Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Video Call


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini sudah dua bulan setelah kejadian itu dimana Nazwa masih dibibingungkan oleh pilihannya.


Ia berjalan pelan, menuju rumah abi rahman untuk mengembalikan handphone yang sudah diambilnya sebentar untuk melepas rindu dengan keluarganya


Saat sampai di depan gerbang ia dapat melihat dengan jelas mobil yang terparkir disana adalah milik kyai husain yang datang bertamu tadi pagi bersama keluarganya


"Aduh masuk nggak ya?" Gumamnya ragu


"Masuk aja deh"


Ia melangkah kan kakinya memasuki rumah tersebut, namun masih beberapa langkah lagi menuju pintu ia mendengar perkataan yang membuatnya langsung pergi dari sana


"Gimana Rahman, apa kau setuju? Bukankah mereka sudah besar dan juga akan melanjutkan pendidikan di universitas yang sama, jadi gimana kalau kita nikahkan saja mereka sekarang, agar Khumairo juga ada yang menjaga disana"


"Bukan begitu maksudku Khusain, aku ingin Fatih menentukan pilihannya sendiri, bukan dijodohkan seperti ini takutnya mereka menjalani rumah tangga karena terpaksa bukan karena cinta" jelas Abi Rahman memberikan pengertian kepada sahabatnya yang masih kukuh menjodohkan putranya


"Hahaha, kau tenang saja Khusain, bukankah kau tau cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu"


"Tapi Khusain aku ingin Fatih menyelesaikan pendidikannya dulu, jadi dia lebih fokus untuk kuliah dulu, masalah pernikahan itu nanti setelah dia selesai"


"Lalu bagaimana dengan putra mu Rayhan?"


"Rayhan dia sepertinya sudah menemukan seseorang yang cocok untuknya, kenapa kau bertanya?"


"aku hanya ingin bertanya saja, aku bisa mengenalkanmu pada sepupu Khumairo dia adalah anak dari kakak iparku, dia juga anak sholehah"


"kau tidak perlu repot mengurus masalah itu Khusain, aku tidak memberatkan apapun pilihan mereka, jika Allah telah mendatangkan jodoh mereka, kita bisa apa?"


"bukan begitu maksudku Rahman, aku hanya ingin hubungan persahabatan diantara kita semakin erat dengan adanya ikatan dari anak-anak kita"


"aku mengerti maksudmu, biarpun ada atau tidak ada hubungan pernikahan diantara anak-anak kita, persahabatan kita akan tetap bersama" jawab Abi Rahman dengan bijak


"Atau bagaimana kalau begini saja, Fatih ditunangkan dulu dengan Khumairo nanti setelah mereka berdua selesai sekolah baru dinikahkan" ucap Kyai Khusain yang masih gigih menjodohkan putrinya dengan anak sahabatnya itu


"kenapa kau seperti orang takut saja Khusain, Allah telah mengatur segalanya, untuk apa kau khawatir masalah jodoh, jika mereka bertunangan sekarang belum tentu juga mereka akan berhasil menikah nantinya, atau jika kita memaksa mereka menikah aku takut rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama karena mereka masih memiliki emosi yang masih labil" ucap Abi Rahman berusaha memberi pengertian kepada sahabatnya


"baiklah jika itu memang yang kau inginkan, aku harap putramu yang datang mengkhitbah putriku lebih dulu" ucap Kyai Husain membuat Abi Rahman menggelengkan kepalanya bingung dengan sifat sahabatnya


"nanti aku akan bicarakan ini dengan putraku dulu, jika dia memang sudah siap untuk menikah" jawab Abi Rahman dengan senyum yang tak luput dari wajahnya


🌷🌷🌷


Nazwa berlari ke arah tempat biasa ia menenagkan diri, saat ia rindu keluarganya atau ada masalah yang diahadapinya seperti sekarang ini, telaga pesantren


Air telaga terlihat berwarna hijau karena lumut yang mulai menempel pada batu dan dinding kolam, Air telaga nampak tenang dan teduh dengan pohon mangga yang berada diatasnya


Nazwa duduk dibawah pohon mangga, menikmati semilir air sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya sambil pikirannya menerawang jauh pada peristiwa yang terjadi pada dirinya belakangan ini


"lucu sekali Naz, mereka sama-sama mengirimkan anti surat seperti itu, tapi mereka sendiri sudah dijodohkan oleh orang tua mereka, lalu untuk apa sekarang memberi harapan palsu kalau pada kenyataannya tak bisa untuk di penuhi" ucapnya menyandarkan tubuhnya di pohon mangga yang berdiri kokoh tersebut


"inilah alasan ana malas mengenal cinta, sering kayak orang gila"


"sudahlah biarkan saja, jika jodoh juga tak akan kemana, siapapun dia nanti, ia adalah pilihan terbaik yang diberikan sang pencipta" ucap Nazwa menghembuskan nafas nya

