
"Nazwa boleh nggak kerja di rumah sakit?" tanya Nazwa dengan menunduk, waktu seakan terhenti saat itu sunyi tak ada yang bersuara hanya suara dedaunan jatuh yang tertiup angin
"kalau nggak boleh--"
"Siapa yang bilang nggak boleh?" tanya Gus Fatih membuat Nazwa segera mendongak menatap wajah suaminya
"Boleh?" tanyanya memastikan sekali lagi
"Boleh, itukan cita-cita dari kecil, selain itu kuliahnya lama banget, sayang dong kalau ilmunya nggak diamalin kan bermanfaat buat banyak orang" jelas Gus Fatih membuat Nazwa segera memeluk suaminya itu
"Makasih Gus, Nazwa kira nggak boleh" Gus Fatih tersenyum melihat respon istrinya, jantungnya berdetak kencang, ia mengelus kepala istrinya yang hanya sebatas lehernya
"Terima kasih Ya Allah, kau telah memberikan dia sebagai jodohku"
.
Bulan bersinar cerah malam itu, jutaan bintang menghiasi langit dengan berbagai rasi bintang yang terbentuk, suara hewan malam seolah menjadi lagu pengantar tidur di kesunyian
"Udah putusin mau di rumah sakit mana?" tanya Gus Fatih melihat Nazwa yang berdiri di depannya, sekarang mereka sedang menikmati keindahan langit malam dengan jendela yang dibiarkan terbuka lebar
"Udah kok, Nazwa nemu rumah sakit yang terdekat dari ponpes biar nggak bolak-balik, sekitar dua puluh lima menit nyampe kok" jawab Nazwa tersenyum manis, namun membuat suaminya bingung padahal tadi pagi istrinya meminta
"Secepat itu?"
"Sebenarnya sih sebelum nikah, Nazwa minta tolong Bang Satria karena kebetulan dia juga punya kenalan dokter disana, nah jadi sebelum itu Nazwa juga udah tes dan Alhamdulillah lulus, tapi Nazwa minta izinnya sekarang karena takut nggak di izinin dan barusan aja Nazwa telpon dan kasih tau kalau Nazwa udah bisa kerja besok" jelas Nazwa membuat Gus Fatih menggeleng dan tersenyum
"Kalau itu sebuah kebaikan kenapa tidak? justru ana bakal selalu dukung selama keputusan itu tidak menuju kepada jalan yang buruk"
"Makasih ya, Nazwa beruntung punya suami yang pengertian banget"
"Semua akan merasa beruntung jika ia berada di pasangan yang tepat, kelebihan atau kekurangannya tak akan pernah menjadi penghalang dalam suatu hubungan karena mereka bisa mengerti pasangan masing-masing"
"Hmm betul"
"Ngomong-ngomong yang tadi siang siapa?" tanya Gus Fatih, suaranya berubah serius
"Owh itu Raka maksudnya?" tanya Nazwa dengan polosnya
"Kenapa disebut lagi?" batin Gus Fatih tak suka
"Na'am"
"Owh itu temennya Nazwa pas masih tinggal di kampung sama Zikri, dia emang gitu tapi Nazwa anggap cuma bercanda, pas di kampung juga dia dikenal tampan dan sholeh jadi saat itu banyak yang iri sama Nazwa"
"Gantengan mana sama hubby?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Gus Fatih membuatnya menunduk sedangkan Nazwa tersenyum mengerti suaminya cemburu
"Masih gantengan hubby kok" jawab Nazwa tersenyum
🍃🍃🍃🍃🍃
Mentari menyambut hari yang cerah, burung-burung berkicauan, embun masih menetes dari dedaunan menciptakan suasana yang begitu segar
__ADS_1
"Udah siap hm?" Tanya Gus Fatih melihat Nazwa dengan pakaian putihnya khas baju dokter
"Siap" Jawab Nazwa semangat
"Semangat kerjanya jangan liat pasien ganteng"
"Kalau nggak diliat gimana cara ngobatinnya, nanti kalau salah gimana?" tanya Nazwa dengan polosnya membuat Gus Fatih mengusap kepalanya yang terbalut jilbab putih
"Udah ayo turun"
tak tak tak
Suara kaki mereka yang menuruni tangga mengalihkan perhatian orang-orang dimeja makan
"Kak Nazwa mau kerja?" tanya Aziz yang mewakilkan pertanyaan banyak orang membuat Nazwa mengangguk dan tersenyum
"Iya, Kak Nazwa kerja"
"Kak Nazwa keren deh pakai baju dokter, Zahid juga mau jadi dokter nanti kalau udah besar" ucap Zahid
"Makanya yang rajin sekolahnya jangan cuma main aja" timpal Ustadzah Fathia
Sedangkan yang lain hanya bisa tersenyum tipis melihat hal itu termasuk Gus Rayhan yang sedang memperbaiki hatinya belajar mencintai istrinya
⚘⚘⚘⚘⚘
Ruangan putih itu tak terlepas dari bau disinfektan, kantung darah, tabung oksigen, jarum suntik, obat-obatan dan peralatan medis lainnya
"Setiap pekerjaan jika dinikmati maka akan terasa lebih ringan, apa yang akan kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan kita, esok ketika sudah diatas masa seperti ini yang akan kita rindukan"
Kata-kata itu yang terus terngiang-ngiang dalam kepalanya sejak kuliah, dimana ia menghadapi masa-masa sulit di semester akhir dalam penyusunan skripsi
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, artinya jam kerja sudah selesai dan mereka sudah di perbolehkan pulang kecuali yang bertugas malam
ting
Sebuah notifikasi masuk di handphone Nazwa membuatnya tersenyum lebar
"Hubby udah diparkiran, masih kerja?"
