
"ASTAGAGFIRULLOHALADZIM SAL" teriak Nazwa membuat Salwa terkejut
"ada apa Naz?"
"penyakit motor kang ujang kambuh lagi" ucap Nazwa sambil terus menstater motor astrea tua tersebut yang tak kunjung menyala
"loh tadi kang ujang kan udah diperbaiki kok bisa gini lagi" ucap Salwa frustasi
"Bismillahirrohmanirohim" Nazwa menstater motor tua tersebut untuk yang kesekian kalinya hingga akhirnya motor tua tersebut bisa kembali menyala
"ayo buruan naik Sal, disini sepi banget" ucap Nazwa melihat sekitarnya tak ada lampu yang menyala disekitar mereka karena jarak rumah penduduk yang bisa dibilang cukup jauh
Suara knalpot motor tua tersebut menghiasi keheningan malam dengan cahaya lampunya yang mulai redup termakan usia membuat Nazwa harus ekstra hati-hati agar tidak menabrak, suara lolongan anjing dan binatang malam lainnya mulai terdengar membuat Nazwa mengeratkan pegangannya pada stang motor
Saat sampai di persimpangan pohon bambu Nazwa dikejutkan dengan dua orang pria bertubuh kekar yang mengacungkan golok kearah mereka dengan cepat Nazwa menekan rem motor tua tersebut
"kalian angkat tangan" ucap salah satu dari mereka sambil mengarahkan goloknya ke arah Nazwa dan Salwa
"ada apa pak?" tanya Nazwa tanpa rasa takut sedikitpun
"serahkan motor kalian dan barang berharga yang kalian punya sekarang juga" ucap yang ukuran tubuhnya lebih kecil
"oh kalian begal ya?" dengan bodohnya Nazwa sempat bertanya
"kau ini masih kecil jangan sok tau jadi anak cepat serahkan motor kalian agar kalian selamat"
"maaf ya pak, motor ini bukan punya saya, lagian apa untungnya kalian ngambil motor ini, motor udah tua, rusak kalau dijual ngga ada harganya"
"betul juga bos motor inikan udah tua kalau kita jual nggak untung kita bos" bisik begal yang kurus kepada begal yang badannya lebih besar
"bodo amat yang penting kita dapat uang, bisa jatuh harga diri kita sebagai begal kalau kita biarin mereka berdua lolos" bisiknya
"jadi gimana pak? kalian nggak ada untungnya ngambil motor ini" ucap Nazwa lagi
"kami tidak peduli cepat serahkan motor itu"
"kalau saya tidak mau gimana pak?" tanya Nazwa
"banyak omong ni anak, cepat serang saja" ucap bos begal yang sudah emosi
"Naz ayo kita lari aja Naz, ana takut" ucap Salwa dibelakang tubuh Nazwa sambil memegang erat lengan Nazwa
"anti tenang aja Sal, minta pertolongan pada Allah semoga kita selamat" jawab Nazwa menenangkan Salwa
"ayo serang saja saya tidak takut kepada kalian saya hanya takut pada Allah"
"Bismillahirrohmanirrohim"
bugh
bugh
plak
srek
terdengar perkelahian di persimpangan tersebut Nazwa terus berusaha menangkis serangan golok yang diarahkan begal tersebut, berkali-kali suara golok bergesekan dengan bebatuan jalan menciptakan suara nyaring yang membuat telinga sakit mendengarnya
"Naz ana takut" memgang ujung baju Nazwa
"jangan takut sal" ucap Nazwa sambil masih menyerang begal tersebut dengan kakinya
"sial kuat juga nih bocah" ucap bos begal tersebut mengatur nafasnya dan merasakan sakit dibagian dadanya karena ditendang Nazwa, melihat anak buahnya yang sudah mulai babak belur ia langsung mengambil golok yang tadi sempat terjatuh dan
srek
ia mengarahkan golok tersebut kearah Nazwa dan mengenai lengan Nazwa hingga membuat luka yang cukup dalam, darah mengalir deras dari lengan Nazwa membuat Salwa semakin panik
"astagfirullohalladzim Naz"
melihat Nazwa yang sedikit kehilangan fokus pada lukanya begal dengan perawakan lebih kurus tersebut langsung menendang Nazwa hingga membuat kepala Nazwa terbentur cukup keras pada bebatuan tajam di persimpangan jalan tersebut
"Astagfirullohaladzim Naz" ucap Salwa membantu Nazwa berdiri namun punggungnya langsung di tendang oleh bos begal membuat Salwa ikut tersungkur
__ADS_1
"kurang ajar" teriak Nazwa dengan amarah yang sudah memuncak, dengan cepat ia bangun sambil meringis menahan sakit dibagian lengannya yang sudah kehilangan cukup darah.
