
Nazwa berjalan cepat melewati koridor pesantren yang nampak sepi, karena bel masuk sudah berbunyi dari beberapa saat yang lalu, ia terus bergumam kesal merutuki kecerobohannya yang malah tertidur di perpustakaan, untung ada Aziz disana yang membangunkannya, tak bisa dibayangkan sampai kapan ia akan tertidur disana
"Nazwa" suara seseorang keluar dari salah satu ruangan membuat Nazwa memegang dada terkejut
"Gus Rayhan?"
"anti dari mana aja?"
"perpustakaan"
"anti tau bel udah bunyi?"
"udah, makanya ana jalan cepat, Assalamu'alaikum Gus" ucap Nazwa berbalik hendak pergi namun lagi lagi langkahnya harus terhenti saat mendengar ucapan Gus Rayhan
"apa pendapat anti tentang ta'aruf Naz?" pertanyaan Gus Rayhan membuat Nazwa menoleh kembali ke belakang karena tak sopan baginya jika harus menjawab dengan membelakangi gurunya
"menurut ana baik sih ustadz, jadi kan nggak harus pacaran" jawab Nazwa
"apakah anti sudah bisa menjawab pertanyaan ana beberapa hari yang lalu?" tanya Gus Rayhan membuat Nazwa membeku seketika
"maaf Gus, ana harus ke kelas"
"sekarang jam pelajaran ana di kelas anti Nazwa, jawab saja dulu pertanyaan ana" ucap Gus Rayhan membuat Nazwa gagal menghindar
"Nazwa, menurut anti kalau kita menyukai seseorang, dan kita minta kepada Allah lalu hati kita yakin dengannya, apa yang harus kita lakukan?"
"menurut Nazwa ungkapkan kepada orangnya langsung Gus, dengan begitu kita akan tau jawabannya, Allah itu maha membolak balikkan hati manusia jadi kalau dia memang jodoh, Allah pasti akan mempersatukannya" jawab Nazwa
"kalau orang itu anti Naz, apa jawaban anti?" pertanyaan itu membuat tubuh Nazwa terasa kaku
"ma maksud Gus Rayhan apa?"
"Nazwa, Agama tak melarang kita mencintai, itu hal yang wajar dalam diri setiap manusia begitu pun ana, entah sejak kapan rasa ini mulai tumbuh kepada anti, ana tak mau perasaan ini menjadi dosa dan menuju ke arah dosa"
"apakah anti bersedia untuk ta'aruf?"
"berikan ana waktu dulu Gus, Assalamu'alaikum"
Pertanyaan Gus Rayhan beberapa hari lalu selalu berputar di kepala Nazwa, yang kadang membuat dirinya bimbang apa yang harus ia lakukan, dua putra mahkota pesantren mengungkapkan perasaan kepadanya siapa yang akan ia pilih?
"Nazwa jadi bagaimana?" pertanyaan Gus Rayhan lontarkan sekali lagi membuat Nazwa tersadar dari lamunannya
"hemm, ana belum bisa menjawab sekarang Gus, banyak hal yang harus ana pikirkan sekarang, ana masih punya masa depan yang begitu panjang, ana masih punya banyak mimpi dan cita-cita yang ingin ana wujudkan, jadi ana harap anta dapat mengerti Gus"
"tapi itu semua kan bisa diraih walaupun anti sudah menikah?"
__ADS_1
"tetap saja berbeda, menikah bukan sekedar hanya mengucapkan kata sah saja, tapi sebuah janji yang terucap dihadapan Allah dan menikah itu hukan hanya satu tahun, sepuluh tahun tapi selamanya, jika sudah menikah akan banyak hal yang harus dikerjakan, akan semakin berat tanggung jawab yang harus dipikul"
"itu semua dapat dilakukan bersama Naz, belajar untuk saling melengkapi dan saling mengerti satu sama lain bukankah itu tugas dan kewajiba seorang pasangan"
"maaf Gus, bukan bermaksud ana menolak hanya saja ana tak dapat menjawabnya sekarang, menikah adalah nomor terakhir dalam rencana hidup ana setelah ana berhasil dan sukses menggapai semua mimpi, yang ana takutkan adalah tak dapat menjalankan tugas dengan baik, kalau ana fokus dengan urusan rumah tangga pendidikan ana akan terbengkalai, begitupun sebaliknya kalau ana terlalu fokus pada pendidikan artinya ana gagal dihadapan Allah menjadi seorang istri yang baik"
"apakah dihati anti sudah ada seseorang Naz?"
deg
pertanyaan itu membuat Nazwa diam seketika
"kenapa anti diam? apa benar Naz?"
