
Waktu berjalan begitu cepat bahkan tanpa di sadari, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, begitu cepat perubahan yang terjadi hingga kadang manusia terlalu terlena pada kenikmatan dunia sesaat
Empat tahun berlalu dan selesai pula masa kuliah Nazwa di universitas Oxford, universitas impiannya, dan kini dirinya telah menyandang gelar sarjana dari salah satu universitas bergengsi di dunia, Namun untuk mendapatkan gelar dokternya harus menjalani masa koas atau praktik di rumah sakit selama satu setengah tahun
"NAZWA!!!" teriak Bianca dengan heboh yang sekarang lebih memilih memanggil Nazwa dari pada Zahra, ia berlari menggunakan seragam khas wisuda Universitas Oxford dan tak lupa balutan hijab yang menutupi rambutnya dan toga yang bertengger diatas kepalanya
"Bianca, akhirnya kita bisa lulus dengan nilai sempurna" ucap Nazwa memeluk erat Bianca karena mereka berhasil mendapatkan peringkat cumloud
"akhirnya setelah pusing karena nama banyak obat, dan mencium berbagai macam bahan kimia akhirnya kita bisa bebas"
"eits jangan senang dulu Bianca, apakah kau lupa setelah ini kita akan menjalani arti dokter yang sebenarnya, dengan praktik langsung di rumah sakit selama satu setengah tahun setelah itu baru mendapat gelar dokter dan menjadi dokter yang sesungguhnya tentu dokter tak pernah lepas dari yang namanya obat dan bahan kimia"
"tak apa setidaknya saat dirumah sakit aku tak lagi tegang kalau Mr. Johnson menjelaskan di depan" ucap Bianca menyebut nama salah satu dosen killer di kampusnya
"hahaha"
"Nazwa" terdengar panggilan yang begitu Nazwa rindukan sontak ia menoleh ke belakang dan menemukan keluarganya disana
"Ayah, Ibu, Bang Satria, Kak Andin, dan si ganteng Ardi" ucap Nazwa mengabsen satu persatu nama keluarganya yang kini lebih lengkap karena Satria sudah menikah dua tahun yang lalu dan kini dikaruniai anak berusia satu tahun yang sangat menggemaskan
"kakek sama nenek mana?"
"kakek sama nenek katanya nggak kuat naik pesawat, jadi nitip ngucap selamat sama Nazwa"
"Happy Graduation adik abang yang dulu nakal, nggak nyangka sekarang jadi sarjana dokter"ucap Satria memeluk adik kesayangannya
"selamat ya dek, sekarang sudah lulus kuliahnya" ucap Kak Andin
"Anak ibu sekarang sudah besar ya, ibu nggak nyangka Nazwa dulu Nazwa yang nakal sekarang sudah lulus" ucap ibunya dengan tulus sambil mengusap air di ujung matanya, Nazwa memeluk ibunya erat segalak-galak ibu padanya ia adalah orang yang merawat dirinya dan pertama kali mengenalkan arti dunia padanya hingga bisa sampai seperti ini
__ADS_1
"Selamat ya, anak ayah sekarang udah jadi dokter"
"belum yah, Nazwa harus koas dulu satu setengah tahun baru bisa jadi dokter sekarang cuma gelar sarjana aja" ucap Satria mengomentari ucapan ayahnya
"iya, maksud ayah gitu, ayah nggak nyangka loh putri ayah bisa cumloud dapat bersaing dengan beribu mahasiswa dari berbagai belahan dunia" ucap ayahnya tulus
"makasih, ini semua juga berkat dorongan kalian semua, Nazwa nggak mungkin bisa sampai sini kalau nggak ada kalian" ucap Nazwa dengan mengusap air mata di sudut matanya
"oh ya Bianca" Nazwa tersentak baru mengingat sahabatnya yang satu itu, ia mengedarkan pandangannya mencari sesosok Bianca diantara banyaknya mahasiswa disini
Senyuman terukir di bibir Nazwa kala melihat sahabatnya itu juga tengah berkumpul dengan keluarganya yang dulu sempat berantakan, akhirnya kini ia bisa melihat senyuman tulus di bibir gadis itu, bahkan orang tuanya tak sedikitpun mempermasalahkan tentang agama putrinya
Pandangan mereka bertemu, Bianca menyiratkan sesuatu dengan matanya seolah mengatakan 'kenapa kau meninggalkanku' dan Nazwa hanya membalasnya dengan cengiran khasnya dan mengatupkan kedua tangan di depan untuk mengisyaratkan kata 'maaf'
πΎπΎπΎπΎ
Angin dingin berhembus di kota Oxford, diperkirakan malam ini akan turun salju pertama di kota tersebut, para penduduk nampaknya lebih memilih di dalam rumah karena cuaca dingin terbukti dengan jalanan yang sepi di sore hari hanya beberapa orang yang nampak masih beraktifitas dengan mantel hangat mereka
"abang" Nazwa menggeser tempat duduknya untuk mempersilahkan Satria duduk di sebelahnya
"ngapain duduk disini, udara dingin"
"Nazwa nggak buka jendelanya kok, cuma liat suasana musim dingin aja"
"emang nggak puas liat tiap tahun?"
