
Hening, ruang tamu itu hanya terdengar detikan jarum jam dan gerimis yang masih awet membasahi bumi
Keluarga kecil itu kini sedang fokus membahas tujuan liburan akhir semester mereka
"Kalau pantai gimana?" Haafiz mengusulkan membuat Nazwa mendelik tajam kearahnya
"Anta mau cari ikan kan?" tuduh Nazwa membuat Haafiz tersenyun cengir menggaruk kepalanya yang tak gatal karena niatnya sudah diketahui oleh sang ibunda
"Luar negri gimana?" kali ini Gus Fatih yang mengusulkan membuat Nazwa menatap dalam suaminya
"Nafisa juga mau ke luar negri" Nafisa ikut menyahuti dengan semangat
"Haafiz juga mau"
"Bunda nggak kerja kan?" Haafiz dan Nafisa menatap Nazwa yang sedang berfikir, ia tau di saat kesibukan Nazwa di rumah sakit bahkan sangat jarang Nazwa bisa sehari full di rumah karena pekerjaannya sebagai dokter yang begitu padat, namun kasih sayang yang Nazwa berikan pada mereka tak pernah kurang sekalipun
"Nggak kok, bunda udah berhenti" ucap Nazwa tersenyum mengelus kepala dua anaknya itu
"Jadi berhenti?" Gus Fatih bertanya mendengar ucapan istrinya membuat Nazwa mengangguk
"Jadi kita mau liburan kemana?" hening sejenak semua nampak fokus memikirkan sesuatu
"Turki gimana?" Nazwa mengusulkan pendapat
"Di Turki ada apa?" dua anak itu bertanya dengan polosnya
"Di kota itu banyak sejarah-sejarah kejayaan islam, jadi sambil liburan kita belajar"
"Haafiz mau"
"Nafisa juga mau"
"Hubby gimana?" Nazwa meminta pendapat Gus Fatih yang masih terdiam
"Hubby juga setuju"
"Yeay liburan"
🌍🌎🌏
__ADS_1
Waktu terus berputar begitu cepat, detik, menit, jam, hari terasa cepat berlalu begitu saja
Sang senja nampak tenggelam di ufuk barat, cahaya jingga keemesannya begitu indah menghiasi cakrawala
Sebuah Cruise atau kapal berlayar di tengah selat itu, keindahan matahari terbenam semakin terasa dengan cahayanya yang memantulkan warna jingga pada laut
"Mataharinya indah banget" seorang anak laki-laki yang berada diatas kapal tersebut menunjuk kearah sang surya yang mulai terbenam
"Bukan hanya mataharinya yang indah, tapi lautnya juga indah" sambung anak perempuan yang mempunyai usia satu tahun dibawahnya
"Ini namanya selat Bosporus" ucap Gus Fatih saat mendengar ucapan anak perempuannya
"Nafisa tau nggak kalau selat ini punya cerita yang hebat loh" Nazwa ikut menanggapi dengan mensejajarkan tubuhnya dengan kedua anaknya
"Memangnya apa Bunda?" Kali ini Haafiz yang bertanya
"Selat Bosporus adalah penghubung antara benua asia dan eropa jadi kalau ke eropa hanya beberapa langkah saja"
"Selat ini pula yang menjadi saksi penaklukan kota konstatinopel oleh Muhammad Al-Fatih" lanjut sang bunda menjelaskan pada anaknya
"Namanya sama kayak ayah" celetuk Nafisa membuat mereka tersenyum
"Teluk Bosporus adalah saksi bagaimana hebatnya Muhammad Al-Fatih yang saat itu berusia 21 tahun berhasil meruntuhkan tembok konstatinopel yang begitu kuat"
"Nah kalian lihat disana?"
"Itu namanya apa bunda?"
"Namanya Hagia Shopia, dulunya itu merupakan gereja, tapi setelah konstatinopel berhasil jatuh ke tangan umat islam, muhammad Al-Fatih mengubahnya menjadi masjid"
"Keren" ucap mereka berdua serentak
Setelah selesai dari kota konstatinopel atau sekarang di ubah menjadi istanbul, mereka melakukan perjalan ke tempat berikutnya yaitu capanpadocia
Butuh waktu dua jam empat puluh lima menit dengan naik pesawat dari kota istanbul untuk sampai ke Cappadocia, kota yang terkenal dengan balon udaranya
Dua anak itu tak henti-hentinya memandang takjub tempat yang ada di depan mata mereka, tempat yang dipenuhi balon-balon udara berwarna warni yang menghiasi langit
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Balon udara itu terbang di langit Cappadocia, pemandangan dari atas nampak begitu indah, mereka memilih balon udara privat agar lebih leluasa
Pemandangan senja nampak begitu indah dari atas, rumah-rumah batu menjadi pemandangan indah dibawah sana menjadi saksi kalau kota itu sudah terbentuk dari puluhan juta tahun lalu
Kedua anak itu fokus dengan kegiatan mereka menikmati ciptaan tuhan yang begitu indah, 'masya allah' kalimat itu tak henti-hentinya terucap melihat setiap pemandangan indah itu
"Cappadocia tak hanya terkenal dengan balon udaranya, ia juga dikenal dengan kota bawah tanahnya" ucap Nazwa
"Kota bawah tanah?"
"Kota bawah tanah itu digunakan oleh orang-orang zaman dulu untuk berlindung dengan cara membuat terowongan di bawah tanah" sambung Gus Fatih menjelaskan
Langit berwarna jingga keemasan di kota Cappadocia menjadi saksi rasa bahagia keluarga itu, Nazwa tak melewatkan kesempatan apapun untuk memotret, peristiwa ini wajib diabadikan
"I love you" Gus Fatih berbisik di telinga Nazwa membuat Nazwa terkejut
"Hubby nggak nyangka kita bisa sampai tahap ini, dimulai dari cinta yang terhalang dinding pesantren, sampai beda benua untuk melanjutkan pendidikan, sempat menyerah pada keadaan, bahkan sempat terpisahkan oleh kecelakaan"
"Jodoh memang tak akan pergi dan tak pula tertukar, sejauh apapun jarak dan berbagai macam halangan, jika Allah menentukan jodoh kita ia punya berbagai macam cara untuk mempersatukannya"
Nazwa balas memeluk Gus Fatih erat, menyalurkan rasa cinta mereka yang dipenuhi ujian dan duri kehidupan
Senja yang mulai terbenam dengan langit jingga, ratusan balon udara warna warni yang menghiasi langit kota, rumah-rumah batu tua menjadi saksi bisu tawa bahagia dan perjuangan di wajah mereka
...Tamat...
.
Wkwkwk udah tamat aja, pengerjaan novel ini hampir setahun loh
(361 hari) ...😆😭
Author ngucapin banyak-banyak terima kasih buat kalian semua yang udah mendukung karya author, ini adalah karya pertama author jadi maaf bila banyak kesalahan dalam penulisan kata dan alur yang kurang jelas...🙏🙏🙏
Author nggak nyangka sampai di tahap ini, dalam pembuatan cerita ini author sempet nyerah tapi karena komen kalian yang selalu mendukung author membuat author lebih semangat lagi, terima kasih semua...😀😁
.
Sampai jumpa 🖐🖐🖐
__ADS_1