Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Juara


__ADS_3

Matahari sudah nampak terbenam di ufuk barat, cahaya jingga nya begitu memanjakan mata, suara kicauan burung bernyanyi saat pulang ke rumah setelah seharian berterbangan kesana-kemari mencari makan untuk menghidupi diri nya, suara Al-qur'an yang mengalun merdu membuat hati terasa tenang


Malam ini malam menegangkan untuk para santri yang mengikuti lomba karena malam ini adalah penentuan pemenang lomba


"anti ngapain mondar-mandir kayak setrikaan disitu Nad, pusing ana liatnya, kayak nggak ada kerjaan lain aja"


"ana setrikaan, eh maksudnya ana gugup Naz, malam ini malam ini malam ini hari pengumuman juara" pekik Nadifa membuat Hana membekap mulut sahabatnya itu


"mmpph mmphh"


"uekkkk tangan anti bau terasi Han cuihh" Nadifa mengusap kasar mukutnya yang dibekap Hana


"makanya anti diam, jangan teriak-teriak nggak jelas, Nazwa aja yang ikut banyak lomba diam aja, lah anti cuma ikut satu lomba aja hebohnya kayak ayam"


"kok ayam?"


"bertelur satu biji heboh satu kampung"


"tapi kan ana nggak bertelur Han" jawab Nadifa dengan polosnya


"Nadifa sayang maksud Hana itu perumpamaan oke, kita juga tau kalau anti itu nggak bertelur justru kalau bertelur itu yang perlu di pertanya kan" jelas Nazwa dengan sesabar mungkin agar tak kelepasan mengumpat sahabat yang kelewatan polos itu


"udah kok pada bahas telur ayam sih, sekarang cepat ke masjid tuh denger dah mulai sholawat bentar lagi Adzan" ucap Salwa yang selalu menjadi penengah di antara temen nya itu


"na'am"


🌒✨🌒✨🌒


Malam ini malam yang ditunggu-tunggu para santri, dinginnya udara malam terkalahkan oleh dinginnya tangan para santri yang gugup menunggu hasil lomba


Apakah mereka menang atau kalah, apakah perjuangan dan latihan selama ini terbayarkan atau justru sabar dan menanti kesempatan kedua, apakah yang didengar ucapan selamat atau justru nasihat kekalahan adalah kemenangan yang tertunda dan terus untuk bersemangat


Panggung sudah dihias sedemikian mungkin, lampu kelap-kelip yang berwarna-warni serta jejeran piala dan kado berbagai macam ukuran telah nampak diatas meja untuk siap dibagikan kepada peserta lomba sesuai juara masing-masing


Entah kenapa dan bagaimana Nazwa dan para sahabatnya lebih memilih untuk duduk seperti biasa di kursi paling belakang, tempat yang cukup gelap dan cukup sepi dari hingar bingar para santri


"huhh kursi paling belakang emang paling nyaman" ucap Nazwa merentangkan kedua tangannya ke atas


"ya begitulah di belakang biasanya paling banyak setan nya maka nya cepet ngantuk" ucap seseorang dari arah belakang, membuat mereka berempat berjengkit kaget


"Gus Rayhan???"


"ngapain kalian lebih mikih duduk dibelakang, paling pojok, paling gelap, paling..."


"paling nyaman" sambung Nazwa


"paling banyak setan" jawab Gus Rayhan dengan tampang datarnya mendengar jawaban Nazwa


"kursi di depan udah penuh ustadzah eh maksudnya Gus" ucap Nadifa memukul pelan mulitnya membuat temannya yang lain cekikikan


"penuh? nah terus itu apa?"tunjuknya pada beberapa deret kursi kosong di tengah para santriwati yang entah mengapa tak diisi mereka lebih memilih mengisi di kursi paling depan dan paling belakang


"tadi kayaknya ada kok yang duduk disana Gus" jawab Hana

__ADS_1


"mana ada, atau jangan-jangan..."


"jangan-jangan apa Gus?" tanya Salwa ikutan kepo


"kalian mempunyai indra ke sembilan yang mampu melihat makhluk tak kasat mata"


"Gus Rayhan kayaknya kebanyakan nonton anime deh, yang banyak hewan berekor sembilan, padahal seharusnya indra ke enam" jawab Nazwa sambil menekan setiap katanya


"udah pokoknya itu, mau indra ke sepuluh atau dua puluh pokoknya cepet maju, nggak ada bantahan sebelum kalian saya seret"


"iya-iya ini juga maju ustadz"


"Nad, ngapain anti angkat-angkat kursi?" bingung Nazwa melihat sahabatnya yang satu itu


"Kan buat duduk" jawabnya dengan tampang tanpa dosa


"astaga urat nadi, tolong jangan jadi orang yang suka merepotkan diri sendiri"


"Nadifa disanakan udah ada kursi jadi nggak perlu anti bawa kursi lagi" ucap Salwa dengan sabar menjelaskan sedangkan Gus Rayhan hanya menjadi penonton drama empat sahabat di depannya itu


"cepat pindah jangan kebanyakan bercanda kalian" ucapnya tegas membuat mereka berempat langsung maju mengambil tempat di kursi tengah


"cek cek cek bismillahirrohmanirrohim, Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrakatuh" terdengar suara mc mulai membuka acara di atas panggung


"Wa'alaikumusalam warrohmatullohi wabarrokatuh"


"malam ini adalah malam yang kita nantikan bersama yaitu malam penutupan sekaligus pembagian hadiah para juara"


Mendengar nama ayahnya disebut sontak Nazwa langsung mengedarkan pandangannya ke arah depan, namun terlihat kurang jelas karena posisi duduknya yang membelakangi


"anti liat apa Naz?" bisik Salwa yang duduk di samping Nazwa


"eh Han tadi bener nggak nyebutnya pak Wiraguna?"


