Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Hukuman


__ADS_3

Cahaya matahari nampak bersinar terik pagi itu, para santri sudah belajar dalam kelas masing-masing namun berbeda dengan Nazwa dan temannya yang saat ini berlari berkeliling lapangan karena terkena hukuman berlapis seperti sidang pengadilan


Flashback on


Pagi-pagi buta Nazwa sudah mengantarkan Salwa kembali ke rumahnya tentunya dengan mengendap-endap keluar pesantren agar tak dilihat kang ujang yang berada di posko, dengan meminjam motor matic kak indah ia bergegas sebelum ketahuan para santri yang lain.


Saat kembali ke ponpes keberuntungan tak berpihak pada dirinya ustadz Akmal berdiri di depan gerbang ponpes dengan memegang rotan persis seperti bapak yang melihat anak perempuannya keluyuran


Nazwa masuk pelan ke gerbang pesantren, namun belum ia melangkahkan kakinya suara seseorang menghentikan langkahnya


"hhemm, anti dari mana Naz? pagi-pagi udah ilang kayak makhluk ghaib aja"


"hehehe ustadz, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, jangan mengalihkan pembicaraan jawab pertanyaan ustadz"


"anu itu ustadz, ana tadi nganterin Salwa pulang" ucap Nazwa menunduk


"kenapa nggak minta izin?"


"kalau minta izin, emang ustadz ngizinin?" ucap Nazwa menunduk meremas ujung


"enggak"


"lah terus kenapa suruh minta izin?"


"ya setidaknya anti sudah berusaha minta izin bukan main nyelonong aja keluar masuk pesantren"


"afwan ustadz, ana tau ana salah"


"sudah, sekarang anti masuk kamar temui ana nanti di ruang guru bersama Nadifa dan Salwa" ucap ustadz Akmal tegas dan Nazwa hanya mengangguk sebagai jawaban


"huff ketahuan"


Nazwa melangkahkan kaki gontai menuju kamar asramanya, pikirannya sedang kacau sekarang


"eh Naz, anti tau nggak banyak loh santri yang muji penampilan kita semalam" cerocos Nadifa saat Nazwa baru masuk ke dalam


"ohhh baguslah kalau gitu"


"eh ngomong-ngomong Naz, tadi pas anti nganterin Salwa aman kan?" tanya Hana membuat Nazwa menggeleng sebagai jawaban


"ketahuan sama ustadz Akmal" gumam Nazwa pelan namun masih bisa di dengar


"terus anti nggak di apa-apa in kan?"


"enggak, cuma tadi ustadz Akmal nyuruh kita bertiga ke ruang guru" ucap Nazwa menunduk


"ya udah nggak papa, terus ngapain anti kayak sedih gini?"


"maaf ya, mungkin ini semua gara-gara ana kalau..."


"sssttt" Hana langsung menempelkN jari telunjuknya di bibir Nazwa


"kan kita sudah pernah bilang, ini masalah kita bersama, kalau kita sudah siap dengan segala konsekuensinya, berani berbuat harus berani juga bertanggung jawab" lanjut Hana


"betul, kan anti juga yang bilang sekali-kali lah kena hukum biar hidup juga nggak lurus-lurus amat" ucap Nadifa meniru ucapan Nazwa

__ADS_1


"makasih ya, ana kira kalian marah tadi"


"udahlah jangan ngucapin makasih dalam persahabatan tidak ada ucapan terima kasih" ucap Hana menenangkan Nazwa


"udah, sekarang ayo kita ke kelas eh maksudnya ke ruang guru, siap-siap menjalani hukuman hehehe"


"ya udah ayo semangat"


"dihukum"


hahaha


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang guru, para santri lainnya sudah masuk ke kelas karena bel telah berbunyi


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" jawab seseorang dari dalam


"kalian bertiga ngapain kesini?" tanya Gus Fatih saat Nazwa dan teman-temannya masuk ke dalam


"kita kesini..." belum sempat Hana menyelesaikan ucapannya langsung dipotong oleh Nazwa


"nggak ada urusannya sama anta" jawab Nazwa cepat


"loh..."


