
Malam semakin larut, hanya terdengar suara hewan malam, dan cahaya bulan yang bersinar menjadi penerang di kegelapan malam yang sunyi
Nazwa berusaha memejamkan matanya yang masih terjaga, membolak-balik posisi tidurnya, kejadian semalam masih terngiang di kepalanya
flashback on
Setelah acara selesai, dan para santri beserta tamu undangan sudah dibubarkan, tanpa menunggu lebih lama lagi Nazwa langsung menghampiri ayah dan ibunya
"Ayah, ibu" ia langsung memeluk dua orang yang sangat dirindukannya selama di ponpes, itupun tak luput dari perhatian ketiga sahabatnya dan beberapa santri yang masih disana termasuk Gus Fatih
"Masih inget panggilan itu rupanya, ibu kira sudah berubah jadi abi ummi" goda ibunya pada putri kesayangannya
"ibu apaan sih, Nazwa lebih suka manggil ibu" ucapnya masih memeluk ibunya
"oh ya kalian berdua ngapain disini?"
"berdua aja lo bilang, gue nggak dianggap nih?" tanya orang tiba-tiba muncul dari belakang ayahnya membuat
"bang sat" ucapan Nazwa sukses membuat beberapa santri langsung menoleh ke arahnya
"Kan gue bilang juga apa, lo jangan suka manggil nama gue setengah-tengah gini kan jadinya orang pada salah paham" ucap Satria menasihati adiknya namun Nazwa tak mendengarkan ucapan abang nya
"kami kesini mau jenguk Nazwa, ternyata anak ibu seorang hafidzoh ya? " ucap ibunya mengelus kepala putrinya sayang
"hehehe iya buk"
"pantas kakek nyuruh kami kesini" ucap Satria
"maksudnya?"
"iya seharusnya kami kesini besok pagi, tapi kata kakek ada acara penting di ponpes, ternyata buat liat lo dapat juara" jawab Satria
"ternyata kakek tau" gumam Nazwa pelan
"gue kira nih ya kita disuruh kesini, kirain lo dah ninggal..."
plukkk
"kamu bicara apa sih sama adek mu Satria, jangan ngaco" ucap ibunya memukul kepala Satria
"apaan sih buk, Satria kan belum selesai ngomong maksud Satria itu ninggalin ponpes bukan ninggal dunia" ucapnya mengelus kepalanya yang dipukul
"ana juga mikir kali nggak mungkin jadi anak yang mengecewakan"
"lo bilang apa dek?"
"emangnya ana ngomong apa?" tanya Nazwa balik
"tuh tuh liat Nazwa yah bu, sekarang udah pakek bahasa arab dia, nggak sia-sia uang ayah buat nyekolahin lo" ucap Satria antara kalimat pujian atau sindiran membuat Nazwa kesal
"udah deh bang, gue emosi mulu kalau lo bicara, mending anta diem aja deh " ucapan Nazwa justru membuat Satria semakin tertawa karena bahasa Nazwa yang tercampur
"udah deh, sekarang nggak usah pakek lo gue lagi lo kayak nggak cocok tau nggak, panggil aja ala panggilan anak ponpes, tau nggak kalau sahabat lo yang empat itu denger udah di ketawain habis-habisan lo"
"sahabat yang mana?"
"astaga gue aduin juga lo, mentang-mentang udah masuk ponpes sahabat seperjuangan bolos lo lupain"
"ooowh ya nggak mungkin lupa, udah lama nggak bicara sama mereka jadi kangen" ucap Nazwa dengan tampang sedih
__ADS_1
"besok kan pas pulang juga masih bisa ketemu" ucap ibunya menyadari ekspresi putrinya
"oh ya ibu kesini nggak bawain Nazwa apa gitu? hamburger, Pizza, boba, spageti?" tanya Nazwa menatap ke arah ibunya
"astaga dek, lo pikir kita ini grab apa, semua tersedia dalam satu aplikasi" sewot Satria
"perasaan setiap ana nanya, anta yang jawab mulu ya?" balas Nazwa tak kalah sewot
"biarin gue punya mulut ya bicara, punya telinga ya buat dengerin pertanyaan lo yang unfaedah itu"
"udah udah kalian berdua berantem mulu nggak malu apa diliatin pak kyai sama santri yang lain?" ucap bapaknya tegas membuat mereka berdua langsung diam
"ayah hadiah ku mana?" tanya Nazwa mengadahkan tangannya
"hadiah? hadiah apa?"
