Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Hadiah dari Ayah


__ADS_3

Dua orang di tempat yang berbeda, dengan jarak waktu lima jam, ada yang sedang khusyuk berdo'a dalam sujud sepertiga malamnya dan ada yang sedang duduk memandang langit gelap bertebaran bintang dengan pikiran yang melayang jauh sambil memegang gelang ditangannya


"Ya Alloh yang maha mengetahui, engkau mengetahuiku lebih dari aku mengetahui diriku sendiri, engkau yang tau isi hatiku, engkau yang maha membolak-balikkan hati hambamu, Ya Allah jika ia memang jodoh hamba dekatkanlah, berikan hamba jodoh yang terbaik diantara mereka, yang akan membimbing hamba menuju janah-Mu, Amiin"


^^^Nazwa Azzahra Dinata^^^


"Ya Allah hanya kepadamu aku meminta, jika ia memang jodohku dekatkanlah, namun jika bukan biarkan hatiku ikhlas melepas dirinya, engkau yang maha mengetahui isi hambamu, engkau yang bisa melihat seberapa besar cintaku padanya, jika kami memang berjodoh persatukan kami dalam ikatan halal ya rabb"


^^^Muhammad Fatih al hasani^^^


🌷🌷🌷🌷🌷


Waktu berjalan begitu cepat, secepat roda yang berputar, secepat berjalannya detik berganti menit, dan menit berganti jam, secepat pergantiam siang dan malam, tak terasa kini sudah satu tahun lamanya


Kegiatan Nazwa di ponpes seperti biasa, namun sekarang ia berubah menjadi santriwati yang lebih baik, dan mengurangi sikap cerobohnya seperti saat pertama kali masuk ponpes. Tak heran ia yang dulu sering dihukum ustadzah, kini menjadi santriwati teladan untuk adik kelasnya


Berubah sikap menjadi lebih dewasa, namun tak pernah mengubah kebiasaannya yang suka merenung di telaga pesantren saat hatinya dilanda masalah


"Jika Allah memberikan dia yang terbaik untukku, Allah pasti akan mempertemukan kami lagi"


"Hatiku bingung dalam memilih, di satu sisi ada sedikit rasa yang tumbuh dalam diriku padanya, disisi lain rasa itu seakan goyah dengan hadir dirinya yang selalu ada"


"Cinta heh, hanya lima huruf namun memiliki seribu makna, memberikan sejuta kebahagiaan dan sejuta rasa sakit, mengajarkan arti sabar dalam menanggung rasa kecewa"


"Aku bingung ya Allah, jika dia memang jodohku, yakinkan hatiku untuk dirinya, yang tak akan goyah dengan badai dan masalah yang menimpa" ucap Nazwa memegang kepalanya


"sebentar lagi aku akan selesai disini, di ponpes ini yang membuatku mengenal dua orang yang membuat hatiku bingung hingga saat ini, apakah kau juga tidak pulang di hari kelulusanku?" Nazwa bertanya pada dirinya sambil menarik nafas panjang


"NAZWA" teriak teman-temannya dari belakang membuat dirinya menoleh


"Ya allah, anti ini kebiasaan Naz kalau nggak ada di kantin pasti disini" ucap Salwa menggeleng kan kepalanya


"Anti ngapain disini Naz? ha? kangen seseorang? atau kangen Gus Fatih?" ucap Nadifa ceplas ceplos


"kangen apaansih? ana kesini tuh butuh ketenangan buat belajar sebentar lagi ujian akhir, ana ingin dapat nilai bagus supaya bisa masuk universitas impian ana" jawab Nazwa

__ADS_1


"anti kan udah pinter, kemarin tahun kemarin aja anti dapat rangking satu ngalahin si Lina, padahal dari kelas satu dia aja yang dapat rangking" ucap Hana


Tidak ada yang menyangka tahun kemarin Nazwa berhasil menjadi juara satu, mempertahankan prestasinya di sekolah lamanya


"Jangan jadi orang sombong Hana, kita kan tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya" jawab Nazwa dengan bijak


"eh ngomong-ngomong Naz, anti mau lanjutin ke universitas mana?" tanya Salwa membuat Nazwa mendongak memandang langit biru dan awan putih cerah


"Universitas Oxford, inggris" jawab Nazwa sambil tersenyum


"WHAATTTT???" teriak temannya kompak


"anti seriusan?"


