
"apa itu sudah keputusan terbaik untuk Nazwa yah?" tanya Ibu Nazwa pada ayah yang kini sedang duduk di ruang tamu
"Dia sendiri mengatakan pada ayah, kalau keputusan ada di tangan ayah, jadi ayah pilih Gus Rayhan untuknya"
"apa ayah mengerti bagaimana perasaan Nazwa? maksud ku hatinya, apakah ayah pernah mendengar ia bilang kalau ia mencintai seseorang?" Pertanyaan yang dilontarakan ibu membuat ayah diam saja
"Nazwa mungkin mengatakan begitu karena tak enak menolak salah satu diantara mereka, karena itu dia menyerahkan semua keputusan pada ayah"
"ia tak memikirkan hatinya tapi memikirkan hati orang lain, ia harus belajar mencintai dan melupakan disaat yang sama, apa Nazwa bisa yah?"
"Ingat bu, mereka sudah dewasa bukan lagi anak sekolah yang nangis karena diputusin pacar, jika mereka sudah dewasa tentu mereka akan mengerti hal seperti itu tanpa perlu di jelaskan lagi" ucapan ayahnya tegas, karena memang pada dasarnya laki-laki lebih banyak menggunakan otak untuk berfikir dibanding perempuan yang menggunakan hati, hingga ia menjadi sensitif dengan perasaan
"Keputusan..."
"Selamat siang permisa, Pesawat 278 Xxx dinyatakan hilang kontak siang ini, pesawat dengan penerbangan Inggris Indonesia dinyatakan hilang kontak di salah satu perairan Xxx di Indonesia, pesawat 278 Xxx yang mengangkut sekitar 90 penumpang termasuk kru pesawat ini diperkirakan jatuh akibat badai yang tak diduga muncul di samudra pasifik hingga menyebabkan pesawat hilang kendali"
Terdengar suara reporter menyiarkan acara di televisi membuat sepasang suami istri itu terkejut bukan main
"Nazwa!!!" teriak mereka histeris, karena itu adalah pesawat yang di tumpangi putri mereka
"ada apa yah?" tanya Satria menuruni tangga dengan tergesa-gesa karena terkejut mendengar teriakan orang tuanya
"hiks hiks hiks Nazwa" Satria terkejut bukan main saat mendengar berita di televisi yang menyiarkan jatuhnya pesawat yang di tumpangi adiknya
"Dek..." ucap Satria lirih, ia terduduk lemas karena kakinya tak mampu menopang berat badannya, sedangkan sang istri Andin, berusaha menenangkan suaminya. Harusnya hari ini adalah hari bahagia mereka karena setelah kurang lebih enam tahun menempuh pendidikan kedokteran di Oxford akhirnya ia pulang dan tinggal di kampung halamannya
"Ayah ayo kita ke sana sekarang, Satria yakin Nazwa pasti bisa selamat" ucap Satria segera berdiri
dan diikuti ayahnya
"Ibu ikut" ucap ibunya juga segera berdiri
__ADS_1
"Ayo cepat"
"Andin kamu diam disini ya, kasian Ardi kalau ikut kesana" ucap Satroa mengelus kepala istrinya
"Hati-hati" ucapnya pelan
"Doain adikmu semoga baik-baik saja" ucap ibu mengelus kepala menantunya
"pasti bu"
✈✈✈✈✈
Lokasi penanganan korban pesawat sudah di penuhi oleh suara tangisan keluarga korban, bahkan terlihat petugas keamanan dan para medis yang berusaha menenagkan keluarga yang panik bahkan ada yang sampai pingsan
Satria dan kedua orang tuanya segera masuk ke dalam tenda darurat yang telah di sediakan untuk memberikan korban pertolongan pertama sebelum akhirnya di bawa kerumah sakit untuk penanganan lebih lanjut
Di perhatikannya satu per satu wajah korban tersebut yang terbaring lemah dan siap dibawa menggunakan ambulans
"Nazwa?"
"Nazwa dimana yah?" tanya Ibu dengan suara bergetar saat tak menemukan wajah putrinya diantara korban yang berhasil selamat
"Sabar buk, do'a kan saja semoga Nazwa baik-baik saja" ucap ayah berusaha menenangkan Ibu, walau ia sendiri masih terguncang akibat peristiwa ini, namun jika bukan dirinya siapa lagi yang akan menenangkan istrinya?