"ayah jangan pikir Nazwa bodoh ya, tadi pas Nazwa di panggung Nazwa ngerti kok isyarat mata ayah"
"putri ayah memang pintar" mengelus kepala Nazwa
"jelaslah pintar kalau masalah hadiah aja nomor satu" cibir Satria
"kamu bisa diam nggak Satria, nggak bosen apa godain adik kamu?" ucap ibunya mencubit pinggang Satria
"aduh ish iya bu cuma becanda aja"
"emang Nazwa minta apa?" tanya ayahnya kepada Nazwa
"emmm apa ya? besok aja yah Nazwa tentuin jangan sekarang"
"sekarang aja ngapa dek, penasaran gue"
"sumpah dek lo ngomong bahasa arab, gue berasa kayak orang alim" ucap Satria merapikan peci di kepala nya
"ga jelas banget bang Sat"
"Ya ampum Nazwa, udah gue bilang panggil nama panjang, kok lo demen banget manggil nama gue gitu"
"ya kan Nazwa punya mulut untuk bicara" jawab Nazwa mengikuti jawaban abangnya
"udah Satria, kamu udah besar jangan jadi kekanakan gini, kalau sekarang ketemu Nazwa berantem mulu, coba pas di rumah nanyain kapan Nazwa pulang? kapan jenguk Nazwa? Satria ikut ya"
"ish apaan sih buk, nggak usah cerita juga kali"
"ngaku loh bang kangen Nazwa, Nazwa juga kangen abang" ucapnya memeluk saudara satu-satunya
"kangen berantem bareng" lanjutnya lagi
"sama abang juga kangen berantem, rumah sepi kalo lo nggak ada"
"Nazwa ini sudah semakin larut, ayah sama ibu pulang dulu ya nak, jaga diri baik-baik di ponpes, jangan nakal pertahankan hafalannya ya, ibu bangga tenyata anak ibu seorang penghafal" ucap ibu memeluk putrinya saat akan pergi
"Tenang aja nanti ayah kasih kok hadiahnya kalau Nazwa udah balik ke rumah, jaga kesehatan ya di ponpes" ucap ayahnya lembut
"iya yah bu"
"inget dek lo jangan pingsan lagi" ucapan Satria sontak membuat ayah dan ibunya kembali menengok ke arah Nazwa
"pingsan?" ucap mereka berdua serentak
__ADS_1
"kamu pingsan nak?"
"kemarin cuma sebentar kok bu, Nazwa lupa sarapan aja" cengir Nazwa
"jaga kesehatan jangan sakit lagi, nanti hadiahnya batal"
"ya jangan dong yah, Nazwa janji deh nggak bakalan pingsan lagi"
"ya udah kami pulang dulu ya nak"
"kok cepet banget, nginep satu malam aja yah" ucap Nazwa memelas
"ya pak Wiraguna nginep satu malam aja di ponpes" ucap pak kyai ramah
"maaf pak kyai, bukannya menolak tapi besok ada perjalanan bisnis keluar kota pagi-pagi, mungkin lain kali aja" tolak ayah merasa tak enak
"nggak papa pak, kita paham pak Wiraguna orang sibuk, menyempatkan hadir aja, kita udah syukur bapak bisa datang" ucap pak Kyai saling berjabat tangan
"Nazwa jangan ngerepotin orang lain ya nak, ayah pulang dulu, inget jangan nakal, dan jangan lupa jaga kesehatan, awas aja kalau ayah denger kamu pingsan lagi"
"iya tenang aja" ucap Nazwa mencium tangan kedua orang tuanya serta abangnya
"kalau gitu kami pulang dulu Asslamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Nazwa memandangi mobil ayahnya yang semakin menjauh meninggalkan halaman pesantren sambil tersenyum miris, bohong jika ia mengatakan tak rindu pada keluarganya, ia ingin sekali memeluk mereka lebih lama lagi, ia mengusap air mata yang menetes di sudut matanya hingga tepukan di bahunya membuatnya sadar
"udah, besok pas libur anti bisa pulang, semua juga kayak gini kok kalau pertama kali mondok" ucap Salwa merangkul Nazwa
"kita kan ada Naz, anti nggak usah sedih lagi" ucap Hana
"iya Naz, kita sahabat anti, anti nggak sendiri kok"sambung Nadifa ikut merangkul Nazwa
"terima kasih"
Dan kini mereka berempat saling berpelukan teletubies tanpa menyadari beberapa pasang mata yang melihat tingkah mereka disana
"heh mau berapa lagi pelukannya?" ucap Gus Rayhan menghampiri mereka
"Gus Rayhan ngerusak momen banget" kesal Hana
"jangan gitu Han dia itu idola ana" bisik Nadifa
"cepat masuk kamar, malah bisik-bisik tetangga lagi"
"kita nggak bisik-bisik tetangga kok cuma bisik-bisik teman aja" jawab Nadifa polos
"apapun namanya terserah, sekarang cepat kembali ke kamar istirahat, ini udah larut" ucap Gus Rayhan tegas
"na'am Gus"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
flashback off
Nazwa mengusap air mata yang menetes di sudut matanya saat mengingat pertemuan singkat dengan keluarganya
__ADS_1
"ternyata gini ya rasanya rindu" gumamnya pelan dan berusaha untuk memejamkn mata untuk terbang ke alam mimpi