"eh Nazwa, Hana, Nadifa udah dateng, sini ke meja ustadz" ucap ustadz Akmal yang tiba-tiba muncul dari belakang memotong ucapan Gus Fatih


"Fatih anta ngapain masih disini?" ustadz Akmal melihat Fatih yang sok sibuk merapikan beberapa kitab diatas meja


"hehehe ngambil kitab ustadz"


"na'am ustadz"


"kepo" gumam Nazwa pelan namun nasih bisa di dengar saat Gus Fatih melewati dirinya


"kalian bertiga sekarang duduk sini"


ucap ustadz Akmal menunjuk tiga kursi di depan meja nya


"sumpah ini kayak sidang pengadilan aja, kok aku jadi deg degan sih, hufff udah tenang Nazwa nggak bakal terjadi apa-apa kok, oke tenang" batin Nazwa sambil terus menghembuskan nafas pelan


"kalian tau apa tujuan ustadz manggil kalian kesini"


"enggak tau ustadz" jawab Hana dan Nadifa kompak sedangkan Nazwa hanya diam saja


"Nazwa anti tau?"


"emmm karena tadi pagi ya ustadz?"


"nah itu anti udah tau, ustadz tau kalian pasti kerja sama kan tadi pagi" ucap ustadz Akmal dan dengan polosnya mereka bertiga hanya mengangguk sebagai jawaban


"nah oleh karena itu, kalian ustadz hukum lari lima kali keliling lapangan"


"HA?"


"ustadz nggak kebanyakan lapangan pesantren luas banget" keluh Hana

__ADS_1


"kalian mau ustadz tambahin lagi?"


"eng enggak ustadz"


"tapi kan ustadz tadi malam kia juga jemp mmmm..." Nazwa langsung membungkam mulut Nadifa yang tidak bisa menjaga rahasia mereka


"tadi malam? tadi malam? oh ya tadi malam, ustadz ingat kalian juga kan yang jemput Salwa ke rumahnya, terus anti Nazwa yang udah bohongin ustadz" ustadz Akmal kembali teringat dengan kejadian tadi malam


"hukuman kalian ustadz tambahin jadi lari sepuluh kali keliling lapangan dan untuk anti Nazwa dua belas kali karena sudah membohongi ustadz"


"tapi ustadz Nazwa kan cuma bercanda, masa harus dihukum sih" ucap Nazwa


"oh kurang? kalian mau ustadz tambahin?"


"eh he he nggak ustadz, terima kasih ini udah lebih dari cukup"


"kalau gitu tunggu apa lagi cepet mulai hukuman kalian"


"iya ustadz Assalamu'laikum"


"Wa'alaikumussalam"


Flashback off


"hosh hosh hosh ana capek banget" ucap Nazwa mengelap keringat yang bercucuran di dahinya padahal ia baru berlari tiga kali putaran


"anti kenapa Naz?" tanya Hana dibelakang Nazwa


"eh nggak papa kok Han, anti duluan aja nanti ana nyusul"


"nggak papa nih Naz, anti kita tinggal?" tanya Nadifa yang berada disamping Nazwa


"iya, kalian lari aja ana masih capek lagian ana nggak bakalan hilang"


"oh yaudah kita duluan"


"hem"


Nazwa mulai merasakan pusing, dan perutnya terasa sakit


"aduh kayaknya mag ku kambuh, gara-gara belum sarapan tadi pagi" gumamnya sambil memegang kepalanya


ia berusaha berlari dengan sisa-sisa tenaganya hingga pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa semakin berat dan


bruukh


ia pingsan di pinggir lapangan, Nadifa dan Hana yang melihat itu langsung menuju ke arah Nazwa dan berteriak meminta pertolongan


"Tolong, Tolong, Tolong" para santri yang sedang berolahraga di lapangan langsung menuju ke arah mereka termasuk ustadzah Fathia yang sedang mengajar dalam kelas


"Hana, Nadifa ada apa?"tanya nya sambil berjalan tergopoh-gopoh


"Nazwa pingsan ustadzah"


"astaga, ayo kalian cepet bantu angkat jangan nonton aja" tegas ustadzah Fathia pada beberapa santriwati yang masih bengong melihat kejadian tersebut


"eh iya ustadzah"

__ADS_1


"bawa ke ruang UKS"


"na'am ustadzah"


__ADS_2