
Pagi yang cerah, namun tak secerah raut wajah Azawi, pagi ini Pak Farhan mengajak Azawi berangkat ke cilacap, jawa tengah untuk mendaftar di pondok pesantren ihya ulumuddin, sengaja Pak Farhan memilih pondok pesantren yang sangat jauh dari tempat tinggal nya, karena dia tau betul karakter putera nya, beliau tidak ingin Azawi sampai kabur dari pondok pesantren seperti yang pernah Azawi lakukan dulu waktu masih duduk di bangku SMP, dia di titipkan sementara waktu di rumah tante nya yang ada di Bogor, alih nurut malah sempat kabur karena tidak betah tinggal di rumah tante Rasya, adik dari Mama nya. Pak Farhan tidak ingin hal itu terjadi lagi.
Pondok pesantren ihya ulumuddin adalah pondok pesantren tertua di cilacap jawa tengah, banyak santri yang mengemban ilmu di sana, pondok pesantren itu telah banyak mencetak santri yang berakhlaqul karimah, Pak Farhan ingin agar Azawi benar - benar bisa menjadi anak yang rajin dan membanggakan orang tua. Pak Farhan juga ingin putera nya bisa hafal Al - qur'an. Azawi tidak akan bisa membantah keinginan Ayahnya, dia hanya bisa menjadi anak yang penurut.
Mereka segera bersiap berangkat ke cilacap dengan naik mobil pribadi, di dalam mobil Azawi selalu saja pasang muka khas cemburutnya, namun tidak mengurangi ketampanan nya, Azawi tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan, dulu dia menjadi idola teman - teman wanita nya, namun Azawi selalu bersikap dingin, dia tidak pernah pacaran dan tidak menginginkannya. baginya wanita yang dia temui tidak menarik. meski dirinya selalu di kejar - kejar oleh wanita hal itu tidak membuatnya sombong, karena memang dia sama sekali tidak menyukainya. wanita yang berusaha mendekatinya selalu saja ia tolak, Azawi lebih fokus untuk belajar. nilainya selalu tertinggi di sekolahnya dulu. dulu banyak teman - teman nya yang merasa iri terhadap Azawi, karena Azawi selalu menjadi idola, namun Azawi sama sekali tidak menggubris nya, dia tidak suka perkelahian juga tidak menyukai perdebatan. itulah figur Azawi, pendiam, bersikap dingin namun agak keras kepala.
"Azawi dari tadi kok manyun terus sih sayang." tanya Bu Fatma sembari menepuk pundak putera nya.
"Nggak papa kok Ma, wajar kan kalau Azawi merasa kesal?" jawab Azawi dengan memalingkan wajahnya tanpa melihat Mamanya yang sedang berbicara.
"Azawi jadilah anak yang periang, nanti ketampananmu ini luntur gimana?" ucap Bu Fatma yang berniat mencairkan suasana.
"Apa sih Ma, Azawi nggak peduli, Mama sama Ayah juga nggak peduli kok sama Azawi." ucap Azawi dengan ketus.
"Bukan nya Mama sama Ayah nggak peduli sama kamu Azawi, tapi ini demi kebaikan kamu juga."
"Demi kebaikan Azawi nggak kayak gini caranya Ma, memaksa Azawi tinggal di pondok pesantren, belum tentu nanti Azawi betah tinggal di sana."
"Azawi kamu harus betah tinggal di pondok pesantren, Ayah nggak mau dengar kamu bikin masalah di sana." ujar Pak Farhan yang membuat Azawi semakin kesal.
"Iya." jawab Azawi singkat. karena dia tidak ingin berdebat dengan Ayahnya. baginya percuma karena Ayahnya tidak akan pernah mendengarkan keluh kesah yang Azawi rasakan saat ini.
"Nah itu baru anak Ayah."