"sudah selesai"
Nazwa memasukkan benda pipih itu ke dalam tas dan keluar dari ruangannya dengan senyum indah yang masih terpatri di wajahnya
"Nggak pernah masuk ruang jenazah kan bu dokter?" pertanyaan itu lolos dari salah satu dokter perempuan di sebelah ruangan Nazwa, dokter yang menyambut Nazwa begitu semangat seolah baru mempunyai teman
"Nggak, emangnya kenapa Sin?" tanya Nazwa pada temannya yang bernama sinta itu
Sinta menoleh sekeliling
"lo senyum kayak orang kerasukan tau nggak"
__ADS_1
"Apaan sih?"
"Pasti pacar lo udah jemput kan?"
"Suami, gue udah nikah"
"Nggak usah di perjelas kali, gue tau gue jomblo"
"Jodoh itu udah ditangan Allah, santai aja siapa tau besok datang" ucap Nazwa dan mempercepat langkahnya menjauh
"Aamiin"
"Assalamu'alaikum dokter sinta sampai jumpa besok" Nazwa melambaikna tangan di ujung koridor saat melihat sinta masih dibelakang
"Wa'alaikumussalam"
⚘⚘⚘⚘⚘
"Gimana kerjanya?" tanya Gus Fatih saat melihat wajah lelah Nazwa di jok sampingnya
"Lumayan sih, tapi Nazwa seneng banget, entah kenapa saat liat wajah pasien pingin sembuh tuh buat Nazwa semangat"
"Mau jalan-jalan dulu?" tanya Gus Fatih menawarkan
Nazwa melihat penampilan suaminya dengan celana hitam, kaos hitam polos dan jaket, tak seperti biasa yang selalu memakai sarung dan baju koko
"Emm, emang boleh?"
"Apa sih yang nggak boleh?"
"Makasih hubby" ucap Nazwa senang, karena ini pertama kalinya mereka jalan berdua, dulu tak mungkin bisa seperti ini karena aturan yang tak membolehkan
"Ke taman aja ya" Nazwa hanya mengangguk mengiyakan
"Kok kita kayak orang pacaran ya?" Nazwa melihat banyak pasangan muda disana yang sedang menghabiskan waktu berdua
"Kita emang pacaran kan?"
"Emang ada orang pacaran setelah nikah?"
"Ada kok, pacaran setelah nikah itu lebih baik, udah halal lagi, jadi nggak perlu takut dosa"
"Ditusuknya kepala seseorang dengan besi lebih baik dari pada ia memegang orang yang bukan makhromnya" lanjut Gus Fatih membuat Nazwa mengangguk mengerti
"Jodoh emang nggak terduga ya, dulu Nazwa nolak banget masuk ponpes, kalau bukan karena bantuin Caca saat itu keluar dari Club mungkin kita nggak bakal ketemu" ucap Nazwa mengenang masa remajanya dulu
"Allah sudah menetapkan segalanya, perihal jodoh, rezeki dan kematian jauh sebelum manusia lahir, jadi tidak ada yang tau keputusan Allah bagaimana, manusia hanya merencanakan sedangkan Allah yang memutuskan"
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1