
Nafas lega terdengar saat Nazwa baru saja keluar dari ruangan yang terasa begitu mencekam, saat menjawab pertanyaan yang diajukan, namun usaha tak menghianati hasil, akhirnya ia bisa diterima di kampus impiannya
plukkk
suara tepukan di belakangnya membuatnya segera menolehkan pandangan ke arah belakang
"Bianca?"
"Bagaimana hasilnya?"
"alhamdulillah aku di terima, bagaimana denganmu?" Bianca sempat tertegun sebentar saat Nazwa mengatakan 'Alhamdulillah' tetapi dengan cepat ia menetralkan ekspresinya
"aku juga lulus, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu sebentar di perpustakaan?" tanya Bianca yang langsung diangguki dengan semangat oleh Nazwa
"ayo"
BODLEIAN LIBRARY
Bodleian Library (perpustakaan Bodleian) adalah perpustakaan riset utama Universitas Oxford, salah satu perpustakaan tertua di Eropa, dan di Britania Raya merupakan yang terbesar kedua dalam kapasitasnya setelah Britis Library dengan koleksi lebih dari 11 juta buku
"Apa yang membuatmu tertarik untuk belajar kedokteran?" Tanya Nazwa saat mereka kini duduk disalah satu bangku di perpustakaan tersebut
"Aku ingin menolong banyak orang lagi pula dokter juga adalah cita-cita ku dari kecil"
"really?" Tanya Nazwa dan Bianca hanya mengangguk sebagai jawaban
"How about you?"
"Aku juga memiliki cita-cita yang sama sepertimu dari kecil?, tapi seperti katamu aku ingin menolong banyak orang dan bermanfaat untuk orang lain"
"Bukankah ada pekerjaan lain juga seperti guru, bukankah itu juga menolong orang?"
"Kau benar, tetapi aku ingin belajar kedokteran juga karena mengagumi ilmuwan-ilmuwan muslim, diantaranya ibnu sina sang bapak kedokteran, ibnu nafis sang penemu peredaran darah, Azzahrawi yang di juluki bapak bedah, dan lain sebagainya yang sangat berjasa dalam perkembangan kemajuan di bidang kedokteran hingga saat ini"
"Wah luar biasa, memang m jika menyukai sesuatu harus mempunyai tokoh idola terlebih dahulu"
"Ya seperti itulah aku, penemuan mereka sangat luar biasa dan memiliki jasa yang besar dalam dunia kedokteran, aku juga ingin seperti mereka yang bermanfaat untuk banyak orang"
"Amazing"
"Oh ya apa kamu tinggal di asrama kampus?" Tanya Bianca
"Tidak, ayahku menyewakan salah satu apartemen yang tak jauh dari kampus"
"benarkah? kalau boleh tau dimana alamat rumahmu?" Nazwa memberikan kartu nama yang berisi alamat tempat tinggalnya saat ini
"serious???, itu juga apartemen yang ku sewa, aku berada di kamar no 077 sedangkan kau 078 artinya kamar kita sebelahan?" tanya Bianca semangat
"wah aku beruntung memiliki teman sefakultas sekaligus tetangga sepertimu" ucap Nazwa semangat
drttt drttt drttt
Nazwa merasakan ponselnya bergetar pertanda adanya pesan masuk, ia langsung memeriksa takut itu adalah hal penting
"Assalamu'alaikum Nazwa"
"Wa'alaikumussalam siapa ya?"
"Gus Fatih"
"Gus Fatih? dari mana Gus tau nomor saya?"
"itu tidak penting, bagaimana hasil ujianmu?"
"alhamdulillah lulus"
__ADS_1
"selamat semoga di permudahkan sampai akhir"
"aammin"
"is your boyfriend?" (apakah pacarmu?) tanya Bianca saat melihat wajah serius dan heran Nazwa membaca pesan tersebut
"No, hanya teman dari Indonesia" Nazwa menggeleng dengan cepat sambil memikirkan dari mana Gus Fatih tau tentang hal itu
"oowh"
...●●●●●...
Jutaan bintang menghiasi langit dengan cahaya yang berbeda-beda, rembulan bersinar menghiasi kegelapan malam, angin hangat berhembus perlahan menyapu permukaan bumi, waktu berputar begitu cepat tak terasa telah satu semester Nazwa lewati dalam pendidikan kedokterannya
Nazwa duduk di kursi meja belajarnya, jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari, suasana terasa begitu sunyi, Ia membolak balik halaman dari buku yang bacanya, wajahnya terlihat sangat serius melihat barisan kata demi kata yang ada pada buku tersebut namun nyatanya pikirannya melayang jauh entah kemana membayangkan apa yang harus ia lakukan setelah ini
"ana selalu menunggu anti"
"Orang tua pasti tau jodoh yang terbaik untuk putrinya"
"Biarkan Nazwa yang menentukan pilihan Nazwa sendiri"
"ana tunggu anti pulang, ingat kalaupun kita berjodoh Allah pasti punya seribu cara untuk mempersatukan kita"
Ucapan demi ucapan terus terngiang-ngiang dalam kepala Nazwa
"Bugh"
"KAMU JANGAN MACAM-MACAM YA!"