Hahahaha
kedua begal tersebut tertawa puas melihat Nazwa yang berusaha bangkit
Nazwa yang sudah emosi langsung menyerang kedua begal tersebut yang masih tertawa puas dengan membabi buta bahkan rok yang dikenakan pun sudah robek untungnya ia memakai celana panjang baju yang tadi bersih sekarang sudah sangat kotor tercampur dengan tanah yang becek akibat hujan
bugh
bugh
bugh
kedua begal itu tersungkur ke tanah dengan merasakan sakit di sekujur tubuh mereka akibat serangan mendadak yang dilakukan Nazwa, Nazwa tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan cepat ia langsung menghampiri salwa yang sudah berdiri di dekat motor
"anti tak apa-apa Sal?" tanya Nazwa khawatir
"punggung ana sedikit sakit Naz" ringis Salwa
"ayo kita cepat pergi Sal, sebelum mereka ngejar kita lagi" ucap Nazwa menstater motornya
"anti masih bisa bawa motor Naz?, lengan anti kan luka" ucap Salwa khawatir
"udah nggak papa ayo cepat naik Sal"
Nazwa bersyukur karena motor astrea tua tersebut langsung bisa dinyalakan dengan cepat ia langsung menjalankannya dengan kecepatan tinggi hingga suara berisik kenalpot motor tersebut meramaikan suasana antara magrib dengan isya di area persawahan desa, lampu motor yang tadi redup kini terlihat lebih terang, udara dingin terasa menusuk kulit, angin yang berhembus cukup kencang ditambah dengan darah yang masih mengalir dilengannya membuat Nazwa meringis menahan sakit dan semakin memperat pegangannya pada stang motor yang dingin. Nazwa tidak kembali ke pesantren melainkan kerumah kakeknya karena tak tahan dengan udara yang semakin dingin, kalau lanjut kepesantren ia pastikan dirinya pingsan ditengah jalan
"loh kok kita kesini Naz?" tanya Salwa bingung sambil memegang punggungnya yang terasa sakit
"kita kerumah kakek ana dulu ya Sal, kalau kita kembali ke pesantren sekarang pasti mereka banyak tanya sama kita" jawab Nazwa diangguki oleh Salwa
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" terdengar suara wanita paruh baya menjawab salam dari dalam rumah
ceklek
"Astagfirullohaladzim" ia terjingkat kaget saat melihat Nazwa dan Salwa berdiri di depan pintu apalagi Nazwa dengan luka dikepalanya akibat benturan batu tajam dan darah yang masih mengalir di lengannya, pakaian yang kotor dan wajah yang pucat pasi
"Astagfirullohaladzim" ucapnya mengelus dada
"Nazwa???" tanya neneknya bingung, ia masih bisa mengenali sedikit wajah cucu kesayangannya walaupun dipenuhi oleh lumpur
"iya nek ini Nazwa, diluar dingin kita nggak dikasih masuk?" tanya Nazwa dengan bibir bergetar menahan dingin
"astagfirulloh cucu kakek kenapa bisa seperti ini? kamu kenapa? habis kemana? kok nggak di pesantren? atau jangan-jangan kamu kabur dari pesantren" Nazwa langsung diserbu berbagai macam pertanyaan oleh kakeknya saat ia mendudukkan dirinya dikursi rotan yang ada di ruang tamu
"astagfirulloh kakek biarin Nazwa bersihin diri dulu, kasihan dia masih kedinginan"
"Nazwa ajak temanmu kekamar, nenek udah siapin air hangat baju-baju kamu juga masih ada di lemari entar kesini nenek obati lukanya" ucap neneknya di angguki Nazwa
"Nazwa kakek nenek anti baik banget" ucap salwa sambil menyisir rambutnya setelah mereka berdua selesai mandi dan sholat isya
"dia memang seperti itu Sal, oh ya punggung anti masih sakit?"
