Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Kak Ustadz


__ADS_3

Setelah kata 'sah' keluar dari mulut para tamu undangan dan saksi yang hadir di acara sakral tersebut, Gus Rayhan menarik nafas panjang, karena kini dia bukan lagi pria lajang namun seorang suami, tanggung jawabnya lebih berat dan inilah ibadah terpanjang dalam hidup, sebuah pernikahan


Ketika ia mengucapkan nama pasangannya dalam ijab qabul maka disaat itu pula, ia harus belajar mencintai, menyayangi dan memahami pasangannya, ia harus yakin dalam dirinya kalau memang itulah jodoh terbaik yang diberikan Allah untuknya


Ia harus bisa bebas dari bayang-bayang masa lalunya, ia harus melepas nama yang dulu sempat diperjuangkannya, karena yang harus ada dalam hatinya saat ini adalah nama istrinya


"Hufff" ia menarik nafas panjang kala acara akad sudah selesai, kini tinggal saatnya menunggu mempelai wanitanya untuk hadir


"Jangan gugup bang" Fatih yang kebetulan duduk tak jauh menggoda dirinya


"Anta akan merasakannya nanti, tuh liat calon istri anta" Gus Rayhan menunjuk seorang gadis anak kyai, yang kebetulan ikut hadir dalam acara tersebut bersama ayahnya. Karena kabar Gus Fatih dijodohkan dengan dirinya sudah menjadi topik di kalangan pesantren


"Aku masih belum bilang iya" kata Fatih acuh


"Abi memberimu waktu sampai acara ini selesai, jangan lari terus dan segera berikan jawabanmu"


"Aku masih menunggunya" ucap Gus Fatih kecil namun masih terdengar di telinga Gus Rayhan


"Apanya yang anta tunggu dia-" Abi Rahman menegur mereka berdua yang berbicara kala pengantin perempuan sudah tiba di lokasi


Saat tirai dibuka, semua orang menoleh dengan ekspresi terkejut, bukan karena pengantin perempuannya tapi karena seorang gadis cantik berjilbab peach yang datang menggandeng tangan pengantin


"Nazwa"


Rasa sedih, rindu, dan bahagia tercampur menjadi satu


Gadis yang mereka pikir telah hilang dua tahun lalu akibat kecelakaan pesawat kini hadir di hadapan mereka, tak ada sama sekali yang berubah dari dirinya sejak dua tahun lalu kecuali ingatannya yang hilang


Sedangkan orang tua Nazwa sama terkejutnya, bagaimana bisa putri mereka yang menjadi pengiring pengantin wanita?, andaikan dia tau kalau laki-laki yang sedang menikah itu adalah mantan calon tunangannya dulu, bagaimana reaksinya?


Tak ada sepatah kata yang dapat keluar dari mulut karena keterkejutan itu, hingga akhirnya pengantin wanita sampai di pelaminan


"Maaf kak, ini pengantinnya saya tau kakak pasti gugup, tapi sekarang nggak papa kok kan udah halal, iya kan pak kyai?" Nazwa berbicara dengan polosnya dan bertanya kepada Abi Rahman yang kebetulan duduk dekat dengan Gus Rayhan, Abi Rahman hanya mengangguk saja karena ia pun masih syok dengan apa yang dilihatnya


"Mereka pasti terpesona dengan penampilan Kak Aisyah" bisik Nazwa kepada Aisyah dan Aisyah hanya mengangguk tersenyum, walaupun ia tidak yakin kalau dirinyalah penyebab mereka kaget


"Nazwa, bisa ikut ana sebentar?" Gus Fatih langsung berdiri dari duduknya


"Saya kak ustadz?" tanya Nazwa dengan polosnya dan Gus Fatih hanya mengangguk walaupun ia merasa aneh dengan panggilan tersebut


"Pak saya pinjam Syifa sebentar, agar tak ada fitnah" ucap Gus Fatih, menggandeng tangan bocah berusia tiga tahun tersebut, agar tak mengakibatkan kesalahpahaman saat ia hanya bicara berdua dengan yang bukan mukhrimnya

__ADS_1


Sedangkan Nazwa kebingungan, ia tersenyum canggung kepada tamu yang menatapnya namun tetap mengikuti orang yang ada di depannya


Hembusan angin bertiup lembut, dedaunan kering berjatuhan, air kolam nampak bersinar akibat cahaya matahari, tempat yang sama delapan tahun lalu, tempat dimana dirinya sering menghabiskan waktu kala mencari kesunyian dan ketenangan


"Nazwa Azzahra Dinata" Gus Fatih menyebut nama panjang gadis yang hilang seperti di telan bumi dua tahun lalu


"Bagaimana Kak Ustadz, tahu nama saya?" Gus Fatih semakin tercengang dengan jawaban Nazwa, tanpa sadar air matanya menetes, ini bukanlah mimpi tapi kenyataan, orang yang berdiri di belakangnya adalah gadis yang selama ini ditunggunya walau tanpa kepastian


"Apa anti tak ingat apapun? siapa ana? dimana ini? keluarga anti? sahabat anti? ponpes Nurul Hikmah?"


