
Hati Nazwa terenyuh melihat pemandangan ditaman rumah sakit itu, terlihat orang memakai kursi roda berjalan-jalan disekitar sana ada dengan tatapan bahagia seolah bersyukur bisa menikmati hari itu dan adapula dengan tatapan kosong seolah menyerah dengan penyakit mereka. Bahkan terlihat anak kecil berusia sekitar sepuluh tahunan yang sedang asyik bermain bola dengan wajahnya yang pucat, Nazwa pastikan dia punya penyakit yang cukup serius
Seorang anak laki-laki menarik ujung baju Nazwa, membuat gadis itu menoleh
"Kenapa dek?" tanyanya lembut mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu
"Bisa minta tolong kak"
"Minta tolong apa?"
"Ambilin bola diatas pohon" ucapnya menunjuk pohon yang berada diarea paling ujung, cukup sepi orang disana
Nazwa berdiri dibawah pohon itu dan melihat keatas, ia jadi teringat sewaktu dirinya pertama kali masuk ponpes dan mengambilkan layangan untuk Aziz
"perlahan aku pasti bisa mengingat semuanya" batinnya
Nazwa memanjat pohon tersebut untunglah disana tak banyak orang dan karena lokasinya yang diujung tak ada orang yang akan memperhatikannya
Setelah berhasil mendapatkan bola yang letaknya tak terlalu tinggi itu, Nazwa bersiap untuk turun namun ranting yang menjadi pijakannya patah dan membuat dirinya terjatuh tak sadarkan diri
"NAZWA!!!" Reyno berlari diikuti Caca, ternyata sedari tadi mereka berdua memperhatikan apa yang dilakukan Nazwa disana
"Dasar bocah nakal"
Dengan sigap Reyno mengangkat tubuh Nazwa, sedang Caca menenangkan anak laki-laki yang tiba-tiba menangis
πΏπΏπΏπΏπΏ
Senang, rindu dan gugup tercampur menjadi satu dalam hati Gus Fatih, senang dan rindu akan bertemu orang yang dicintainya dan gugup akan mendapatkan penolakan yang sama
"Nggak usah gugup gitu" ucap ummi menepuk pundaknya membuat Gus Fatih tersentak kemudian tersenyum
"Nggak kok bu"
"Percaya sama abi kali ini kamu diterima" Abi Rahman memberikan semangat yang membuat Gus Fatih tersenyum
"Kira-kira gimana ya reaksi Nazwa, kalau udah ngingat anta?" Ustadzah Fathia yang duduk didepan bersama suaminya ikut berbicara
Mereka pergi kerumah Nazwa menggunakan tiga mobil sekaligus, mobil yang lain ditumpangi Gus Rayhan dan istrinya beserta dua keponakannya Azis dan Zikri, mereka berdua bersikeras ingin ikut dengan Gus Fatih tapi Ustadzah Fathia melarang dengan alasan sudah penuh padahal ia sengaja untuk mengurangi rasa canggung antara Gus Rayhan dan Aisya, apalagi setelah kejadian di hari pernikahan mereka
Mobil selanjutnya berisi sahabat Nazwa sewaktu diponpes, Nadifa yang baru saja melahirkan memaksa ikut tapi dengan beberapa bujukan dan ancaman dari sahabatnya akhirnya ia memilih diam dengan syarat saat sampai disana mereka harus melakukan Video Call dengan Nazwa, mereka menyetujui walau itu terasa sedikit sulit apalagi Nazwa yang kehilangan ingatan
πΏπΏπΏπΏπΏ
Di ruangan serba putih itu, terbaring pasien yang baru saja meninggalkan rumah sakit beberapa menit yang lalu tapi keadaan memintanya untuk kembali disana
Tak ada yang parah dengan dirinya hanya keningnya saja yang sedikit memar akibat terjatuh
__ADS_1
"Gimana nih, udah lima belas menit Nazwa belum sadar"
"Tunggu bentar lagi, kata dokter nggak ada yang parah cuma memar aja"
"Tapi..."
"Hnng" Ucapan Yolan terpotong saat mendengar suara lenguhan dari arah ranjang pasien
Nazwa mengerjap pelan, sesaat kemudia setetes air mata keluar membasahi pipinya
"Nazwa lo kenapa?" Sahabatnya dengan panik mendekat
"Mana yang sakit? cerita sama gue"
"Reynol panggil dokter cepat!"