"udah enggak kok tapi lengan anti gimana Naz? kepala anti juga luka" ucap salwa melihat Nazwa dengan tangannya yang di perban dan kepalanya yang terluka akibat terkena batu tajam
"nggak papa kok cuma luka kecil" jawab Nazwa santai
"Nazwa ayo ajak temenmu makan" ucap neneknya memasuki kamar Nazwa
"iya nek"
"ayo sal kita makan dulu"
πΊπΊπΊπΊπΊ
Hujan deras kembali turun setelah isya, udara dingin semakin terasa, Nazwa dan Salwa sedang duduk diruang tamu menikmati secangkir teh hangat dan ubi manis rebus sedangkan kakek dan neneknya lebih memilihi duduk di teras luar
"Sal malam ini kita nginep disini aja ya"
"Terus dipesantren gimana? ustadzah, Nadifa, Salwa dan teman-teman lain pasti khawatir" ucap salwa sambil meneguk teh hangat dari cangkir
__ADS_1
"oh iya anti bener Naz ana lupa, sebentar ana telpon dulu" ucap Nazwa menuju telepon sederhana diatas meja
"sebentar ana kan nggak hafal nomor ustadzah" ucap Nazwa
"telpon nomor pesantren aja Naz" ucap Salwa
"ana juga nggak hafal, anti hafal Sal?" tanya Nazwa dibalas anggukan oleh Salwa
tut
tut
tut
suara telepon tersambung
"Halo Assalamu'alaikum ini pesantren Nurul Hikmah" terdengar suara seorang pria dari seberang telepon
"Wa'alaikumussalam, ustadzah fathia ada gus?" tanya Nazwa yang sudah mengenali suara tersebut
"Halo siapa ya?"
"ini Nazwa ustadzah"
"NAZWA" terdengar suara teriakan ustadzah Fathia dari seberang telepon
"anti dimana sekarang? anti nggak papa? anti pergi kemana aja kok nggak balik ponpes?" bertubi-tubi pertanyaan langsung dilontarkan ustadzah fathia juga terdengar suara heboh di sekitarnya
"Nazwa nggak papa kok ustadzah, Nazwa sama Salwa lagi dirumah kakek ana, malam ini kita nginep disini ustadzah soalnya hujan besok pagi kita balik ke ponpes" ucap Nazwa
"Alhamdulillah syukurlah kalau anti baik-baik saja, ustadzah khawatir dari tadi Hana sama Nadifa juga nyariin kalian dari tadi"
"kita nggak papa kok ustadzah kalau gitu kita obat mmm maksudnya makan dulu ya ustadzah, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumusalam"
"huh...hampir saja ana keceplosan bilang obati luka bisa-bisa ustadzah tambah khawatir"
"besok aja kita ceritainnya pas kembali keponpes" ucap Salwa
"jadi ini gimana ceritanya kalian berdua bisa luka kayak gini terus kamu Nazwa luka di tangan kamu panjang banget" ucap kakeknya duduk mengintograsi mereka berdua
Nazwa mulai menceritakan mulai dari mengantar undangan, kehujanan, sholat di pos kamling, dan mereka berdua dihadang oleh begal dipersimapangan jalan
"jadi gitu ceritanya kek, begal itu ngangkat goloknya terus lengan Nazwa kena" jelas Nazwa sambil memperlihatkan lukanya dari atas siku
"untung luka kamu nggak sampai dijahit, harus sering-sering ganti perban biar nggak infeksi, jangan lupa olesi minyak obat yang kakek kasih biar cepet kering"
"nenek sama kakek jangan beritahu ayah ya nanti dia marah"
"iya tenang aja"
"terus nak Salwa nggak kenapa-napa?" tanya nenek
"enggak kok nek cuma sakit punggung aja sedikit"
"kek kok bisa ya ada begal disana?"
"ya namanya juga manusia Naz, ini masa-masa sulit mereka akan melakukan berbagai macam cara agar bisa bertahan hidup sekalipun itu dengan cara yang tidak baik, tindakan ini harus kakek laporin ke pak kades agar penerangan di daerah sana juga di perbanyak agar orang-orang tidak takut kalau lewat malam hari"
"terus motor kang ujang gimana? nggak kenapa-napa kan kek?"
"nggak papa masih bisa nyala"
"udah sana kalian berdua tidur biar cepet bangun besok pagi-pagi" ucap nenek pada mereka berdua
π·π·π·π·π·
.
.
.
__ADS_1
Banyak typo ππππ