"Permisi pak, apa bapak melihat seorang gadis berusia dua puluh tahunan salah satu korban pesawat?" tanya Satria pada salah satu petugas medis yang ada disana
"Coba periksa ruangan jenazah pak, kalau tidak salah tadi ada korban perempuan sekitar dua puluhan yang tak berhasil diselamatkan"
Mendengar hal itu tubuh mereka menegang, dari tadi mereka hanya memeriksa ruangan korban selamat namun tak pernah terpikirkan oleh mereka ke ruangan jenazah, karena mereka yakin kalau Nazwa pasti selamat
Dibukanya satu persatu kain putih yang menutupi sekitar empat korban pesawat yang ditemukan tewas dengan tangan gemetar oleh Satria, ia yakin bahkan sangat yakin kalau Nazwa pasti selamat
__ADS_1
"Bukan Nazwa" ucapnya pada kedua orang tuanya saat tutup putih jenazah terakhir dibuka
"Tenang bu, Nazwa wanita yang kuat, ayah yakin Nazwa pasti selamat"
Hanya berbekal keyakinan dan do'a mereka yakin kalau Nazwa pasti selamat, angin laut bertiup kencang terasa menusuk sampai ke tulang, cahaya rembulan yang bersinar di pantulkan air laut yang jernih, pemandangan yang sangat indah, namun sekarang suasananya tak tepat untuk menikmati suasana ini, yang ada hanya suara tangisan keluarga korban
"Ibu dan Ayah pulang dulu, biar Satria yang disini, kalau ada info selanjutnya pasti Satria hubungi kalian secepatnya" ucap Satria menghampiri orang tuanya yang sedang memandang lautan lepas di depannya
"Apakah adikmu baik-baik saja?" tanya ibu dengan suara lirih nyaris tak terdengar
"Do'a kan saja bu, Satria yakin Nazwa baik-baik saja" ucap Satria berusaha menenangkan kedua orang tuanya walau ia sendiri sedang rapuh saat ini
Salah satu kapal yang bertugas mencari korban kembali, lagi dan lagi Satria terus memeriksa setiap korban yang dibawa kapal tersebut, namun nihil tak ada wajah adik kesayangannya disana, namun ada salah satu benda milik korban yang membuatnya tertarik untuk mendekatinya, 'Jas Putih' dan 'Tas Hitam'
Ia mendekati kedua benda tersebut, Jas tersebut sudah basah kuyup, namun tas hitam tersebut terlihat masih kering karena menggunakan bahan anti air dan hanya basah dibagian resletingnya saja
Satria buka perlahan isi tas tersebut dan benar saja perkiraannya itu adalah milik Nazwa karena ia pernah melihat tas tersebut di apartemen adiknya, didalam tas tersebut terdapat sertifikat kelulusan, piagam, dan beberapa dokumen penting lainnya
Satria terduduk lemas apalagi saat melihat nama yang tertera di bagian depan jas tersebut 'Nazwa Azzahra Dinata' itu adalah milik adiknya, adik kesayangannya yang mempunyai impian tinggi
Satria tak sanggup lagi menahan tangisnya, ia genggam erat jas tersebut dan dipeluk dengan erat seolah itu adalah tubuh adiknya, adik yang begitu disayanginya
@@@@@
Dinding tembok menjadi pemisah dua insan yang sedang merasakan kehilangan, hati mencoba untuk selalu tabah, namun air mata masih membanjiri bahkan sampai turun membasahi sajadah
"Nazwa semoga anti selamat dan selalu dalam lindungan Allah dimanapun anti berada"
"Ingin hatiku menolak, namun siapa yang sanggup menolak takdir Allah, aku tak menyalahkanmu karena itu adalah impianmu namun aku pun tak menyalahkan takdir yang memang sudah terbentuk bahkan sebelum manusia dilahirkan, aku hanya ingin menyalahkan diriku yang belum sanggup dan bahkan tak sanggup untuk kehilanganmu, Nazwa Azzahra ana yakin anti pasti selamat, tak peduli omongan orang diluar sana, tapi dalam hati ana sangat yakin kalau anti pasti selamat"
🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1