Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Lembaran Baru


__ADS_3

Hidup tak selamanya bahagia, namun tak selamanya juga dalam kesedihan, ibarat pelangi yang muncul setelah hujan, namun ingatlah kalau pelangi tak akan abadi


Tahun telah berganti, sudah dua tahun lamanya sejak kejadian tenggelamnya pesawat 278xxx, Diantara 90 orang penumpang pesawat termasuk kru, hanya 40 orang yang berhasil selamat, sedangkan 24 orang tewas dan sisanya dinyatakan hilang. Perairan tempat jatuhnya pesawat masih terbilang perairan dangkal, namun gelombang laut yang tinggi membuat tim evakuasi kesulitan menemukan korban pesawat


Kenangan masih ada, namun waktu terus berjalan dan hidup harus terus berlanjut, berusaha melupakan bayang-bayang masa lalu dan memulai lembaran baru dengan hidup yang harus lebih baik lagi


Peristiwa dua tahun lalu, menjadi sejarah yang tak akan pernah dilupakan dan terus diingat terutama bagi keluarga korban pesawat tersebut, salah satunya keluarga Dinata


Setelah hampir dua minggu dilakukan proses pencarian, akhirnya proses tersebut resmi di hentikan dan para keluarga korban harus ikhlas melepas kepergian keluarga mereka


Setelah dua bulan kejadian tersebut, keluarga Dinata kembali diguncang dengan meninggalnya Kedua orang tua pak wiraguna yang menambah luka di keluarga tersebut, Setelah satu bulan dirawat dirumah sakit akibat penyakit jantung yang dideritanya apalagi mendengar kabar kehilangan cucunya, kakek menghembuskan nafas terakhir disana dan seperti cinta yang abadi selang beberapa menit setelah itu nenek pun meninggal di samping suaminya


🌿🌿🌿🌿


"Ayah ada undangan dari ponpes" Satria datang menyerahkan undangan berhiaskan gambar bunga di pinggirnya dan dilapisi plastik bening mengkilat


"undangan dari siapa yah?" tanya ibu sambil meletakkan secangkir teh hangat didepan suaminya


"Gus Rayhan" ucap ayah, ibu tak terlalu terkejut mendengarnya karena beberapa hari yang lalu mereka juga pernah membahasnya sepulang ayah dari ponpes


"Dengan siapa Gus Rayhan menikah?"


"Namanya Aisyah, anak teman Pak Kyai" jawab ayah setelah melihat undangan tersebut


"Semoga ia bisa bahagia dengan pasangannya" ucap ibu tulus, namun setelah itu sebulir bening jatuh dari pelupuk matanya kala mengingat ucapan putrinya


"ingat juga nak jangan jadi orang yang sombong seberapapun tingginya derajat kita di dunia ini itu hanya bersifat sementara dan juga dengarkan kata hatimu, setiap orang di dunia ini diciptakan dalam keadaan yang berpasang-pasangan"


"tapi kata ustadzah di ponpes, kalau nggak ketemu pasangan di dunia artinya di surga" jawaban Nazwa membuat ayah dan ibunya menoleh kearahnya dengan cepat


"kenapa ngomong gitu?" tanya ibunya


"emang ucapan Nazwa salah?"


"nggak salah, tapi jangan suka ngomong sembarangan kayak tadi"

__ADS_1


"tapi benar kan bu, toh kita juga tak tau kapan ajal datang menjemput, ajal kan tidak mengenal umur, siapa tau besok, atau mungkin satu tahun lagi Nazwa meninggal kan nggak ada yang tahu"


"udah jangan pada ngomongin mati sekarang, lagi liburan malah bahas hal kayak gitu" ucap ayahnya dengan tegas


"hehehe ampun yah" ucap Nazwa cengir


Ucapan Nazwa saat itu masih terekam dengan jelas dalam ingatan, ia mengatakan hal itu dengan biasa saja tapi siapa sangka hal itu menjadi kenyataan


"Besok temenin ayah kesana ya bu"


ucap ayah dan dibalas anggukan oleh ibunya sambil mengusap sudut matanya yang berair


"Ibu masih penasaran sampai sekarang, apa yang membuat ayah dulu memilih Gus Rayhan sebagai pasangan Nazwa?" tanya ibunya karena hingga kini ia masih penasaran dengan alasan suaminya padahal ia cukup tau kedekatan putrinya dengan Gus Fatih


"Hahhh, setiap ayah ke ponpes bertemu Pak Kyai, ayah sering melihat Gus Fatih diikuti wanita yang sepertinya memiliki ketertarikan padanya"


"siapa?"