Azawi terasa lelah dengan perjalanan ini, Azawi memang jarang pergi luar daerah, Ayah dan Mama nya pergi ke luar kota untuk sekedar berlibur pun jarang dia mau ikut, Azawi memang tidak suka liburan yang hanya menghabiskan uang dan menguras tenaga, begitu menurutnya. dia lebih suka di rumah, untuk olahraga sendiri di rumah, karena peralatan olahraga sangat lengkap di rumahnya, di pesantren nanti pasti terasa sangat beda bagi Azawi.
"Ma ini kapan sampai nya sih, lama banget?" tanya Azawi sembari memijat pundak nya yang terasa sakit.
"Sebentar lagi sampai kok sayang."
"Oke." ucap Azawi singkat.
Bu Fatma hanya menggelengkan kepalanya menanggapi sikap cuek putera nya.
Tepat pukul 13.00 siang mereka sampai di pondok pesantren ihya ulumuddin, sebelum melakukan pendaftaran Pak Farhan mengajak istri dan anaknya untuk sholat dhuhur terlebih dahulu.
Selesei sholat dhuhur Pak Farhan langsung mengajak istri dan puteranya segera menemui staff pondok untuk mengisi formulir pendaftaran.
"Assalamu'alaikum.." Pak Farhan beserta istri dan putera nya mengucapkan salam kepada para staf pondok pesantren.
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.."
"Silahkan masuk Pak, Buk.." ujar salah satu staff pondok yang mengurusi pendaftaran santri baru.
"Iya terima kasih.."
"Begini Pak, kedatangan saya beserta istri saya kesini, ingin mendaftarkan putera kami Azawi untuk mondok di sini Pak." ucap Pak Farhan.
"Silahkan isi formulir pendaftaran nya dulu ya Pak." jawab staff pondok yang bernama Kang Rifa'i, Kang Rifa'i alumni pesantren ihya ulumuddin juga. yang sekarang menjadi ustadz di pondok pesantren ihya ulumuddin. karena kecerdasan serta kejujurannya, beliau di percaya untuk mengajar di pondok pesantren.
"Baik Pak." ucap Pak Farhan sembari menyodorkan selembar kertas formulir pendaftaran ke arah Azawi yang sedang duduk di dekat Mama nya.
__ADS_1
"Ayah saja lah yang ngisi." ujar Azawi yang membuat Pak Farhan menahan amarah.
"Azawi." ucap Pak Farhan menampakkan kekesalannya melalui raut wajah garangnya.
"Iya udah sini Azawi isi formulir pendaftarannya." ucap Azawi nurut.
Azawi telah selesei mengisi formulir pendaftaran pondok pesantren, dia telah resmi di terima di pondok pesantren ihya ulumuddin, Pak Farhan merasa lega telah mendaftarkan puteranya di pesantren yang tepat. berbeda dengan Azawi hatinya masih saja di liputi rasa kesal karena tak bisa menolak keinginan Ayahnya, padahal Azawi ingin sekolah formal di SMA ternama di jakarta, namun keinginan nya itu bertolak belakang dengan keinginan Ayahnya. Azawi hanya menghela nafas untuk menutupi kekesalan nya.
"Terima kasih ya Pak telah menerima putera kami di pondok pesantren ini." ucap Pak Farhan dengan raut wajah sangat gembira.
"Iya sama - sama Pak, semoga nanti Azawi betah ya tinggal di pondok pesantren, santri - santri di sini semua baik - baik kok Pak, kami sebagai ustadz juga akan selalu memantau dan menjaga putera Bapak dan pastinya tanpa membedakannya dengan santri lain." ujar Kang Rifai dengan senyum manis khasnya.
Di balas dengan senyuman pula oleh Azawi, memang hatinya saat ini sangat kesal namun Azawi tetap memperlihatkan senyum manisnya di depan staf pondok pesantren.
Azawi melangkahkan kaki nya untuk keluar terlebih dahulu dari ruang pendaftaran. karena merasa dirinya sedang berpura - pura bahagia, hal ini membuat hatinya semakin tidak nyaman berada di antara Ayah dan staff pondok pesantren.
