Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Langit sudah menjelang malam, sang surya telah terbenam menyinari bagian bumi yang lain, adzan magrib berkumandang sebuah seruan untuk menunaikan perintah-Nya


"Udah maghrib, kita sholat dulu baru pulang" ucap Gus Fatih mengelus puncak kepala Nazwa dan hanya dibalas anggukan


Nazwa tersenyum mendengar bacaan Al-Fatihah dari sang imam, karena itu adalah suaminya sendiri


"Suara imamnya bagus banget, pasti orang nya ganteng" Celetuk gadis disamping Nazwa kepada temannya setelah selesai sholat bersiap pulang ke rumah


"Yang bagus suaranya belum tentu ganteng" jawab temannya yang lain sambil melipat mukenah yang dipakainya


"Gue yakin banget kalau dia ganteng"


"Kalau udah nikah gimana? lo nggak ada niat mau jadi pelakor kan?"


"Ya kalau gitu..."


"Kalau masih di area masjid jangan membicarakan orang lain, apa gunanya sholat yang baru dilakukan?" ucap seorang ibu-ibu memperingati mereka membuat dua remaja itu menunduk dan segera keluar


"Udah nikah woy" batin Nazwa kesal dan segera keluar dari sana menuju mobil suaminya


"Kok Hubby nggak liat tadi?" tanya Gus Fatih yang baru masuk


"Nazwa kesel sama remaja yang tadi di masjid, masa' karena suara hubby bagus dia bilang orangnya pasti tampan terus nyebut-nyebut jodoh lagi, Nazwa nggak suka" ucap Nazwa menggembunhkan kedua pipinya yang justru membuat Gus Fatih terkekeh


"Cemburu hm?" tanya Gus Fatih menggoda istrinya yang hanya dibalas dengusan oleh Nazwa


"Memang benar kata ali bin abi thalib, wanita dapat menahan cinta selama empat puluh tahun tapi tak dapat menahan rasa cemburu walau hanya sesaat" ucap Gus Fatih tersenyum mengelus kepala istrinya


"Ngomong-ngomong, hubby pernah nggak jatuh cinta sebelumnya?" tanya Nazwa menoleh


Gus Fatih berfikir sebentar kemudian mengangguk "pernah"


"Kenapa?" tanya Gus Fatih


Nazwa menggeleng kesal khas cewek, sebelumnya penasaran ingin tau setelah dikasih tau malah marah-marah nggak jelas


"Nggak mau tau siapa orangnya?" tanya Gus Fatih


"Emang siapa?"


"Hubby ketemu dia sembilan belas tahun yang lalu, dia kesawah sama kakeknya kayaknya sekedar buat jalan-jalan, kebetulan Hubby juga disitu buat nenangin diri karena kesal dengan keputusan Abi yang masukin Hubby ke pesantren lain, padahal Hubby pengen banget sekolah di ponpes abi"

__ADS_1


"Emang dulu Hubby nggak sekolah diponpes?" tanya Nazwa membuat Gus Fatih menggeleng


"Hubby baru masuk disana pas udah aliyah, itu pun Hubby harus usaha dulu bahkan sampai nangis" cerita Gus Fatih sedikit terkekeh


"Nah pas kebetulan disitu Hubby lagi nangis, terus gadis kecil itu nyamperin dan kasih hubby permen, katanya gini 'kakak nggak boleh nangis, kata kakek kalau sedih itu harus do'a sama Allah biar dipermudah, Aku juga do'a kok sama Allah biar ayah sama ibu kerjanya cepat selesai jadi nggak sendiri kalau pulang sekolah, terus kata kakek kita juga harus yakin kalau kita tak sendiri tapi Allah bersama kita dan setiap yang dilakukan orang tua pasti buat kebaikan anaknya' setelah itu Hubby merasa tertampar banget oleh anak yang berusia enam tahun" ucap Gus Fatih melanjutkan


"Nah dari situ Hubby mau masuk ponpes dan berterima kasih sama gadis itu, tapi pas Hubby ke rumah kakeknya---"


"Hubby kenal kakeknya?" tanya Nazwa memotong pembicaraan


"Kenal banget malah soalnya dia sering ke ponpes, tapi pas Hubby kesana kata kakeknya dia udah pulang kemarin, dan itu adalah pertemuan pertama sekaligus terakhir hubby dengannya, tapi siapa sangka saat aliyah dia pindah lagi kesini karena hukuman orang tuanya"


"Hah? berarti bukan Khumairo? Khumairo kan nggak sekolah di ponpes abi"


"Bukan, tapi gadis dari kota yang dihari pertama masuk udah berani panjat pohon mangga ngambil layangan" Ucapan Gus Fatih sontak membuat Nazwa menoleh


"Udah bisa nebak?" tantang Gus Fatih


"Siapa santriwati yang ambil layangan, kok kayak Nazwa ya" gumam Nazwa pelan


"Emang Nazwa kok" ucap Gus Fatih tersenyum gemas melihat reaksi istrinya


"Hah?"


