Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Hukuman Pertama


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Angin malam berhembus semilir membawa udara dingin, suara binatang malam terdengar jelas di keheningan, seolah membuat irama hingga penduduk bumi makin terlelap di alam mimpi.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lampu kamar para santri sudah mati sejak dua jam yang lalu. Nazwa masih saja belum dapat memejamkan matanya, ia terus membolak balikkan tubuhnya dan memperbaiki selimutnya untuk mencari posisi tidur yang nyaman.


Suara nyamuk yang terus saja berdengung di telinganya seolah bernyanyi mengejek dirinya


"aduh kok nggak bisa tidur sih, ayo dong mata tertutup, perasaan nguap mulu dari tadi tapi nggak tidur-tidur"


"ish nyamuknya banyak banget lagi" ucapnya sambil menggaruk bagian tubuhnya yang terasa gatal


"perasaan ni nyamuk gigit gue mulu dah, yang lain ndak di gigit, liat aja tidurnya pada pules gitu" ucapnya lagi memandang kearah teman sekamarnya yang tidur pulas dan sudah terbang ke alam mimpi


"please, tubuh ayo dong tidur nanti pasti dibangunin sholat malam nih, kan nggak lucu masa' nanti pas sholat gue tidur"


Akhirnya, saat kantuk berat sudah menyerang ia pun mulai terlelap dan terbawa ke alam mimpi.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi para santri dibangunkan untuk bersiap menunaikan sholat tahajud kemudian di lanjutkan dengan membaca atau mengahafal Al-Qur'an sampai subuh. Lantunan merdu ayat suci Al-Qur'an sudah terdengar di masjid ponpes, saat waktu sunyi seperti inilah waktu yang mustajab untuk berdo'a sehingga doa cepat terkabulkan. Begitu banyak ujian di saat waktu ini, seperti udara dingin, kantuk berat sehingga jarang orang yang mau bangun untuk sholat dan lebih memilih untuk tidur.


"Nazwa bangun bangun" Salwa terus saja mengguncang tubuh Nazwa yang masih terlelap.


"Nazwa ayo bangun kita ke kamar mandi sebelum antriannya panjang setelah itu ke masjid kita sholat tahajud"


"Hah???"


"Perasaan aku baru tidur deh" ucap Nazwa berusaha bangun dan masih mengumpulkan nyawa yang melayang


"udah Nazwa ayo cepet ntar ustadzah keburu dateng"


Nazwa yang masih belum sadar sepenuhnya mengangguk dan langsung mengambil jilbab instan untuk dipakai dan juga baju seragam sekolahnya.


"anti ngapain bawa seragam?" tanya Hana bingung melihat Nazwa yang mengeluarkan seragam dari lemarinya


"ya mandilah terus ganti pakai seragam kan sekolah" jawab Nazwa


"Ya Alloh Nazwa anti mau belajar sendiri, ini tuh hari jum'at jadi sekolah libur"


"iya kan hari jum'at bukan hari minggu kalau hari minggu baru libur"


"Nazwa di ponpes itu liburnya hari jum'at bukan hari minggu"


"oowh, terus aku bawa apa?" tanya Nazwa dengan polos


"bawa perlengkapan mandi sama mukenah buat sholat jangan lupa baju ganti" jawab Nadifa dan Nazwa hanya mengangguk


Saat sampai di depan kamar mandi terlihat antriannya masih belum terlalu panjang


"setelah ini ana terus Nazwa terus Salwa terakhir Hana" ucap Nadifa saat berdiri di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup karena masih ada orang di dalam dan temannya hanya mengangguk termasuk Nazwa yang masih menahan kantuknya


Bebeberapa saat kemudian


"Nazwa selanjutnya giliran anti" ucap Salwa menggoncang bahu Nazwa yang masih menunduk menahan kantuk karena Nadifa sudah keluar dari kamar mandi


Nazwa yang mendengar gilirannya langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi


"AAAAAAAAAAAA" teriakan Nazwa mengagetkan santriwati yang berada di sana


"Nazwa anti kenapa? Nazwa?" tanya Salwa langsung panik menggedor pintu kamar mandi diikuti Hana dan Nadifa sedangkan tak ada balasan dari dalam. Tak berapa lama kemudian Nazwa keluar lengkap dengan memakai pakaian ganti dan mukenah yang dibawanya


"ssshhhh...ssshhhh...ssshhhh air nya dingin banget" ucap Nazwa sambil menggigil


"astaga ana kirain anti kenapa-napa" ucap Salwa tertawa dan santriwati disana pun hanya menahan tawa


"sumpah, baru pertama kali ana rasain air sedingin itu" ucap Nazwa sambil menggigil, hilang sudah rasa kantuknya