"kayaknya bener deh"


"eh itu kan nama ayah anti Naz" ucap Salwa yang tiba-tiba teringat membuat Nazwa mengangguk sebagai jawaban


"iya"


"kalian berdua ngomongin apa sih?" bisik Hana disebelah Salwa


"kayaknya yang di depan ayah Nazwa deh"


"owwh iya, ana mikirnya juga gitu soalnya nama sama" ucap Nadifa ikut nimbrung


"tumben anti nggak lemot"


plukkk


"ish sakit" Hana meringis memegang kepalanya yang dipukul pelan oleh Nadifa


"inilah saat yang kita tunggu-tunggu bersama yakni pengumuman pemenang lomba"

__ADS_1


MC mulai membacakan nama setiap pemenang dari masing-masing lomba, hingga tiba saat pengumuman lomba tilawah, tahfidz dan pidato tingkat Aliyah untuk santriwati


Lomba tahfidz, tilawah, pidato Nazwa mendapatkan juara satu, dewan juri mengagumi suara nya, fasih bacaannya dan makhkrijul hurufnya tepat, serta memuji tema pidatonya yang menarik dan penyampaian yang bagus, saat pengambilan piala naik ke atas panggung ia bisa melihat dengan jelas kalau memang benar orang yang disebut tadi ialah ayahnya yang juga datang dengan ibunya, dua orang yang ia rindukan selama di ponpes satu bulan ini


Senyumannya mengembang diikuti air mata yang menetes dari matanya yang segera ia usap antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu saat ia bertemu orang tuanya dan membuktikan kalau ia juga bisa dan tak kalah dengan santri lain


Para santri dan tamu yang bertepuk tangan sekaligus kagum dengan dirinya yang mampu mendapat juara satu di tiga mata lomba sekaligus, ayahnya mengacungkan jempol ke arah putrinya sambil memberi isyarat yang hanya bisa dimengerti mereka berdua


Orang tuanya meneteskan air mata haru sekaligus bangga dengan putri kecil mereka yang kini tak pernah disangka adalah seorang penghafal dengan suara yang begitu merdu


"saatnya lomba yang ditunggu-tunggu, lomba musik islami"


Juara tiga dan dua sudah dibacakan membuat semangat Hana, Nadifa, dan Salwa sedikit menurun


"eh kok pada lemes gini, tadi semangat banget" ucap Nazwa heran melihat temannya yang nampak lesu


"ana nggak percaya diri kita bakal dapat juara satu Naz, ana pikir kita dapat juara tiga atau dua soalnya masih banyak santriwati yang lebih baik dari kita" jawab Hana diangguki Salwa dan Nadifa


"udah, yang penting percaya diri aja, jangan patah semangat yakinlah kalau kita bisa ngalahin mereka" ucap Nazwa menyemangati sahabatnya


"Juara satu untuk lomba musik islami tingkat Aliyah dari Santriwati dimenangkan oleh... grup Al-Miftah dengan persembahan luar biasa kisah palestina"


Nazwa dan ketiga temannya malah melongo, reaksi mereka biasa saja saat nama grup mereka disebut hingga Fitri yang berada disebelah mereka menepuk pundak Hana


"kok bengong sih, udah sana cepetan naik ke atas panggung" ucapan Fitri membuat Hana tersadar


"kita menang kita menang kita menang"


Mereka berempat bersorak dan saling berpelukan hingga menjadi perhatian beberapa santri yang lain


"untuk pemenang silahkan naik ke atas panggung" ucap mc membuat mereka tersadar dan segera melepaskan pelukan mereka untuk bergandengan tangan ke atas panggung, diantara pemenang lainnya grup mereka lah yang paling sedikit, yang lain terdiri dari dua belas bahkan dua puluh orang jadi hanya beberapa orang yang naik ke panggung sebagai perwakilan


"ana nggak nyangka banget Naz kita bisa menang" ucap Hana saat mereka sudah turun dari panggung


"Alhamdulillah"


"Naz jangan lupa traktiran nya ya"


"iya Naz, anti kan dapat juara paling banyak"


"siip tenang, itu bisa diurus"


"yeyyy besok kita makan-makan sepuasnya" teriak Nadifa membuat Hana dengan cepat membekap mulutnya


"teriaknya nanti aja, ini masih acara malu tau diliatin sama yang lain" bisik di telinga Nadifa saat menyadari tatapan para santri ke arah mereka


.


.


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2