
πΏπΏπΏπΏπΏ
"kok semua liat kita kayak gitu?" tanya Nazwa bingung karena tatapan mereka yang aneh
"mungkin karena mereka nggak pernah liat santriwati cantik kayak kak Nazwa makanya pada liatin terus" celetuk Aziz
"masa sih" Nazwa malah semakin bingung
"heh Nazwa anti itu santriwati pertama yang berani panjat pohon dan kejer layangan makanya semua liat kita kayak gitu" jawab Hana
"emang kenapa salah ya kejer layangan?" tanya Nazwa yang masih bingung
"mmm...gini Nazwa kan kalo pesantren itu banyak aturannya, jadi kurang pantas rasanya kalau seorang santriwati lari-lari nanti dikira supaya menarik perhatian lawan jenis" ceramah Salwa
"tapi kan mereka yang ngajak lari duluan bukan aku yang mau kejer layangan" tunjuknya pada Hana dan Nadifa yang hanya cengir
"ya ampun Salwa ceramahnya nanti aja ya, khilaf sekali-kali boleh lah demi gus tampan asalkan jangan setiap hari, Aziz jangan lupa cerita ya nanti sama gus fatih kalau kamu ditolongin sama kita" ucap Nadifa dan kepalanya langsung dipukul pelan oleh Salwa
"khilaf dikit-dikit lama-lama jadi bukit, ingat dosa besar berawal dari dosa kecil yang dilakukan berulang kali" ucap Salwa dan Nadifa hanya cengir
"lo kenapa Han?" tanya Nazwa melihat Hana yang dari tadi salting, sampai mengeluarkan bahasa kesehariannya di kota
"aduh Nazwa jangan panggil ana han han, entar anti dikira manggil Gus Rayhan" ucap Hana sambil menutup wajahnya dengan tangannya
"Gus Rayhan siapa lagi?" tanya Nazwa tambah bingung
"Gus Rayhan anak kedua ummi fatimah yang lagi kuliah di kairo" jawab Nadifa antusias
"apa hubungannya sama si Hana, gue liat dari tadi dia kayak orang salting" ucap Nazwa
"sinting?" tanya Aziz teriak yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan para santriwati yang tak lain membahas pamannya yang menjadi idola sepesantren
"anti ngira ana gila ya Naz?" tanya Hana dengan marah
"aduh..." Nazwa menepuk jidatnya sendiri
"Salting bukan sinting, salting maksudnya salah tingkah soalnya ana perhatiin dari tadi anti kayak orang gimana gitu" jawab Nazwa yang sudah kembali menggunakan bahasa anak pesantren dan mereka hanya mengangguk
"ohh..." Hana kembali memperhatiakn sekeliling dan menutup mukanya lagi membuat Nadifa penasaran dan mengikuti arah pandang Hana
__ADS_1
"Aaaa...ya alloh" teriak Nadifa dan ikut menutup mukanya sendiri
"mereka liat apa sih? reaksinya kayak orang lagi liat hantu aja, tapi mana mungkin ada hantu siang-siang gini" ucap Nazwa semakin penasaran dengan tingkah temannya ini dan melihat Salwa yang sedari tadi diam saja
"itu mereka liat paman fatih, soalnya tadi paman fatih liat kesini pas kak Nazwa kejar layangan" jawab Aziz sambil cengir
"ish Aziz katanya Gus fatih ada di rumah kok sekarang dilapangan" ucap Hana kesal
" Aziz bohong biar dibantu ngejar layangan kalau Aziz kasih tahu nanti kalian nggak mau bantu Aziz" ucap Aziz tanpa dosa
"nggak boleh bohong Aziz, ini mempertaruhkan harga diri sang pengejar cinta pangeran " ucap Nadifa mendramatisir
"Gus Fatih?" tanya Nazwa bingung
"itu kak Nazwa yang lagi pegang bola di tengah lapangan" ucap Aziz menunjuk santriwan yang memegang bola, Nazwa menoleh melihat arah pandang Azis
"ooohhh" ucapnya biasa saja saat melihat seorang pemuda menggunakan baju t-shirt putih sambil memegang bola di tengah lapangan bersama temannya yang juga menatap kearah mereka
"ohhh?... ooohhh aja gitu?" tanya Nadifa heran
"ya terus gue harus bilang wow gitu?"ucap Nazwa kesal