"bukan tentang masalah itu Gus, tapi ana hanya takut tidak dapat membagi waktu, apalagi emosi ana yang masih labil, ana takut menjadi seorang istri yang gagal"
"itulah gunanya seorang pasangan saling mengerti Naz"
"sekali lagi maaf gus, ana belum bisa memberi jawaban sekarang"
"lalu kapan anti bisa Naz?"
"datanglah ke rumah ana beberapa tahun lagi, disaat mimpi dan cita-cita ana tercapai, bicarakan baik-baik dengan orang tua ana disitulah ana baru bisa mengambil sebuah keputusan besar seperti itu, tapi perlu anta juga ingat Gus, Allah itu maha membolak balikkan hati seseorang dan hanya dia yang tau siapa jodoh kita, mungkin besok, lusa, satu minggu, satu bulan, satu tahun atau beberapa waktu lagi Allah datangkan jodoh anta Gus, dengan caranya"
"jadi jangan anggap ini adalah sebuah janji karena rencana Allah tidak ada yang tau bagaimana kedepannya"
"berharaplah pada Allah, jangan kepada makhluknya karena ia bisa saja menghianatimu"
"jika Allah takdirkan kita berjodoh Gus, kita akan dipertemukan lagi"
"Ya anti benar Naz, semoga hari itu ana tak terlambat"
"Tidak ada kata terlambat Gus, maaf kalau ana bersikap seperti ini, tapi seorang wanita adalah madrasah pertama untuk anaknya, jadi ia harus punya pendidikan setinggi mungkin agar dapat mendidik anak-anaknya kelak"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"ini yang membuat ana begitu kagum padamu ukhti, anti mampu berpikir jauh" ucap Gus Rayhan dan melangkahkan kaki pergi ke kelas tujuannya
......................
"NAZWA, NAZWA" teriak Nadifa dengan heboh menghampiri Nazwa dan Salwa yang duduk di kursi yang ada di halaman belakang pesantren menikmati kesejukan angin yang bertiup sepoi-sepoi untuk menghilangkan sejenak pikiran mereka dari tugas-tugas dan materi pelajaran yang menumpuk membebani pikiran mereka, di tambah masalah keluarga yang membuat mereka dipaksa harus berpikir dewasa
"ck... apaansih Nad, anti ganggu aja" ucap Nazwa membuka matanya dan memandang kesal ke arah Nadifa dan Hana yang baru datang dengan nafas tak teratur
__ADS_1
"ini berita penting Naz"
"berita? berita apaan?" tanya Salwa ikutan kepo
"Gus Fatih katanya sebentar lagi balik ke indonesia"
deg
Nazwa terkejut dan jantungnya terasa berpacu lebih kencang, namun dengan cepat ia kembali menetralkan ekspresinya
"ooowhhh" ucapnya kembali memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu yang sudah nampak tua tersebut
"nyesel ana ngasih tau anti, kalau respon nya hanya owwwhh doang" ucap Nadifa kesal dan mendudukkan dirinya di kursi sebelah Hana
"anti nggak ada respon apa-apa gitu Naz, terkejut, senang atau terharu gitu?" tanya Hana
"respon apasih? kalian lebay deh, ana biasa aja"
"astagfirullohaladzim Nazwa, Gus Fatih yang ngasih anti surat itu dan bilang kalau jodoh pasti bertemu, anti nggak penasaran gitu dia pulang ngajak anti ta'aruf terus kuliah bersama di kairo bentar lagi kan tamat" cerocos Nadifa membuat Nazwa langsung berdiri
"ta ta'aruf?" tanya Nazwa
"ya siapa tau dia pulang buat itu atau buat ngucapin selamat gitu ke anti, seminggu lagi kan ujian, siapa tau dia pulang pas acara perpisahan"
"apaansih, palingan juga buat nikah sama Khumairo" ucap Nazwa kembali duduk, ia masih mengingat ucapan Kyai Husain yang mengatakan menjodohkan mereka, padahal itu sudah sangat lama
"cieee, Nazwa cemburu" ledek ketiga temannya kompak
"ish, apaansih?"
"ngaku aja Naz"
"ih enggak ya"
"cieee Nazwa malu"
"udah ah ana mau balik ke kamar aja" ucap Nazwa berdiri dengan kesal dan justru membuat temannya semakin tertawa
.
.
Maaf ya lama up...🙏🙏🙏
.
__ADS_1
Maaf kalau kalian ngerasa alurnya terlalu cepat atau nggak nyambung... 🙏🙏🙏