
πΏπΏπΏπΏπΏ
"Assalamualaikum" Nazwa langsung masuk rumah setelah menaruh motor kesayangannya di garasi
"Wa'alaikumussalam" jawab ibunya yang terdengar dari arah dapur "tumben banget kamu nggak teriak-teriak" sambung ibunya sambil menuju meja makan membawa makanan dari dapur
"ya elah bu, teriak salah nggak teriak salah ibu maunya gimanasih" kesal Nazwa sambil melepas sepatunya.
"ya pertahin aja kek gini, jangan kebiasaan teriak-teriak nggak jelas"
"oh ya ayah sama abang mana bu" tanya Nazwa celingukan mencari keberadaan ayahnya yang tak nampak diruang tamu
"Ayah sama abang kamu lagi di ruang kerja"
"oh yaudah kalau gitu aku masuk kamar dulu" Nazwa berlalu menaiki anak tangga
"mandi, sholat magrib terus turun makan malam" teriak ibunya dari meja makan
"aku kenyang bu, udah makan bakso tadi sama temen-temen"
Pintu kamar dibuka, Nazwa memperhatikan sekeliling kamarnya, kamar yang selalu menjadi saksi bisu kala ia dalam keadaan suka dan duka
Tatapannya terhenti dipojok kiri kamarnya terdapat piano, gitar dan biola yang sering diamainkannya. ya, Nazwa memiliki hobi bermain musik. Ia melangahkan kakinya duduk dikursi depan piano sambil menekan tuts menciptakan irama musik yang indah. setiap tuts yang ditekan seolah menceritakan kegundahan hatinya, ia mengusap sudut matanya yang berair mengingat setiap kenangan dikamarnya. "ayo kamu kuat Nazwa kamu pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya.
Nazwa berlalu menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah itu melaksanakan sholat magrib dan membaca Al-Qur'an sementara menunggu waktu isya sambil muroj'ah hafalannya, Nazwa seorang penghafal tak ada yang tau bahkan keluarganya, sekalipun ia memberitahu tidak ada yang akan percaya karena kelakuannya yang nakal. Suara merdu ayat suci Al-Qur'an yang dilatunkan membuat pikiran dan hatinya tenang. Setelah selesai sholat isya ia berdo'a sebentar dan merapikan perlengkapan sholatnya.
ceklek
pintu kamar dibuka, Nazwa yang duduk diranjang memainkan handphonenya mengalihkan pandangannya pada ibunya yang baru saja masuk.
"ibu ngapain?" Nazwa heran melihat ibunya yang masuk membawa dua koper
"bantuin kamu beresin baju buat dibawa kepesantren besok" ucap ibunya membawa dua koper ke depan lemari.
"dua koper bu?" ucap Nazwa terkejut
"iya, nanti baju kamu nggak cukup disana"
"ya allah bu, kalah sama orang yang mau keluar negri entar aku dikira TKW lagi bawa koper banyak-banyak, udah cukup satu aja"
"udah jangan banyak ngomong kamu terima aja, lebih baik kamu bantu ibu packing pakaian kamu jangan bisanya cuma komentar aja" ucap ibu Nazwa sambil memasukkan baju dalam koper.
"iya bu, besok berangkat aku pake baju apa bu?"
"pakai gamis yang mana aja, lagian kamu masih siswa baru"
"kalau aku kangen ibu,ayah, sama abang gimana?" air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya ingin tumpah juga
"ya telpon, kamu minta izin nanti sama pengurus pondok" ucap ibunya memeluk Nazwa "disana belajar yang rajin ya nak buat ibu sama ayah bangga" sambung ibunya lagi dan Nazwa hanya mengangguk dalam dekapan ibunya.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Fajar mulai tampak diufuk timur tanda hari sudah siap untuk dimulai. Setiap orang mulai dari kalangan biasa sampai pejabat bersiap mengais rezki yang telah dititipkan sang ilahi. Seorang gadis dengan gamis biru dongker dan jilbab senada sedang memperhatikan indahnya warna jingga diufuk timur dengan lampu-lampu penduduk yang masih menyala dari balkon kamarnya. Angin pagi berhembus pelan membawa udara dingin seolah menjadi ujian penduduk bumi dipagi hari apakah lanjut bermimpi atau bangun untuk mewujudkan mimpi.
ceklek
pintu kamar dibuka membuat gadis itu menoleh
__ADS_1
"bang sat" ucap Nazwa terkejut melihat abangnya memasuki kamarnya.