"emangnya air di rumah anti nggak dingin?" tanya Nadifa dan Nazwa menggeleng


"kalau disana ana biasa mandi pakai air hangat kalau subuh, kan suhu airnya bisa di sesuaikan"


"wahhh keren" ucap Hana sambil mengacungkan kedua jempolnya


"coba di pesantren juga bisa diatur kaya gitu"ucap Nadifa diangguki oleh Hana


"kalau di pesantren juga kaya gitu, bukannya seger malah tidur di kamar mandi" ucap Fitri yang berada di belakang mereka


"loh Fitri bukannya kamu halangan kok udah bangun?" tanya Hana


"emangnya salah ya bangun pagi kalau halangan?" balas Fitri sewot


"iyain ajalah Hana santriwati teladan" ucap Nadifa ikut menimpali


🌸🌸🌸🌸🌸


Suara adzan subuh mengalun merdu, semua santri sudah berada di masjid bersiap untuk sholat subuh dan dilanjutkan dengan kajian yang dilakukan oleh pak kyai


"Hukuman kalian bantu bi ijah masak di dapur selama seminggu sama setor hafalan juz 10 besok malam" ucap ustadzah Zulaikha setelah kajian dari pak kyai berakhir


"untuk Nazwa karena anti santriwati baru jadi setor hafalan mulai dari juz 30"

__ADS_1


"bantu bi ijah di dapur mulai kapan ustadah?" tanya Hana


"Tahun depan"


"ooo berarti masih lama dong" ucap Nadifa polos


"ya sekarang, kalian gantiin tugas temen yang di bagian dapur sekarang" ucap ustadzah Zulaikha geram dan Nadifa hanya menganggukkan kepalanya


"kalau begitu kami pamit dulu ustadzah, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam"


β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘


Suara kicauan burung menyambut fajar yang terbit dari ufuk timur, udara perdesaan yang masih segar dan belum tercemar polusi udara membuat suasana hati menjadi lebih tenang.


jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, semua santri sudah kembali kekamar masing-masing karena hari libur ada yang nyuci baju, melanjutkan tidur, jalan-jalan pagi dan beberapa siswa yang di hukum untuk memasak atau membersihkan halaman pesantren.


hoam


"ana ngantuk banget" ucap Nazwa yang sedari tadi menguap setelah pulang dari masjid


"loh tadi malam anti nggak tidur?" tanya Hana


"ana nggak bisa tidur banyak nyamuk"


"masa sih kok ana nggak ngerasain apa-apa" ucap Nadifa dan Nazwa hanya mengedikkan bahunya


"lama-lama juga nanti terbiasa" ucap Salwa


"ya udah ayo kita cepet bantu bi ijah buat sarapan" lanjutnya lagi


"ana heran deh, kenapa ya dimana-mana yang bagian kantin atau dapur itu selalu namanya bi ijah, di sekolah lama ku juga dulu namanya bi ijah, mereka di seleksi kali ya kalau yang bagian makanan harus bi ijah" ucap Nazwa membuat teman-temannya tertawa


"hahaha mungkin hanya kebetulan kali"


"inilah yang dinamakan kebetulan berjama'ah" ucap Nazwa dan langsung bergegas ke arah dapur ponpes


"Assalamualaikum bi"


"Wa'alaikumussalam"


"pasti kalian kesini karena dihukum sama ustadzah Zulaikha kan?"


"eh iya bi kok bibi tau?"


"ustadzah Zulaikha yang kasih tahu, tumben banget kalian kena hukum?"


"eh ini santriwati baru ya?" tanyanya saat baru pertama melihat wajah Nazwa


"na'am bik ini santriwati baru pindahan dari kota namanya Nazwa" Nadifa memperkenalkan Nazwa


"oh nak Nazwa panggil bik ijah aja ya, kayak santri disini"


"iya bik" ucap Nazwa sambil tersenyum


"Nazwa anti potong-potong tempe sama Nadifa, nah ana sama Hana potong sayur" ucap salwa diangguki oleh temannya


"astaga, kebutuhan dapur udah hampir habis, bibi nggak sempat beli kemarin" ucap ijah tiba-tiba panik


"kalau beli sekarang bibi kayaknya nggak sempat, soalnya nanti harus ke rumah pak kyai dulu sebentar, harus minta tolong sama siapa ya? pak ujang mana mungkin bisa?"