"kalau tidak salah namanya Khumairo, anak teman pak kyai"


"dia bersikap acuh dan menjaga jarak selayaknya peraturan ponpes, ayah pikir saat itu, sebaiknya Nazwa bersama Gus Rayhan, karena sebaik-baiknya wanita jika lebih mementingkan perasaan tanpa berfikir terlebih dahulu akibatnya akan fatal, tapi ayah salah ternyata beberapa minggu yang lalu, ayah mendapat undangan pernikahan Khumairo dengan teman kuliahnya dari Al-Azhar"


"Jadikan pelajaran yah, jangan melihat hanya dari satu sisi saja"


🌾🌾🌾🌾


Ribuan santri sudah berbaris rapi dengan baju putih dan sarung batik hitam yang terlihat begitu indah, menyambut kedatangan salah satu putra mahkota pesantren yang akan melangsungkan akad suci hari ini


Jejeran mobil dan sepeda motor memenuhi area parkir ponpes, halaman yang begitu luas sudah dipenuhi kursi-kursi dan hiasan yang dibuat sedemikian rupa untuk menyambut hari yang bahagia bagi pemilik ponpes


"Pernikahan adalah ikatan suci antara laki-laki dan perempuan. Pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup, bukan satu tahun, dua tahun atau sepuluh tahun tapi selamanya. Pernikahan memang perlu didasari rasa cinta namun jika rasa itu belum ada pada dirimu belajarlah untuk menumbuhkannya pada istrimu, cinta bisa datang karena terbiasa. Belajarlah untuk membuka lembaran baru dari peristiwa yang engkau alami sebelumnya, jadikan itu sebagai pelajaran mungkin ia bukan jodohmu"


Seorang laki-laki berpakaian putih khas baju pengantin yang sebentar lagi akan melepas gelar lajangnya berdiri di depan jendela, dapat terlihat dengan jelas dari sana banyaknya para tamu undangan yang hadir dalam acara pernikahan tersebut


"Ini pilihan Allah yang terbaik, benar kata abi kita bukan jodoh" ucapnya sendu

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pepohonan yang dulu berbaris rapi dengan begitu rimbun mulai berkurang akibat tangan-tangan manusia, jalanan yang dulu hanya tanah dan bebatuan kini berlapis aspal hitam, perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu


"kayaknya acaranya udah mulai yah, liat deh udah banyak yang dateng" ucap Bu Ida saat baru keluar dari mobil dan memperhatikan banyaknya kendaraan yang sudah terparkir rapi disana


"ini masih jam delapan lewat tujuh belas menit bu, acara mulai jam setengah sembilan, mungkin tamu yang dari jauh sengaja datang lebih awal"


"mungkin juga"


"Syifa harus deket nenek ya, nggak boleh pergi jauh-jauh, disini banyak orang jangan sampai kamu ilang nanti" peringat Bu Ida kepada cucu perempuannya atau anak kedua Satria yang masih berusia tiga tahun dan hanya dibalas anggukan oleh bocah kecil tersebut. Satria dan Andin tak dapat hadir karena menghadiri acara perpisahan yang diselengarakan di sekolah Ardi, putra pertama mereka.


dukkkk


"maaf pak, bu, saya tidak sengaja" terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun yang tak sengaja menabrak pak wiraguna karena terus berlari, dilihat dari pakaian yang dikenakannya ia adalah santri dari ponpes ini


"nggak papa, lain kali jangan lari-lari disekitar sini, bahaya nanti kamu terluka, disini bukan tempat bermain"


"iya pak" jawab anak tersebut menunduk


"Zikri, sudah kak Zahra bilang jangan lari-lari, tungguin kakak dulu" terdengar suara gadis menasihati anak tersebut membuat kedua orang tua yang baru saja berjalan itu menghentikan langkah mereka. Suara yang sudah lama tak mereka dengar, suara yang mereka rindukan, suara yang dulu hilang kini kembali, apakah ini hanya kebetulan? atau memang kenyataan?


Saat berbalik setetes air bening jatuh dari pelupuk mata tanpa diperintah, perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu, apakah ini nyata?


"Nazwa" ucap Bu Ida pada gadis tersebut, membuat gadis tersebut melihat kearah orang yang baru saja memanggil namanya


"Siapa ya?"


.


Banyak Typo...πŸ™πŸ™πŸ™


Maaf kalau alurnya nggak nyambung...πŸ™


Di tunggu up besok lagi ya...πŸ–πŸ–πŸ–

__ADS_1


__ADS_2