"ya, untuk apa berbohong? itu adalah universitas impian ana, ana ingin menggapai cita-cita ana disana"


"tapi itu jauh banget Naz"


"dan ya anti taulah gimana bebasnya pergaulan orang-orang luar negri di sana"


"Tahu, sangat tahu Han, karena itu kita harus bisa menjaga diri disana, bagi orang-orang luar hal-hal yang diharamkan dalam islam adalah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dalam diri mereka"


"kenapa nggak di negara lain aja kayak mesir kan juga ada jurusan kedokterannya"


"iya, tapi hati ana memilih disana, dari pas SMP ana ingin kuliah disana"


"orang tua anti sudah kasih izin?"


"ya, itu adalah janji mereka"


"janji?"


"ya anti anti ingetkan pas dulu ana menang lomba?" pertanyaan Nazwa membuat sahabatnya mengangguk


"sebelumnya ana tak mau masuk ponpes ini, tapi ibu ana berjanji kalau berhasil aja satu semester akan ngabulin apapun permintaan ana, dan pas menang lomba di hari itu ayah juga berjanji apapun yang ana inginkan, sebagai hadiah atas lomba itu, dan pas liburan kemarin, ana bilang ingin kuliah disana"

__ADS_1


"terus orang tua anti setuju?"


"awal nya sih mereka nggak setuju, dan pemikirannya sama dengan kalian, terlalu jauh, pergaulan bebas, apalagi anak perempuan begitulah ucapan mereka"


"tapi ana bilang gini...


"Nazwa ingin mengejar mimpi Nazwa disana yah bu, tidak ada kata terlalu jauh dalam menuntut ilmu bahkan rasullullah sendiri mengatakan kepada umatnya tuntutlah ilmu sampai ke negri cina"


"bukan maksud ayah melarang kamu mengejar cita-cita kamu Nazwa, tapi ya kamu tahulah orang luar negri itu gimana, apalagi kamu perempuan" ucap ayahnya saat itu


"Ayah benar, tapi tidak semua mereka seperti itu, Ayah jangan melihat hanya dari sisi buruknya saja, dan memang perempuan itu harus mempunyai pendidikan tinggi agar tak di mudah untuk di tipu oleh laki-laki yang tak bertanggung jawab"


"Ayah rasa putri kecil Ayah sekarang sudah dewasa, ia sudah bisa berpikir apa yang baik dan yang buruk untuk dirinya"


"jadi ayah ngizinin Nazwa?" tanya Nazwa semangat


"hmmm, kejarlah mimpi dan cita-cita mu nak, Ayah percaya kamu sudah tau mana yang baik dan yang buruk untuk mu"


"ibu gimana?"


"ibu setuju saja, asalkan kamu bisa menjaga diri"


"terima kasih ayah ibu"


"nah gitu ceritanya" dan temannya menganggukkan kepala mendengar kan cerita Nazwa


"jadi, kita akan pisah Naz"


"setiap pertemuan akan ada perpisahan, jangan sedih seperti ini yakinlah kita pasti akan bertemu lagi"


"anti bener Naz, kita pasti akan dipertemukan lagi diamanapun itu, atau kah di ponpes ini, dimana kita pertama kali bertemu dan hari ini menjadi detik-detik terakhir perpisahan kita" ucap Nadifa sendu


"tak terasa ya udah mau pisah aja, padahal rasanya kemarin Nazwa ngejar layangan di ponpes, main surat-suratan sama Gus Fatih, kita ikut lomba nyanyi bersama dan begitu banyak kenangan yang kini hanya tinggal kenangan diantara kita yang tak bisa disebutkan" ucap Hana mengusap sudut matanya yang berair


"kita di pertemukan oleh pendidikan, di persatukan dalam sahabat dan di pisahkan oleh masa depan"

__ADS_1


Nazwa dan teman-temannya saling berpelukan, menumpahkan air mata di sela-sela detik terakhir kebersamaan mereka yang tinggal menghitung minggu


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2