
"oke sesuai kesepakatan yang telah kita tetapkan semalam, jadi kita ikut lomba nyanyi untuk yang kelompok" ucap Nadifa, kini mereka duduk di bawah pohon rindang di tepi lapangan pesantren
"kalau perorangan ya terserah bebas" sambung Nazwa
"oh iya kita pakai alat musik apa nih?" tanya Hana
"emmm, di pesantren ada alat musik apa aja?"
"ndak tau juga, soalnya kita jarang masuk ruang musik jadi kurang tahu"
"hmm, oke kalau gitu ayo kita liat" ucap Nazwa dan diikuti temannya yang lain pergi ke ruang musik
"fyuh, untung nggak dikunci"
"disini sepi sekali ya?"
"kan nggak ada jadwal musik hari ini jadi sepi"
Nazwa mengedarkan pandangannya menyapu setiap isi ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam musik islami seperti rebana, marawis, qasidah dan alat musik lainnya. Hingga pandangannya terjatuh pada alat musik yang sudah nampak usang tak terpakai di pojok paling kiri di ruangan tersebut
"piano ini udah nggak di pake ya?" tanya Nazwa mengusap tuts piano yang berdebu
"kayaknya sih nggak pernah kepake soalnya jarang ada yang bisa main" ucap Salwa
"kalian ngapain disini?" Nazwa dan ketiga temannya dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba membuka lebar pintu ruangan tersebut
"ustadzah"
"huh kami kira tadi siapa"
"kalian lagi ngapain disini?" tanya ustadzah Fathia melihat mereka berempat karena hari ini tidak ada jadwal musik
"liat-liat alat musik ustadzah buat lomba nanti"
"oh jadi kalian ikut lomba nyanyi?"
"na'am ustadzah"
"udah daftar?"
"belum, nanti sore"
"emmm ustadzah boleh nggak kita pakai pianonya?" tanya Nazwa ragu
"anti bisa?"
"bisa"
"kalau gitu pakai aja daripada rusak nggak dipakai"
"jadi boleh ustadzah?" tanya Nazwa semangat
"boleh"
"yey terima kasih ustadzah"
"sukron, kalau gitu cepet masuk kelas ini udah hampir bel"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
🍁🍁🍁🍁🍁
Dua minggu kemudian
Sudah dua minggu Nazwa dan teman-temannya latihan dengan lagu yang siap mereka bawakan, mereka latihan saat-saat ruang musik sepi, sehingga tidak ada yang melihat mereka
__ADS_1
"ihh ana gugup Naz, tinggal delapan hari lagi jadwal kita" ucap Nadifa memegang lirik lagu yang mereka nyanyikan
"udah santai aja kalau tegang nanti yang ada anti sama sekali nggak inget"
"eh anti nggak tegang Nazwa?"
"tegang kenapa?"
"besok kan giliran anti tahfidz"
"APA!!!" teriak Nazwa membuat sahabatnya menutup kupingnya
"Tahfidz apaan nih? ana kan nggak pernah daftar lomba apapun selain nyanyi"
"ha masa sih? tapi kan yang namanya Nazwa cuma anti di ponpes ini, bukan hanya tahfidz loh anti juga ikut lomba tilawah sama pidato"
"APA!!!"
"ish nggak usah teriak juga, bolong kuping ana lama-lama denger teriakan anti" Hana memukul pelan kepala Nazwa
"tapi siapa yang daftarin coba?, padahal ana nggak pernah daftar sama sekali"
"kalau anti nggak percaya coba cek aja informasi di mading pesantren"
Tanpa basa basi Nazwa langsung bergegas menuju mading pesantren sendirian, sedangkan sahabat nya tertinggal jauh di belakang
"ternyata anti berani juga ya?" dua orang santriwati yang diketahui Nazwa adalah kakak seniornya berdiri dibelakangnya
"maksudnya?" Nazwa bibgung disuguhkan pertanyaan tersebut
"masih nanya lagi, ana tau anti daftar banyak lomba untuk memikat para hati gus dan ustadz-ustadz ponpes kan" ucap salah satu dari mereka
"heh nggak jelas banget emang kalian ada bukti?" tanya Nazwa tanpa rasa takut sedikitpun
"heh tanpa bukti apapun kita juga tau, banyak kok santriwati yang kayak anti tapi nyatanya nggak punya bakat apapun" ejek mereka
"anti jangan sok jadi jagoan kami para senior nggak bakalan takut sama anti yang cuma santriwati baru"
"oh, kalau gitu ana tanya sama kalian, bakat kalian apa coba tunjukkin" tantang Nazwa
"heh anti nggak perlu tau, tunggu aja lomba nanti kita nggak akan biarin anti menang" ucap dua senior santriwati tersebut dan berlalu pergi
"heh kalian pikir ana takut sama kalian, ayo maju sekarang sekalian" Nazwa mulai terbawa emosi karena kesabarannya sudah mulai habis
"TUNGGU AJA NANTI" teriak dua senior santriwati yang mulai menjauh
Nazwa yang masih terbawa emosi mengangkat sebelah sepatunya dan melempar kearah dua santriwati tersebut, namun tiba-tiba pintu ruang guru langsung terbuka hingga sepatu yang di lemparnya mengenai kepala orang yang keluar dari ruangan tersebut
"astaga" Nazwa menutup mulutnya
"heh siapa yang ngelempar sepatu? anti ya?" tunjuknya pada Nazwa karena tempat Nazwa yang paling dekat dari sana
"afwan gus tadi saya mau lempar ayam, tapi salah sasaran"
"ayam? emang di pesantren ada ayam?" bingungnya yang tak lain Gus Rayhan
"ayam jadi-jadian" batin Nazwa
"eh ada kok tadi gus, tapi udah kabur"
Gus Rayhan yang masih bingung hanya menganggukan kepala saja, antara percaya dan tidak percaya
"kalau gitu sepatu saya gus" ucap Nazwa sopan karena tali sepatunya diinjak oleh Gus Rayhan
"anti mau sepatu ini saya lempar juga?"