"kalau manggil nama gue jangan setengah-tengah, nggak sopan banget lu" ucap abangnya sambil duduk didekat Nazwa sedangakan Nazwa hanya cengir.
"abang ngapain kesini?"
satria terdiam cukup lama setelah itu mengembuskan nafasnya "hahhhh"
"gue bakal rindu lo dek, nggak ada lagi yang berantem sama gue, nggak ada lagi adek gue yang nakal, nggak ada lagi suara teriakan lo yang membuat penghuni rumah tutup telinga" ucap Satria sambil memeluk adik kesayangannya.
"abang nggak ada disana kalau lo butuh pertolongan dek, jadi lo jaga diri baik-baik ya disana" satria masih memeluk Nazwa sambil mengusap matanya yang berair.
"kok lo jadi mewek gini sih bang, pas gue udah pergi baru lo sadar, kemarin-kemarin pas dirumah lo ngajak gue gelud mulu"
Satria kesal lantas melepas pelukannya "ngerusak suasana aja lo ah"
"huh"
"mau bagaimana lagi bang kalau ayah sudah bertindak"
"gue yakin ayah menginginkan yang terbaik buat lo, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya" ucap Satria sambil mengelus kepala adiknya yang tertutup jilbab dan Nazwa hanya mengangguk
"udah ayo turun ibu sudah manggil untuk sarapan biar cepet berangkat"
πππππ
Mobil melaju membelah jalanan, jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh namun kendaraan sudah mulai padat. Nazwa mengedarkan pandangannya ke jalan memperhatikan orang-orang yang mulai beraktifitas lewat kaca mobil.
"nanti Nazwa kalau disana belajar yang bener ya nak" ucapan ayahnya membuat Nazwa menoleh kedepan. Mereka sengaja tidak membawa supir, Satria yang menyetir dan ayahnya duduk disamping kemudi. Sedangkan Nazwa duduk dibelakang bersama ibunya.
"ayah" ucap Nazwa lirih sambil memegang tangan sang ayah dan menganggukan kepalanya.
Nazwa tertidur hampir satu setengah jam namun belum juga sampai. Ia membuka jendela mobil memperhatikan sekeliling ia mengucek-ucek matanya untuk memastikan penglihatannya.
"loh itu kan rumah kakek bu" tunjuk Nazwa pada rumah panggung berwarna coklat dengan arsitek seperti rumah pada zaman dulu, dihalaman rumah terdapat tempat duduk yang terbuat dari bambu dan dipenuhi dengan berbagai macam bunga dan buah-buahan.
"iya itu rumah kakek, ayah sengaja milih pesantren yang deket dari sini soalnya kata kakek pesantrennya bagus, Nazwa juga bisa sering jenguk kakek kalau libur" jelas ayahnya
"kita kerumah kakek dulu yah?" tanya Nazwa pada sang ayah yang masih memperhatikan rumah kakeknya dari jendela mobil.
"nggak, langsung kepesantren aja soalnya sebentar lagi mau sampai, kakek sama nenek juga nggak ada dirumah kata kakek kemarin pergi kondangan ke kampung sebelah nanti kalau Nazwa mau ke rumah kakek jaraknya nggak terlalu jauh dari pesantren" ucap ayahnya.
"kok aku nggak tau ada pesantren pas sering kerumah kakek?"
"lo aja yang sibuk ke kebon sama kakek, nggak pernah nanya" jelas abangnya pada Nazwa yang kebingungan
πππππ
Mobil memasuki gerbang besar berwarna hitam dengan tulisan "Nurul Hikmah" di dinding berlapis keramik samping gerbang. Satpam yang bertugas di gerbang tersenyum saat melihat ayah Nazwa sepertinya ia sering melihat ayah. Nazwa memperhatikan sekeliling tidak terlalu ramai, hanya santri yang olahraga dilapangan sedangkan yang lain sepertinya sedang belajar dikelas. Mobil terparkir didepan rumah yang sepertinya pemilik pondok. Ayah keluar dari mobil diikuti Satria dan ibunya dan langsung disambut hangat oleh orang rumah. Sedangkan Nazwa masih enggan bangun dari kursinya.
"Nazwa ayo turun udah sampai" ucap ibunya membuat Nazwa menurut saja.