"HENTIKAN WILLIAM AKU NGGAK MAU IKUT KAMU KE LONDON"
"INI BUKAN PERMINTAAN TAPI PERINTAH"
"LEPASKAN AKU DASAR LAKI-LAKI BRENGSEK"
"PEREMPUAN TIDAK TAU DIRI"
Lamunan Nazwa buyar seketika, Nazwa menajamkan pendengarannya, suara orang tersebut terdengar jelas karena suasana malam yang hening dan suaranya yang cukup keras
Nazwa berpikir apa yang sebenarnya terjadi, karena kota Oxford terkenal karena rendahnya tingkat kriminalitas di kota itu
Ia membuka jendela balkon kamarnya dan melihat ke bawah jalanan yang sepi, ia menajamkan penglihatannya saat melihat gadis berambut pirang yang di seret paksa oleh seorang pria ke dalam lorong sempit
"Bianca?" Gumamnya pelan dan dengan cepat ia memakai jilbab dan berlari turun ke bawah melihat apa yang terjadi
"Hei apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Nazwa saat sampai disana
"Siapa kamu tidak perlu ikut campur urusan kami"
"Dia temanku, jadi aku berhak tau alasan kamu memperlakukan dia seperti itu"
"Zahra" gumam Bianca lirih
"Bullshit, jangan ikut campur"
"Zahra hiks tolong, dia mau bawa aku ke London, aku nggak mau disana"
"DIAM"
Plakkk
"Jangan menjadi seorang pengecut yang hanya berani main tangan dengan wanita, memangnya kamu siapa?" Tanya Nazwa dengan berani
"I am boy friend" ucap pria tersebut dengan smirk di bibirnya
"William are you crazy? Kita sudah putus sebulan yang lalu" ucap Bianca berontak
__ADS_1
"Tapi aku nggak mau putus honey, sayang sekali wajah cantikmu ini kalau tidak dimanfaatkan" ucap William dengan seringainya dan semakin mempererat genggaman tangannya
Plakkk
"Diam dan ikut aku ke london"
Bugh
Nazwa yang mulai emosi menendang lutut William sampai membuat pria itu mengaduh kesakitan
"Dasar wanita kurang ajar, penampilanmu saja tertutup begini tapi sikapmu seperti wanita malam, apa agamamu tak mengajarkan sopan santun"
Bugh
Bugh
Plakk
"Cukup hina diriku jangan hina agamaku, dalam agama kami wanita begitu dihormati jadi wajar kalau aku bersikap seperti ini kepada pria kurang ajar sepertimu yang memperlakukan wanita seperti itu"
"Heh kalian para wanita sama saja, hanya sebagai pemuas bagi laki-laki" ucap William dengan senyum meremehkannya
"Kalau begitu bagaimana dengan ibumu? Bukankah dia juga wanita?"
"Jangan bawa-bawa nama ibuku, sialan"
Brugh
Brukk
Plakk
Perkelahian terjadi di lorong sempit itu, kesunyian malam hanya di hiasi suara pertarungan mereka berdua, Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah depan mendekat ke arah lorong tersebut Nazwa dengan cepat menarik Bianca keluar dari belakang lorong dengan pakaian yang sudah kusut berantakan, membiarkan William terduduk disana seperti menahan sakit pada tulang keringnya yang di tendang Nazwa
Nazwa menduga pria tersebut sepertinya dalam pengaruh alkohol, sangan tercium jelas dari pakaian dan nafasnya saat berbicara, sambil menarik Binaca yang masih tersedu-sedu ia mengelap sudut bibirnya akibat tamparan pria itu
"Hiks hiks hiks"
Bianca tak henti-hentinya menangis saat Nazwa mendudukannya di sofa apartemennya
"Zahra sorry hiks hiks hiks"
"Don't cry Bianca, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Nazwa sambil mengusap air mata Bianca
"Dia William mantan pacarku, kami sudah putus sebulan yang lalu, dia mengajakku bertemu hari ini katanya sebagai bentuk persahabatan kami, kami menghabiskan waktu di rumahnya dia, dan tanpa sadar aku tertidur saat merasakan kepalaku mulai pusing"
"Hiks dan saat aku membuka mata aku terkejut melihat dia sudah berdiri di depanku dengan tatapan mata ke arah tubuhku, sontak aku langsung berdiri dan mendorongnya menjauh saat mencium aroma alkohol yang begitu pekat dari tubuhnya"
"Namun sialnya sebelum mencapai pintu, pakaianku lebih dulu ditarik olehnya, aku meronta saat merasakan cengkraman semakin kuat pada lenganku bahkan ia tak segan-segan memukul dan menamparku"
"Setelah berhasil meloloskan diri dengan menyikut perutnya aku langsung melarikan diri dari sana, untungnya pintu apartemen itu tidak dikunci, tak ku sangka dia mengejarku sampai disini"
"Lalu kenapa dia mengatakan akan membawamu ke London?" Tanya Nazwa penasaran saat mendengar ucapan pria itu
"Dia dia hiks ingin aku bekerja di salah satu club malam milik sahabatnya" ucap Bianca dengan tangis tersedu-sedu
Nazwa memeluk dan mengusap punggung sahabatnua itu untuk memberikan ketenanangan, jujur saja ia sangat terkejut mendengar penuturan Bianca, jika terlambat sedikit saja entah apa yang akan terjadi padanya
"Sttt tenangkan dirimu, yang penting sekarang kau sudah bebas darinya"
Setelah terdiam cukup lama, suasana dalam ruangan hening, hanya terdengar suara dentingan jam dinding yang berganti angka demi angka akhirnya Bianca kembali membuka suara yang membuat Nazwa semakin terkejut
"Zahra I want to be a muslim" (Zahra aku ingin menjadi muslim)
.
Maaf ya author baru sempat up setelah ilang sebulan, entah kenapa setiap author punya ide untuk up pasti ada saja halangan seperti kesibukan mendadak, hp error, jaringan bermasalah, paket internet habis dan halangan lainnya
__ADS_1
Terima kasih kepada teman-teman yang masih setia nunggu update dari author, sekali lagi author minta maaf teman-teman...🙏🙏🙏