Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Perpustakaan


__ADS_3

Seperti biasa sebentar lagi akan di laksanakan ujian kenaikan kelas, para santri lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca buku termasuk Nazwa dan kawan-kawan yang kini lebih memilih bangku paling pojok untuk membaca buku


"eh kalian tau nggak, kabarnya Gus Fatih mau dijodohin sama ning khumairo loh" bisik Hana sambil menutup wajahnya dengan buku yang dibacanya


"eh iya kah? anti tau dari siapa?" tanya Nadifa melakukan hal yang sama


"tadikan pas ana mau ke kantin, nggak sengaja denger pembicaraan para senior gitu, katanya biar ning Khumairo ada yang jaga kalau sekolah di mesir" bisik Hana pada Nadifa sedangkan Nazwa dan Salwa tetap memegang buku walaupun sibuk membaca, tapi berbeda dengan Nazwa yang sok sibuk membaca, pikirannya bukan pada buku yang dibacanya tapi melayang entah kemana


"oh ya???, bukannya dari dulu mereka memang udah dijodohin ya?"


"hmmm, tapi nggak nyangka aja kalau cepet banget"


"eh Nazwa, Salwa kalian berdua denger nggak?" tanya Nadifa membuat mereka yang namanya disebut mendongak


"apa?"


"kalian nggak asik, kita lagi bahas bentar lagi Gus Fatih mau nikah"


"ohhh" ucap Nazwa santai padahal dalam hatinya ia merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya


"oh? oh aja Naz?"


"memang Nazwa harus jawab apa? buat apa terus ngomongin jodoh orang, kalau dia mau nikah ya terserah dia kan" jawab Salwa santai


"ishhh, maksud ana bukan gitu tapi yang lebih mengejutkan lagi, kalian tau nggak katanya Gus Rayhan juga bakal nikah loh, dijodohin sama saudara Kyai Husain juga"


"APA!!!" teriak Nadifa cukup keras hingga beberapa santri yang disana menoleh ke arah mereka termasuk ustadzah Zulaikha yang sedang bertugas menjaga perpustakaan hari itu


"mohon untuk santri yang ribut silahkan diluar jangan menganggu konsentrasi santri yang lain, ini perpustakaan sudah terpampang jelas disana jangan ada yang boleh berisik dalam perpustakaan"


"na'am ustdazah afwan" ucap Nadifa menunduk


"makanya kalau ngomong itu jangan suka teriak-teriak gini kan jadinya" ucap Nazwa melihat Nadifa yang masih menunduk


"ana terkejut Naz, nggak nyangka banget kayak gitu, menang banyak dong Kyai Husain" ucapan Nadifa membuat Hana yang di sebelah nya memukul kepala temannya itu


"menang banyak apaan? anti kira ini lotre"


"hehehe becanda"


"anti update banget masalah berita kayak gini Han" ucap Salwa mengelengkan kepalanya


"nggak sengaja Sal, ana lewat depan kantin eh malah denger senior ngobrol kayak gitu"


"anti pasti diam dengerin dulu kan?" tuduh Nazwa

__ADS_1


"pasti lah itu, ana sudah menebak kegiatan Hana disana yang sok sibuk nyari barang-barang di kantin tapi ujung-ujungnya yang diambil cuma air mineral aja" cerocos Nadifa


"sok tau anti"


"bukan sok tau Hana sayang tapi itu emang udah kebiasaan anti" ucap Nadifa mengejek Hana


"tapi darimana mereka tau, perasaan kemarin aku nggak liat ada senior yang lewat?" batin Nazwa bingung


"tapi darimana para senior itu tahu Han, jangan-jangan anti bawa berita Hoaks lagi?" tanya Nadifa yang sekaligus menjawab rasa penasaran Nazwa


"katanya sih kemarin mereka bersih-bersih rumah pak kyai terus nggak sengaja denger gitu"


"mana ada orang nggak sengaja denger kalau tau sampai sedetail gitu" ucap Nazwa membuat Hana hanya mengedikkan bahu


"tapi kalau bener itu sampai terjadi terus nasib ana gimana?" ucapan Nadifa membuat teman-temannya sontak menoleh ke arahnya


"lah apa hubungannya sama nasib anti Nad?" tanya Salwa bingung dengan ucapan Nadifa


"kalau Gus Fatih sama Gus Rayhan nikah, nggak ada dong yang bisa jadi penyemangat"