"Aku ingat semuanya" ucap Nazwa membuat mereka terdiam
"Apa yang lo inget?"
"Semuanya, kalian, keluargaku, temen ponpes, oxford, Gus Fatih, Gus Rayhan, aku ingat semuanya"
Cklek
Reynol masuk bersama dokter yang tadi pagi memeriksa Nazwa
"Aku ingat semuanya dokter" ucapan Nazwa membuat dokter itu terkejut
"Serius?" Nazwa mengangguk
"Ini adalah sebuah keajaiban biasanya orang yang amnesia butuh waktu berbulan-bulan bahkan sampai tahunan untuk bisa mengingat semuanya sekaligus"
"Do'a memang ajaib, membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin"
"Terima kasih ya Allah"
βββββ
Keluarga Dinata dirundung kepanikan hebat saat mengetahui posisi Nazwa, apa yang sebenarnya terjadi?
"Satria mau pergi nyusul Nazwa kerumah sakit" Satria menuruni tangga dengan tergesa-gesa saat panggilannya tak terjawab satupun
"Hati-hati nak"
"Halo" tiba-tiba suara diseberang telepon yang di genggam nya membuat mereka terdiam
"Halo Bang Sat" Amarah Satria yang tadi memuncak bersiap memarahi adiknya tergantikan dengan air mata saat mendengar panggilan itu, panggilan yang tak pernah lagi didengarnya setelah dua tahun terakhir
__ADS_1
"Halo, Bang lo masih disana nggak sih?" Nazwa menggunakan bahasa lo gue nya yang membuat Satria terisak
"Di dimana lo sekarang?" suara Satria bergetar menahan air matanya
"Gue udah dalam perjalanan pulang, sepuluh menit lagi nyampe"
"Cepetan, jangan keluyuran lo, calon suami lo udah ada di depan komplek, lima menit lagi nyampe"
"Iya, entar gue ngebut sekenceng-kencengnya, dan tunggu gue tinggal nama yang nyampe rumah"
"STOP"
"Yaudah hati-hati pulang dari sana gue tunggu penjelasan lo"
tut tut tut
Panggilan itu langsung diakhiri begitu saja, bahkan Nazwa belum sempat mengucapkan salam
"Apa yang terjadi nak?" semua yang ada disana terkejut melihat ekspresi Satria dengan mata yang memerah menahan tangis
"Mungkin Nazwa sudah ingat semuanya bu, itulah alasan dia pergi kerumah sakit untuk mengembalikan ingatannya"
"nanti kita minta penjelasannya setelah acara ini selesai"
tiitt titt titt
terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, dengan cepat mereka memperbaiki penampilan untuk menyambut tamu yang tak lain keluarga pak kyai
π·π·π·π·π·
"Yol, lo jangan pake make up nya tebel-tebel dong ntar gue kayak badut" dalam perjalanan pulang ke rumah itulah waktu yang digunakan Nazwa untuk bersiap-siap karena pastinya saat dirumah tidak ada waktu lagi, semuanya serba dadakan bahkan gamis yang dipakainya saat ini ia beli didepan toko rumah sakit
"Iya bawel lo, baru juga pake bedak" untungnya mobil Bastian yang mereka pakai sudah canggih karena memiliki pembatas antara supir dan kursi penumpang jadi dua laki-laki itu tidak akan melihat Nazwa
"Ca, jilbabnya yang simpel-simpel aja yang penting menutupi aurat"
"Iya Nazwa"
"Untung lo tadi jatuh dari tuh pohon, kalau nggak mungkin tiap hari gue nangis lo kesakitan terus pingsan dirumah sakit"
"Iya, ada untungnya juga ya"
"intinya jangan lupa bersyukur, dibalik kecelakaan kayak tadi ada hikmahnya"
"pokoknya nanti Naz, lo harus terima lamaran Gus Fatih, gue dukung lo sama dia"
"Allah yang menentukan segalanya, jika ia memang jodohku maka ia yang akan menjadi pasangan hidupku, mungkin itulah hikmah dibalik kecelakaan pesawat itu jika aku kembali saat itu mungkin saja aku akan menikah dengan Gus Rayhan" batin Nazwa
__ADS_1