"Nazwa nggak pernah puas liatnya, suasana seperti ini terasa lebih menenagkan" ucap Nazwa memperhatikan pepohonan yang bergoyang tertiup angin
"Nazwa kamu ingat suasana ini kan?" tanya abangnya setelah mereka diam beberapa saat
__ADS_1
"Tentu Nazwa ingat, itu kan hari dimana abang pergi ke kamar Nazwa pagi-pagi terus kita liat matahari terbit bersama dari balkon kamar Nazwa" jelas Nazwa membuat Satria mengangguk
"Iya, hari itu adalah hari dimana abang nganterin kamu ke ponpes, saat itu juga perpisahan kita sebelum kamu berangkat ke ponpes"
"bedanya itu dulu bulan Agustus kalau sekarang bulan Desember"
"Dulu itu musim panas dan sekarang musim dingin dan itu perpisahan kita kalau sekarang pertemuan kita"
"Nazwa, apa kamu sudah punya jawaban?" Nazwa terdiam memandang wajah Satria kemudian menggeleng pelan
"Tentukan jawaban kamu dek, laki-laki itu butuh kepastian, kalaupun menolak tolaklah dengan cara yang halus" ucapan Satria membuat Nazwa kembali merenung mengingat kejadian dua tahun lalu di pernikahan kakaknya
Flashback on
Nazwa terpaksa pulang ke Indonesia, padahal hari ini bukanlah tanggal biasanya dia pulang ke tanah air, ia terpaksa cuti kuliah seminggu untuk menyaksikan pernikahan saudara satu-satunya, Satria
Berulang kali Nazwa mendesah pelan, melihat orang yang berkerumun lalu lalang di depannya, pikirannya hanya tertuju pada pelajarannya hari ini, walaupun Bianca sudah mengatakan akan memberikannya catatan dari dosen selama tidak masuk tapi ia tak dapat mengikuti praktik di minggu ini
"Nazwa temenin kakak ipar kamu, acaranya udah mau dimulai biar dia nggak tegang" ucap sang ibu dengan menggunakan gamis putih berenda yang senada dengan dirinya
"Bu, Nazwa boleh nggak ganti baju pakek rok gitu, rasanya nggak nyaman banget pakai pakaian putih kaya gini berasa jadi kunti" keluhnya sambil menepuk bagian bawah gamisnya yang sedikit kotor
"alasan aja kamu, udah sana jangan ngerusak suasana pakaian ini tuh biar kita keliatan serasi"
"dimana-mana orang nikah tuh warna bajunya beda sama pengantin nggak pakai putih semua, warna yang lain kek kayak peach, biru, pokoknya jangan putih nanti orang bingung pengantinnya yang mana" oceh Nazwa tanpa rem
"cuma orang bego yang bingung nggak bisa ngebedain mana pengantin asli" ucapan ibunya membuat Nazwa langsung terdiam, dengan langkah yang terkesan terpaksa ia naik ke atas untuk memanggil kakak ipar atau lebih tepatnya calon kakak iparnya karena belum sah menjadi istri abangnya
.
__ADS_1
Banyak Typo...πππ
Maaf ya teman-teman kalau alurnya nggak sesuai atau terlalu cepat...πππ