__ADS_1


drrrt...drttt...drrrrttt


ponsel yang dipegangnya bergetar tanda ada panggilan masuk, ia melihat layar ponselnya dan terkejut ternyata ia lupa mematikan data seluler dan ada panggilan masuk dari WA


Nazwa menekan tombol hijau dilayar ponsel dan


"NAZWA" teriak dari arah sana membuat Nazwa berjingkat kaget dan hampir menjatuhkan hpnya saat melihat wajah sahabat yang dirindukannya


"Astagfirullohaladzim, jangan teriak-teriak ngapa"ucap Nazwa


"cieeee yang udah alim jadi anak pondok" goda bastian


"apaansih bas, ana biasa aja"


"WOOW"


"guys liat deh bahasa ustadzah udah mulai berubah" Reyno ikut-ikitan menggoda sahabatnya itu


"jangan panggil ana begitu, gue nggak suka" ucapan Nazwa sontak membuat sahabatnya semakin tertawa


"HAHAHHA"


"Udahlah Naz, anti nggak cocok pakek bahasa itu lagi, sekarang anti udah beda alam"


"beda alam apaan, emang kalian pikir ana makhluk halus"


"denger ya ustadzah Nazwa, kita itu udah beberapa kali coba telpon lo,


tapi hp lo nggak pernah nyala, nggak pernah aktif, kayak orang ilang tau nggak, kita kira lo udah beda alam" cerocos Yolanda sambik mencomot keripik kentang yang didepannya


"terus pas nggak sengaja liat lo online, tanpa pikir panjang kita langsung nelpon, kita seneng banget pas lo ngangkat telpon"


"hehheh ia tadi ana lupa matiin data, sebenarnya sih ana udah mau balikin hp tadi"


"untung nggak jadi"


"eh btw Naz, pas lo udah balik ponpes lo masih temenan sama kita lagi kan?" tanya Bastian


"ya pastilah kalian itu sahabat terbaik dalam suka dan duka, ana rindu kalian"


"aaaaahh soo sweet"


"eh tapi kok cuma kalian bertiga si Caca mana?" tanya Nazwa yang baru nenyadari tak melihat kehadiran sahabatnya yang satu itu


"tuh lagi kerja" Yolan mengarahkan kamera hp ke arah Caca yang sedang melayani pembeli


"anti mau ngomong?"


"nggak usah deh takut ganggu"


"oh ya, aku baru nyadar kalian nggak sekolah dan lagi di cafe?" tanya Nazwa membuat sahabatnya mengangguk


"kenapa kalian nggak sekolah?"

__ADS_1


"sebenarnya sih kita udah pulang Naz, soalnya guru lagi rapat"


"oowhh, kangen deh masa-masa seperti itu"


"udah anti terima nasib aja"


"tapi ana heran Naz, bukannya anti sedang belajar kok di bolehin pegang hp?" tanya Reyno


"sebenarnya sih kalau di ponpes itu liburnya hari jum'at dan kebetulan tadi ayah juga telpon jadi di bolehin ambil hp sama ustadzah"


"oowh"


"eh Naz, tebakan ana benar nggak nih" ucapan Yolan membuat Nazwa bingung


"tebakan apaan?"


"pasti di ponpes banyak pangeran berpeci putihkan, apalagi jubah dan sorbannya gitu, gimana gimana anti dikhotbah nggak? kayak di novel-novel itu loh"


"di khitbah Yolan, lo pikir orang lagi jum'atan" ucap Bastian menyenggol kepala Yolanda di sebelahnya


"tau juga lo tentang sholat jum'at"


"ya iyalah lo denger ya se brandal-brandalnya gue, gue tetep sholat jum'at berjama'ah"


"ya emang sholat jum'at kan berjama'ah dodol" ucap Yolan memukul pelan kepala Bastian


"hehehe"


"jadi gimana Naz? anti kok bengong? jangan-jangan tebakan ana benar nih?" tanya Yolan menyadarkan Nazwa kembali dari lamunannya saat mengingat kejadian itu


"hadeh mulai sekarang kurangi baca novel deh Yol, kisah cinta nggak seindah dunia novel" jawab Nazwa


"tuh dengerin kata ustadzah kurangi baca novel" ucap Bastian menyenggol Yolan


"yaaahh nggak sesuai ekspetasi"


"eh ana kayaknya mau balikin hp lagi nih, waktunya hampir habis ana tutup telpon dulu ya"


"yahhh kok bentar banget"


"ya mau gimana lagi, emang cuma segitu waktu yang di kasih"


"ya udah anti jaga diri disana ya Naz, kita rindu anti"


"besok pas libur semester ana pulang kok, jadi kita bisa ketemu lagi, kalian juga jangan lupa jaga diri disana ya"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏

__ADS_1


Maaf lama up ...🙏🙏🙏


__ADS_2