"emangnya beli dimana bik?" tanya Nazwa


"di pasar"


"ya udah sini Nazwa aja yang beli" ucap Nazwa


"emang anti tau pasarnya dimana Naz?" tanya Nadifa bingung


"nggak, makanya ayo ikut aku satu orang"


"ana saja yang pergi sekalian jalan-jalan naik motor pasti seru" ucap Hana mengangkat tangan nya


"tapi anti bisa naik motorkan? soalnya pasarnya cukup jauh dari pesantren" lanjut nya kemudian


"iya, bisa" ucap Nazwa sambil menganggukan kepalanya


"ya udah ini daftar belanjaan yang harus dibeli, kalian pinjam motornya sama kang ujang ya cari di pos satpam pasti ada" ucap bi ijah menyerahkan kertas daftar belanja dan sejumlah uang kepada mereka


"kalian ada yang di titip nggak?" tanya Hana kepada temannya karena biasanya mereka menitipkan jajan pasar seperti serabi, kelepon, naga sari dan berbagai macam jajanan khas tradisional lainnya termasuk gorengan.


"nggak ini akhir bulan, kita lagi bokek" ucap Nadifa diangguki oleh Salwa


"udah bilang aja kalian mau nitip apa ntar ku teraktir, mumpung aku lagi baik hati" ucap Nazwa kepada mereka


"anti yang bener Naz?" tanya Nadifa semangat


"uuuuu... giliran traktiran aja anti paling cepet" ucap Salwa dan Nadifa hanya cengir memperlihatkan sederetan gigi putihnya

__ADS_1


"palingan cuma jajan aja mah kalau si Nadifa" ucap Hana yang sudah kenal tabiat temannya yang satu itu


"kalau anti Sal mau nitip apa?"


"samain aja ntar kita berempat makan bareng" ucap Hana diangguki oleh Salwa


"ya udah kalau gitu kami berangkat dulu, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Han, kamu duluan aja ya, ke pos satpam aku mau ngambil dompet dulu di kamar" ucap Nazwa saat mereka keluar dari dapur


"na'am ana tunggu di pos satpam"


Di pos satpam


"Assalamu'alaikum kang ujang" ucap Hana saat mereka didepan pos satpam


"Wa'alaikumussalam ada apa neng?"


tanya kang ujang


"gini kang kita mau pinjam motor buat pergi beli kebutuhan dapur pesantren" ucap Nazwa menjawab pertanyaan


"wah neng anaknya pak wiraguna ya? yang kemarin datang ke pesantren?"


"iya kang saya mondok disini" ucap Nazwa sopan


"bapak anti terkenal banget Naz" bisik Hana di telinga Nazwa


"ya udah ini kuncinya tuh motornya di bawah pohon mangga" tunjuk mang ujang pada motor astrea tua yang terparkir di bawah pohon sambil menyerahkan kuncinya


"Bensinnya masih ada nggak kang? jangan-jangan nanti pas di jalan mogok-mogok" ucap Hana


"Ya ada lah neng kemarin kang ujang beliin bensin" jawab kang ujang


"ya udah kalau gitu kang, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam neng hati-hati ya"


Nazwa mulai menstater motor astrea tua tersebut yang sudah ketinggalan beberapa zaman namun tetap bersih. Beberapa kali Nazwa mencoba menstater namun motor tua tersebut tak kunjung menyala.


"Sini ana bantu" tiba-tiba gus fatih dan sohibnya datang. Mereka tak sengaja lewat sambil jalan-jalan dan melihat Nazwa yang kesusahan menstater motor tersebut.


"nggak usah terima kasih" ucap Nazwa


"anti jangan..." belum sempat gus fatih menyelesaikan ucapannya motor tua tersebut langsung menyala


"jangan apa hah?" tanya Nazwa sambil menaiki motor tersebut


"anta pikir ana tak bisa masalah ginian?, jangan pernah meremehkan perempuan, perempuan itu serba bisa" ucap Nazwa


"wah anti hebat Nazwa" ucap Ahmil


"jarang loh perempuan yang bisa naik motor di pesantren, apalagi motor kang ujang yang rada-rada stress" lanjut Fikri sambil tertawa diangguki oleh Agus dan Ahmil sedangkan gus Fatih hanya diam baru pertama kali ada santriwati yang menolak bantuannya, biasanya para santriwati lah yang dengan sengaja melakukan sesuatu agar dibantu gus Fatih.


"Akhirnya ada juga santriwati yang tak tertarik dengan anta gus" ucap Agus menepuk pundak gus Fatih pelan dan tertawa


"Hana ayo cepetan naik malah bengong" ucap Nazwa menyadarkan Hana yang sedari tadi bengong saat gus Fatih dan sohib nya datang


"eh iya" ucapnya cengegesan


"Assalamu'alaikum" ucap mereka berdua


"Wa'alaikumussalam" jawab gus fatih dan para sohibnya


"woi jangan diliatin terus anta sudah punya Khumairo" ucap Agus memukul lengan Fatih yang masih memperhatikan Nazwa saat di gerbang pesantren


"Allah yang maha membolak balikan hati manusia ia tahu apa yang terbaik bagi hambanya" ucap Fatih pelan dan akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut di ikuti para sohib nya


🌹🌹🌹🌹🌹


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Banyak typo


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2