"Assalamualaikum, selamat datang di pondok pesantren kami pak wiraguna" ucap pria memakai jubah putih, sorban dan memegang tasbih ditangannya didampingi wanita paruh baya yang masih terlihat cantik
"wa'alaikumussalam pak kyai"jawab ayah sambil bersalaman sedangkan wanita itu menangkupkan tangan didepan dada saat bersalaman dengan ayah dan Satria.
"Nazwa salim dulu sama pak kyai dan istrinya"
__ADS_1
Nazwa yang sedari tadi kebingungan mengangguk dan bersalaman.
"ini anak pak wiraguna yang mau mondok, cantik sekali" puji istri pak kyai saat melihat Nazwa.
"makasih bu guru eh ustadzah" ucapnya menepuk mulutnya pelan.
"panggil ummi fatimah saja seperti santri disini, ini suami ummi panggil abi Rahman" jelas ummi fatimah dengan senyum.
"iya ummi" jawab Nazwa
Mereka dipersilahkan masuk dan duduk diruang tamu.
"jadi seperti yang sudah saya sampaikan kemarin saya berniat menitipkan putri saya disini pak kyai" pak Wiraguna membuka pembicaraan.
"tentu pak, kami dengan senang hati menerima putri bapak sebagai santri diponpes ini"
setelah berbincang cukup lama, ayah pamit pada pak kyai.
"Nazwa disini belajar yang rajin ya nak, jangan nakal dengarkan ucapan ustadz dan ustadzah disini" jelas ayah Nazwa sambil mencium kepala putrinya sedangkan Satria mengeluarkan dua koper adiknya dari bagasi mobil.
"Nazwa mau ikut ayah pulang aja akh, Nazwa ndak mau mondok, Nazwa takut" ucap Nazwa memeluk erat sang ayah
"udah Nazwa belajar aja yang bener ntar juga terbiasa" ucap ibu Nazwa mengelus kepala putrinya.
"inget dek jangan nakal nanti lo dihukum bersihin kamar mandi, terus tiba-tiba mati lampu pintu tertutup terdengar suara ketawa hihihi, langsung pingsan deh lo" ucap Satria menakut-nakuti adiknya dan membuat Nazwa semakin memperkuat pelukan kepada ayahnya.
"Satria..." ibu memukul kepala Satria pelan "terlalu banyak nonton film horor kamu, jangan nakut-nakutin"
"peace dek" satria mengangkat dua jari
"kita pulang dulu ya nak, belajar yang rajin" ucap ayahnya meninggalkan Nazwa masuk ke mobil diikuti ibu dan satria setelah bersalaman.
"inget jangan nakal lo dek" ucap Satria sekali lagi sebelum benar-benar menutup pintu mobil
Nazwa hanya diam sambil memandangi mobil ayahnya yang semakin menjauh.
"Nazwa ayo ummi antar kekamarmu sekalian keliling ponpes, ummi perkenalkan pada para pengajar disini" ummi fatimah menyentuh pundak Nazwa yang sedari tadi diam saja.
Nazwa mengangguk dan menyeret dua koper sekaligus
" sini ummi bantu bawa"
"makasih ummi, soalnya ibu saya repot banget kayak anaknya mau jadi TKW aja" Nazwa tersenyum dan memberikan satu koper pada ummi fatimah
"itu tanda sayang ibu pada anaknya, tidak ingin anaknya kekurangan apapun" ummi fatimah tersenyum mendengar perkataan Nazwa.
"Nek...nenek" seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun memakai pakaian hitam putih dengan lincahnya menghampiri ummi fatimah dan Nazwa
"kamu ngapain disini, bukannya belajar?"
"ngambil buku nek, ketinggalan dirumah" ucap anak laki-laki itu "oh ya kakak ini siapa nek?" tunjuknya pada Nazwa
"ini namanya kak Nazwa santriwati baru disini, Nazwa perkenalkan ini cucu ummi namanya Aziz" dibalas senyuman oleh Nazwa
"cepat ambil buku mu dan kembali kekelas" dengan cepat anak laki-laki itu pergi berlari.
"dia cucu pertama ummi, anak ummi ada tiga, anak pertama perempuan sudah menikah, anak kedua laki-laki saat ini kuliah dimesir, dan anak bungsu ummi laki-laki masih kelas dua aliyah sama seperti kamu" Nazwa hanya mengangguk mendengarkan saja, pikiran nya saat ini masih belum percaya kalau dirinya seorang santriwati.
__ADS_1
πππππ