"Astagfirullohaladzim" ucap ketiga temannya mengelus dada sambil menggelngkan kepala termasuk Hana yang ikut-ikutan padahal diri nya juga sebelas dua belas dengan Nadifa


"udah-udah dari pada ngomongin jodoh orang mulu, mending lebih banyak lagi belajar, pas ujian nggak ada soal yang nanyain siapa jodoh orang" ucap Nazwa terlihat tenang padahal dalam hatinya ia merasakan sesuatu yang aneh


"Belajar!!!" ucap Nazwa tegas memotong ucapan Hana yang ingin kembali meneruskan bicaranya


"sekali ini aja Naz"


"jangan terus memberikan pahala pada orang lain, kalau anti membicarakan orang lain artinya pahala anti akan mengalir ke orang tersebut dan dosa orang itu akan ditanggung oleh anti. anti mengatakan sekali lagi sampai pahala habis, anti mau seperti itu?" ucapan Salwa membuat Hana hanya menggeleng


"Astagfirullohaladzim maafkan hamba mu ini ya Allah, hamba khilaf"


🌷🌷🌷


Nazwa berjalan seorang diri menuju asrama karena teman-temannya yang lain masih di perpustkaan mencari buku yang akan mereka pinjam, Nazwa keluar lebih dulu dengan alasan ingin ke kamar mandi tapi nyatanya ia hanya membutuhkan sedikit ketenangan di dalam suasana hatinya yang terasa campur aduk


"Ya alloh engkau yang lebih mengerti hamba dari diri hamba sendiri, engkau tau yang terbaik untuk hamba, berikan lah segala sesuatu yang terbaik untuk hamba ya alloh" batin Nazwa menghadap ke arah langit yang terlihat sedikit mendung


Ia menggenggam dua buah gantungan kunci yang sama-sama bertuliskan kaligrafi begitu indah yang diberikan oleh orang yang sama yang mengirimkan surat kepadanya


Nazwa terus berjalan dengan mempercepat langkahnya kembali ke asrama, namun bukannya menuju asrama ia malah membelokkan langkahnya ke arah telaga tempat biasanya ia menenangkan pikiran nya


"lucu, lucu sekali Nazwa, untuk apa kau begitu memikirkan hal seperti itu, sudah lepaskan saja bebanmu pikirkan saja apa yang memang sudah nyata dan hilangkan rasa yang ada dalam hatimu" ucap Nazwa pelan sambil terus memperhatikan ikan yang berenang dengan bebas di kolam itu hingga tak terasa butiran air bening jatuh membasahi pipinya


"hidup ini terasa berat sekali, rasa nya lebih baik menjadi burung yang bebas terbang kesana kemari, tanpa beban"

__ADS_1


"sejauh-jauh burung terbang ia akan tetap ingat pada rumahnya" ucap seseorang dari belakangnya membuatnya Nazwa menoleh


"Assalamu'alaikum Naz" ucap orang tersebut dengan senyuman di wajahnya yang memeperlihatkan sederetan gigi putihnya


"Wa'alaikumussalam, ada apa Gus Fatih?" tanya Nazwa menetralkan ekspresinya dan mengusap air matanya dengan kasar


"anti kenapa duduk sendiri disini?"


"nggak ada hanya butuh ketenangan aja buat belajar" jawab


Nazwa


"anti ternyata nggak pandai bohong Naz"


"apa maksud anta?"


"ana liat anti tadi nangis disini"


"cuma kangen rumah aja"


"bukannya kemarin anti udah telponan sama mereka?"


"sekedar media telpon tak sama rasanya dengan berjumpa langsung dengan mereka untuk merasakan kehangatan dalam keluarga"


"mmm ana mengerti"


"apa tujuan anta kesini Gus? ana takut dilihat santri yang lain bisa menimbulkan fitnah"


"tadi ustadzah manggil anti di suruh ke ruang guru"


"oh kalau gitu ana pergi dulu, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"jika anti mendengar gosip atau berita tentang ana dan Khumairo, tolong jangan cepat percaya Naz, pada dasarnya diantara kami tidak ada ikatan apa-apa"


ucapan Gus Fatih membuat Nazwa menghentikkan langkahnya sebentar untuk mencerna ucapan itu, tapi kemudian mempercepat langkahnya ke arah ruang guru


"ana harap anti percaya sama ana Naz" ucap Gus Fatih melihat Nazwa yang semakin menjauh


.


.Banyak Typo...🙏🙏🙏


. Maaf kalau alurnya kurang nyambung 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2