
Gus Fatih terus merasa perasaannya tak nyaman, pikirannya hanya tertuju pada istrinya yang ia tinggalkan
Saat memulai kajiannya, di tengah-tengah acara, ustadz Rasya yang juga salah satu pengajar di ponpes mendekatinya dan membisikkan sesuatu
sontak ia terkejut dengan jantung yang berdegup kencang, perasaannya tak nyaman sekarang
Ia meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para tamu undangan sebelum benar-benar pergi dari sana dengan tergesa-gesa, istrinya sedang membutuhkannya sekarang
Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, pikirannya kalut sekarang tak memperdulikan ustadz Rasya yang seperti orang kekurangan darah
"Gus saya belum nikah Gus"
"Gus amal saya belum banyak, saya belum siap meninggal"
"Gus saya belum bayar hutang di Bik Ijah, saya tidak mau besok itu memberatkan saya di hari penghisaban"
"GUS!... SAYA BELUM UNGKAPIN PERASAAN SAYA KE USTADZAH SALWA"
Gus Fatih menutup telinga, tak mendengar ucapan-ucapan random Ustadz Rasya yang terus berteriak di sampingnya, pikirannya tertuju pada satu nama 'Nazwa' istrinya
Setelah menempuh perjalanan yang seharusnya tiga puluh menit menjadi lima belas menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit
"Hoek..."
Ustadz Rasya memuntahkan isi perutnya, ia berjanji kepada dirinya kalau ini terakhir kalinya ia semobil dengan anak kyai ponpes 'Nurul Hikmah'
Tak membuang waktunya dan menghiraukan ustadz Rasya, Gus Fatih langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi istrinya
Sesampainya di depan ruangan istrinya, terlihat beberapa keluarganya sudah berkumpul disana, termasuk ayah mertua dan kakak iparnya Satria
"Gimana abi?" Gus Fatih menghampiri ayahnya untuk meminta keterangan
"ummi dan ibu Nazwa di dalam sekarang, masuklah dia tadi mencarimu" mendengar ucapan abi nya, Gus Fatih masuk ke dalam dan melihat istrinya kesakitan disana
"Nazwa"
"Pembukaannya sudah lengkap buk, sekarang saatnya" umi Fatimah menepuk bahu putranya memberikan semangat dan keluar dari sana bersama Buk Ida, meninggalkan Gus Fatih, Nazwa dan dokter yang bertugas
"Hubby sakit..." Nazwa meneteskan air matanya dan menggenggam erat tangan suaminya
"Tarik nafas bu" ucapan dokter memberikan instruksi
Gus Fatih membisikkan kata-kata semangat di telinga istrinya, melihat air mata Nazwa ia memilih menghadap ke arah lain
Ia pernah mendengar Badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del. Tetapi selama bersalin wanita akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan
Terlepas dari benar atau tidaknya, itu menjelaskan bagaimana besarnya perjuangan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi buah hatinya, karena tak jarang ada orang yang meninggal dunia setelah melahirkan
"Nazwa nggak tahan"
"Sebentar lagi bu"
oekk oekk oekk
__ADS_1
"Alhamdulillah bayinya laki-laki pak bu, sangat tampan"
Suara bayi menghiasi ruangan itu, Gus Fatih tersenyum dan mengecup puncuk kepala istrinya berkali-kali mengucapkan terima kasih, Nazwa mengangguk dan kemudian menutup mata tak sadarkan diri
"NAZWA NAZWA" Gus Fatih mengguncang tubuh Nazwa, melihat istrinya memejamkan mata
"Istri saya kenapa dokter?" Gus Fatih bertanya dengan nada khawatir
"Kami akan memeriksanya pak" saat dokter itu memeriksa Nazwa, perawat menyodorkan bayi yang sudah dibersihkan kepada Gus Fatih untuk diazankan
Gus Fatih menerimanya dengan tangan sedikit bergetar, ia mengumandangkan Adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri
Tak henti-hentinya rasa syukur terucap dari bibirnya, ia memandang putranya yang masih merah dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan
"Assalamu'alaikum Muhammad Ali Haafiz Al-Hasani"
Haafiz artinya pelindung, penjaga dan tanggung jawab dan semoga kelak kamu seperti Ali bin Abi Thalib yang penuh amanah, tanggung jawab, pemberani dan cerdas
⚘⚘⚘⚘⚘
Para keluarga berkumpul di depan ruang bayi, melihat anggota keluarga baru yang hadir di tengah-tengah mereka