"eh, jangan Gus ini sepatu limited edition ana beli di amerika waktu liburan"
__ADS_1
"kalau gitu, kenapa tadi anti pakek lempar ayam?"
"kalau itu kan demi kebaikan Gus, biar ayamnya nggak ngotorin pesantren" jawab Nazwa dengan seribu alasan
Gus Rayhan memicingkan matanya tapi kemudian mengangguk "ya sudah kali ini anti di maafkan jangan ulangi lagi"
"na'am gus"
"eh tunggu dulu, nama anti siapa?" tanyanya saat Nazwa hendak berbalik pergi
"Nazwa, gus" ucap Nazwa sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya
"astagfirullohaladzim" Gus Rayhan langsung beristigfar dan menundukkan pandangannya
"ya sudah kalau gitu Assalamu'alaikum Gus"
"Wa'alaikumussalam"
"fyuh selamat, gara-gara senior sinting, untung aja nggak di hukum, main nuduh-nuduh aja siapa juga yang mau memikat hati emang dipikir ana dukun santet apa? memikat hati orang pakai mantra nggak jelas" gumam Nazwa kesal sambil memasang sebelah sepatunya
"tuh kan jadi lupa, ana harus liat jadwal"
hosh...hosh...hosh
"astaga Naz, anti larinya cepet banget"
"Muhammad Fatih al hasani ini siapa?" bukannya menjawab pertanyaan dari teman-temannya Nazwa malah balik bertanya saat melihat satu nama yang berada diatas namanya
"oh itu Gus Fatih" jawab Nadifa
"ha? tapi kan disini tertulis kelas dua belas, bukannya Gus Fatih itu kelas sebelas?" Nazwa bingung karena sebelumnya ummi fatimah pernah memberi tahu kalau anaknya juga kelas sebelas
"ha? siapa yang bilang gitu?" Hana balik bertanya
"Ummi Fatimah, pas aku baru masuk ke pesantren dia bilang gitu" jawab Nazwa
"mungkin ummi Fatimah lagi pusing atau nggak fokus makanya salah ngasih tau, kan di ponopes yang namanya gitu cuma Gus Fatih" jelas Hana dan Nazwa hanya mengangguk sebagai jawaban
"bisa juga, ah udahlah kok pada bahas itu, sekarang juga ana harus cari tau siapa yang daftarin ana ke lomba itu" ucap Nazwa dengan cepat berbalik namun
"aduh" ia mengaduh karena menabrak dada seseorang yang berdiri di belakangnya
"ish, bisa nggak sih jangan tiba-tiba berdiri di belakang orang kayak gini" ucap Nazwa sambil mengelus hidung nya yang terasa sakit
"lah anti sendiri yang salah, kalau balik nggak bilang-bilang" ucap orang di tabrak yang tak lain Gus Fatih
"emang ana lagi LKBB kalau hadap belakang harus bilang balik kanan dulu?" ketus Nazwa
"udah ah Gus minggir" lanjut nya
"ana kan sudah di pinggir ngapain harus minggir lagi?" tanya Gus Fatih bingung
Nazwa menepuk jidatnya "maksud ana itu Agus, bukan anta, kan namanya Agus jadi lebih singkat panggil Gus, di sekitar rumah ana dulu juga gitu"
"pppfffttt" teman-teman Gus Fatih menahan tawa mereka karena baru kali ini ada santriwati yang berani seperti Nazwa yang membuat Gus idola pesantren malu
"yang sabar ya shohib, masih banyak saingan" Ahmil menepuk pelan pundak Gus Fatih sambil tersenyum
"saingan apasih nggak jelas banget"ucap Gus Fatih dan berlalu pergi diikuti dengan para sohibnya
⚘⚘⚘⚘⚘
.
.
.
__ADS_1
Banyak typo🙏🙏🙏