"Ja jadi..."


"Jodoh memang unik dan tak terduga, bahkan ana masih nggak nyangka kita bisa bersama"


"Hiks..."


"Kok nangis?" Gus Fatih panik sendiri melihat istrinya menangis tiba-tiba


"Nggak papa kok, Nazwa cuma rindu kakek sama nenek aja, pas Nazwa kuliah di Oxford, cuma ketemu beberapa kali setelah itu saat Nazwa kembali tiba-tiba udah nggak ada"


"Tandanya Allah sayang sama mereka, makanya Allah ngambil mereka duluan"


🍃🍃🍃🍃🍃


"Kenapa berhenti disini?" Nazwa menoleh menatap Gus Fatih yang juga menatapnya


"Makan malam dulu, biar sekalian setelah pulang langsung istirahat" Gus Fatih membuka pintu mobil dan mulai masuk ke dalam restoran yang cukup ramai

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" Gus Fatih terlihat menyapa seorang pria paruh baya yang berpakaian satpam


"Wa'alaikummusalam, eh nak Fatih udah lama nggak kesini"


"Iya, Pak Maman baru sempet soalnya" Gus Fatih menyalami tangan pria itu, sedangkan Nazwa hanya menatap interaksi akrab kedua orang itu


"Ini siapa? istrinya?" tunjuk Pak Maman pada Nazwa


"Iya, istri saya namanya Nazwa" Nazwa tersenyum seraya menyalami tangan pria baruh baya tersebut


"Maaf ya bapak nggak bisa hadir kemarin"


"Nggak papa kok pak, kalau gitu kami masuk dulu, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Kok Hubby kenal banget sama orang itu?" tanya Nazwa menuntaskan rasa penasarannya saat mereka sudah duduk di meja yang cukup sepi


"Kenal dong, soalnya restoran ini punya Hubby"


"Hah? sejak kapan?" Nazwa menutup mulut tak percaya ternyata begitu banyak kejutan yang didapatkannya hari ini


"Sejak pulang dari Kairo, selain ngurus ponpes Hubby juga terjun dalam dunia bisnis" penjelasan Gus Fatih membuat Nazwa menganggukan kepala mencerna semua informasinya


⚘⚘⚘⚘⚘


Dalam ruangan bercat putih polos itu, Gus Rayhan berusaha menenangkan istrinya yang menangis setelah mengetahui fakta kisah suaminya


"Lalu, apa sekarang mas masih mencintai Nazwa?" ucap Aisyah tersedu-sedu, tak pernah dibayangkan adik iparnya ternyata pernah masuk ke dalam hati suaminya


Gus Rayhan yang mendapat pertanyaan seperti itu mendadak kaku, hati tak bisa bohong kalau memang masih ada rasa itu saat melihat adik iparnya, tapi ia sedang berusaha memperbaiki hatinya sekarang


"Kenapa diam? apa benar masih mencintainya?"


"Aisyah, aku mohon dengarkan aku, hati memang tak bisa bohong, jatuh cinta itu mudah tapi melupakannya sungguh tak mudah karena itu aku menceritakan ini padamu untuk membantuku melupakannya sepenuhnya, aku sadar rasa ini salah tak seharusnya begini, aku menceritakannya padamu sekarang agar kau tak kecewa saat mendengarnya dari orang lain" ucap Gus Rayhan membuat istrinya berusaha mengerti


"Aku butuh waktu sendiri sekarang" Aisyah membaringkan tubuhnya ditempat tidur, sedangkan Gus Rayhan mengusap rambut gusar dan memilih keluar mencari udara segar sekaligus berwudhu untuk menenangkan pikirannya yang terasa kacau


.


Banyak Typo...🙏🙂

__ADS_1


Selamat berpuasa jangan lupa jaga kesehatan...


__ADS_2