Sementara Gus Fatih masih setia menunggu di depan ruangan istrinya, sudah hampir tiga puluh menit ruangan itu tertutup dan belum ada tanda-tanda terbuka sampai keluarganya sudah kembali menemaninya
"Bagaimana kata dokter?" Pak Wiraguna bertanya, terlihat jelas ke khawatiran di wajahnya
Gus Fatih hanya menggeleng sebagai jawaban
Hingga seorang suster masuk dengan terburu-buru membawa kantung darah ke dalam membuat perasaan mereka campur aduk
"suami pasien" lantas Gus Fatih segera berdiri dengan perasaan campur aduk
"silahkan" Gus Fatih memasuki ruangan itu dengan jantung bertalu-talu
Dilihatnya Nazwa terbaring di brankar rumah sakit itu dengan dua jarum yang menusuk tangannya untuk mengaliri cairan infus dan darah
"Ibu Nazwa kekurangan banyak darah saat melahirkan, kami belum bisa memastikan kapan dia akan sadar"
Gus Fatih mengamati wajah istrinya yang pucat, dengan nata terpejam sekalipun aura kecantikan tetap terpancar dari wajahnya
"Nazwa pasti bisa denger hubby kan?, cepat bangun ya, liat haafiz tampan banget, hubby rindu padahal tadi pagi kita ketemu, jangan tinggalin hubby lagi seperti dua tahun yang lalu, hubby nggak kuat" Gus Fatih menangis, ia juga melihat air mata turun dari mata istrinya yang terpejam
Telinga adalah indera pendengaran manusia yang terbentuk pertama kali dalam janin, karena itu janin dalam kandungan bisa mendengar saat usia 24 minggu, begitu pula menjelang kematian, telinga adalah indera yang terakhir berfungsi sebelum kematian
"Cepat bangun sayang, hubby rindu" Gus Fatih mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan sedih, terharu dan bahagia menjadi satu
🌸🌸🌸🌸🌸
Silau
Itu yang pertama kali dirasakan Nazwa saat membuka matanya, ruangan serba putih dan bau obat-obatan yang menyengat membuatnya yakin ia berada di rumah sakit
Nazwa memegang kepalanya yang pusing dan tubuhnya terasa kaku, jangan lupakan tenggorokannya yang terasa kering, berapa lama ia berbaring di sini?
__ADS_1
ceklek
suara pintu terbuka membuatnya mengalihkan pandangannya dengan leher yang terasa kaku
"hu hubby?" suaranya tercekat akibat tenggorokannya yang kering
Seseorang yang menggendong bayi itu mendekat saat orang yang sudah ditunggunya selama tiga hari akhirnya membuka mata
"Nazwa" Gus Fatih menghampiri istrinya dan menidurkan Haafiz di samping Nazwa lantas memeluk keduanya erat
"A air" ia berbicara lirih nyaris tak terdengar
Gus Fatih mengerti, ia segera mengambil air di gelas menggunakan sendok dan menyuapi istrinya
"Hubby panggil dokter"
Setelah selesai memeriksa Nazwa, dokter mengatakan kondisinya sudah cukup baik, hanya kaku di beberapa bagian akibat tak sadarkan diri 3 hari
"Anak bunda ganteng banget" Nazwa memandang Haafiz yang digendong suaminya. Ia masih belum bebas bergerak
"Nazwa" Gus Fatih memandang istrinya lekat
"Kenapa?"
"Jangan kayak gitu lagi, hubby hampir gila tau nggak?" Nazwa memandang Gus Fatih dalam dan mengangguk tanpa suara
"Kenapa Haafiz dibawa kesini?" mereka sudah menyepakati nama itu jauh-jauh hari kalau anak mereka laki-laki
"Biar bunda sadar, ternyata benar kan?"
"Bayi nggak baik ada di rumah sakit, banyak virus dan kuman, imun tubuh mereka masih lemah"
"Baik bu dokter" ucap Gus Fatih pasrah tak ada gunanya berdebat sekarang, ia akan kalah kalau membahas masalah kesehatan bersama istrinya, bahkan baru sadar saja ia langsung diceramahi seperti ini
"Terima kasih" ucapan tiba-tiba Gus Fatih membuat Nazwa menoleh dan mengernyit
"Terima kasih sudah bertahan, terima kasih sudah kembali, terima kasih atas kebahagiaan, dan terima kasih untuk segalanya"
"Garis takdir dan ketetapan Allah yang paling indah dalam hidupku adalah saat aku bertemu dengan dirimu dan mengenal apa arti dari sebuah rasa cinta, rasa yang tak selamanya indah dan bercampur dengan bumbu kepedihan"
"ana uhibukafillah"
"Ahabbakalladzii ahbabtanii lahu"
.
NOVEL INI UDAH TAMAT YA TEMAN-TEMAN, INI CUMA PART TAMBAHAN KARENA ENDING YANG KEMARIN TERLALU MENDADAK JADI AUTHOR BUAT PART INI SEBAGAI TAMBAHAN...🙏
.
.
Yuk mampir ke karya author yang baru (Pelangi untuk Aqila)
__ADS_1
Dijamin nggak kalah seru sama ini