"Azawi keluar sebentar ya Yah, ingin lihat - lihat lingkungan di pondok pesantren ini." ujar Azawi sembari menyalami Ayahnya.
"Iya kamu hati - hati ya, setelah itu balik kesini lagi, kamu kan belum faham betul lingkungan pesantren dan jangan bikin ulah ataupun berniat kabur dari sini." ucap Pak Farhan sembari mengernyitkan alisnya.
"Iya tenang aja Azawi nurut kok, jangan su'udhon sama anak sendiri." ujar Azawi
"Pak ustadz, saya bolehkan kan lihat - lihat di lingkungan pondok pesantren." ucap Azawi berpamitan dengan para staff pondok.
"Iya tidak papa, tapi jangan melewati palang yang terletak di ujung sana ya, itu batas antara pondok pesantren putera dengan pondok pesantren puteri." ujar Kang Rifai menjelaskan.
"Baiklah, saya keluar dulu, assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.."
"Oke kali ini aku turuti kemauan Ayah, entah aku betah ataukah tidak tinggal di sini, aku hanya berusaha untuk menjadi anak yang berbakti, bukankah ini yang ayah inginkan dariku." gumam Azawi lirih. hatinya mulai melunak.
"Sejuk juga di sini."
"Assalamu'alaikum.." tegur salah seorang santri.
"Wa'alaikumsalam.."
"Sampean iki teko daerah ndi to mas?" (kamu ini dari daerah mana?) tanya santri yang bernama Azam dengan logat jawa tulen nya.
"Hah... sorry gue nggak ngerti bahasa lo." jawab Azawi dengan cueknya, merasa tidak mengerti apa yang di katakan Azam.
"Oh kamu ini dari kota?" tanya Azam lagi.
"Iya gue dari jakarta." jawab Azawi masih dengan cuek dan sikap dingin nya.
"Maaf ya aku nggak tau kalau kamu ini dari jakarta, perkenalkan aku Azam." ujar Azam memperkenalkan diri.
"Lo fikir gue mau kenalan sama lo, ogah kali." ujar Azawi yang perkataannya menyakiti hati Azam.
Azawi berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Azam yang ingin berkenalan dengan nya.
Azam tertegun melihat perilaku Azawi yang sangat cuek dan perkataan Azawi sungguh tidak pantas di ucapkan oleh seorang santri, begitu menurut Azam.
__ADS_1
Teman dekat Azam yang mendengarkan pembicaraan mereka pun menghampiri Azam.
"Sopo to cah kui Zam, kok sok sok an ngono yo?" (siapa sih bocah itu Zam, kok begitu ya sikapnya?) tanya Nidzar teman dekat Azam
"Aku yo ra ngerti, dijak kenalan malah sinis ngono sikap e, paling yo cah anyar kui." (aku juga tidak tau, di ajak kenalan saja malah sikapnya sinis gitu, mungkin dia anak baru.) jawab Azam.
"Oalah.. cah kota yo ngono kui sikap e, ra nduweni etika." (Oh.. anak kota ya seperti itu sikapnya, wajar nggak punya etika.) ujar Nidzar merasa kesal dengan sikap Azawi yang terkesan angkuh.
"Ojo ngomong ngono, gak kabeh loh cah kota koyok ngono." (Jangan ngomong kayak gitu, nggak semua orang kota sikap nya seperti itu.) ujar Azam yang tidak membenarkan perkataan sahabatnya.
"Iyo yo, yo wis lah cah koyok ngono kui gak perlu di omongno, marai emosi ae. paling yo ra ngarah krasan manggon nang kene." ( Iya iya, ya sudahlah bocah kayak gitu nggak perlu di omongin, bikin emosi saja. mungkin nggak bakalan betah juga tinggal di sini.) ujar Nidzar yang menebak Azawi tidak akan betah tinggal di pondok pesantren.
