
Hujan deras semalam masih menyisakan gerimis ringan pagi itu, membasahi dedaunan dan menciptakan udara dingin yang cukup membuat kulit mengigil kedinginan
"Gus mau ngajar ke ponpes?" tanya Nazwa saat melihat suaminya tak berganti pakaian, masih menggunakan baju koko yang digunakan untuk sholat subuh
"La, ana mau melihat kamar santriwan sebentar, kemarin Aziz sempat lapor ada satu kamar yang bocor, tapi tak terlalu parah, hubby mau lihat seberapa parah, biar nanti bisa panggil tukang untuk memperbaiki" jelas Gus Fatih
"Kalau gitu, aku turun bantu ummi buat sarapan dulu, biar cepat selesai" ucap Nazwa berbalik namun tangannya langsung dicekal suaminya
"Salim dulu" Gus Fatih mengulurkan tangannya dan disambut Nazwa dengan pipi yang memerah, ia mencium tangan suaminya dan Gus Fatih balas mengecup pucuk kepalanya
"Istri sholehah"
"Sekarang, ayo kita turun bersama"
Pemandangan pertama yang dilihat Nazwa saat sampai di dapur adalah ummi Fatimah yang sibuk memotong sayur sendiri, seketika ia menjadi tak enak dengan mertuanya
"Ummi maaf ya, Nazwa baru turun harusnya Nazwa bantuin ummi dari tadi"
"Nggak papa nak, ummi udah terbiasa, lagian ummi ngerti kok masih pengantin baru" ucapan ummi fatimah membuat Nazwa menggaruk tengkuk kepalanya dan tersenyum canggung
"Fatih kemana? pagi-pagi udah hilang"
"Katanya mau lihat asrama santriwan, ada yang bocor" jawab Nazwa membuat Ummi Fatimah mengangguk
"oh iya, Ustadzah Fathia sama Kak Aisyah mana?"
"Fathia kayaknya lagi tidur, semalaman Zahid demam jadi rewel nggak bisa tidur, kalau Aisyah belum turun mungkin juga tidur lagi"
"Kalau Bi Ijah?"
"Bi Ijah masih sibuk di ponpes"
"Kalau gitu biar Nazwa yang bantu ummi, Nazwa bisa masak kok"
"Yaudah, dikulkas masih banyak bahan makanan, buat apa aja yang Nazwa suka"
"Beneran? tapi makanan kesukaan Gus Fatih apa ya?" tanyanya mengusap tengkuk kepalanya
"Kalau Fatih nggak pernah pilih-pilih makanan, apa aja dia makan, ummi sampai ngerasa dia nggak punya makanan kesukaan atau yang ndak disuka, tapi ternyata ia kurang suka pare, pahit katanya" Nazwa hanya menganggukan kepala mendengar perkataan ummi Fatimah
Setelah berkutat hampir satu jam didapur, akhirnya hidangan siap disajikan di meja makan. Aneka olahan sayur-sayuran dan daging sudah tersaji dengan rapi di meja makan
"Enak nggak ummi?" tanya Nazwa was-was saat meminta Ummi Fatimah mencoba sup buntut buatannya
"Enak banget Naz, anti hebat banget masaknya"
"Beneran?"
__ADS_1
"hemmm, anti belajar masak dari siapa?"
"Hhehe sebenarnya udah dari ponpes sih, cuma Nazwa mulai rajin masak pas di Oxford, setiap kengen masakan ibu Nazwa pasti telpon ibu minta resep buat makanan, awal-awal sih cukup susah kadang ada yang kelebihan atau kekurangan, tapi akhirnya Nazwa berhasil"
"Tidak akan ada sesuatu yang sia-sia selama kita bersungguh-sungguh melakukannya" ucap Ummi Fatimah bijak
⚘⚘⚘⚘⚘
"Wih ada acara apa nih? tumben nenek masaknya banyak banget? biasanya sih cuma tumis atau telur balado aja" ucap Aziz saat mendudukkan diri di meja makan
"Nazwa yang masak"
"Wah, Kak Nazwa maksudnya Bibi Nazwa pinter banget masak" ucapnya mengacungkan dua jempolnya
"Sebenarnya nggak sampai segitu juga sih" ucap Nazwa canggung
"Aziz kalau nggak mau telat sekolah, makan sekarang nanti kamu dihukum ustadzah"
"Na'am nenek"
"Eits, panggil dulu kakek sama orang tuamu" ucap Gus Fatih yang baru datang
"ishh" Aziz memberenggut kesal namun tetap pergi menjalankan perintah neneknya
Suasana di meja makan pagi itu terasa lebih berwarna, Nazwa menuangkan nasi dan mengambil lauk yang diinginkan suaminya, sesuai yang ia lihat dari kebiasaan ayah dan ibunya, semua yang ada di meja makan tersenyum melihat hal itu, bahkan Gus Fatih tak henti-hentinya tersenyum melihat tindakan istrinya itu
"Ya Allah, terima kasih telah menjadikan dia sebagai pasanganku"
Hembusan angin sepoi menerbangkan ujung jilbab Nazwa, ia sedang asyik menikmati hembusan angin semilir yang terasa menyejukkan di dekat telaga pesantren, tempat favoritnya dari dulu
Sesekali terlihat kerutan diwajah cantiknya menandakan ia sedang berpikir serius, otak dengan hatinya kini sedang memikirkan sesuatu yang serius
"lebih baik kasih tau aja, ini juga penting"
"tapi kalau nggak diizinin gimana?"