Berbagai pertanyaan Gus Fatih lontarkan hingga membuat Nazwa semakin kebingungan


"Shhhh" Nazwa meringis kala merasakan kepalanya yang berdenyut


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, maafkan aku tapi aku tak ingat apapun, setelah kejadian jatuhnya pesawat itu..."


Gus Fatih segera berbalik


"Jika anti amnesia kenapa anti bisa ingat tentang jatuhnya pesawat?"


"Orang tuaku yang memberitahuku"


"Kapan anti bertemu mereka?"


"Tadi pagi diparkiran"


"Lalu darimana anti tau, kalau nama anti Nazwa Azzahra Dinata?"


"Sebuah name tage, saat ditemukan oleh orang tua yang baik hati merawatku hanya ada dua benda sebagai petunjuk, sebuah name tag bertuliskan 'Nazwa Azzahra D.' dan sebuah tasbih perak dengan setiap butir bertuliskan lafadz Allah"


"Tasbih perak? apa anti ingat tentang tasbih itu?" Nazwa menggeleng


"Itulah tanda perpisahan kita saat ana berangkat ke Kairo"


"kita saling kenal?"


"kita bahkan pernah dekat, berawal dari pohon mangga itu, anti adalah santriwati pertama yang memanjatnya, hingga perasaan itu timbul tanpa bisa dicegah"


"Berbagai masalah timbul, tapi jodoh tak mungkin tertukar, semua sudah diatur oleh Allah Swt bahkan sebelum manusia lahir di dunia"


"Nazwa dengarkan ana, baik dulu maupun sekarang rasa itu tak berubah, apa anti mau membantu ana, agar perasaan ini tak tersesat kejalan maksiat?"

__ADS_1


Nazwa hanya diam, mendengar Gus Fatih yang mengungkapkan perasaannya, sejujurnya dalam hatinya ada perasaan yang tak tergambarkan saat ini


"Tapi aku tak bisa mengingat apapun"


"Satu minggu"


"Satu minggu?"


"Satu minggu lagi ana datang kerumah anti dan bertemu orang tua anti, untuk menyampaikan niat ana menjadikan anti pasangan hidup, terikat dalam ikatan halal agar tak ada dosa yang timbul karena perasaan ini"


"Jika kita memang ditakdirkan berjodoh, sejauh apapun jarak diantara kita Allah punya seribu macam cara untuk mempersatukan kita"


deg


Jantung Nazwa bergemuruh kencang, kata-kata itu seperti berputar dalam kepalanya, terasa sangat tak asing bagi dirinya


"Tapi..."


"Jangan katakan tak bisa mengingat apapun, cukup yakinkan hati anti, ana akan membantu anti mengingat semuanya pelan-pelan"


"Tapi bagaimana caraku meyakinkan hati jika aku saja tak ingat padamu?"


"Ingatlah aku sebagai seseorang yang berjuang untukmu dan ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah mengalah kala lamaran ku ditolak"


"ditolak? lamaran?"


"Jangan paksakan ingatanmu, pelan-pelan saja, kala kita sudah disatukan dalam ikatan yang halal, akan kubantu mengingat semua yang pernah kau lupakan, dari awal masuk pesantren hingga bagaimana pengorbanan dan perjuanganku untukmu"


"Assalamu'alaikum"


"Aku akan berusaha" Nazwa bersuara setelah diam beberapa saat membuat Gus Fatih yang hendak berjalan berhenti


"Jika Kak Ustadz mengatakan hal seperti itu aku akan berusaha, ingatanku mungkin hilang tapi rasa yang dulu mungkin sama dan tak akan pernah bisa terlupakan" ucap Nazwa karena biarpun ingatannya hilang, dalam hatinya ada perasaan dekat dengan orang tertentu seperti saat pertemuan dengan kedua orang tuanya


"Maksud anti?"


"Assalamu'alaikum kak ustadz" Nazwa pergi lebih dulu menggandeng tangan Syifa yang sedang asyik memperhatikan ikan di kolam yang jernih, menyisakan pertanyaan sekaligus rasa bahagia di hati Gus Fatih


"Ya Allah, jika dia kembali karena memang ditakdirkan untuk hambamu, tolong jangan pisahkan hamba lagi darinya"


Banyak Typo...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2