"Ojo ngono to Dzar, di dongakno wae mugo - mugo krasan." (Jangan gitu Dzar, do'ain aja semoga betah) ujar Azam menasehati Nidzar.
"Inggih Pak Ustadz Azam Hasbullah." (Iya Pak Ustadz Azam Hasbullah) jawab Nidzar dengan senyuman khasnya.
Sementara Azawi masih asyik melihat - lihat lingkungan asrama hingga dia hampir melewati palang batas antara pondok putera dengan pondok puteri. Azawi tercengang melihat 3 santriwati yang sedang bercanda tawa di dekat palang batas asrama. Azawi terpesona dengan keanggunan salah satu santriwati yang dia pandangi terus tanpa henti. tanpa sadar dia Azawi telah memperhatikan santriwati itu. dadanya berdegup kencang, baru kali ini dia seperti ini, sikap dinginnya seakan luluh melihat santriwati di depan matanya yang terlihat sangat cantik dan anggun.
"Subhanallah sungguh cantik dan anggun ciptaanmu Ya Allah.." ucap Azawi sembari masih memandang santriwati yang membuat dirinya kagum.
Ke 3 santriwati kaget melihat ekspresi Azawi yang memperhatikan mereka, langsung saja mereka lari masuk ke dalam asrama puteri. Azawi telah kehilangan pemandangan yang membuatnya kagum.
"Yahh.. kemana santriwati itu, kenapa dia lari, takut kah melihatku, aneh." gumam Azawi lirih.
Nidzar dan Azam yang melihat Azawi hampir saja melewati palang pembatas asrama mereka langsung saja lari ke arah Azawi.
"Hai bocah, jangan berbuat macam - macam disini, bisa di hukum Kyai kalau kamu seperti itu." ujar Nidzar dengan lantang mengagetkan
Azawi.
"Kalian.. kenapa sih, gue nggak ngapa - ngapain disini, kalian ini usil banget." ujar Azawi dengan tampang kesalnya.
"Begini Le, aku jelaskan ya kepadamu, jangan salah faham dulu, kamu ini hampir melewati palang pembatas antara asrama putra dengan asrama puteri, kalau Pak Kyai tau hal ini, bisa di hukum kau Le." ujar Nidzar menjelaskan dan menasehati Azawi.
"Le.. nama gue bukan Le, enak aja ganti nama gue, izin nyokap bokap gue dulu lah kalau mau ganti nama gue jadi Le, apa tuh nggak keren banget." ujar Azawi kesal.
"Haduh, jelasin deh Zam, aku nggak sanggup ngurusin nih bocah." ujar Nidzar yang menahan emosinya karena Azawi selalu saja bersikap dingin dan angkuh.
"Le itu panggilan yang bisa di artikan dek." ujar Azam menjelaskan.
"Ahh gue nggak ngerti bahasa kalian, sekarang kalian minggir gue mau balik ke ruang pendaftaran buat nemuin nyokap bokap gue, nggak nyaman banget gue disini." ujar Azawi ketus terhadap mereka.
"Ya udah kalau mau balik, ya balik aja sana. kami tidak berniat menghalangi jalanmu kok, kami ini hanya mengingatkan." ujar Nidzar.
"Ya ya terserah kalian lah." ujar Azawi sembari berlalu meninggalkan mereka untuk segera menuju ruang pendaftaran.
"Dasar bocah angkuh." ujar Nidzar kesal.
"Wis to Dzar ojo ngono gak apik." (udah lah Dzar, jangan seperti itu, nggak baik) ujar Azam menasehati Nidzar.
"Inggih Pak Ustadz Azam."
"Lek ngono aku tak ngadem sek sediluk, bocah kui wis berhasil gawe aku nahan emosi." (kalau gitu aku mau menenangkan diri dulu, bocah tadi itu sudah berhasil membuatku menahan emosi.) ujar Nidzar berlalu meninggalkan Azam yang masih berdiri di dekat palang pembatas.
__ADS_1
Azam pun mengikuti Nidzar dari belakang sembari terus berdzikir.