"yang penting udah bilang, pastinya juga diizinin kok"
Ia terus bermonolog sendiri, hingga terdengar suara seseorang membuatnya segera menoleh
"Kak Nazwa?" Zikri datang menyapanya
"Zikri? kapan balik?"
"Baru aja, dianterin Bang Rasya" Nazwa yang mendengar nama itu mendadak tidak mood, entah kenapa mengingat pemuda yang dulu selalu mengejar dirinya di kampung itu membuat dirinya kesal
Baru saja ia berdiri ingin beranjak, orang itu datang menghampirinya
__ADS_1
"Nazwa?" ucapnya tak percaya
"Anti ngapain disini?"
"Bukan urusan anta"
"Jangan galak-galak dong Naz, nanti kalau jodoh gimana?" tanyanya yang membuat Nazwa mengerutkan kening tak suka, apa pemuda di depannya ini belum tau kalau ia sudah menikah?, Zikri bahkan menutup mulut tak percaya mendengar hal itu
"Anta kalau ngomong jangan sembarangan, ana sudah..." ucapan Nazwa langsung terpotong oleh Rasya yang dengan cepat menanggapi
"Ana nggak ngomong sembarangan kok, ana sungguh-sungguh, lagi pula tak ada yang tak mungkin sekalipun anti sudah menemukan keluarga anti yang asli, ana akan pergi ke rumah anti untuk meminta izin meminang anti dihadapan orang tua anti" ucap Rasya penuh percaya diri tanpa menyadari tatapan tajam seseorang di belakangnya yang siap menelannya hidup-hidup
"Assalamu'alaikum honey" Gus Fatih dengan cepat merangkul sebelah pundak Nazwa dan memberikan kecupan di pucuk kepalanya tanpa memperdulikan tatapan terkejut dari orang disekitarnya
"Enak aja, mau ngambil istri orang, belum tau apa seberapa besar perjuangan hingga bisa bersama dengannya" batin Gus Fatih kesal
"Wa'alaikumussalam Gus"
Rasya langsung menggeleng menutup mulut tak percaya
"Ka kalian..."
"kami sudah menikah" jawab Gus Fatih memperlihatkan cincin yang bertengger manis di jarinya dan jari Nazwa
"nggak mungkin"
"ini yang ingin ana bilang sama anta sya, ana udah nikah" Rasya syok mendengar itu, pantas saja kemarin Zikri dan kedua orang tuanya mengatakan akan menghadiri pernikahan putra bungsu pemilik ponpes tanpa mengetahui pasangannya, dan salahnya juga yang tak ingin ikut kemarin walau sudah diajak
"Kalau begitu, ana pamit Assalamu'alaikum" ucapnya lemah dan menunduk pergi membuat Nazwa merasa bersalah pada pemuda itu
"Wa'alaikumussalam"
"Ana pergi juga Gus, Kak Nazwa Assalamu'alaikum" ucap Zikri
"Wa'alaikumussalam"
"Berani sekali dia melamar istri orang" Ucap Gus Fatih masih kesal mengingat kejadian barusan
"Sudahlah Gus, sekarang dia sudah tau, ada hal penting yang ingin ana bicarakan" ucap Nazwa menunduk
"Apa?"
"Nazwa boleh nggak kerja di rumah sakit?"
.
Banyak Typo...🙏😁
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan, rezeki yang lancar, umur yang panjang dan barokah serta dimudahkan segala urusan kita
Aamiin...