit" cengir Nadifa
plakkk
"adoh"
"mata duitan" Hana memukul kepala Nadifa menggunakan buku yang dipegangnya
__ADS_1
"terus ada lomba apa lagi?"
"pokoknya banyak Naz, nanti anti liat di mading sekolah" jawab Hana dan diangguki oleh Nazwa
πππππ
angin berhembus menjatuhkan dedaunan kering, cahaya matahari masih nampak terang, jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore,suara tim hadroh melelehkan hati para santriwati karena tampilan Gus Fatih.
"ish lebay banget sih" ucap Nazwa merasa risih melihat para santriwati yang menurutnya berlebihan
"anti cemburu Naz?" goda Nadifa
"cemburu apaan udah ayo cepetan nanti ustadzah marah, anti pasang jilbab lelet banget"
"ya kan harus tampil elegan dihadapan imam dunia akhirat dan calon keluarganya"
"halu terosssss"
"doakan saja semoga kenyataan"
"hah, terserah anti lah Nad ke dapur aja gayanya selangit lagian siapa coba yang liat"
Nazwa dan Nadifa pergi menyusul Hana dan Salwa menuju dapur ponpes karena hari ini jadwal mereka membantu Bi Ijah memasak makan malam untuk para santri
"malam ini lauknya apa bi?" tanya Nazwa saat memasuki dapur
"anti Naz, salam dulu biar sopan" tegur Salwa
"hehehe Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"jadi lauknya malam ini apa bi?" tanya Nazwa sambil duduk disalah satu kursi yang disediakan disana
"Nazwa dari pada anti nanya lauk mending bantuin ana potong tempe" ucap Hana
"kalau gini udah ketebak lah lauk malam ini adalah tempe lagi" ucap Nazwa memegang kepalanya
"bukan masalah nggak suka Nadifa tapi gimana ya..."
"apapun yang ada harus syukur Naz karena banyak orang diluar sana yang belum mampu" ucap Salwa memotong perkataan Nazwa dan Nazwa hanya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal
"Assalamu'alaikum bi"
"Wa'alaikumussalam nak Fatih"
"bibi disuruh sama ummi kerumah bantuin masak katanya nanti malam kyai husain sama keluarga mau datang"
"tapi bibi masih belum selesai masak disini den"
"nggak papa, bibi ke rumah pak kyai aja nanti kita yang goreng tahu sama tempenya" ucap Salwa
"bibi tenang aja kita bisa ngegoreng kok, dijamin nggak bakal gosong" ucap Hana kemudian
"nanti kami juga bantu bi" ucap Fikri, Ahmil dan juga Agus yang ikut masuk ke dapur
"oh ya udah kalau gitu bibi tinggal ya"
"Nazwa anti aja yang goreng tahunya nanti kami potong sisa tempenya biar cepat selesai" ucap Nadifa dan hanya diangguki oleh Nazwa
srush
pltak pltak pltak
suara minyak panas yang meletup saat dimasukkan tahu
"aaa" karena terkejut Nazwa reflek memegang sesuatu yang terdekat
__ADS_1
deg deg deg
"eh afwan Gus, reflek" Nazwa langsung melepaskan tangannya yang reflek memegang pundak dan lengan Fatih yang berada di dekatnya karena tempat duduk Fatih yang terdekat dari kompor
"anti tak apa-apa?"
"eh enggak kok"
"Nazwa kalau masukin tahunya pelan-pelan jangan kayak orang ngamuk, biar minyaknya nggak kecipratan kemana-mana" ucap Agus
"siapa juga yang ngamuk, emang gitukan jadinya kalau minyak panas ketemu sama air, air sama minyak nggak bisa bersatu tapi kalau sama minyak panas dipaksa untuk bersatu, air menolak hingga menimbulkan bunyi ribut seperti itu, akhirnya air pun mengalah dan terpaksa menyatu dengan minyak"
"waw kisah yang luar biasa" ucap Ahmil bertepuk tangan
"air itu dapat diibaratkan seperti perempuan dan minyak panas diibaratkan seperti laki-laki, jadi kalau perempuan dipaksa untuk bersama dengan laki-laki yang tidak disukainya akan ribut sesaat tapi perempuan akan lebih memilih untuk mengalah dan akhirnya mereka dapat bersama" jelas Nazwa panjang lebar
"filosofinya bahas nanti aja, cepetan angkat satu tahu yang tadi anti masukin, udah gosong tuh" ucap Gus Fatih
"Astaga, huh untung cuma satu"
βββββ
Bulan purnama menghiasi langit malam dengan jutaan bahkan miliaran bintang dan planet-planet berbagai macam bentuk dan ukuran, membentuk berbagai macam rasi bintang sehingga nampak sebagai berlian yang bersinar di malam gelap
"eh kita liat macam-macam lomba dulu yuk" ajak Nadifa pada sahabatnya saat mereka telah selesai menyetor hafalan di masjid ponpes
"ini udah malam loh Nad, besok aja lagian mading ponpes nggak bakalan hilang, siapa juga yang mau nyuri mading kayak nggak ada kerjaan aja" ucap Hana
"tapi ana penasaran Han"
"penasaran apa?" tanya Nazwa
"penasaran ada lomba apa aja"
"yaudah liatnya besok aja, lagian kenapa anti nggak liat tadi pagi pas di sekolah"
"ana nggak sempet Han"
"ya udah ayo tapi cepet ana sudah ngantuk" ucap Nazwa
"huh untung lampu ponpes belum dimatiin sama kang ujang" ucap Hana melihat lampu di setiap koridor yang masih menyala
"anti takut ya Han?" goda Nadifa
"udah jangan banyak tanya sana cepet liat, ana sudah ngantuk"
"ya sabar Han"
"madingnya dimana nih?" tanya Nazwa
"dilorong samping ruang guru"
"disini gelap banget ya"
"ya namanya juga malam Han, kalau terang itu namanya siang"
"bukan gitu maksudnya dodol" Nazwa memukul pelan kepala Nadifa
"tuh udah sampe sana cepet liat"
"oowh"
"udah? ayo cepet balik ana sudah ngantuk" saat Nazwa melewati ruang guru ia dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba membuka pintu dari dalam yang memakai pakaian serba putih
"HANTU" teriak Nazwa kencang dan langsung berlari diikuti teman-temannya tanpa melihat dengan jelas sosok tersebut
"astagfirullohaladzim para santriwati ini, bisa-bisanya ngira ana hantu" ucap sosok tersebut yang tak lain Gus Rayhan yang baru saja mengambil beberapa berkas yang ketinggalan di ruang guru.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊ
Maaf kalau alurnya nggak nyambung, banyak typoπππ