"Coba anti liat dengan jelas Nazwa, nikmat mana lagi yang telah engkau dustakan" ucap Nadifa yang terus melihat kearah lapangan
"ya alloh Salwa biarkan aku melihat jodohku" ucap Nadifa
"tapi kata ummi kan kalau paman Fatih itu sukanya sama kak Khumairo anak pak kyai Husain teman kakek, katanya mereka udah dijodohin gitu kan kak khumairo temennya kak Fatih dari kecil"
jlebb
ucapan Aziz begitu menusuk sampai ulu hati terdalam, impian yang terbang setinggi awan jatuh terhempas ke jurang terdalam
"Aziz, apa kamu nggak pernah dengar pepatah sebelum janur kuning melengkung, sebelum kata sah terucap peluang itu masih ada kan gus Fatih juga belum khitbah khumairo jadi status nya masih dipertanyakan, lagian jodoh kita tidak ada yang tahu" ucap Nadifa dan Aziz hanya menggaruk tengkuk kepalanya bingung
"betul jodoh itu hanya Allah yang tahu manusia hanya perlu berikhtiar, biarpun sekarang ia mengatakan suka tapi tidak tahu hari kedepan nya, Allah bisa membolak balikan hati manusia yang suka jadi benci, yang musuh jadi teman begitu juga sebalik nya. Semuanya sudah diatur oleh Allah SWT termasuk perihal jodoh, manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah jadi jika dia memang jodoh kita maka kita pasti bersamanya" ceramah Salwa
"betul termasuk cinta gus Fatih, biarpun sekarang ia mengatakan suka khumairo tapi tidak ada yang tahu hari esok, jika misalkan Allah mentakdirkan gus Fatih sama Nazwa tidak ada yang bisa melawan, jika Allah sudah berkata ΩΩ ΩΩΩΩ maka terjadilah apa yang menjadi kehendaknya" sambung Hana lagi
"lah kok gue?" ucap Nazwa sewot mendengarkan Hana
__ADS_1
"itu kan permisalan kalau terjadi berarti gus Fatih memang jodoh anti" jawab Hana
"udah deh kok pada bahas-bahas masalah jodoh sih ayo kembali ke kamar aja disini panas banget " ucap Nazwa mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya
"ayo dah" ucap mereka bertiga
"Aziz ayo ikut kakak kasih sesuatu" ucap Nazwa pada Aziz yang hendak berbalik
"kasih apa?" tanya Aziz bingung
"ayo ikut aja" ucap Nazwa membuat temannya juga bingung
πΉπΉπΉπΉπΉ
di lapangan
"Agus oper bolanya kesini" ucap Ahmil pada Agus yang tadi gesit sekarang malah terdiam menatap ke tepi lapangan
"Agus, anta liatin apa sih?" tanya Fatih yang kesel dengan temannya yang malah bengong
"AGUS!!!..." Fikri berteriak hingga mengagetkan Agus yang sedari tadi diam saja
"Apa?"
"Anta kenapa sih dari tadi kok bengong?" ucap Fatih sambil mengambil bola
"liat bidadari" ucapnya kembali melihat kearah tepi lapangan
ucapannya sontak melihat kearah pandang Agus, mereka melihat Nazwa yang berlari dengan mengangkat gamisnya tinggi-tinggi dan jilbabnya yang berkibar tertiup angin langsung memanjat pohon dan mengambil layangan langsung meloncat dari atas pohon tanpa kenal rasa takut kemudian memberikan layangan kepada Aziz dan menasihatinya sesuatu. Saat tengah berbincang dengan temannya Aziz menunjuk ke arah mereka dan Nazwa pun ikut menoleh dengan ekspresi yang biasa saja.
"Masya Allah, nikmat mana lagi yang telah kau dustakan" ucap Agus saat Nazwa menoleh ke arah mereka
"Bidadari tak bersayap" ucap Ahmil
"mungkin inilah jodoh ku yang telah kembali" ucap Fikri sedangkan Fatih hanya diam saja sambil terus melihat Nazwa, baru kali ini ada santriwati yang nampak biasa saja melihatnya
"woi sadar, jodoh anta sudah khumairo" Agus menepuk pundak fatih
"hanya Allah yang tau seperti apa kedepannya" ucap fatih pelan
__ADS_1
πππππ
Maaf kalau alurnya gak nyambung πππππ